Kuliah Umum: Possibilities with Typography

Design Roundtable (DRT) adalah sebuah kegiatan kuliah umum yang diselenggarakan oleh Program Studi Desain Komunikasi Visual Universitas Pelita Harapan (DKV UPH). Pada seri kedelapan ini, DKV UPH mengundang Yasser Rizky untuk berbagi mengenai kesehariannya bersama tipografi, dan bagaimana ia dapat melihat kemungkinan-kemungkinan baru dengan tipografi.

DRT 8 - Poster.jpg

Tipografi adalah suatu hal yang ubiquitous, sesuatu yang tidak menarik untuk dipelajari lagi. Pernyataan tersebut kerap menimbulkan pro dan kontra. Ada orang-orang yang mungkin melihat tulisan dimana-mana hingga akhirnya tidak peduli akan keberadaan tulisan-tulisan tersebut, ada juga orang-orang yang menilai bahwa orang-orang yang tidak bisa mengapresiasi tipografi adalah orang-orang yang memang tidak paham dan tidak mengerti akan tipografi itu sendiri. Namun ada juga orang-orang yang jenuh melihat orang-orang yang terlalu ‘meninggi-ninggi’kan eksistensi tipografi, dan ada juga orang-orang yang ‘meninggi-ninggikan’ eksistensi tipografi itu. Pada akhirnya setiap perspektif itu dilatari oleh sebuah kesimpulan dari bagaimana tiap-tiap orang itu memandang tipografi, batasan-batasannya dan juga kemungkinan-kemungkinan yang dapat ditawarkan tipografi sebagai pengelolaan dan pengolahan tanda visual.

DRT 8 akan diadakan pada hari Rabu, 26 Juni 2019 di Pelita Hall, Gedung B lantai 1, Universitas Pelita Harapan. Untuk informasi lebih lanjut, kunjungi instagram.com/designroundtable

Advertisements

Call for Paper: Seminar Nasional Desain Sosial 2

Seminar Nasional Desain Sosial 2 adalah sebuah seminar nasional kedua mengenai desain sosial yang diselenggarakan oleh Fakultas Desain Universitas Pelita Harapan.

Acara yang berlangsung pada hari Kamis, 18 Juli 2019 ini mengundang pemakalah untuk mengirimkan tulisan-tulisan mereka untuk diseminarkan dalam acara ini. Seminar ini menerima tulisan-tulisan yang membahas mengenai Etika Desain, Desain Sosial Inovatif, Desain Kolaboratif, Kewirausahaan Sosial, dan juga Media Sosial Responsif.

Seminar ini juga turut mengundang Prof. Yandi Andri Yatmo, Dip.Arch., M.Arch., Ph.D., akademisi arsitektur dan juga pemberdaya masyarakat; Prof. Dr. Ign. Bambang Sugiharto, akademisi dan juga guru besar filsafat; Reza Achmed Nurtjahja, ST, MUD, MURP, principal dari Urbane Indonesia; dan Melia Winata, Co-Founder dan CMO dari Du’Anyam.

SNDS2 Digital Poster.jpg
Poster acara Seminar Nasional Desain Sosial 2

Semua paper yang diterima dan dipresentasikan dalam acara ini akan dipublikasikan dalam prosiding cetak dan digital. Untuk informasi lebih lengkap, silahkan mengunduh : SNDS2 Digital Brochure


Tanggal Penting:

14 Juni 2019: Pengumpulan Full-Paper & Registrasi Pemakalah 

21 Juni 2019: Pengumuman Penerimaan Full-Paper

5 Juli 2019: Batas Pembayaran & Biaya Pendaftaran

18 Juli 2019: Pelaksanaan Seminar Nasional Desain Sosial 2

 

Kuliah Umum: How to Write and Produce Short Fiction Film in Relation to Visual Communication and Storytelling


Design Roundtable (DRT) adalah sebuah kegiatan kuliah umum yang diselenggarakan oleh Program Studi Desain Komunikasi Visual Universitas Pelita Harapan (DKV UPH). DRT sendiri telah berjalan selama enam kali, dan pada seri ketujuh ini, DKV UPH mengundang Giovanni Rustanto, seorang alumni DKV UPH yang berkarya sebagai seorang sineas.

Gio akan membawakan kuliah dengan judul “How to Write and Produce Short Fiction Film in Relation to Visual Communication and Storytelling”, dimana ia akan menjelaskan proses kreatif dari produksi film-filmnya. Gio juga akan menunjukkan bagaimana latar belakang pendidikan desainer dan juga profesi fotografinya turut memperkayanya sebagai seorang pembuat film.

Poster A3 DRT7-01
Poster Acara Design Roundtable 7

DRT kali ini akan diadakan pada hari Selasa, 28 Mei 2019 di Studio Lukis Universitas Pelita Harapan. Untuk informasi lebih lanjut, kunjungi instagram.com/designroundtable

 

Pameran Tugas Akhir DKV UPH: “Look Over”

Sering kali dalam keseharian kita, kita tenggelam dengan kesibukan dan rutinitas yang membuat kita melupakan hal-hal yang bermakna bagi diri kita. Bagi seorang desainer, membuat desain adalah kewajiban dan juga tanggung jawab mereka; namun ada hal lain yang terkadang dilupakan, yakni melihat dan menikmati desain itu sendiri. Desain sering kali dilihat sebagai sebuah obyek dan beban pekerjaan, bukan lagi sebuah aspek substansial bagi seorang desainer.

Kembali program studi Desain Komunikasi Visual Universitas Pelita Harapan (DKV UPH) mengadakan pameran tugas akhir sebagai bagian dari sidang akhirnya. Dalam pameran yang berlangsung kurang lebih dalam satu minggu ini, DKV UPH mengajak para desainer berkumpul dan berhenti dari rutinitas mereka untuk melihat karya-karya tugas akhir DKV UPH.

Karya tugas akhir yang dipamerkan kali ini cukup beragam, mulai dari desain permainan kartu, identitas visual untuk produk makanan lokal, perancangan media promosi digital, film dokumenter, concept art untuk game, visualisasi dengan instalasi, film animasi 3D dengan virtual reality, dan masih banyak lagi.

Poster Look Over _A4-01.jpg
Poster Pameran Tugas Akhir “Look Over”

Setiap semester DKV UPH selalu mencoba untuk memperbaiki dirinya, khususnya dalam menghasilkan desainer-desainer yang mampu berfikir kritis dalam melihat desain. Manifestasi dari perkembangan DKV UPH adalah para lulusan beserta karya tugas akhirnya yang siap menjadi terang yang mengundang dan menginspirasi sekelilingnya.


Pameran “Look Over” berlangsung sejak hari Selasa, 7 Mei 2019 sampai 15 Mei 2019 di Pelita Hall, Gedung B, Universitas Pelita Harapan.

The Hateful Eight: Similarity & Common Fate

Beberapa waktu yang lalu saya baru sempat menonton film Quentin Tarantino, The Hateful Eight, dan buat saya film ini luar biasa. Memang sih, ada banyak film yang menurut saya luar biasa (mungkin standar saya tidak sebaik itu), tapi satu hal yang terus saya puji adalah desain dari poster film tersebut.

Poster.jpg

Seperti beberapa post saya sebelumnya, saya akan membahas mengapa saya suka poster ini. Mungkin ada beberapa hal yang subyektif, tapi mungkin ada beberapa hal yang cukup obyektif dan bisa dipelajari (mungkin). Tulisan kali ini, akan mencoba membahas hal-hal yang saya pribadi rasa lebih obyektif. Coba disimak ya.

Sekilas, poster ini menunjukkan sebuah adegan (entah apakah adegan ini ada dalam cerita 100%, atau hanya dramatisir dari sebuah adegan), dan dalam poster yang menunjukkan sebuah adegan, umumnya menunjukkan sebagian kecil dari cerita. Dalam cerita, umumnya kita dapat memahami sedikit karakter atau tokoh-tokoh yang ada dalam cerita tersebut. Dalam adegan ini, kita dapat melihat ada 8 tokoh, dimana empat tokoh menghadap kita, sedangkan empat tokoh lainnya membelakangi kita (menghadap rumah). Hal ini sangat menarik bagi saya, karena sekilas saya dapat mempersepsikan lalu menginterpretasikan banyak hal dari itu.

Terdapat dua prinsip (sebenarnya banyak, tapi kali ini saya mau bahas dua saja) dari bagaimana cara pikiran kita mempersepsi, dan dalam konteks tulisan ini, secara visual:

  1. Similarity, dimana elemen-elemen yang terlihat serupa dipersepsikan memiliki hubungan atau relasi dibandingkan elemen-elemen yang terlihat berbeda.
  2. Common Fate, dimana elemen-elemen yang memiliki arah atau pergerakan yang sama akan dipersepsikan memiliki hubungan atau relasi dibandingkan elemen-elemen yang berbeda arah, atau berbeda kondisi pergerakannya.

Oke, mungkin kalau secara tertulis, penjelasannya cukup membingungkan, tapi saya coba uraikan dan jelaskan perlahan-lahan (sembari menunjukkan dibagian mana prinsip tersebut terlihat).

Pertama berbicara mengenai similarity, elemen apa sih yang terlihat sama dalam adegan di poster itu? Elemen-elemen yang terlihat paling serupa dalam poster itu, menurut saya, adalah keempat tokoh yang menghadap kita. Keempat tokoh tersebut memiliki ukuran yang terlihat sama, selain itu mereka terlihat intensitas yang sama. Keempat tokoh itu terlihat seperti sebuah siluet yang tidak memiliki detail, namun kita tahu keempat tokoh tersebut sedang membelakangi rumah dan menghadap keempat tokoh yang mendatangi rumah itu. Kenapa saya bisa melihat bahwa keempat tokoh tersebut sedang menatap kearah kita? Karena dalam bagian wajah, terlihat area yang lebih terang, seperti kulit wajah (dan bukan rambut); dengan demikian saya menebak arah pandang dari keempat tokoh tersebut.

Disisi lain terdapat empat tokoh lainnya yang terlihat lebih besar (yang terlihat berbeda dengan keempat tokoh yang sebelumnya disebutkan), dan sedang membelakangi kita dan berjalan menuju rumah tersebut. Empat tokoh baru ini dipersepsikan berbeda atau beda kelompok dengan keempat tokoh yang sebelumnya disebutkan karena arah pandang mereka berbeda dengan empat tokoh sebelumnya. Hal ini adalah contoh dari prinsip common fate, dimana kesamaan arah akan dipersepsikan sebagai sebuah relasi dibandingkan dengan yang memiliki arah berbeda.

Akhirnya, hanya dengan mempersepsikan keberadaan dari delapan tokoh ini, saya dapat mempersepsikan adanya dua kelompok yang berbeda, dan dapat menginterpretasikan narasi dalam adegan tersebut dengan membaca judul, melihat gestur dari tiap-tiap tokoh, melihat props yang tampak dalam karakter yang paling dominan dalam poster, melihat setting dalam adegan serta melihat aspek-aspek visual lainnya. Dengan penempatan yang baik, saya dapat menilai bahwa desain poster ini adalah desain yang baik, karena secara alam bawah sadar, desain ini dapat menceritakan hal-hal namun tidak secara gamblang.

Kalau sudah melihat poster filmnya seperti itu, gimana mau hateful?


Referensi penulis mengenai similarity & common fate diambil dari buku Universal Principles of Design karya William Lidwell, Kritina Holden &  Jill Butler.

Komposisi; Proximity; Suicide Squad

Film superhero DC pada tahun 2016 ini cukup menghebohkan sebelum rilis, dan membuat banyak sekali fans DC ‘hyped’ akan film ini. Namun apa daya, filmnya tidak sefenomenal rekannya, Batman V Superman. Tapi saya disini bukan untuk membahas film Suicide Squad. Tidak juga membahas kenapa filmnya jelek walaupun ada Jared Leto. Saya disini ingin mengulas desain poster Suicide Squad. Kenapa? Karena saya suka.

d4a65bda5131bde968111034cce8f4f33537875d-1
Poster Film Suicide Squad yang ingin saya bahas

Pertama kali melihat poster film ini, terus terang saya terpana. haha. Nggak bisa dipungkiri visual dari poster ini berbeda dengan poster-poster yang ada di tahun 2016. Ada beberapa faktor desain dari poster ini yang ingin saya bahas dengan lebih mendetil, tapi karena satu hal dan yang lain, disini saya akan membahas beberapa aspek yang umum terlebih dahulu masalah desain poster tersebut.

Dalam membahas sebuah desain, saya suka membahas form dari poster tersebut dengan cukup berlebihan. Alasannya karena yang saya nikmati pada sebuah poster film adalah form-nya. Umumnya saya melihat poster film terlebih dahulu sebelum filmnya, jadi jarang sekali saya bisa membahas content dari poster tersebut jikalau saya 100% tidak mengenali film tersebut (belum nonton trailer, tidak tahu pemain, sutradara dll). Sama halnya dengan context dari desain tersebut. Jadi disini akan saya bahas sedikit impresi (tidak begitu) pertama saya akan film Suicide Squad.

Secara form,  mari kita mulai secara menyeluruh dahulu, yaitu masalah komposisi. Secara komposisi, desain poster ini cukup sederhana, ada sebuah image yang diletakan secara dominan ditengah-tengah poster. Namun yang membuat cukup menarik adalah bagaimana image tersebut terdiri dari tokoh-tokoh film Suicide Squad berdiri pada sebuah bidang dengan dua goresan ‘X’ dan dua bidang yang agak berbentuk segitiga yang berhadapan. Seorang tokoh (joker), berdiri jauh dari tokoh-tokoh lainnya. Tokoh tersebut berdiri tepat di salah satu goresan ‘X’ tersebut, tepatnya di sisi kiri.

Mengapa posisi tokoh tersebut penting sekali dalam desain tersebut?

Pertama, image tersebut walaupun diletakan di tengah-tengah, namun image tersebut tidak dikomposisikan secara simetris. Sumbu gambar tersebut seolah dimiringkan melawan arah jarum jam, sehingga goresan ‘X’ tempat tokoh tersebut berdiri mendekati bidang poster. Komposisi asimetris dan penempatan tokoh yang tidak seimbang tersebut ‘membebani’ fokus desain, dari tokoh yang sendiri itu, lalu mengalir kebawah kanan, menuju tokoh-tokoh lainnya.

Kedua, ada prinsip yang dikenal sebagai gestalt, yang banyak digunakan untuk membahas komposisi didalam desain. Salah satu komponen gestalt adalah proximity. Dimana elemen-elemen yang diletakan berdekatan akan dipahami atau dilihat oleh pikiran kita sebagai elemen-elemen yang ‘serupa’ atau memiliki hubungan. Hal ini secara tidak langsung membuat kita mempersepsikan bahwa tokoh yang sendiri itu adalah tokoh yang ‘berbeda’, dan tentunya menjadi salah satu tokoh yang difokuskan (setidaknya di poster ini).


Didalam kuliah desain, setidaknya di kampus tempat saya menghabiskan jam tujuh sampai empat, pemahaman akan gestalt untuk melihat form adalah sesuatu yang ditekankan dan juga dilatih didalam kelas. Tidak hanya dalam mata kuliah-mata kuliah ‘teori’, namun juga di mata kuliah yang ‘praktek’.

Hal ini dilakukan sebagai upaya untuk membahasakan sebuah visual. Untuk bisa mendeskripsikan komposisi, apa yang ‘enak’, dan kenapa bisa ‘bagus’. Komposisi yang baik, menurut saya, adalah komposisi yang bisa dideskripsikan. Karena ketika sebuah komposisi bisa dideskripsikan, baik dengan prinsip desain maupun prinsip gestalt, ataupun prinsip-prinsip komposisi lainnya, sudah pasti komposisi tersebut memiliki sebuah struktur yang bisa dipahami.

Tapi perlu diingat juga, komposisi adalah salah satu aspek didalam desain, karena elemen-elemen yang ‘kurang baik’ ketika dikomposisikan dengan baik ya desainnya bisa saja tetap ‘kurang baik’. Oleh karena itu didalam studi desain, ada banyak aspek yang coba dipertimbangkan, supaya pada akhirnya, elemen, struktur ataupun komposisi dapat menyatu. Ya, harapannya supaya bisa baik dan juga menyatu.

 

Blackletter & Poster Film King Arthur: Legend of the Sword

Dalam tulisan singkat ini, saya mau mengungkapkan apresiasi dan kekaguman saya terhadap film King Arthur: Legend of the Sword (dan berikutnya disingkat King Arthur saja). Terlepas dari berita-berita bahwa film tersebut tidak begitu sukses sebagai film box office, saya tetap merasa film ini adalah film yang keren. Mulai dari beberapa tekhnik storytelling yang dinamik dan beda dari beberapa film yang saya tonton belakangan, desain kostum untuk Vortigen, scoringnya, sampai posternya. Yes, poster-posternya cukup keren.

Yang agak disayangkan dari keseluruhan desain posternya adalah agak tidak konsisten saja desain-desainnya. Ada dua poster yang menarik dari film ini, sayang keduanya secara visual tampak berbeda, jadi ‘kesempurnaan’nya berkurang. Berikut poster film King Arthur yang pertama kali saya lihat dan langsung tertarik untuk menonton:

cn-_zfyuaaavvlw
Poster film King Arthur. Melihat dari desainnya, sepertinya ini poster awal-awal, karena masih mencantumkan tahun 2017 saja, belum ada tanggal, belum ada hashtag, belum ada embel-embel lainnya. 

Disini, poster hanya menampilkan Arthur dan membawa pedang excalibur dengan pewarnaan monochromatic, dan dengan pose yang cukup kalem. Bicara mengenai posenya, terus terang saja posenya terasa monoton, tidak memiliki action line, namun bukan berarti monoton adalah hal yang buruk ya. Terlepas dari pose monoton tersebut, saya pribadi secara komposisi menyukai penempatan elemen-elemen desain didalam poster ini. Terlebih judulnbya.

Judul film ‘King Arthur’ ditulis dengan typeface klasifikasi blackletter, dan di komplemen-kan dengan typeface (yang sepertinya) klasifikasi neo-grotesque yang condensed. Kombinasi yang cukup baik kalau menurut saya pribadi. Karena neo-grotesque yang semi-kokoh, semi-netral cukup berfungsi baik ketika ditampilkan dengan ukuran kecil dibandingkan blackletter-nya.

Sekilas berbicara mengenai huruf-huruf blackletter, jenis huruf ini cukup populer di Jerman, dan kemudian merambah ke seluruh Eropa pada zaman RenaissanceBlackletter juga digunakan untuk mencetak pertama kali oleh Gutenberg, sehingga penggunaan-penggunaan huruf Blackletter langsung terasosiasi dengan Eropa kuno, dan ya, asosiasi yang cukup baik untuk film King Arthur ini.

Penggunaan jenis typeface ini membantu menekankan aspek geografi dan era yang ada didalam film ini, walaupun pada akhirnya aplikasi dari typeface ini dibuat tidak sepekat itu dengan menggunakan warna ungu terang, yang menjadi satu-satunya warna lain selain hitam dan turunannya. Jadi walaupun kuno secara bentuk, warna ungunya membuat desainnya tidak se kaku itu. Cukup berani dan menarik.


Hanya ada dua hal yang sangat disayangkan dari kacamata desain grafis secara keseluruhan pada promosi film King Arthur ini, pertama ketidak konsistenan, yang sudah saya bahas sebelumnya. Kedua, karena tidak konsisten, kita tidak tahu mood mana yang ingin disampaikan melalui posternya. Tapi ya, poster adalah salah satu media promosi. Dalam konteks ini, promosi film. Perlu kita sadari bersama iklan tidak sama dengan kenyataan dari produk atau apapun yang diiklankan. Poster film yang menarik tidak sama dengan film yang baik (walau menurut saya film ini cukup baik). Mungkin mood film ini disampaikan lebih baik dengan poster film yang lain, bukan yang ini (walaupun menurut saya desain yang ini cukup baik).

Hal sederhana yang bisa dipelajari dari desain poster ini adalah bahwa budaya tulisan yang ada di dunia ini cukup beragam, baik dari aspek waktu dan juga tempat, ketika kita menggunakan budaya tulisan yang tepat maka komunikasi dalam desain grafis kita juga dapat lebih efektif (menurut saya). Blackletter disini sangat fantastis dan menarik sekali, dibandingkan dengan poster King Arthur film lain. Mungkin bisa saya bahas poster film itu dilain waktu. hahaha.

 

Sampai sini dulu.

Bacaan tambahan:

designishistory.com