Catatan Lanjut: Perancangan Ilustrasi Berdasarkan Novel “The Naked Traveler, Across the Indonesian Archipelago”

Tidak terasa catatan lanjut ini berlanjut sampai ke tulisan berempat, lumayan juga ya.

Catatan Lanjut kali ini akan membahas artikel jurnal saya yang berjudul, “Perancangan Ilustrasi Buku “The Naked Traveler, Across The Indonesian Archipelago”“. Artikel ini dimuat dalam Jurnal Senirupa Warna (JSRW) Volume 6, Jilid 1, Januari 2018. Untuk membaca artikel tersebut secara utuh, silahkan melihat pada link berikut.

Dibandingkan tiga artikel sebelum-sebelumnya, artikel kali ini membahas mengenai sebuah proyek tugas akhir dari salah seorang mahasiswi tugas akhir yang saya sempat bantu bimbing. Setelah tugas akhirnya usai, saya kemudian membahas ulang proses perancangan dan juga hasil rancangannya kedalam artikel tersebut.

Yasudah, biar tidak lama-lama, langsung saja ya.


Artikel ini membahas mengenai sebuah proses perancangan ilustrasi yang dilakukan oleh Ria Julian. Perancangan ilustrasi dilakukan berdasarkan buku “The Naked Traveler, Across the Indonesian Archipelago” karya Trinity, yang menceritakan mengenai perjalanan Trinity di berbagai tempat di Indonesia. Tujuan perancangan ini adalah merancang sebuah ilustrasi yang mampu menggambarkan perjalanan-perjalanan Trinity yang dapat dinikmati bersama dengan novel tersebut, maupun terpisah tanpa novel tersebut. Hasil akhirnya adalah ilustrasi-ilustrasi dalam bentuk panel yang dipamerkan dalam pameran tugas akhir DKV UPH yang bertajuk ‘GEMA’ yang diselenggarakan pada Desember 2017 silam.

Artikel ini dituliskan dengan menjelaskan terlebih dahulu latar belakang penulisan. Selanjutnya, dilakukan penjelasan mengenai tahapan perancangan yang menggunakan metodologi dari Robin Landa. Kemudian penulis menjelaskan mengenai pendekatan visual yang dilakukan dalam perancangan ini, yaitu naive art. Pembahasan visual dengan gestalt secara sederhana juga dilakukan untuk menjelaskan pemikiran-pemikiran dibalik komposisi ilustrasi tersebut.

Proses perancangan ini melakukan studi pustaka, wawancara dan juga studi komparasi guna mengumpulkan data-data. Data-data tersebut, beserta dengan hasil analisa buku digunakan menjadi konsep atas solusi visual yang akan dilakukan. Pada bagian akhir artikel, terdapat kesimpulan yang berisi kritik terhadap proses perancangan yang telah dilakukan.

Melihat artikelnya kembali sekarang, saya melihat tulisan tersebut cukup sederhana dan harusnya bisa ditambah-tambahkan lebih banyak lagi supaya lebih lengkap. Sebagai contoh, hasil karya yang ditampilkan dalam artikel itu hanya satu ilustrasi saja, padahal ada lebih dari satu karya. Walau penjelasan karya terbantu dengan gambar/diagram, namun penjelasan umumnya didominasi dengan deskripsi yang mungkin kurang efektif dalam menjelaskan informasi-informasi dalam artikel ini.


Sebagai seorang dosen, spesifikasi atau fokus studi saya memang bukan pada ilustrasi, jadi membahas hal-hal seperti ini menjadi suatu hal yang menarik bagi saya. Pendekatan desain yang sedikit berbeda dengan pendekatan desain yang biasanya saya lakukan juga menjadi tantangan tersendiri bagi saya, baik ketika membimbing maupun ketika menuliskan kembali proyek tugas akhir ini.

Pada tahun 2020, hal ini menjadi nostalgia sekaligus hiburan juga. Desain pada dasarnya merupakan sesuatu yang luas, sehingga pembahasan yang ‘diluar’ fokus atau area studi saya juga tetap merupakan sesuatu yang berkaitan. Seru kan.

Catatan Lanjut: Perancangan EGD Museum Gajah

Pada tulisan kali ini, saya akan membahas tulisan saya yang berjudul, “Perancangan Environment Graphics Museum Gajah” yang diterbitkan di Jurnal Desain Komunikasi Visual Nirmana pada Volume 17 Nomor 2, pada bulan Juli 2017. Tulisan lengkapnya dapat dilihat pada tautan ini.

Artikel ini adalah artikel jurnal kedua yang saya tulis, dan masih berkisar pada konteks yang serupa dengan jurnal pertama saya, dimana saya mencoba menuliskan proses pembelajaran yang saya lakukan pada kelas Perancangan Sistem Tanda. Kali ini, proyek simulatif yang dibahas adalah proyek perancangan sistem tanda untuk Museum Gajah yang dikerjakan oleh Aldia Novira, Angela Irena, Devina Caroline, Edberg, dan Nelly Hermawati.


Secara mendasar, artikel ini adalah sebuah artikel yang menjelaskan proses perancangan simulatif environmental graphic design dari Museum Gajah. Dalam proses perancangan tersebut, tim mahasiswa/i melakukan kunjungan ke Museum Gajah untuk mengumpulkan data sebagai basis perancangan mereka. Hasil akhir dari perancangan tersebut adalah sebuah prototype desain yang menggambarkan solusi desain mereka terhadap permasalahan sistem tanda di Museum Gajah. Penulis harap tulisan dalam artikel tersebut dapat menjadi referensi dalam proses perancangan sistem tanda atau environmental graphic design.

Artikel ini ditulis dengan sistematika pendahuluan, lalu dilanjutkan dengan pembahasan environmental graphic design secara luas, kemudian hasil observasi, hasil perancangan dan juga kesimpulan. Sistem penulisan seperti ini membantu membuat artikel ini lebih mudah dipahami bagi pembaca kasual dibandingkan menggunakan struktur penulisan ilmiah.

Proses observasi pada artikel ini mampu menunjukkan sejauh mana observasi dalam perancangan environmental graphic design itu dilakukan. Observasi dalam proyek ini juga dilakukan untuk melihat sejauh mana mahasiswa/i mampu mengidentifikasi sistem tanda yang ada dalam Museum Gajah. Melalui observasi tersebut, ditemukan bahwa dua aspek mendasar yang bermasalah dalam environment graphic design Museum Gajah adalah wayfinding dan interpretation. 

Proses perancangan dilakukan dengan fokus terhadap aspek wayinding dan interpretation. Secara umum kedua aspek tersebut dijawab dengan menggunakan color coding pada setiap lantai untuk membantu megidentifikasi area Museum, sekaligus penuntun jalan dalam Museum Gajah. Hasil akhir dari perancangan ini adalah sebuah prototype dalam bentuk maket untuk menggambarkan keseluruhan solusi environmental graphics untuk Museum Gajah.

EGD Museum Gajah
Environmental Graphics Museum Gajah yang dirancang oleh Aldia Novira, Angela Irena, Devina Caroline, Edberg, dan Nelly Hermawati. (Sumber: Dokumentasi Penulis, 2017) 

Meninjau kembali artikel tersebut, saya merasa untuk lebih membuat penjelasan lebih efektif, struktur penulisan dapat dipecah dan dikategorikan dengan lebih detail. Hal-hal lain yang rasanya terlewat dari tulisan tersebut adalah penjelasan-penjelasan lebih detail mengenai aspek-aspek grafis seperti tata letak dalam bidang, tipografi, atau pemilihan elemen-elemen grafis lainnya. Namun jika fokus pembahasan memang terletak pada environmental graphics, pembahasan dalam artikel ini cukup baik.


Artikel ini merupakan artikel kedua yang saya tulis, dan saya sudah sedikit belajar dibangingkan kali pertama saya menulis. Jadi setidak-tidaknya saya ingat siapa saja mahasiswa/i yang terlibat karena saya mencantumkan nama mereka dalam artikel ini. Haha.

Terus terang saja, proyek-proyek perancangan sistem tanda adalah proyek-proyek yang sangat menantang dan menyenangkan bagi saya. Namun terkadang kompleksitas dari proyek tersebut dan juga keterbatasan kualifikasi dan materi terkadang membuat proyek perancangan sistem tanda sebagai sesuatu yang asing dan bukan menjadi fokus utama. Terlebih lagi ketika kita berbicara mengenai sesering apakah proyek sistem tanda itu ada dalam industri (dibandingkan branding).

Apa daya, proyek-proyek perancangan sistem tanda sendiri akhirnya menjadi sebuah proyek ‘bermain’ dan juga simulatif saja dalam tatanan perkuliahan. Memang masih ada banyak hal yang perlu dipelajari dan juga diimplementasikan agar materi environmental graphic design menjadi sebuah materi yang mapan untuk diajarkan, dan untuk itu, studi dan penelitian-penelitian seperti ini perlu dilakukan.

Catatan Lanjut: Proses Perancangan Signage

Melanjuti postingan sebelumnya, tulisan kali ini akan memberikan sinopsis dan juga catatan lanjut pasca publikasi dari salah satu artikel lama saya. Artikel yang akan dibahas kali ini adalah artikel yang berjudul “Tahapan Desain Sistem Tanda Interior Mini Mart (Studi Kasus: Wayfinding & Placemaking Signage FMX Mart) yang diterbitkan oleh Jurnal Dimensi DKV pada Volume 2 Edisi 2 pada tahun 2017 silam. Artikel tersebut dapat dilihat dalam tautan ini.

Sebelum terjun bebas kedalam pembahasan mengenai artikel tersebut, mungkin kembali saya ingin sedikit menceritakan latar belakang penulisan artikel tersebut. Artikel tersebut adalah artikel jurnal pertama saya, dan satu-satunya artikel yang saya gunakan dalam pengajuan jenjang jabatan akademik (JJA) saya, jadi sedikit banyak artikel tersebut cukup ‘penting’ bagi ‘karir’ saya haha.

Artikel tersebut sebenarnya merupakan kajian saya pribadi terhadap proses perancangan sebuah sistem tanda dari studi pustaka yang saya lakukan. Hal itu dikarenakan saya belum pernah mengerjakan proyek desain sistem tanda pada saat itu, dan saya harus mengajar kelas tersebut (sekarang sih sudah pernah mengerjakan proyek-proyek sistem tanda).  Dalam proses pembelajaran tersebut, saya juga belajar banyak mengenai konsep-konsep sistem tanda yang belum pernah saya temui sebelumnya. Hal ini yang mendorong saya untuk ingin mendokumentasikan proses pembelajaran saya sekaligus proses pengajaran didalam kelas yang berlangsung pada saat itu.

Hasilnya adalah sebuah artikel yang, menurut saya, cukup sederhana dan elaboratif terhadap dasar-dasar proses perancangan sebuah sistem tanda. Untuk memudahkan penjelasan tersebut, dalam artikel dijelaskan juga salah satu proses perancangan yang dilakukan oleh tim mahasiswa/i dalam kelas tersebut. Walaupun hasilnya sederhana, dan juga simulatif, tapi tujuan dari kelas tersebut adalah untuk mengajarkan anak-anak untuk berfikir sistematis dalam menghadapi sebuah ‘problem desain’.

Ah, saya rasa cukup sudah pengantar kali ini. Jadi saya akan lanjut saja ke sinopsis dan pembahasan artikel tersebut.


Artikel ini adalah sebuah artikel yang mencoba mengelaborasikan tahapan perancangan dengan cara membandingkan tiga proses desain: tahapan mendesain secara umum oleh Robin Landa, tahapan perancangan environmental graphic design oleh Chris Calori dan David Vanden-Eynden, dan apropriasi dari kedua tahapan tersebut yang dilakukan dalam kelas Perancangan Sistem Tanda dalam program studi Desain Komunikasi Visual di Universitas Pelita Harapan. Melalui studi ini, penulis menyimpulkan bahwa proses perancangan adalah sebuah proses yang sistematis, namun tetap memiliki ruang untuk adanya penyesuaian.

Sistematika artikel ini cukup linear dan sederhana. Tulisan dimulai dengan pendahuluan yang secara singkat menjelaskan latar belakang penulisan. Bagian selanjutnya adalah penjelasan dari ketiga proses perancangan, mulai dari Calori & Vanden-Eynden, kemudian Landa, dan diakhiri oleh proses perancangan yang diberlakukan didalam kelas. Setelah membahas mengenai ketiga tahapan perancangan secara umum, bagian selanjutnya adalah menjelaskan proses perancangan tersebut secara praktis sesuai dengan studi kasus yang ada, yakni simulasi perancangan ulang sistem tanda pada FMX Mart. Bagian akhir artikel adalah kesimpulan dimana penulis secara reflektif menjelaskan apa yang didapatkan pasca studi dan penulisan artikel tersebut.

Artikel yang sederhana ini melihat proses desain secara umum kedalam tiga tahap:  pre-design, design, post-design. Pembagian kedalam tiga tahap yang umum itu dilakukan sebagai antisipasi detail-detail dan variasi praktek desain yang mungkin terjadi. Artikel ini juga menunjukkan banyak dokumentasi perancangan yang dilakukan oleh tim mahasiswa dalam bentuk progress book dan juga prototype desain akhir mereka.

Foto FMX
Salah Satu Prototype Desain Akhir (Sumber: Dokumentasi Penulis, 2017)

Dengan membandingkan proses mendesain Calori & Vanden-Eynden, Landa, dan juga apa yang dilakukan didalam kelas, penulis melihat bahwa secara umum proses perancangan itu serupa. Terlepas dari isu-isu teknis yang mungkin berbeda, namun dalam menghadapi problem desain, sistematika atau metodologi desain cenderung serupa. Melalui tulisan ini, penulis sedikit banyak ingin memberikan perbandingan dan persamaan dari environmental graphic design dan desain grafis, dan menunjukkan bahwa proses perancangan environmental graphic design tidaklah serumit itu.

Setelah membaca kembali artikel tahun 2017 ini pada tahun 2020, penulis merasa bahwa artikel ini dapat diperbaharui dan dikembangkan dengan menjelaskan lebih banyak metodologi desain, baik secara umum dan juga secara spesifik pada environmental graphic design. Hal itu dapat dilakukan untuk meningkatkan variabel dan juga menghadirkan perbandingan untuk mendapatkan hasil yang *mungkin* lebih baik.


Kekurangan atau kritik lain yang tidak berhubungan dengan kualitas artikel tersebut adalah kelalaian saya dalam mencantumkan nama mahasiswa/i yang terlibat dalam proses desain tersebut. Terus terang, saat itu saya tidak tahu dimana harus mencantumkannya pada saat itu, jadi saya memutuskan untuk tidak mencantumkan nama mahasiswa/i yang melakukan proyek desain tersebut. Belakangan saya baru mengetahui ‘trik’ untuk dapat mencantumkan nama mereka:

  1. Memasukan mereka sebagai penulis juga, namun ini akan saya lakukan jika memang mereka sedikit banyak terlibat dalam proses penulisan.
  2. Mencantumkan nama mereka dalam keterangan Gambar.
  3. Mencantumkan nama mereka pada bagian Ucapan Terima Kasih atau Acknowledgements.
  4. Atau langsung saja memaparkan nama mereka dalam bagian isi artikel.

Jika anak-anak yang terlibat proses perancangan tersebut membaca tulisan pada artikel tersebut, atau mungkin membaca blog saya. Saya mau meminta maaf karena tidak menuliskan nama kalian. Mungkin alasan yang saya paparkan sebelumnya tidak dapat mengubah fakta bahwa ketidaktahuan saya tidak seharusnya membuat saya melakukan apa yang kurang tepat, tapi setidaknya tulisan pada blog sederhana ini sedikit banyak ingin mencoba memperbaiki kesalahan saya yang sebelumnya. Jadi kalau kalian membaca, tolong hubungi saya ya, biar saya cantumkan disini. Sekali lagi maaf ya.


Mungkin tulisan kali ini sampai disini dulu. Entah kenapa tulisan yang tadinya mungkin agak netral, mendadak seperti jadi curcol sekaligus permohonan maaf. Agak awkward sih, tapi ya begitulah hidup, penuh rasa canggung. 😦

Catatan Lanjut: Keseimbangan Visual dalam Logotype

Tulisan ini adalah ringkasan sekaligus refleksi sederhana mengenai sebuah tulisan yang pernah saya publikasikan sebelumnya dalam sebuah artikel ilmiah. Tulisan yang saya akan bahas adalah tulisan saya yang memiliki judul asli ‘Melihat Keseimbangan Visual dalam Tipografi (Studi Kasus Karya Desain Logotype pada Mata Kuliah Tipografi Dasar)’. Artikel tersebut diterbitkan oleh Jurnal Titik Imaji Volume 1 Nomor 2, pada bulan Oktober 2018. Untuk mengakses tulisan tersebut, silahkan melihatnya lebih lengkap pada link ini.

Kalau ditanya kenapa menulis mengenai artikel saya sendiri.. Jawabannya karena saya takut nulis artikel orang lain, terus orangnya nggak suka.. hahaha.. Selain itu, saya juga mau menggunakan kesempatan ini untuk refleksi sekaligus bernostalgia. Ide mengenai menulis mengenai tulisan yang sebelumnya pernah saya tulis ini muncul awalnya karena komentar atau gurauan mengenai bagaimana banyak dosen yang ‘tidak jelas’ karya atau pekerjaannya apa. Karya disini bukan mengacu kepada portfolio desain, tapi lebih ke karyanya sebagai seorang dosen. Berbicara portfolio, ada juga dosen-dosen yang saya tahu sudah ‘kelupaan’ apa saja yang ia kerjakan, terlebih ketika mempersiapkan diri untuk serdos. Dalam rangka tidak menjadi dosen yang ‘tidak jelas’ karyanya apa, saya memutuskan untuk menulis kembali apa yang pernah saya tuliskan pada blog ini. Tentunya tidak copy paste, tapi menulis sekaligus merangkum tulisan itu, agar yang membaca (dan wegah baca artikel jurnal saya) bisa tetap tahu apa yang saya kerjakan.

Sebelum benar-benar masuk kedalam pokok pembahasan, saya ingin menjelaskan sekilas mengenai artikel ini. Artikel ini adalah salah satu tulisan saya pertama saya. Tujuan menulis artikel ini, bagi saya pribadi, adalah sebagai pertanggungjawaban pribadi saya mengenai apa yang telah saya lakukan selama satu semester. Artikel yang saya tulis adalah evaluasi mengenai apa yang saya dan tim pengajar mata kuliah Tipografi Dasar lakukan didalam kelas. Saya menjadi penulis tunggal artikel tersebut karena selaku koordinator saya yang melakukan evaluasi tersebut secara sendiri. Dalam proses pelaksanaan kelas saya dibantu oleh banyak pihak terkait pelaksanaannya, tapi dalam proses penulisan artikel tersebut, semuanya saya yang lakukan sendiri.

Saya merasa perlu menegaskan hal ini sebelumnya karena kerap mendapatkan pertanyaan dari beberapa pihak terkait kenapa nama penulisnya hanya saya seorang. Alasannya sebenarnya sederhana saja: karena yang menulis hanya saya, jadi ya hanya nama saya seorang. Sebagai mahasiswa maupun sebagai dosen saya pernah ‘mengumpulkan’ tugas atau karya dengan menuliskan nama personil yang tidak berkontribusi.. Semakin lama saya semakin merasa hal tersebut tidak seharusnya dilakukan, jadi saya mulai mempraktikkan apa yang saya lakukan ini. Begitu kira-kira…

Selanjutnya saya akan lanjut ke pokok pembahasan utama tulisan ini:


Seperti yang sempat tersinggung pada bagian pembukaan tulisan ini, artikel ini merupakan sebuah ‘laporan’ sekaligus ‘evaluasi’ terhadap kegiatan perkuliahan dalam mata kuliah Tipografi Dasar yang diselenggarakan di Univeritas Pelita Harapan pada tahun akademik 2017/2018. Dalam mata kuliah tersebut, terdapat satu tugas dimana anak-anak diminta untuk merancang logotype dengan memperhatikan prinsip-prinsip keseimbangan desain. Dalam menjelaskan pelaksanaan tugas tersebut, artikel ini membahas lima contoh karya mahasiswa dalam kelas tersebut. Melalui artikel ini, penulis hendak menunjukkan bagaimana pertimbangan keseimbangan dapat dilakukan dalam desain tipografis (dalam konteks ini, logotype). Penulis juga ingin agar tulisan ini dapat membuka diskusi lebih lanjut mengenai tipografi dalam tatanan mendasar seperti keseimbangan visual.

1409-4982-1-PB
Aktivitas Perkuliahan Tipografi Dasar pada Tahun Akademik 2017/2018 (Sumber: Hananto, 2018)

Untuk mendefinisikan keseimbangan desain dalam tipografi secara mendasar, penulis menggunakan penjelasan dari Martin Solomon, dimana keseimbangan dalam tipografi tercipta ketika elemen-elemen visual saling mengimbangi satu sama yang lain (Solomon, 1994, hal. 44). Salah satu upaya mengimbangi paling sederhana adalah dengan penyesuaian jarak, yaitu kerning, tracking, word spacing, dan leading. Selain itu, upaya lebih advanced dapat dilakukan dengan modifikasi huruf dalam logotype tersebut.

Artikel ini membahas secara detail kelima karya yang diangkat. Setiap desain dalam tulisan dibahas mengenai mengapa desain tersebut dapat dikatakan seimbang secara visual dan juga ‘baik’ karena ada pertimbangan prinsip desain lain yang diperhatikan juga, seperti prinsip desain unity atau kesatuan. Perlu diketahui bahwa kelima karya yang dibahas merepresentasikan karya yang representatif terhadap pendekatan-pendekatan solusi visual yang ditemukan, bukan nilai terbaik; sehingga apabila ada kelemahan dalam kelima karya tersebut yang tidak dibahas, hal itu dikarenakan kekurangan tersebut tidak sesuai dalam koridor pembahasan. Pembahasan dari karya-karya tersebut ditutup dengan penjelasan mengenai batasan dan juga pertimbangan mengenai bagaimana selanjutnya pelaksanaan studi ini dapat dilakukan untuk mendapatkan hasil yang ‘lebih’ optimal.

Monet - Adrian Owen
Logotype ‘monet’ karya Adrian Owen (Sumber: Hananto, 2018)

Artikel ini ditutup dengan menegaskan bagaimana solusi-solusi desain bukanlah solusi yang hitam-putih yang dapat dikuantifikasi dengan sederhana. Prinsip mengenai keseimbanganpun menjadi sebuah prinsip mendasar (primitif jika menggunakan istilah penulis saat itu), namun seringkali terbaikan. Pembahasan akan ‘hal-hal primitif’ ini dapat membantu menjadi pegangan dalam pembelajaran dan juga studi lebih lanjut.


Begitu kira-kira isi artikel saya dalam Jurnal tersebut. Setelah lewat kurang lebih dua tahun dan membaca lagi apa yang saya pernah tulis, rasanya aneh juga ya. haha.

Disatu sisi, saya merasa sudah sedikit berkembang dari apa yang saya pernah tulis, kini tulisan saya sedikit lebih baik. Harusnya. Disisi lain, saya merasa apa yang saya lakukan dulu ternyata menjadi sebuah ‘kebiasaan’ yang selalu saya lakukan setiap semesternya. Memang tidak semua kelas atau tidak semua tugas dibuat seperti ini, tapi selalu saja ada kesempatan dan momen reflektif untuk melihat kembali (biasanya ketika mempersiapkan apa yang perlu dilakukan selanjutnya). Pembelajaran adalah sebuah proses panjang yang tidak berhenti ketika kita mendapatkan gelar, dan hal itu saya rasakan kembali ketika mempersiapkan tulisan dalam blog ini (dan mungkin dulu ketika menulis artikel tersebut).

Saya bukan orang pintar, dan justru karena hal itu saya merasa saya perlu ‘memperbaiki’ diri saya melalui pembelajaran dan evaluasi terhadap apa yang saya lakukan. Setidak-tidaknya kalau tidak bermanfaat bagi orang lain, hal ini bermanfaat bagi saya sendiri. Jadi ya kenapa tidak? Mungkin tulisan-tulisan seperti ini akan muncul lagi dalam waktu mendatang. Siapa tahu bentuk tulisan yang lebih… casual… dapat lebih bermanfaat bagi orang-orang lain. Tapi ya kembali lagi, kalaupun tidak, ya setidaknya bermanfaat bagi saya. 🙂

Refleksi Pasca Kuliah Daring 2

Tulisan ini merupakan refleksi lanjutan dari tulisan pertama, yang dapat dilihat disini.

Kalau tulisan sebelumnya menjelaskan sedikit mengenai apa yang saya dapati setelah melewati setengah semester perkuliahan secara daring, tulisan kali ini akan sedikit fokus mengenai persiapan apa yang saya lakukan untuk semester selanjutnya (yang mungkin akan daring dari awal sampai akhir).

Dalam persiapan semester ini, saya coba untuk menggabungkan kedua metode pembelajaran, baik synchronous dan juga asynchronous. Kedua metode tersebut digunakan secara berdampingan mengingat masing-masing memiliki kekuatan (dan kelemahan) masing-masing. Jadi semoga dengan menggunakan keduanya, hasilnya bisa baik.

Ada beberapa hal yang akhirnya perlu disesuaikan kembali dalam perkuliahan desain secara daring. Sebagai contoh, akhirnya tugas-tugas yang sifatnya gambar tangan (bukan digital) menjadi sulit untuk dapat dilihat dan juga dikumpulkan. Penyesuaian-penyesuaian tersebut sudah coba dilakukan, tapi kita lihat saja efeknya nanti seperti apa.

Beberapa konsep mendasar dalam perkuliahan juga harus diperhatikan kembali. Sebagai contohnya, ketika di kelas, kehadiran tepat waktu menjadi salah satu hal yang penting untuk diperhatikan. Namun karena perkuliahan dalam bentuk daring, kehadiran tepat waktu menjadi hal yang kurang relevan. Mungkin menjadi tidak relevan karena perlu diperhatikan bahwa perubahan menjadi bentuk perkuliahan daring kan karena COVID-19 juga, jadi banyak yang situasinya tidak ideal. Tidak semua memiliki koneksi internet yang baik, dan tidak semua berada dirumah tanpa aktivitas juga. Ada dosen atau mahasiswa yang karena kondisi ini jadi perlu mendapatkan tanggung jawab lebih sebagai anggota keluarga, dan hal itu menjadi sesuatu hal yang tidak terelakan. Akhirnya, masalah kehadiran menjadi hal yang tidak penting lagi, tapi partisipasi dan tanggung jawab tugas lebih diutamakan.

Ekspektasi mengenai kompetensi juga perlu disesuaikan kembali. Kompetensi yang diajarkan dan diharapkan, menurut saya, tidak boleh berkurang. Berubah karena adaptasi terhadap situasi sih boleh-boleh saja, tapi jangan sampai ada bagian yang hilang. Bagi dosen, ada yang merasa karena pandemi, jadi mahasiswa/i tidak mungkin maksimal dan menyederhanakan perkuliahan dengan memotong materi-materi tertentu; menurut saya ini hal yang salah. Bagi mahasiswa/i, ada yang merasa karena pandemi pasti akan ada pemakluman lebih, hingga akhirnya tanggung jawabnya sebagai mahasiswa/i sedikit diabaikan; hal ini juga salah.

Perkuliahan daring adalah tantangan bagi semuanya, bagi dosen dan juga mahasiswa/i. Pandemi juga membuat situasi menjadi lebih problematik, dengan keterbatasan akses dan beban-beban diluar kelas yang membebani. Apapun situasinya, komunikasi antara semua pihak itu penting.

Saya pribadi enggan menjawab chat mahasiswa yang ditujukkan langsung kepada akun saya secara pribadi. Kalau urusan kelas, saya lebih nyaman membalas chat dalam grup kelas (sebelum perkuliahan daring), tapi karena kondisi ini, saya jadi lebih toleran dan lebih mau merespon pertanyaan-pertanyaan melalui chat pribadi tadi. Hitung-hitung adaptasi bersama-sama.

Perubahan adalah hal yang terkadang menakutkan; karena manusia memiliki tendensi untuk takut akan hal yang belum ia ketahui. Perubahan karena pandemi ini, mungkin, perlu dilihat atau dicari sisi positifnya juga. Saya tidak mengatakan pandemi ini positif, tapi mungkin ada hal-hal positif yang masih bisa dipetik. Dengan berada dirumah dalam waktu yang panjang ini, saya pribadi mencoba belajar dan mengembangkan diri saya, khususnya dalam mempersiapkan kelas-kelas dan pengajaran daring seperti ini. Andai tidak ada COVID-19, mungkin saya akan mulai memikirkan hal ini tiga atau lima tahun lagi. Tapi COVID-19 memaksa saya berubah. Perubahan adalah sebuah fakta belaka, baik atau tidaknya perubahan tersebut adalah sebuah penilaian yang dilakukan oleh tiap-tiap kita.

Kalau boleh memilih, saya sih memilih untuk memikirkan mengenai perkuliahan daring tiga atau lima tahun lagi. Tapi salah satu keunggulan manusia adalah kemampuannya untuk bertahan dan berkembang… Mungkin sekarang waktunya untuk kita menunjukkan keunggulan tersebut.

Refleksi Pasca Kuliah Daring 1

Kalau lihat judulnya, hal ini seolah saya lakukan sendiri tepat setelah perkuliahan daring karena pandemik ini selesai. Tapi sebenarnya tidak juga, karena refleksi ini saya lakukan setelah punya sedikit waktu pasca mengajar dan mempersiapkan perkuliahan di semester yang baru.

Perkuliahan daring dan digital merupakan bentuk perkuliahan yang berbeda dengan perkuliahan tradisional didalam kelas. Perbedaan tersebut tidak hanya terjadi dalam tatanan medium saja, tapi juga natur dan asumsi-asumsi dasar yang ada pada keduanya. Sebagai contoh, perkuliahan tradisional didalam kelas mengasumsikan adanya waktu bersama untuk bertemu dan tatap muka, sehingga komitmen menjadi sesuatu yang mendasar. Namun dalam kuliah daring, tidak selalu begitu. Perkuliahan daring sendiri secara natur dapat dibedakan menjadi dua hal: pembelajaran synchronous dan asynchronous.

Pembelajaran secara synchronous ini mengkondisikan dosen dan mahasiswa/i untuk menyediakan waktu bersama-sama untuk ‘bertatap muka’ walau secara maya. Jenis pembelajaran ini sebenarnya tidak jauh berbeda dengan perkuliahan tradisional, mengingat interaksi terjadi secara langsung. Perbedaan tentu ada, khususnya dalam perkuliahan desain. Akhirnya tidak bertemu berarti mahasiswa tidak bisa membawa hasil desain secara real. Hasil print, mockup atau prototype, dll., menjadi sesuatu yang harus dilihat dalam layar, atau bahkan tidak sama sekali (karena pandemik ini mempersulit juga proses produksi dll). Saya bisa saja melihat desain buku mahasiswa, tapi saya tidak bisa melihat bagaimana mahasiswa ini memproduksi, memonitor dan mengontrol kualitas produksi, memilih bahan dan teknik produksi dll. Tantangan juga muncul dalam perkuliahan yang masih banyak membutuhkan ‘karya tangan’ mahasiswa/i; karena akhirnya karya mereka hanya bisa ditunjukkan melalui foto (atau scan-an jika mahasiswa/i punya alatnya dirumah).

Intinya sama, tapi beda gitu deh.

Bentuk pembelajaran asynchronous mungkin sedikit berbeda dengan synchronous dalam aspek waktu untuk proses pembelajaran itu. Dalam pembelajaran asynchronous, dosen dan mahasiswa/i tidak perlu memiliki komitmen waktu ‘bertemu bersama-sama’ untuk proses pembelajaran. Hal itu dikarenakan materi pembelajaran bisa saja sudah dipersiapkan, baik dalam bentuk tulisan ataupun video, untuk diakses oleh para mahasiswa/i kapanpun mereka mau (tentunya tetap ada tenggat waktu juga ya). Hal ini membuat proses pembelajaran jadi lebih fleksibel dibandingkan pembelajaran synchronous,  Tapi disisi lain, hal ini menjadi menantang bagi dosen untuk mempersiapkan materi-materi tersebut sebelum perkuliahan dimulai. Kalau sebelumnya mungkin hanya dengan materi presentasi (yang ringkas), sekarang harus merekam video atau menulis teks pegangan atau modul.


Perkuliahan pada semester kemarin menjadi menantang mengingat perubahan cara perkuliahan terjadi ditengah-tengah semester. Artinya, dosen sudah menyiapkan rencana pembelajaran semester untuk semester tersebut dan harus menyesuaikan kembali jadwal, kompetensi, bentuk evaluasi dll. untuk mengakomodir perkuliahan jarak jauh ini. Tentunya adaptasi ‘setengah-setengah’ ini bukan hal yang mudah, baik untuk dosen dan juga mahasiswa.

Tapi sekarang berbeda. Dalam semester mendatang ini, saya harus mempersiapkan perkuliahan secara daring ini dari awal. Artinya, dari awal saya harus menyesuaikan bentuk perkuliahan ini dan mempersiapkan strategi-strategi dari awal. Saya kembali memegang perananan aktif, dan bukan reaktif.

Ya semoga kali ini perkuliahan bisa berjalan dengan lebih baik daripada sebelumnya.

Kuliah vs Belajar, Refleksi Relasi Dosen & Mahasiswa

Tidak jarang saya menemukan video wawancara ataupun pendapat orang sukses dan kaya (karena sukses belum tentu kaya, dan kaya belum tentu sukses) yang mengatakan bahwa mereka menganggap kuliah itu tidak penting. Kuliah hanya buang uang katanya, buang waktu pula. Tidak jarang pula setelah komentar itu, sosok-sosok tersebut kemudian menjelaskan maksud pernyataan mereka, namun terkadang attentian span dari orang yang menonton video itu tidak selama itu untuk bisa memahami intisari dari pernyataan yang disampaikan sosok-sosok yang mereka tonton. Sayang sekali.

Sebagai seseorang yang belajar (dan sesekali mengajar) mengenai desain, saya kerap mendapat pertanyaan serupa juga: Untuk apa sih kuliah? Kuliah perlu tidak sih? Yang penting kan portfolio, nilai atau gelar tidak penting kan? Kalau ditodong seperti itu, saya sih menjawab apa adanya saja, tanpa maksud menyenangkan telinga satu atau dua orang. Jawaban saya cukup jelas: Kuliah itu tidak penting, yang penting belajarnya.

Kenapa saya bilang begitu? Karena saya melihat mahasiswa-mahasiswi yang kuliah tapi tidak belajar. Saya juga tahu orang-orang yang tidak kuliah, tapi memanfaatkan waktu mereka untuk belajar dan akhirnya sukses (walau belum kaya-kaya amat).

Bagi saya, kuliah boleh dilihat sebagai gym. Kalau situ bisa olahraga sendiri ya tidak apa-apa juga. Kalau situ mau nonton video youtube dan olahraga di kamar (seperti saya) ya sah-sah saja. Tapi kalau mau pergi ke gym, mendapatkan fasilitas, ketemu instruktur, ya silahkan juga. Nah, sama juga dengan kuliah. Calon desainer bisa saja sih otodidak, baca buku atau nonton video-video, tapi bisa juga kan minta orang untuk membantu mengajari? Sah-sah saja jalurnya.

Apakah kalau tidak kuliah bisa jadi desainer yang baik? Bisa saja. Karena saya belajar banyak ketika saya selesai kuliah. Justru ketika saya kuliah saya dapat kenalan, diajari cara belajar, dll. Belajar desain sendiri saya dapat di luar kelas perkuliahan: dari tugas-tugas yang saya kerjakan, dari obrolan santai dengan dosen di luar kelas, ataupun dari video-video youtube juga. Tapi saya mendapatkan tugas, kenalan sama dosen, dan “dipaksa” nonton video youtube juga karena kuliah.

Jadi kalau dibilang kuliah itu perlu atau tidak? Jawaban saya tidak perlu. Lebih perlu makan. Tapi kalau ditanya ada manfaatnya atau tidak, ya tentu jawabannya ada kalau mau dimanfaatkan. Kalau datang ke kelas tapi kerjanya ngelirik mahasiswi…. Ya bermanfaat juga sih, tapi dalam aspek yang berbeda.


Kenapa setelah sekian lama saya menulis mengenai hal yang mungkin tidak begitu penting? Karena mungkin saya perlu meng-establish kembali paradigma dan definisi mengenai belajar dan kuliah. Karena semakin saya belajar, semakin saya sadar bahwa terdapat banyak sekali opini dan perspektif mengenai perkuliahan yang menurut saya ironis sekali.

Contohnya ketika pergeseran perkuliahan daring, ada dosen-dosen yang nyeletuk, “wah kalau online gini anak-anak susah belajar ya…”, saya sih akan jawab dengan santai juga, “bukan mereka tidak bisa belajar, Bapak atau Ibu kali yang jadi susah ngajarnya…” sambil guyon.

Kalau kondisi seperti ini, kalau kita bicara kegiatan perkuliahan, ya kalau memang masih mau, dua-duanya (dosen dan mahasiswa) memang harus saling beradaptasi dan mungkin kompromi guna mencari titik temu. Perubahan tidak selalu menyenangkan, apalagi perubahan yang tidak terprediksi atau tidak kita inginkan, pasti ada hal-hal yang membuat kita tidak nyaman. Jangankan mahasiswa, dosen juga mungkin tidak nyaman dengan perubahan ini.

Saat-saat seperti inilah saya suka meminta teman-teman semuanya untuk sadar bahwa terlepas dari peran-peran institusional dan fungsional kita, kita semua tetap manusia. Dosen harus paham bahwa mahasiswanya bukan ember yang siap di’tuang’ ilmu, tapi dosen juga tidak perlu menganggap mahasiswa itu customer sampai didewakan juga. Mahasiswa juga perlu sadar bahwa dosen bukan a.i. yang bisa menyulap anda yang tidak pintar jadi pintar, atau pelayan anda yang siap melayani anda 24/7 juga.

Transisi ke dunia maya daring ini tentu membuyarkan beberapa pemahaman yang sempat kaku dan baku antara relasi dosen dan mahasiswa, tapi kalau boleh kita telanjangi semuanya, pada dasarnya kita hanya manusia yang saling belajar dan mengajar.