Komposisi; Proximity; Suicide Squad

Film superhero DC pada tahun 2016 ini cukup menghebohkan sebelum rilis, dan membuat banyak sekali fans DC ‘hyped’ akan film ini. Namun apa daya, filmnya tidak sefenomenal rekannya, Batman V Superman. Tapi saya disini bukan untuk membahas film Suicide Squad. Tidak juga membahas kenapa filmnya jelek walaupun ada Jared Leto. Saya disini ingin mengulas desain poster Suicide Squad. Kenapa? Karena saya suka.

d4a65bda5131bde968111034cce8f4f33537875d-1
Poster Film Suicide Squad yang ingin saya bahas

Pertama kali melihat poster film ini, terus terang saya terpana. haha. Nggak bisa dipungkiri visual dari poster ini berbeda dengan poster-poster yang ada di tahun 2016. Ada beberapa faktor desain dari poster ini yang ingin saya bahas dengan lebih mendetil, tapi karena satu hal dan yang lain, disini saya akan membahas beberapa aspek yang umum terlebih dahulu masalah desain poster tersebut.

Dalam membahas sebuah desain, saya suka membahas form dari poster tersebut dengan cukup berlebihan. Alasannya karena yang saya nikmati pada sebuah poster film adalah form-nya. Umumnya saya melihat poster film terlebih dahulu sebelum filmnya, jadi jarang sekali saya bisa membahas content dari poster tersebut jikalau saya 100% tidak mengenali film tersebut (belum nonton trailer, tidak tahu pemain, sutradara dll). Sama halnya dengan context dari desain tersebut. Jadi disini akan saya bahas sedikit impresi (tidak begitu) pertama saya akan film Suicide Squad.

Secara form,  mari kita mulai secara menyeluruh dahulu, yaitu masalah komposisi. Secara komposisi, desain poster ini cukup sederhana, ada sebuah image yang diletakan secara dominan ditengah-tengah poster. Namun yang membuat cukup menarik adalah bagaimana image tersebut terdiri dari tokoh-tokoh film Suicide Squad berdiri pada sebuah bidang dengan dua goresan ‘X’ dan dua bidang yang agak berbentuk segitiga yang berhadapan. Seorang tokoh (joker), berdiri jauh dari tokoh-tokoh lainnya. Tokoh tersebut berdiri tepat di salah satu goresan ‘X’ tersebut, tepatnya di sisi kiri.

Mengapa posisi tokoh tersebut penting sekali dalam desain tersebut?

Pertama, image tersebut walaupun diletakan di tengah-tengah, namun image tersebut tidak dikomposisikan secara simetris. Sumbu gambar tersebut seolah dimiringkan melawan arah jarum jam, sehingga goresan ‘X’ tempat tokoh tersebut berdiri mendekati bidang poster. Komposisi asimetris dan penempatan tokoh yang tidak seimbang tersebut ‘membebani’ fokus desain, dari tokoh yang sendiri itu, lalu mengalir kebawah kanan, menuju tokoh-tokoh lainnya.

Kedua, ada prinsip yang dikenal sebagai gestalt, yang banyak digunakan untuk membahas komposisi didalam desain. Salah satu komponen gestalt adalah proximity. Dimana elemen-elemen yang diletakan berdekatan akan dipahami atau dilihat oleh pikiran kita sebagai elemen-elemen yang ‘serupa’ atau memiliki hubungan. Hal ini secara tidak langsung membuat kita mempersepsikan bahwa tokoh yang sendiri itu adalah tokoh yang ‘berbeda’, dan tentunya menjadi salah satu tokoh yang difokuskan (setidaknya di poster ini).


Didalam kuliah desain, setidaknya di kampus tempat saya menghabiskan jam tujuh sampai empat, pemahaman akan gestalt untuk melihat form adalah sesuatu yang ditekankan dan juga dilatih didalam kelas. Tidak hanya dalam mata kuliah-mata kuliah ‘teori’, namun juga di mata kuliah yang ‘praktek’.

Hal ini dilakukan sebagai upaya untuk membahasakan sebuah visual. Untuk bisa mendeskripsikan komposisi, apa yang ‘enak’, dan kenapa bisa ‘bagus’. Komposisi yang baik, menurut saya, adalah komposisi yang bisa dideskripsikan. Karena ketika sebuah komposisi bisa dideskripsikan, baik dengan prinsip desain maupun prinsip gestalt, ataupun prinsip-prinsip komposisi lainnya, sudah pasti komposisi tersebut memiliki sebuah struktur yang bisa dipahami.

Tapi perlu diingat juga, komposisi adalah salah satu aspek didalam desain, karena elemen-elemen yang ‘kurang baik’ ketika dikomposisikan dengan baik ya desainnya bisa saja tetap ‘kurang baik’. Oleh karena itu didalam studi desain, ada banyak aspek yang coba dipertimbangkan, supaya pada akhirnya, elemen, struktur ataupun komposisi dapat menyatu. Ya, harapannya supaya bisa baik dan juga menyatu.

 

Advertisements

Batman V Superman : Antara Dua Metode

Halo, saya lagi disini ngomongin tentang film. Hem. Harusnya gue banyak ngomongin masalah desain sih sesuai nama gue, tapi gatau kenapa malah jadi banyak ngomongin film. Haha. Mungkin perlu ganti nama kali ya jadi beasiswafilm. #eh.

Gue pengen ngomongin tentang apa yang gue pribadi dapet dalam film yang menurut gue epic ini. hem. Epic mungkin agak berlebih, tapi menurut gue ini salah satu film superhero yang bagus banget menurut gue. Nggak banyak film superhero yang punya nilai-nilai yang menarik untuk dipetik. Banyakan ya gitu doang, ada orang, mendadak dewa, ketemu musuh, berantem, terus menang. gitu… gitu… aja…

Tapi film ini beda. Sebelumnya gue perlu bilang satu hal. Gue nggak bermaksud spoil filmnya, tapi buat amannya, gue kasi tau di awal. SPOILER ALERT.

batman-v-superman-pink-eye

OK, kita lanjut. Jadi di Batman V Superman, atau BVS, film ini basicly nyeritain Batman ada konflik ama Superman. Tentang gimana konfliknya, dan kenapa, terus endingnya gimana, gue nggak akan share dulu sekarang. (Toh filmnya baru keluar) Buat gue, Batman dan Superman sebenernya ngomongin tentang dua paradigma yang sebenernya muncul sebagai responsi terhadap sebuah isu. Hanya saja kedua prinsip ini nggak jalan berdampingan sambil gandeng tangan. Mereka agak sikut-sikut dan saling ngejorokin kadang. Batman, menggambarkan sifat yang radikal, yang kalkulatif, yang preventif. Sedangkan Superman, dengan kekuatan nonbumi nya, menggambarkan sifat yang impulsif, tapi agak naif dan ya agak destruktif juga jadinya.

Ok, intinya Batman melihat segala kemungkinan yang ada, baru bertindak berdasarkan itu, sedangkan Superman, terjun dulu dan konsekuensi muncul, dan ya konsekuensinya cukup fatal sih sebenernya. Disini-lah gue ngerasa bimbang dan ragu antara keduanya. Keduanya mau ngebela hal yang bener, tapi ya beda aja caranya. Mungkin kalau di pengalaman gue pribadi, gue pernah kerja kelompok sama orang yang agak banyak maunya. Kalau dapet brief tugas langsung meledak-ledak, kepikir ide A sampai Z, dan pengen buruan kerjain dan kelarin, dan agak perfeksionis juga kadang. Disatu peristiwa lain, gue pernah kerja kelompok sama orang yang nyantai banget, sampai-sampai tinggal satu hari masih belom ada hasil apa-apa. Tapi ya gitu, pas udah kurang dari 24 jam itu baru -lah muncul ide-ide yang aduhai. Begadang deh.

Dalam kasus pertama, gue pernah dapet nilai bagus juga, tapi gue nggak akan boong, gue pernah juga kerjain beberapa alternatif desain, gonta ganti, rombak sana rombak sini, muter-muter dan akhirnya kembali ke titik nyaris awal. dan ya hasilnya gitu-gitu aja jadinya. Dalam kasus kedua ya gue pernah juga dapet bagus dan nggak bagus. Pernah ya jadi chaos banget, tapi pernah dapet hasil keren banget dan dapet nilai A juga. Jadi disini pas gue nonton BVS itu tadi, gue ngerasa gue bisa relate ke-keduanya. Yaa nggak secara ekstrim, tapi ada hal-hal yang bisa mbikin gue paham dengan kondisi seperti itu. Gue merasa nggak bisa hidup dengan ke naif-an ala Superman. tapi ya gue juga nggak setuju dengan sikap skeptis Batman.

batman-v-superman-image-gallery

Kalau dalam pengalaman gue lagi, yang emang gue perlu lakukan ya mau nggak mau ngimbangin. Yaa gue perlu rem temen gue yang impulsif itu, dan perlu mecut temen gue yang pasif itu. Kesamaannya, gue harus liat dan bekerja juga. Yah, kalo kasus Batman sama Superman sih gue gatau juga ya. Gue bukan mereka soalnya. Gue rasa Batman kan suka mikir, nah, jangan takutan dong. Coba pikir dengan akal sehat. Superman juga. Katanya punya sensor atau indra tajem, ya mbok dipake. Jangan nabrak-nabrak tembok aja. Kecuali lawan Jendral Zod lagi. haha.

Terlepas dari banyaknya review jelek tentang film ini. Ada hal lain yang bisa gue tarik dari Superman. Sebenarnya kutipan sih, tapi gue sendiri nggak bener-bener inget persis apa omongannya. Jadi dia ngomong ini ketika ada insiden yang terjadi karena dia lengah. Dia ngomong ke pacarnya,

It’s not because I cannot see,
It’s because I wasn’t looking.

Sederhana, tapi ketika dalam scene itu gue ngerasa sangat relevan. Banyak hal terjadi diluar rencana dan kendali kita. Tapi terkadang ada juga hal-hal terjadi yang sebenernya kita bisa cegah atau turut campur, tapi kita memilih buat ngabaiin, buat nggak mau lihat. Superman punya kemampuan buat ngeliat, tapi dia memilih buat fokus dengan hal-hal lain sampai akhirnya dia kecolongan. Batman punya kemampuan (kalau di film Dark Knight sih punya), tapi dia gunakan buat fokus hal lain. Keduanya bukan nggak bisa ngeliat, tapi memilih melihat hal lain, sehingga kepancing deh. Sehingga Batman VS Superman. Nonton deh, keren.

Salam Damai, selamat libur.

Hirarki dalam Desain dengan Zootopia!

Yes. Lanjut lagi dengan Zootopia! Mungkin kalau dibuat seri, sekarang gue udah masuk part ketiga, udah trilogi postingan yak. haha.

Part 1 : Tema & Isu dalam Zootopia

Part 2: Anatomi Huruf dalam Logo Zootopia

Sekarang gue mau ngomongin apa yang jadi makanan gue dalam belajar sehari-hari sekarang. Gue mau bicara mengenai salah satu prinsip desain, yaitu Hirarki. Tapi sebelumnya gue harus sedikit bicara bahwa ada banyak sekali opini tentang prinsip desain, dan mungkin salah satu sumber ada yang bilang hirarki tidak termasuk, tapi ada juga sumber lain yang dibilang hirarki termasuk. dll. Jadi ya kita lanjut saja, hal seperti itu minor kok, tidak perlu dipermasalahkan. Pokoknya kita bahas tentang hirarki dalam desain.Sebelumnya gue akan memperkenalkan dulu apa itu hirarki. Definisi dari dictionary.com cukup bagus untuk memulai.

Hierarchy : any system of persons or things ranked one above another.

Yes, secara singkat, dalam desain grafis. Hirarki bisa dikatakan sebuah sistem dimana ada elemen-elemen yang diposisikan lebih tinggi ‘kelas’nya. Buat apa? Nah kelas ini itu kita liat duluan, setelah itu baru selanjutnya, terus lanjut lagi seterusnya sampai habis. Gitu deh. Gue nemu gambar di internet yang cukup ngejelasin dengan cukup baik.

20130219_hierarchyofinformationgraphic_image

Nah. Kalau gue (dan gue harap kalian juga), gue liat di contoh sebelah kanan ‘lebih menarik’. ‘Lebih menarik’ ini ya karena adanya hirarki yang lebih terlihat di contoh sebelah kanan. Terus kita lanjut, emang hirarki yang sebelah kanan gimana sih? Balik lagi, kalau gue, gue akan lihat kotak merahnya duluan. Terus baru kotak Krem, baru ngeliat blok hitam. Inipun agak diperdebatkan. Karena disatu sisi gue mungkin akan ‘ketarik’ buat ngeliat blok hitam kebawah daripada ngeliat blok hitam paling atas. Sehingga elemen di sisi atas malah agak ke skip buat gue. Nah lho, nggak ok dong?

Nah disini lah gue akan ngomong komponen-komponen lain yang mempengaruhi hirarki buat gue. Pertama ya elemen desain itu sendiri. Bentuk, warna, ukuran elemen dan seterusnya. Jelas aja, yang dicontoh diatas gue liat kotak merah duluan karena ukurannya yang cukup besar (walau bukan paling besar), terus juga karena merahnya. Nah kedua, penyusunan elemen desain itu sendiri. Disini gue udah bicara mengenai prinsip desain, dan mungkin juga prinsip-prinsip gestalt. Inilah yang ngebuat gue lanjut liat kotak krem dibawahnya, dan bukan lihat ke atas. Dan karena sudah ada tendensi untuk melihat kebawah, maka ‘ketarik’lah gue untuk lanjut ngeliat ke arah bawah. Komponen lain menurut gue sebenernya konteks sih. Gimana kondisi kita ketika ngeliat desain atau obyek tersebut. Kalau gue liat secara gamblang ya begitulah hirarki yang gue dapet. Tapi coba kita sejenak bayangkan kalau obyek serupa itu kita liat sebagai layout website. Dimana kita harus scroll. Jadi mau nggak mau kita akan liat blok hitam paling atas (which is judul blog / judul web) baru kita liat blok hitam besar selanjutnya (judul post) dan seterusnya. Ketika dalam skenario tersebut, gue ga akan terekspos sama kotak merah tadi atau kotak krem. dan mungkin gue akan melihat/membaca semua elemen dalam desain tersebut secara menyeluruh, dan tetap terasa hirarkinya. Btw, ini cuma opini aja, nggak ada text book atau riset gimana-gimana kok. haha.

your-eyes-here

Nah contoh gambar diatas ini lebih keliatan deh hirarkinya, dengan maen ukuran huruf, case dari huruf juga, terus kalau kita ibaratkan dengan bentuk, bentuk ini sangat kontras dengan warna latar belakangnya, dan juga kontras lebih beasr daripada elemen-elemen lain. Gitu aja sih ngejelasinnya, dengan penjelasan itu, gue udah ngomongin masalah warna, typografis, komposisi, prinsip desain kontras, relasi figure ground, dan tentunya udah mbahas dikit tentang hirarki. Gue belum bahas mengenai pemaknaan dan aspek fungsi desain =P

zootopia

Nah kalau gitu kembali ke Zootopia. Gimana sih hirarkinya (menurut gue)? Kalau mau kita cacah-cacah tiap elemennya mungkin sulit yak. Kenapa sulit? Karena emang banyak banget elemen-elemen yang ada disana. Tapi secara sederhana gue bakal bahas dikit tentang flow mata gue, dan kenapa gue ngeliat seperti itu, dan kenapa gue bilang itu bagus.

  1. Gue liat Disney, kemudian judul Zootopia. Kenapa? Posisinya agak tengah, paling atas, sangat kontras dibandingkan dengan latar belakang biru langit, bandingkan dengan elemen-elemen lain yang ada di poster yang ramai. Jadi keliatan menonjol kan? Sedikit tambahan aja gue suka gimana mereka nggak harus blow up judul filmnya, dan gimana cerdasnya mereka implementasi judulnya terhadap poster secara keseluruhan. Duh, bisa bikin postingan baru cuma sekedar ngomongin itu.
  2. Gue liat icon rubah jalannya. Karena dia nempel juga sama judul. Mungkin juga dipengaruhi mata gue turun secara diagonal, ngikutin orientasi logo Zootopia yang emang agak diagonal turun begitu. Jadi otomatis buat gue, gue lanjut ngeliat bawahnya. Selain itu , icon rubahnya cukup beda. Terdiri dari elemen titik-titik yang sangat beda dengan elemen-elemen ilustrasi lainnya di sisi lain.
  3. Gue liat karakter kelinci dan rubah (terus si domba juga). Kenapa? Nah ini seru buat gue bahas. Kalau gue, sama kayak alesan sebelumnya, karena mereka bener-bener dibawah elemen icon rubah tadi sebelumnya. Mereka terletak satu orientasi di bawahnya. Lalu terlepas dari itu, perhatiin deh gimana terang gelap pencahayaan di poster juga membuat separasi khusus dari kedua tokoh ini dengan tokoh-tokoh lain. Jadi emang ya mata kita diajak ngeliat kesitu dengan terang gelapnya. Mungkin nggak bisa dijabarkan secara gamblang. Tapi ya kita akan persepsikan gitu. Persepsiin gimana terang itu sesuatu yang ingin di ekspos dan gelap sesuatu yang ingin disamarkan. Ini nih letak kekaguman gue terhadap posternya yang signifikan.
  4. Ya abis itu baru deh liat yang from the director bla bla bla dan juga March 4 nya. Karena pas mata gue udah sampe di rubah dan kelincinya, sekelilingnya gelap. Gue ga mungkin naik lagi ngeliat icon. Ya mungkin aja sih, tapi buat apa? Nah kedua text ini tiba-tiba muncul secara kontras dibandingkan dengan elemen lain. Jadi ya mereka langsung narik mata gue kesitu. Ditambah lagi karena mereka text. Elemen yang emang beda karakteristiknya disitu, jadi nimbulin kontras juga dibanding yang lain-lain.

Jeng jeng. Begitu deh. Nggak terasa banyak juga pembahasan gue. Sebelum ngetik berasa akan sangat singkat dan sederhana. Haha.

Kalau gitu gue sudahin dulu aja disini. Dalam kesempatan ini gue mau ucapin banyak terima kasih sudah membaca post saya. Kalau boleh, mungkin bisa di like atau juga di share ke teman-teman sesama pelajar desain. Setiap kritik dan komentar pasti akan membangun gue. Asal jangan terlalu pedas dan galak ya.

Jadi sampai disini dulu pembahasan gue tentang Zootopia. Salam, Have a great day. V

Zootopia!

OK, hari ini gue mau tulis sesuatu yang berbeda, sesuatu yang pengen gue tulis beberapa hari belakangan ini. Sesuatu yang menginspirasi gue dan gue diskusi terus menerus sampai temen-temen gue ngrasa gue agak aneh dan membosankan. Gue bakal ngebahas: ZOOTOPIA! Gue nonton Zootopia beberapa hari yang lalu. dan gue sangat hyped dengan film tersebut. Sebelumnya gue nggak tertarik sama film itu dan salah persepsi sebenernya tentang tu film. Gue pikir Zootopia itu film lain dengan judul ‘Zoo…’ juga.

maxresdefault3

Males kan? makannya gue sendiri nggak nonton trailer atau nggak nyadar keberadaannya sampai seminggu sebelum gue nonton tu film. dan gue harus akuin, gue super duper tertarik pas liat poster, liat trailer dan juga nyari tau tentang Zootopia. (bye bye Zoolander). Ok, sekarang kita ngomong dikit tentang Zootopia. Film aduhai ini adalah film animasi keluaran 2016 oleh Walt Disney Animation Studios. Kalau belum pernah tahu apa itu Walt Disney, boleh kok googling buat cari tau. Salah satu pengisi suara filmnya adalah Jason Bateman. Dirinya pertama kali gue liat di film ‘The Switch’ bareng Jennifer Anniston. Disitu gue cukup suka suaranya dan langsung recognize suara dia pas gue liat trailer Zootopia. Gue terus melanjutkan pencarian gue dengan liat poster filmnya (Bisa diliat di akhir paragraf). Poster filmnya keren banget buat gue. Mungkin dikesempatan lain gue bisa critain opini gue tentang poster film itu. Fix gue mau tonton ni film.

zootopia

Pergilah gue jumat lalu menonton film itu.

Fast forward ke hari ini.

Sebelumnya gue peringatkan karena gue mau ngulas tentang Zootopia, sudah pasti ada sedikit bocoran. Gue usahakan semaksimal mungkin buat nggak membocorkan, tapi ya kalau bocor juga ya jangan marah. Anda sudah saya peringatkan. Jadi secara sederhana aja. Zootopia adalah film yang menceritakan sebuah kota atau area, Zootopia, yang ditinggali sama binatang-binatang mamalia yang beragam. Dari tikus sampai gajah, dari domba sampai harimau, dari kelinci sampai rubah. Intinya, beragam dan juga unik. Karena mamalia predator dan mamalia yang di mangsa bisa hidup bersama-sama dengan harmonis. Atau benarkah harmonis?

thumbnail_22123

Nah, cerita di film ini mulai bergulir ketika terjadi insiden-insiden binatang mulai lenyap gitu aja nggak bisa ditemukan. Dalam film ini, ada seekor polisi kelinci dan juga temennya, seekor rubah, yang berusaha menguak misteri ini yang terjadi di Zootopia. Jeng jeng. Ceritanya cukup simple kok, ada sebuah masalah, dan ga lama muncullah jagoan, dan kita diantar ngikutin perjalanan si jagoan dan juga masalah-masalah yang dia hadapin. Mungkin yang familiar dengan ‘monomyth’ bakal ngeh kalau model ceritanya sangat-sangat seperti demikian.

Terus apa sih yang menarik dari film ini? Pertama, kita ga liat ada manusia. Kita ngeliat hewan-hewan yang bertingkah laku seperti manusia. Kita bisa ngeliat karakteristik hewan yang beragam dan unik-unik pada tokoh dalam film itu. Disinilah gue merasa film ini luar biasa berhasil dan jadi keren. Dengan penokohan unik mereka, mereka menyisipkan sebuah isu yang terjadi nyata sekarang. Yaitu isu tentang diskriminasi. Hanya saja isu ini disampaikan dengan cara yang berbeda dan unik dalam film ini. Isu ini digambarkan dengan gimana hewan-hewan atau kelompok hewan-hewan tertentu mengalami ketidak adilan dalam masyarakat sosial mereka. Mereka sering kali dihina atau dicemooh dan diperlakukan semena-mena hanya karena mereka hidup menjadi diri mereka sendiri.

Isu ini nyata. Di Indonesia khususnya gue melihat adanya diskriminasi terhadap ras-ras tertentu. Baik diskriminasi dari kalangan mayoritas ke minoritas maupun sebaliknya juga, begitu pula di film ini. Di Zootopia terjadi diskriminasi juga. Dari kaum A terhadap kaum B, dan begitu pula sebaliknya. Apa sih yang ngebuat ada terjadinya diskriminasi ini? Dalam film ini gue merasa jawabannya adalah ignorance, atau ketidak pedulian. Kita nggak peduli makannya kita berlaku demikian. Kita nggak mempedulikan mereka, oleh karena itu kita ‘gagal’ untuk ngeliat mereka sama kayak kita, sama-sama manusia (atau sama-sama mamalia dalam konteks film zootopia).

zootopia-trailer-movie1-728x409

Tapi sebelum gue lanjut lebih dalam lagi, gue akan akui bahwa selepas film ini, ada juga beberapa isu-isu yang muncul. Ya kembali lagi ke individu tiap orang sih. Atas dasar menjaga konten, gue ga akan post isu-isu tersebut karena disini, gue mencoba membawa dan juga menyebarkan nilai positif yang ada dalam film Zootopia. Gue harap dalam kesempatan lain gue akan bisa ngebahas lebih lanjut tentang Zootopia. Gue ga tau bisa apa nggak. Gue masih ada beberapa PR juga di blog ini yang harus gue kerjakan. Jadi ya, kita liat aja nanti.

Sampai jumpa di obrolan selanjutnya. Jaga kesehatan ya temans. Have a good day!