Grafis dan Desain Informasi

Berpadu dalam komunikasi informatif melalui gambar dan aksara.

Ditulisan kali ini, yang sebenarnya tidak banyak membicarakan mengenai desain informasi secara mendetil, akan membahas mengenai kedua elemen desain grafis dan dicoba dikaitkan dalam performanya didalam desain informasi. Tulisan kali ini berdiri secara independen, namun untuk menyamakan persepsi mungkin ada baiknya membaca sedikit tulisan mengenai apa itu Information DesignKarena sepakat (atau setidaknya simpatik) terhadap perspektif yang akan saya tawarkan akan memudahkan pemahaman apa yang ingin saya sampaikan. Dalam tulisan kali ini, saya ingin meminjam beberapa pemahaman mengenai komponen-komponen desain grafis dari Nancy Skolos & Thomas Wedell. Saya sih nggak pernah ngobrol, tapi dari buku mereka Type Image Message – A Graphic Design Layout Workshop, saya sedikit banyak mendapat pencerahan dari secuil perspektif mereka dalam gambar dan aksara.


Dalam bukunya, Skolos & Wedell memberi contoh bagaimana sebuah foto dan sebuah tulisan ‘dibaca’ dengan cara yang berbeda. Foto dilihat sebagai representasi dari dunia fisik yang memiliki kesan waktu dan ruang, sedangkan tulisan atau aksara, tidak dapat ditemukan dalam dunia fisik. Bertolak dari pandangan tersebut, saya mencoba untuk memperluas pemahaman foto menjadi gambar, karena gambar bisa berupa foto maupun ilustrasi, dan keduanya juga merupakan representasi langsung dari apa yang kita lihat di dunia fisik secara natural.

beasiswadesain-05
For people that does not speak the language of Japan, Indonesia or Russia, the only ‘thing’ that they can fully understand is probably number 1, 2 or 3. For people that speak English (and other languages that may absorb several vocabularies, such as Indonesia), ‘5’ probably can be interpreted with some assumptions. 

Untuk yang mungkin tidak fasih dalam bahasa Inggris, atau merasa bahasa Inggris saya tidak jelas, deskripsi diatas hanya mencoba mendemokan gagasan yang saya sampaikan sebelumnya. Melalui gambar apel (baik foto, ilustrasi ataupun stilasi) kita dapat lebih memahami apa yang ada dibelakang ‘tanda’ nomor 1, 2 dan 3. Untuk kita yang berbahasa Indonesia, kita juga paham bahwa ‘a’, ‘p’, ‘e’ dan ‘l’ ketika disusun menjadi ‘apel’ menandakan buah apel (atau makna-makna lain yang homograf dengan ‘apel’). Untuk yang sedikit banyak paham bahasa Jepang dan Rusia, mungkin tanda nomor 4 & 6 juga dapat dimaknai sebagai buah apel (walau saya sendiri sepenuhnya mempercayai google translate dan tidak meluangkan waktu untuk klarifikasi hasil terjemahan google).

Pertanyaannya sederhana: mengapa gambar dapat dipahami lebih mudah daripada tulisan? Mudah disini maksudnya lebih universal dan lebih banyak orang dapat memahaminya. Jawabannya seperti yang coba dijelaskan oleh Skolos & Wedell. Gambar merupakan representasi dari apa yang kita temukan secara natural sehari-hari, sedangkan tulisan, atau setidaknya aksara-aksara tersebut, tidak ditemukan secara natural dalam keseharian kita.

Makna dari tanda nomor 5 didapatkan dari proses konstruksi dalam tatanan pikiran kita sehingga wujud tulisan ‘apel’ dapat dimaknai dengan mudah sebagai buah apel (atau makna-makna lain yang homograf). Makna darti tanda nomor 1,2 dan 3 didapatkan dari pengalaman personal berinteraksi dengan benda aslinya, yaitu buah apel itu sendiri. Ketika kita mencuci buah apel, mengupas buah apel, menggigit buah apel, pengalaman-pengalaman personal itu membantu membentuk konstruksi makna melalui pengalaman kita akan buah apel. Sehingga melihat gambar buah apel, segala pengalaman tersebut dapat ‘terpanggil’ dan kita dapat langsung paham apa yang dicoba direpresentasikan dalam tanda nomor 1,2 dan 3. Sedangkan tulisan ‘apel’ mencoba merepresentasikan buah apel itu dengan upaya mekanik dan geometrik, yaitu melalui aksara ‘a’, ‘p’,’e’ dan ‘l’ yang disusun menjadi kata ‘apel’.

Gile ya.

Ketika sejenak kita mencoba melihat bahwa dalam keseharian kita, kita selalu menggunakan simbol-simbol, maka tidak heran kalau ada hal-hal seperti miskomunikasi, atau mis pemberian dan penangkapan makna dari simbol.

Namun apakah berbahasa melalui visual, melalui gambar semata adalah hal yang baik? saya rasa kalau jawabannya adalah iya, maka tidak akan pernah tercipta bahasa. Kembali ketika kita melihat bahwa gambar apel dapat dimaknai secara personal sesuai dengan bagaimana kita masing-masing berinteraksi dengan buah apel itu, maka cukup sulit untuk dapat ‘sepakat’ akan sesuatu berdasarkan pengalaman personal yang beragam itu.

Buah apel dapat dilihat sebagai buah saja. Buat beberapa orang, buah yang enak, ada yang bilang buah yang tidak enak. Ketika konteks ekonomi turut membentuk makna, maka ada yang beranggapan apel adalah buah yang mahal, tapi ada juga buah yang murah. Ketika aspek kesehatan ikut juga, maka ada yang melihat buah apel sebagai buah mahal yang tidak enak namun menyehatkan, namun ada yang melihat apel sebagai buah yang enak, murah dan menyehatkan. Fantastis.

Oleh karena itu saya rasa sangat mustahil untuk berbahasa semata-mata dengan visual, atau dengan menggunakan makna yang didapatkan dari pengalaman personal untuk setiap-setiap orang. Disinilah peran bahasa dan aksara muncul. Karena arti dari bahasa adalah sesuatu yang dikonstruksi secara bersamaan dengan orang-orang lain disekitar kita, maka walau tidak secara langsung merepresentasikan benda nyatanya, maka kata ‘apel’ dapat secara jelas menceritakan buah apel, dan kata ‘apel yang mahal’ dapat secara langsung berbicara mengenai buah apel yang secara harga dan nilai tidak masuk akal, walau kembali, persepsi mahal itu dapat berbeda-beda juga yah. hahaha.


Oke-oke kurang lebih itu pemaparan saya yang mungkin agak redundant, tapi semoga cukup jelas.

Lalu korelasi antara grafis (gambar dan aksara) dengan information design apa???

information-graphics-isotype-chart-wwi
Salah satu infografis dengan ISOTYPE dari Otto Neurath.

Gambar diatas adalah salah satu contoh infografis (itu tuh yang lagi ngehype dan ramai). Infografis humble ini mencoba ngasi tau kita hasil dari perang dunia pertama. Gambar dari prajurit, prajurit cedera dan kuburan prajurit sebenarnya cukup merepresentasikan gagasan utama untuk orang-orang yang tahu bahwa baju prajurit tersebut adalah seragam dari prajurit pada era perang dunia pertama. Sehingga melihat perbandingan jumlah, kita dapat secara cepat mendapat gambaran perbandingan dari prajurit dua pihak, yang ditunjukan melalui dua arah yang berlawanan. Tulisan yang menjadi judul dan tambahan deskripsi membantu orang-orang yang terlepas dari zaman itu untuk tahu informasi tersebut, sehingga informasi tetap bisa dipahami oleh orang-orang yang hidup 100 tahun sejak perang tersebut.

Disini peran gambar dan peran tulisan saling mendukung untuk memberikan informasi sebanyak mungkin dengan desain yang sesederhana mungkin. Ini-lah sesuatu yang sangat ideal untuk dicapai dalam sebuah information design. Terlihat sederhana, tapi butuh waktu, latihan dan pikiran untuk benar-benar bisa menguasai paradigma tersebut.


Supaya tidak meluas pembicaraannya, saya akan coba sudahi tulisan sederhana ini disini dulu saja. Kalau di recap, sedikit banyak postingan ini mencoba menjelaskan bagaimana gambar dan tulisan mampu memberikan makna. Bagaimana keduanya bekerja dan potensi kerja sama seperti apa yang keduanya dapat lakukan.

Semoga tulisan ini dapat menjadi tulisan lanjutan dari apa yang saya tulis sebelumnya. Akhir kata, mengutip apa yang Otto Neurath sampaikan:

Words divide, pictures unite.