Typografi & Pasangan Hidup

Dalam hujan pagi hari ini gue pengen sedikit ngeluarin ide yang tiba-tiba muncul di kepala gue. Gue sadar sebagai seorang ‘akademis’, orang yang konon memiliki tanggung jawab untuk dedikasi pada pendidikan, gue merasa gue terpanggil untuk ‘menyederhanakan’ atau ‘mempermudah’ pemahaman seseorang akan suatu hal yang gue udah pahami. Banyak orang pandai, dan banyak juga orang-orang yang kurang pandai, nah gue ngerasa punya tanggung jawab untuk jadi orang yang menghubungkan keduanya, baik untuk menyamakan persepsi, menyampaikan pesan, maupun menerjemahkan isyarat-isyarat.

Kali ini gue akan sedikit mengulas mengenai tipografi. Sebuah ilmu yang pemahamannya sendiri mengundang perdebatan kalau menurut gue. Kenapa? Gue suka definisi dari typografi ini,

“Typography is the visual representation of text information” (Hillner, 2011:13).

Dimana disini jelas sekali maksudnya, yaitu typografi adalah representasi visual dari informasi teks. Disini kata kuncinya adalah representasi visual dan informasi. Kenapa? Karena disinilah letak aspek yang menjelaskan fungsi dan juga apa itu typografi itu sendiri. Typografi adalah representasi visual, sebuah permainan grafis, komposisi elemen aksara, sebuah proses visualisasi. Lalu apa kegunaan dari semua permainan ini? Untuk informasi. Informasi apa? Nah ini untuk pembahasan lain waktu. Tapi disini mari kita samakan dulu persepsi kita: Typografi adalah sebuah visualisasi teks (atau komponen yang lebih kecil lagi, aksara) untuk informasi. Jadi kalau sebuah ‘karya typografi’ tidak informatif, apakah ia bukan sebuah karya typografi? Buat gue pribadi iya, karena menyalahi apa premis gue tadi. Tapi bukan berarti ‘karya typografi’ tidak informatif itu tidak penting atau tidak pantas ada. Boleh saja, tapi mungkin dengan nama atau istilah berbeda. Lalu apa kaitannya dengan pembahasan gue?

Typografi, kalau kita lihat dari sisi fungsi, memiliki tujuan untuk mengandung informasi; pasangan hidup, kalau kita harus melihat dari sisi fungsi paling sederhana, memiliki tujuan untuk mengimbangi kita, untuk ‘menggenapi’ kita.

Seorang pasangan hidup yang kita bisa pahami, adanya komunikasi yang jelas, bisa gue coba ibaratkan seperti sebuah paradigma typografi modernis yang terstruktur dan mengutamakan informasi. Kalau dari sudut pandang gue yang diakui sebagai pria, gue merasa seorang perempuan yang jelas maunya apa, itu sangat menyenangkan. Menyenangkan karena gue nggak perlu melakukan proses lebih dalam untuk bisa memahami apa yang dimaksud, semuanya crystal clear.

Disisi lain, seorang perempuan yang mungkin gue nggak bisa pahami sepenuhnya, maunya berubah-ubah, terselubung dan perlu effort lebih untuk bisa dipahami mungkin seperti pola typografi postmodern dimana memang mereka mencoba melawan norma atau pemikiran modernis. Tapi bukannya gue bilang perempuan yang ‘nggak jelas’ (kalau boleh digunakan istilah itu), melawan norma loh, ini cuma pengandaian belaka.  Ketika kita berdialog dengan pasangan kita, dan kita perlu sedikit waktu untuk mundur dan berpikir: “dia kenapa ya?”, “kemaren abis ada apaan ya?”, “ini tanggal berapa sih?” mungkin memang ini langkah serupa ketika mau mendalami karya typografi postmodern, dimana ketika kita lihat, mungkin menarik, mungkin tidak (tergantung preferensi), dan kita nggak bener-bener bisa memahaminya ketika kita lihat langsung.

Sebuah contoh sederhana adalah melihat David Carson (lagi). Karya beliau mungkin tidak ‘jelas’ tapi hal itu bukan berarti karya tersebut tidak informatif. Karya beliau memiliki informasi-informasi yang mungkin ga tampak (atau tertulis) tapi informasi itu ada untuk kita bisa tangkap. Konon ada sebuah artikel majalah yang ia desain menggunakan wingdings, sehingga tidak ada kata yang bisa dibaca secara langsung. Apakah karya itu tidak informatif? Tentu tidak! Informasinya ada disitu, tapi memang perlu ada usaha lain buat bisa memahaminya. Kenapa karyanya seperti itu? Kita harus melihat latar belakangnya dulu, jangan buru-buru menarik kesimpulan. Katanya, Carson mengungkapkan latar belakang layoutnya adalah karena ia merasa artikel yang ia kerjakan itu sangat membosankan, sehingga daripada orang membacanya bosan, lebih baik ia ganti aksaranya menjadi wingdings, dimana lebih menarik dan menyenangkan secara visual. Jadi naskahnya tidak bisa dibaca dong? Bisa, lu tinggal terjemahin aja dari webdings ke huruf biasa.

wingdings article publication design david carson
Designed David Carson – http://cdn2.theawl.com/wp-content/uploads/2012/08/raygun_wingdings-e1345563078570.jpg

Kalau boleh gue tarik kembali ke pengandaian tadi, ada perempuan-perempuan yang seperti karya Carson itu tadi. Kita nggak bisa nangkep apa maksudnya dari apa yang ia ucapkan, tapi bahasa tubuh, ekspresi wajah, serta konteks dalam interaksi kita bisa memiliki kontribusi lebih dalam memberikan informasi. Indra kita mungkin tidak bisa menangkap, persepsi kita mungkin bisa salah, hal itu terjadi karena kita membiarkan hal itu terjadi. Kita nggak ada usaha lebih untuk berhenti (tidak merespon secara impulsive), mundur selangkah (memahami konteks), dan untuk berpikir kenapa.

Gue suka mencerminkan preferensi desain dan juga preferensi orang dalam memilih pasangan, dan seperti yang gue duga, sepertinya ada relasinya. Walau mungkin tidak 100% akurat atau nampak, tapi benang merah itu ada. Orang-orang yang terbiasa dengan struktur, mungkin akan memilih istri pasanganberpenampilan rapi, umumnya komunikatif dan apa yang ia pikirin bisa disampaikan secara langsung. Orang yang mungkin suka desain yang lebih ‘berani’, lebih eksperimental, ya lebih condong ke postmodern mungkin juga menyukai pasangan yang lebih ‘berani’ dalam penampilan, atau mungkin lebih dinamis, tidak serapi atau se’predictable’ orang-orang modernis. Tapi gue rasa pasti ada fase-fase yang tetap nggak terprediksi. Namanya juga manusia; nggak bisa semudah itu diklasifikasikan.

Semoga dengan ini, teman-teman bisa sedikit memahami karya typografi postmodern, atau mungkin lebih memahami pasangan masing-masing.

 

 Daftar Pustaka
Hillner, Matthias. 2009. Basics Typography 01 : Virtual Typography. Case Postale: AVA.

House of Type – HT Shift.

Buat kalian yang nggak tahu, pada tanggal 26 dan 27 Februari lalu ada ‘pameran’ / ‘seminar’ di Galeri Salihara, Jakarta Selatan. Hajatannya House of Type, di support sama Arco Labs. Berikut posternya.

final-poster-preview-copy-12
Poster Acara – bukan gue yang desain.

Nah, gue dapet kesempatan buat bisa hadir di acara tersebut bareng sama teman-teman dosen dan juga mahasiswa lainnya. Gue dateng di hari kedua, hari sabtu, pas malam minggu. Asik ya? Gue ikut acara Diskusi ‘Man & Machine’ yang dibawain sama Rio Adiwijaya dan dimoderasi sama Yasser Rizky, terus acara kedua Typography Talk dibawain sama Khaerun (sang desainer, more on that) & Christo Wahyudi. Dalam skala 1 – 10, mungkin gue rate acara keseluruhan 78/9. Keren, tapi belum 87/9.

Jadi gue tarik mundur dulu. Acara ini diselenggarakan sebagai ‘peluncuran’ sebuah typeface baru, ‘HT Shift’ di desain oleh Khaerun dan juga event pertama kalinya gue denger si House of Type ini. Jadi di Galeri Salihara itu ada serangkaian artwork, dan juga beberapa poster-poster yang menarasikan si ‘HT Shift’ ini. Bisa dilihat di foto amatir gue dibawah ini.

This slideshow requires JavaScript.

Sebenernya apa sih ‘HT Shift’ ini? Pas diliat awal-awal sih ya gitu deh, huruf. Kenapa bisa masuk galeri? Bingung juga, makannya gue dateng dan ga malam mingguan. haha. Basicly huruf ini unik buat gue, pas pertama kali gue liat undangan yang dikasi ke gue, gue cukup ‘terpukau’ sama desain undangannya yang memakai ‘HT Shift’ ini. Pas pertama kali gue liat ini, yang kebayang di otak gue langsung. EKSPERIMENTAL. Which turns some people on, dan beberapa enggak. Kalo gue, gue tertarik.

Dalam beberapa aksara yang gue bisa perhatikan, gue nemu beberapa aksara yang unik, seperti huruf ‘u’ yang bener-bener huruf ‘n’ tapi dibalik, jadi aneh/unik, tergantung preferensi masing-masing. Terus gue juga liat gimana huruf kecil ‘a’ sama ‘e’ itu beda karakter banget. ‘a’ nya mirip sama huruf futura awal-awal, dan ‘e’ nya ya ‘e’ biasa. Kayak Gotham mungkin.

Lucu ya? Buat gue sih berani, karena ya ini kan sebuah eksplorasi bentuk, dan bentuknya bisa dikatakan nggak umum. Salut. Terus ada beberapa ligatur yang dipakai dalam desainnya, dan gue yang ada ‘secret crush’ sama ligatur-ligatur, juga bisa dikatakan terpikat sama HT Shift ini. If you’re looking an experimental (Indonesia-made) typeface, HT Shift is a must see! Oh ya, dan enggak, gue nggak di endorse dan gue nggak punya typefacenya, jadi jangan tiba-tiba minta gue. haha.

Terus kita balik lagi ngomongin acaranya, ada di acara pertama, ‘Man & Machine’, gue pribadi menangkap dan merefleksikan kehidupan gue sebagai manusia sekarang. Ada sebuah pernyataan kurang lebih ngomongin tentang gimana teknologi, yang seharusnya kita utilize, kita manfaatkan, sekarang malah ‘mendikte’ atau ‘mendrive’ kita. Kita ada di posisi dimana kita disetir sama teknologi dalam keseharian kita, baik karena kita suka dan ‘ketagihan’ ataupun karena tuntutan. Hal itu terjadi mungkin karena kita ‘take things for granted’. Kita lihat teknologi, ya kita pakai aja, nggak mikir panjang. Begitu juga dengan aksara atau huruf, they simply exist. Kita nggak tahu kenapa mereka ada, atau gimana mereka memfasilitasi kehidupan global dan ‘modern’ kita. Makannya mungkin orang mundur dan bertanya ke Khaerun, “lu pameran font????”

20160227_170313
Baju Kuning, Rio Adiwijaya; Baju Hitam, Yasser Rizky; Baju Abu-abu, Khaerun.

Acara kedua, Typography Talk sama Christo & Khaerun. Nah ini seru. Sebelumnya gue udah merasa kenal sama Christo dan suka ngobrol bareng, gue lihat Christo dalam typografi, ada preferensi pada typografi yang terstruktur, fungsional, legible, dll. Dan ketika gue tau dia ikut ngomong di acara ini, dimana undangannya aja cukup eksperimental dan mungkin ada poin-poin ‘huruf rapi’ yang nggak dimiliki ‘HT Shift’, gue penasaran. “Christo mau ngomong apa ya disini?” Udah deh. I’m sold.

Dalam acara kedua ini, Christo diminta opini dan pendapatnya tentang ‘HT Shift’, dan gue lihat dialog antara Christo, Khaerun dan Yasser sangat menarik. Gue ngeliat orang rapi & orang selengek-an, gue liat langit, gue liat bumi, gue liat terang, gue liat gelap, gue liat jedi, gue liat sith, gue liat modernis, dan gue liat postmodernis.

20160227_202215
Yasser & Khaerun dalam Typography Talk (Maaf, Christo nggak ke foto)

Sebagai orang yang terbiasa dididik dengan aliran typografi rapi gue cukup terbuka matanya dengan acara ini, gue ngeliat sisi lain dari typografi, dan gue ngeliat gimana sisi sana bukanlah sisi yang ‘jelek’ atau tidak ‘matang’, dan gue tertarik juga untuk menyebrang kesana, dan melihat apa yang bisa gue bawa pulang. Ada beberapa pertanyaan-pertanyaan yang muncul, dan selama perjalanan pulang gue banyak mikir, dan gue enjoy banget acara ini. Gue belajar gimana cara mengapresiasi kembali huruf yang eksistensinya udah kental banget sama kehidupan gue. Gue belajar ngeliat lebih dari sebuah bentuk, tapi juga gimana bentuk itu terwujud. Gue ngeliat gimana tanggung jawab desainer itu ada dalam karya-karya desainnya.

Sukses terus buat ‘HT Shift’, buat House of Type, buat Khaerun dan rekan-rekan semua. Salam, Have a great day.