Apa yang Dilakukan Desainer Grafis

Kembali menulis di blog ini, saya sempat lupa akan tema-tema yang ingin saya tulis sebelumnya. Jadi membuka kembali lembaran baru, disinilah saya akan menyambung dan merealisasikan apa yang telah dijanjikan sebelumnya: yaitu membahas orang dibelakang sebuah desain grafis, yaitu sang desainer grafis. Mungkin perlu disepakati bahwa tidak semua orang dibelakang sebuah desain grafis adalah seorang desainer. Namun guna memperindah kalimat, maka saya tulis demikian walaupun seratus persen saya sadar tidak seperti itu kenyataannya. Benarkah demikian?


Dalam menyatakan pandangan saya, saya berangkat dalam sebuah pandangan sederhana bahwa yang dimaksud desainer grafis adalah seorang desainer dengan medium grafis, atau lebih jelas lagi, desainer grafis adalah desainer yang bekerja dalam medium gambar dan tulisan. Jadi pekerjaan yang dilakukan sangatlah beragam, dari membuat logo, membuat iklan, materi publikasi, sistem tanda ataupun membuat tampilan aplikasi digital. Nah, bicara pekerjaan kental dengan benda yang dihasilkan, jadi sudah cukup pembahasan mengenai output dari sang desainernya, tapi sekarang kalau kita bicara lebih detail lagi, apa sih yang benar benar dilakukan oleh desainer, ataupun yang dikerjakan sang desainer, pembicaraan meluas lagi.

desainer grafis adalah desainer yang bekerja dalam medium gambar dan tulisan.

Dalam upaya membatasi tulisan saya kali ini, saya akan memperkenalkan seorang desainer yang bisa dikatakan sebagai pencetus istilah ‘desainer grafis’. Sosok orang itu adalah Willliam Addison Dwiggins. Dwiggins menggunakan istilah tersebut untuk ‘melabeli’ dirinya sendiri. Siapa sangka, label itu digunakan secara luas, bahkan terlalu luas sampai ‘kegunaan’ label itu sendiri pun tidak seperti tujuan awalnya.

Desainer grafis adalah istilah yang ia gunakan untuk menjelaskan orang-orang yang mendesain untuk media-media cetak pada saat itu. Pada tahun 1922, ada banyak sekali praktisi yang berhubungan dengan desain, seperti arsitek, desainer produk, desainer interior, ataupun desainer industrial. Dwiggins kemudian menggunakan kata desainer grafis untuk membedakan dirinya dengan desainer-desainer pada ranah-ranah lainnya. Istilah desainer juga digunakannya untuk membedakan dirinya dengan orang-orang dibelakang layar lainnya dari sebuah media cetak, seperti tekhnisi cetak, typesetter ataupun operator cetak itu sendiri. Desainer adalah sosok yang berbeda dengan orang-orang yang terjun pada proses produksi dari desain itu, karena seorang desainer belum tentu terjun tangan sendiri dalam setting font, ataupun mencetak sendiri desain-desainnya.

graphic designer-01

‘Peran’ yang dimainkan oleh Dwiggins sebagai seorang desainer grafis adalah bertemu dengan klien, mendesain dan bertemu dengan produsen desainnya. Disini peran desainer adalah sebagai seorang perantara, yang mempertemukan klien dengan desain, lalu desain dengan produsen. Seorang desainer perlu memahami klien untuk dapat mendesain sesuatu yang ‘sesuai’ dengan brief, dan perlu memahami aspek-aspek produksi agar dapat membuat desain yang relevan dan kontekstual. Tidak heran apabila ‘peranan’ seorang desainer adalah peranan yang disatu sisi humanis namun juga mekanis disisi lain.

peranan seorang desainer adalah peranan yang disatu sisi humanis namun juga mekanis.

Lanjut hampir satu abad kemudian, kata desainer grafis adalah salah satu kata yang sering sekali digunakan dan seolah kehilangan ‘glamor’nya (jika kata itu pernah memiliki glamor sedikitpun). Istilah desainer grafis umumnya muncul ketika dibutuhkan sebuah istilah atau label untuk menamai sebuah profesi yang berbeda dengan seorang printer, typesetter ataupun technician. Trend ini juga mulai terlihat ketika banyak orang yang diberikan label desainer grafis merasa pekerjaan yang mereka lakukan tidak sama dengan desainer grafis ‘lain’nya, hingga akhirnya muncul lah nama-nama seperti brand designer, web designer, icon designer, motion graphic designer, packaging designer, dan bahkan yang terdengar agak aneh print designer (karena awalnya desainer grafis adalah desainer yang dikhususkan ke medium cetak atau print, jadi ‘memisahkan’ diri dari label graphic designer menjadi print designer sebenarnya tidak merubah banyak hal.)

Ok. Saya perlu sedikit menarik diri sebelum lari dan menkritik modernisme dan pengaruh negatifnya.

Kembali ke topik tulisan kali ini, apakah fungsi atau komponen kerja dari seorang desainer grafis memang sama seperti apa yang diutarakan Dwiggins? Kita bisa melihat job desc kita masing-masing. Dulu ketika saya masih menjadi seorang ‘inhouse designer’, ketiga aspek tersebut saya jalankan semuanya, tapi untuk teman-teman yang mungkin bekerja di tim yang lebih besar, yang memiliki seorang ‘account executive´ atau seoryang ‘FA Artist’, saya rasa zaman memang sudah berubah dibandingkan zaman Dwiggins dulu.


Memasuki obrolan yang lebih praktis, mana sih yang lebih baik? Sama aja sih rasanya, dan terus terang aja, saya rasa nggak berfungsi banyak juga memahami pandangan ini secara personal. Anda tidak bisa menggunakan definisi dari Dwiggins ini untuk menuntut gaji lebih ke bos anda, karena toh, memang anda sudah sepakat dengan gaji yang diberikan dengan job desc anda itu. Jadi jangan bawa-bawa atau jadikan Dwiggins ketika anda minta kenaikan gaji.

Obrolan praktis yang lebih serius, saya merasa memahami pandangan ini secara tidak langsung mempelajari sedikit kewajiban-kewajiban yang ada ketika label pekerjaan itu mulai muncul. Sebagai seorang desainer grafis, saya bangga dengan apa yang saya kerjakan. Saya senang bertemu dan belajar bersama dengan klien, saya pun senang nongkrongin operator ngeprint (yang ramah dan baik) sampai tidak tidur, dan sudah pasti saya suka mendesain. Secara independen dan freelance, saya rasa apa yang anda kerjakan pasti sama dengan apa yang saya kerjakan. Tapi sebagai seorang yang belum bekerja sebagai desainer, ambil-lah paduan Dwiggins sebagai pedoman untuk melatih ‘life skills’ anda kelak sebagai desainer.


Bacaan lebih Lanjut:

Designishistory.com

Pioneers of Modern Graphic Design: A Complete History oleh Jeremy Aynsley.

Rick Poynor:

“designers inevitably express the values of their day”

Kutipan sederhana dari buku bacaan saya: “What is Graphic Design For” karya Alice Twemlow. Buku lama sih, tapi tetep bacaan yang menyenangkan.

Kembali ke ungkapan Rick Poynor, disini saya ingin memberi sedikit respon terhadap ungkapan tersebut. Secara sederhana yang ingin dikatakan Poynor adalah desainer pasti akan mengekspresikan atau mengungkapkan apa yang memiliki nilai di harinya. ‘Hari’ disini dapat secara sederhana berbicara secara personal, namun juga dapat secara luas: yaitu zaman atau era tempat desainer tersebut bernaung.

Dalam kelas sejarah seni rupa dan peradaban, dimana saya turut membantu, mahasiswa atau mahasiswi diingatkan bagaimana konteks zaman memiliki kaitan terhadap artefak-artefak seni mereka. Sehingga kita bisa melihat zaman melalui benda-benda yang ada di zaman tersebut, dan benda-benda tersebut akan memiliki ‘nilai’ ketika dilihat bersamaan dengan zaman itu.

Singkatnya: nggak lepas dari zaman.

Dengan menggebu-gebunya pemahaman tersebut dalam pikiran saya, saya bertemu pada ulasan Poynor ini, dan saya rasa kutipan ini melengkapi penjelasan mengapa karya seni/desain tidak terlepas dari zaman tempat ia berada. Jawabannya sesederhana, seniman/desainernya tidak terlepas dari zamannya juga. Dengan sang pembuat karya berada dalam sebuah situasi didalam zamannya, tentunya pengaruh apa yang terjadi di dunia pada waktunya akan membantu membentuk apa yang ia lihat, pikirkan dan rasakan. Hal itu menjadi nilai-nilai yang sedikit banyak tertuang dalam karya-karyanya, baik sadar maupun tidak sadar.


Hari ini saya hentikan sampai sini dulu, karena awalnya saya ingin menulis hal lain, dan dalam upaya saya membaca dan menulis, saya menemukan kutipan Poynor tersebut, sehingga saya putuskan untuk menulis secara sederhana pandangan Poynor.

Jadi sampai sini dulu ya.

 

Apa itu Desain Grafis.

Tulisan ini ‘menutup’ gambaran saya mengenai keilmuan yang tengah saya geluti belakangan.

Pada postingan pertama yang membahas desain secara umum, saya coba menjelaskan mengapa desain bukanlah hal yang eksklusif. Desain bukan sesuatu yang membutuhkan prasyarat tekhnis atau sense yang langsung membuat dikotomi antara ‘desainer’ dan bukan ‘desainer’.

Pada postingan selanjutnya, sedikit menyempitkan pembicaraan desain pada tahap desain komunikasi visual, atau DKV. DKV adalah keilmuan yang memberi saya latar dari gelar saya. DKV membuka ruang bagi seorang desainer untuk dinilai bukan dari benda yang dihasilkan, namun melalui keilmuan yang digelutinya. Memang, seorang praktisi DKV membuat poster, membuat logo, membuat majalah, namun keilmuan dibelakangnya dapat menjadi pembahasan beralinea jika kesempatan tersebut muncul.

Pada postingan ini, postingan terakhir dalam ‘trilogi’ apa itu desain saya, saya akan membahas secara spesifik bagian kecil dari keilmuan saya (dan juga keilmuan yang tengah saya geluti dalam pekerjaan saya). Sedikit berbeda dengan tulisan sebelumnya, tulisan kali ini adalah adaptasi materi perkuliahan yang saya berikan dalam mata kuliah Studio.


Umumnya dalam membuka perbincangan, saya suka sedikit menanyakan kembali arti dari kata-kata yang umumnya digunakan. Karena dalam postingan sebelum-sebelumnya, saya sudah sempat membahas : apa itu desain, maka saya bisa langsung membahas apa itu grafis. Karena menurut saya, kata ‘grafis’ ini juga sangat berlebihan penggunaannya, dan sangat cetek sekali pemahamannya.

“Desain grafis itu yang desain logo kan?”

betul. Tapi saya rasa hal tersebut tidak menjawab apa itu ‘grafis’.

“Grafis itu yang Photoshop itu kan?”

Cukup Sudah.

***

Dalam usaha menjawab definisi sebuah kata, dalam kasus kali ini : grafis, saya suka kembali menengok kepada kamus. Atau kalau tidak puas, bisa melihat etimologi kata tersebut. Grafis sendiri berasal dari kata graphe, yang berarti tulisan atau gambaran. Melihat kedua ‘barang’ yang muncul dari arti kata graphe, maka kita bisa melihat lebih lanjut apa yang menjadi bagian dari ‘grafis’ itu sendiri.

Tulisan dan gambaran ketika dicacah kembali kepada komponen-komponen yang lebih kecil berisikan kumpulan abjad-abjad atau aksara (type) dan juga gambar (image). Dan menengok apa yang saya kerjakan dalam praktek keseharian seorang ‘desainer grafis’, maka saya melihat bahwa sepertinya ada kecocokan antara apa yang memang dilakukan dengan akar kata itu sendiri.

Desain grafis,

adalah sebuah desain menggunakan gambar dan huruf.

Mengapa pemahaman ini sangatlah penting? Karena kembali lagi, hal ini memberikan batasan-batasan tentang apa yang dapat dikerjakan desainer namun juga membuka horizon-horizon baru mengenai apa yang memang dapat dilakukan (atau seharusnya dilakukan).

Ketika kita sudah mengetahui apa yang dikerjakan, lalu apa yang dibuat? Nah ini dia yang bisa panjang sekali, dan umumnya benda-benda itu menjadi nama mata kuliah dalam program studi DKV. Benda hasil proses desainnya dapat berupa logo, majalah, poster, website, brosur, buku, spanduk, kemasan, rambu-rambu, atau tampilan apapun yang memiliki gambar dan aksara. Berhenti sejenak dan lihat apa yang ada di sekitar anda. Apa sih yang kira-kira tidak (harusnya) didesain seorang desainer grafis atau benda apa sih yang tidak di’bubuhi’ oleh karya seorang desainer grafis?

GSK Proposal Identity Design
Garuda Solusi Kreatif, Designed by Brian Alvin Hananto

Sedikit mejeng. gambar diatas adalah salah satu ‘gawean’ saya pada tahun 2014 ketika masih lugu dan agak dunggu dalam mendesain. Tapi inilah salah satu pekerjaan desain grafis yang telah saya lakukan.

Sedikit bercerita mengenai apa yang ada disana, gambar tersebut adalah sebuah desain yang saya lakukan untuk sebuah perusahaan bernama Garuda Solusi Kreatif pada tahun 2014. Barang yang ditampilkan diatas : Salah satu halaman proposal. Dalam proposal itu, kita dapat melihat contoh anggaran, timeframe, dan juga proposal instalasi hardware yang digambarkan dengan diagram (yang didesain tentunya).

Proposal mungkin bukan sebuah barang yang ‘asik’ untuk didesain, namun hal itu tidak berarti hal tersebut tidak bisa didesain lebih baik. Kalau ditanya: “mengapa harus didesain dengan baik?”, maka jawaban pertama saya: “mengapa tidak?”, dan jawaban kedua saya, jawaban yang lebih serius: “Karena desain grafis adalah bagian dari desain komunikasi visual, dan apa yang saya kerjakan tujuannya adalah untuk kepentingan komunikasi visual itu sendiri.”

Desain, terlepas dari kepentingan-kepentingan eksternal, memiliki tujuan sendiri atas keilmuan dan prakteknya. Desain komunikasi visual memiliki tanggung jawab untuk membuat proses komunikasi secara visual lebih ‘baik’ (dan demi mempersingkat tulisan, mari kita sepakati baik adalah efektif & efisien untuk kali ini). Desain grafis, adalah perpanjangan atau wujud yang lebih nyata dari desain komunikasi visual itu sendiri.

Dalam proposal diatas, terdapat informasi-informasi yang mungkin dapat lebih cepat dan lebih baik dipahami ketika disampaikan tidak hanya menggunakan tulisan. Mungkin dengan dirangkai dalam sebuah tabel? Diberikan diagram atau ikon-ikon untuk memberi ‘wujud’ dalam istilah atau kata-kata yang tidak dikenali sebelumnya (seperti istilah-istilah hardware yang ada dalam proposal tersebut). Mengapa perlu didesain dengan baik?

Meminjam wejangan dari Dieter Rams,

“Good design is invisible”

Karena ketika desain itu sendiri dilakukan dengan tidak baik, maka akan ada konsekuensi-konsekuensi yang dirasakan. Sederhana dan untuk melabeli istilah-istilah tersebut, ada yang mengatakan “norak”, ada yang mengatakan “lebai”, dengan deskripsi lebih formal, mungkin ketika desainnya terlalu kontras, maka akan menganggu visibilitas dan kenyamanan dalam membaca (atau jadi tidak terbaca). Selain itu fokus (yang dapat diciptakan dengan mendesain menggunakan hirarki) dapat membantu agar desain itu lebih efektif dan efisien.

Jadi jangan heran kalau ada wejangan Dieter Rams tadi.


Saya rasa untuk menutup tulisan ini ada baiknya untuk mengungkapkan komitmen-komitmen yang cukup realistis. Tiga postingan terakhir: ‘Apa itu Desain’, ‘Apa itu Desain Komunikasi Visual’ & ‘Apa itu Desain Grafis’ mampu mengeluarkan perspektif saya yang mungkin tidak atau belum diterima orang-orang pada umumnya (atau orang-orang tersebut tidak sadar bahwa ada perspektif dan tidak peduli akan perspektif yang ada). Selain mencoba memberikan definisi dan pemahaman, dalam beberapa tulisan tersebut saya coba untuk mempropagandakan nilai-nilai lain yang ada dalam desain.

Ketiga tulisan ini sedikit banyak mengajak saya untuk kembali melihat keilmuan saya, dan dunia yang ada didepan saya sekarang. Saya harap kedepannya apa yang saya tulis dapat menjadi peringatan untuk diri saya sendiri, khususnya ketika tekanan dan tuntutan kepentingan eksternal (yang non desain) mulai membebani saya dalam mendesain.

Sekian untuk tema kali ini. Kita lihat apa yang ada didepan kita nanti.

 

Hirarki dalam Desain dengan Zootopia!

Yes. Lanjut lagi dengan Zootopia! Mungkin kalau dibuat seri, sekarang gue udah masuk part ketiga, udah trilogi postingan yak. haha.

Part 1 : Tema & Isu dalam Zootopia

Part 2: Anatomi Huruf dalam Logo Zootopia

Sekarang gue mau ngomongin apa yang jadi makanan gue dalam belajar sehari-hari sekarang. Gue mau bicara mengenai salah satu prinsip desain, yaitu Hirarki. Tapi sebelumnya gue harus sedikit bicara bahwa ada banyak sekali opini tentang prinsip desain, dan mungkin salah satu sumber ada yang bilang hirarki tidak termasuk, tapi ada juga sumber lain yang dibilang hirarki termasuk. dll. Jadi ya kita lanjut saja, hal seperti itu minor kok, tidak perlu dipermasalahkan. Pokoknya kita bahas tentang hirarki dalam desain.Sebelumnya gue akan memperkenalkan dulu apa itu hirarki. Definisi dari dictionary.com cukup bagus untuk memulai.

Hierarchy : any system of persons or things ranked one above another.

Yes, secara singkat, dalam desain grafis. Hirarki bisa dikatakan sebuah sistem dimana ada elemen-elemen yang diposisikan lebih tinggi ‘kelas’nya. Buat apa? Nah kelas ini itu kita liat duluan, setelah itu baru selanjutnya, terus lanjut lagi seterusnya sampai habis. Gitu deh. Gue nemu gambar di internet yang cukup ngejelasin dengan cukup baik.

20130219_hierarchyofinformationgraphic_image

Nah. Kalau gue (dan gue harap kalian juga), gue liat di contoh sebelah kanan ‘lebih menarik’. ‘Lebih menarik’ ini ya karena adanya hirarki yang lebih terlihat di contoh sebelah kanan. Terus kita lanjut, emang hirarki yang sebelah kanan gimana sih? Balik lagi, kalau gue, gue akan lihat kotak merahnya duluan. Terus baru kotak Krem, baru ngeliat blok hitam. Inipun agak diperdebatkan. Karena disatu sisi gue mungkin akan ‘ketarik’ buat ngeliat blok hitam kebawah daripada ngeliat blok hitam paling atas. Sehingga elemen di sisi atas malah agak ke skip buat gue. Nah lho, nggak ok dong?

Nah disini lah gue akan ngomong komponen-komponen lain yang mempengaruhi hirarki buat gue. Pertama ya elemen desain itu sendiri. Bentuk, warna, ukuran elemen dan seterusnya. Jelas aja, yang dicontoh diatas gue liat kotak merah duluan karena ukurannya yang cukup besar (walau bukan paling besar), terus juga karena merahnya. Nah kedua, penyusunan elemen desain itu sendiri. Disini gue udah bicara mengenai prinsip desain, dan mungkin juga prinsip-prinsip gestalt. Inilah yang ngebuat gue lanjut liat kotak krem dibawahnya, dan bukan lihat ke atas. Dan karena sudah ada tendensi untuk melihat kebawah, maka ‘ketarik’lah gue untuk lanjut ngeliat ke arah bawah. Komponen lain menurut gue sebenernya konteks sih. Gimana kondisi kita ketika ngeliat desain atau obyek tersebut. Kalau gue liat secara gamblang ya begitulah hirarki yang gue dapet. Tapi coba kita sejenak bayangkan kalau obyek serupa itu kita liat sebagai layout website. Dimana kita harus scroll. Jadi mau nggak mau kita akan liat blok hitam paling atas (which is judul blog / judul web) baru kita liat blok hitam besar selanjutnya (judul post) dan seterusnya. Ketika dalam skenario tersebut, gue ga akan terekspos sama kotak merah tadi atau kotak krem. dan mungkin gue akan melihat/membaca semua elemen dalam desain tersebut secara menyeluruh, dan tetap terasa hirarkinya. Btw, ini cuma opini aja, nggak ada text book atau riset gimana-gimana kok. haha.

your-eyes-here

Nah contoh gambar diatas ini lebih keliatan deh hirarkinya, dengan maen ukuran huruf, case dari huruf juga, terus kalau kita ibaratkan dengan bentuk, bentuk ini sangat kontras dengan warna latar belakangnya, dan juga kontras lebih beasr daripada elemen-elemen lain. Gitu aja sih ngejelasinnya, dengan penjelasan itu, gue udah ngomongin masalah warna, typografis, komposisi, prinsip desain kontras, relasi figure ground, dan tentunya udah mbahas dikit tentang hirarki. Gue belum bahas mengenai pemaknaan dan aspek fungsi desain =P

zootopia

Nah kalau gitu kembali ke Zootopia. Gimana sih hirarkinya (menurut gue)? Kalau mau kita cacah-cacah tiap elemennya mungkin sulit yak. Kenapa sulit? Karena emang banyak banget elemen-elemen yang ada disana. Tapi secara sederhana gue bakal bahas dikit tentang flow mata gue, dan kenapa gue ngeliat seperti itu, dan kenapa gue bilang itu bagus.

  1. Gue liat Disney, kemudian judul Zootopia. Kenapa? Posisinya agak tengah, paling atas, sangat kontras dibandingkan dengan latar belakang biru langit, bandingkan dengan elemen-elemen lain yang ada di poster yang ramai. Jadi keliatan menonjol kan? Sedikit tambahan aja gue suka gimana mereka nggak harus blow up judul filmnya, dan gimana cerdasnya mereka implementasi judulnya terhadap poster secara keseluruhan. Duh, bisa bikin postingan baru cuma sekedar ngomongin itu.
  2. Gue liat icon rubah jalannya. Karena dia nempel juga sama judul. Mungkin juga dipengaruhi mata gue turun secara diagonal, ngikutin orientasi logo Zootopia yang emang agak diagonal turun begitu. Jadi otomatis buat gue, gue lanjut ngeliat bawahnya. Selain itu , icon rubahnya cukup beda. Terdiri dari elemen titik-titik yang sangat beda dengan elemen-elemen ilustrasi lainnya di sisi lain.
  3. Gue liat karakter kelinci dan rubah (terus si domba juga). Kenapa? Nah ini seru buat gue bahas. Kalau gue, sama kayak alesan sebelumnya, karena mereka bener-bener dibawah elemen icon rubah tadi sebelumnya. Mereka terletak satu orientasi di bawahnya. Lalu terlepas dari itu, perhatiin deh gimana terang gelap pencahayaan di poster juga membuat separasi khusus dari kedua tokoh ini dengan tokoh-tokoh lain. Jadi emang ya mata kita diajak ngeliat kesitu dengan terang gelapnya. Mungkin nggak bisa dijabarkan secara gamblang. Tapi ya kita akan persepsikan gitu. Persepsiin gimana terang itu sesuatu yang ingin di ekspos dan gelap sesuatu yang ingin disamarkan. Ini nih letak kekaguman gue terhadap posternya yang signifikan.
  4. Ya abis itu baru deh liat yang from the director bla bla bla dan juga March 4 nya. Karena pas mata gue udah sampe di rubah dan kelincinya, sekelilingnya gelap. Gue ga mungkin naik lagi ngeliat icon. Ya mungkin aja sih, tapi buat apa? Nah kedua text ini tiba-tiba muncul secara kontras dibandingkan dengan elemen lain. Jadi ya mereka langsung narik mata gue kesitu. Ditambah lagi karena mereka text. Elemen yang emang beda karakteristiknya disitu, jadi nimbulin kontras juga dibanding yang lain-lain.

Jeng jeng. Begitu deh. Nggak terasa banyak juga pembahasan gue. Sebelum ngetik berasa akan sangat singkat dan sederhana. Haha.

Kalau gitu gue sudahin dulu aja disini. Dalam kesempatan ini gue mau ucapin banyak terima kasih sudah membaca post saya. Kalau boleh, mungkin bisa di like atau juga di share ke teman-teman sesama pelajar desain. Setiap kritik dan komentar pasti akan membangun gue. Asal jangan terlalu pedas dan galak ya.

Jadi sampai disini dulu pembahasan gue tentang Zootopia. Salam, Have a great day. V