Kuliah Umum: Possibilities with Typography

Design Roundtable (DRT) adalah sebuah kegiatan kuliah umum yang diselenggarakan oleh Program Studi Desain Komunikasi Visual Universitas Pelita Harapan (DKV UPH). Pada seri kedelapan ini, DKV UPH mengundang Yasser Rizky untuk berbagi mengenai kesehariannya bersama tipografi, dan bagaimana ia dapat melihat kemungkinan-kemungkinan baru dengan tipografi.

DRT 8 - Poster.jpg

Tipografi adalah suatu hal yang ubiquitous, sesuatu yang tidak menarik untuk dipelajari lagi. Pernyataan tersebut kerap menimbulkan pro dan kontra. Ada orang-orang yang mungkin melihat tulisan dimana-mana hingga akhirnya tidak peduli akan keberadaan tulisan-tulisan tersebut, ada juga orang-orang yang menilai bahwa orang-orang yang tidak bisa mengapresiasi tipografi adalah orang-orang yang memang tidak paham dan tidak mengerti akan tipografi itu sendiri. Namun ada juga orang-orang yang jenuh melihat orang-orang yang terlalu ‘meninggi-ninggi’kan eksistensi tipografi, dan ada juga orang-orang yang ‘meninggi-ninggikan’ eksistensi tipografi itu. Pada akhirnya setiap perspektif itu dilatari oleh sebuah kesimpulan dari bagaimana tiap-tiap orang itu memandang tipografi, batasan-batasannya dan juga kemungkinan-kemungkinan yang dapat ditawarkan tipografi sebagai pengelolaan dan pengolahan tanda visual.

DRT 8 akan diadakan pada hari Rabu, 26 Juni 2019 di Pelita Hall, Gedung B lantai 1, Universitas Pelita Harapan. Untuk informasi lebih lanjut, kunjungi instagram.com/designroundtable

Call for Paper: Seminar Nasional Desain Sosial 2

Seminar Nasional Desain Sosial 2 adalah sebuah seminar nasional kedua mengenai desain sosial yang diselenggarakan oleh Fakultas Desain Universitas Pelita Harapan.

Acara yang berlangsung pada hari Kamis, 18 Juli 2019 ini mengundang pemakalah untuk mengirimkan tulisan-tulisan mereka untuk diseminarkan dalam acara ini. Seminar ini menerima tulisan-tulisan yang membahas mengenai Etika Desain, Desain Sosial Inovatif, Desain Kolaboratif, Kewirausahaan Sosial, dan juga Media Sosial Responsif.

Seminar ini juga turut mengundang Prof. Yandi Andri Yatmo, Dip.Arch., M.Arch., Ph.D., akademisi arsitektur dan juga pemberdaya masyarakat; Prof. Dr. Ign. Bambang Sugiharto, akademisi dan juga guru besar filsafat; Reza Achmed Nurtjahja, ST, MUD, MURP, principal dari Urbane Indonesia; dan Melia Winata, Co-Founder dan CMO dari Du’Anyam.

SNDS2 Digital Poster.jpg
Poster acara Seminar Nasional Desain Sosial 2

Semua paper yang diterima dan dipresentasikan dalam acara ini akan dipublikasikan dalam prosiding cetak dan digital. Untuk informasi lebih lengkap, silahkan mengunduh : SNDS2 Digital Brochure


Tanggal Penting:

14 Juni 2019: Pengumpulan Full-Paper & Registrasi Pemakalah 

21 Juni 2019: Pengumuman Penerimaan Full-Paper

5 Juli 2019: Batas Pembayaran & Biaya Pendaftaran

18 Juli 2019: Pelaksanaan Seminar Nasional Desain Sosial 2

 

Apa yang Dilakukan Desainer Grafis

Kembali menulis di blog ini, saya sempat lupa akan tema-tema yang ingin saya tulis sebelumnya. Jadi membuka kembali lembaran baru, disinilah saya akan menyambung dan merealisasikan apa yang telah dijanjikan sebelumnya: yaitu membahas orang dibelakang sebuah desain grafis, yaitu sang desainer grafis. Mungkin perlu disepakati bahwa tidak semua orang dibelakang sebuah desain grafis adalah seorang desainer. Namun guna memperindah kalimat, maka saya tulis demikian walaupun seratus persen saya sadar tidak seperti itu kenyataannya. Benarkah demikian?


Dalam menyatakan pandangan saya, saya berangkat dalam sebuah pandangan sederhana bahwa yang dimaksud desainer grafis adalah seorang desainer dengan medium grafis, atau lebih jelas lagi, desainer grafis adalah desainer yang bekerja dalam medium gambar dan tulisan. Jadi pekerjaan yang dilakukan sangatlah beragam, dari membuat logo, membuat iklan, materi publikasi, sistem tanda ataupun membuat tampilan aplikasi digital. Nah, bicara pekerjaan kental dengan benda yang dihasilkan, jadi sudah cukup pembahasan mengenai output dari sang desainernya, tapi sekarang kalau kita bicara lebih detail lagi, apa sih yang benar benar dilakukan oleh desainer, ataupun yang dikerjakan sang desainer, pembicaraan meluas lagi.

desainer grafis adalah desainer yang bekerja dalam medium gambar dan tulisan.

Dalam upaya membatasi tulisan saya kali ini, saya akan memperkenalkan seorang desainer yang bisa dikatakan sebagai pencetus istilah ‘desainer grafis’. Sosok orang itu adalah Willliam Addison Dwiggins. Dwiggins menggunakan istilah tersebut untuk ‘melabeli’ dirinya sendiri. Siapa sangka, label itu digunakan secara luas, bahkan terlalu luas sampai ‘kegunaan’ label itu sendiri pun tidak seperti tujuan awalnya.

Desainer grafis adalah istilah yang ia gunakan untuk menjelaskan orang-orang yang mendesain untuk media-media cetak pada saat itu. Pada tahun 1922, ada banyak sekali praktisi yang berhubungan dengan desain, seperti arsitek, desainer produk, desainer interior, ataupun desainer industrial. Dwiggins kemudian menggunakan kata desainer grafis untuk membedakan dirinya dengan desainer-desainer pada ranah-ranah lainnya. Istilah desainer juga digunakannya untuk membedakan dirinya dengan orang-orang dibelakang layar lainnya dari sebuah media cetak, seperti tekhnisi cetak, typesetter ataupun operator cetak itu sendiri. Desainer adalah sosok yang berbeda dengan orang-orang yang terjun pada proses produksi dari desain itu, karena seorang desainer belum tentu terjun tangan sendiri dalam setting font, ataupun mencetak sendiri desain-desainnya.

graphic designer-01

‘Peran’ yang dimainkan oleh Dwiggins sebagai seorang desainer grafis adalah bertemu dengan klien, mendesain dan bertemu dengan produsen desainnya. Disini peran desainer adalah sebagai seorang perantara, yang mempertemukan klien dengan desain, lalu desain dengan produsen. Seorang desainer perlu memahami klien untuk dapat mendesain sesuatu yang ‘sesuai’ dengan brief, dan perlu memahami aspek-aspek produksi agar dapat membuat desain yang relevan dan kontekstual. Tidak heran apabila ‘peranan’ seorang desainer adalah peranan yang disatu sisi humanis namun juga mekanis disisi lain.

peranan seorang desainer adalah peranan yang disatu sisi humanis namun juga mekanis.

Lanjut hampir satu abad kemudian, kata desainer grafis adalah salah satu kata yang sering sekali digunakan dan seolah kehilangan ‘glamor’nya (jika kata itu pernah memiliki glamor sedikitpun). Istilah desainer grafis umumnya muncul ketika dibutuhkan sebuah istilah atau label untuk menamai sebuah profesi yang berbeda dengan seorang printer, typesetter ataupun technician. Trend ini juga mulai terlihat ketika banyak orang yang diberikan label desainer grafis merasa pekerjaan yang mereka lakukan tidak sama dengan desainer grafis ‘lain’nya, hingga akhirnya muncul lah nama-nama seperti brand designer, web designer, icon designer, motion graphic designer, packaging designer, dan bahkan yang terdengar agak aneh print designer (karena awalnya desainer grafis adalah desainer yang dikhususkan ke medium cetak atau print, jadi ‘memisahkan’ diri dari label graphic designer menjadi print designer sebenarnya tidak merubah banyak hal.)

Ok. Saya perlu sedikit menarik diri sebelum lari dan menkritik modernisme dan pengaruh negatifnya.

Kembali ke topik tulisan kali ini, apakah fungsi atau komponen kerja dari seorang desainer grafis memang sama seperti apa yang diutarakan Dwiggins? Kita bisa melihat job desc kita masing-masing. Dulu ketika saya masih menjadi seorang ‘inhouse designer’, ketiga aspek tersebut saya jalankan semuanya, tapi untuk teman-teman yang mungkin bekerja di tim yang lebih besar, yang memiliki seorang ‘account executive´ atau seoryang ‘FA Artist’, saya rasa zaman memang sudah berubah dibandingkan zaman Dwiggins dulu.


Memasuki obrolan yang lebih praktis, mana sih yang lebih baik? Sama aja sih rasanya, dan terus terang aja, saya rasa nggak berfungsi banyak juga memahami pandangan ini secara personal. Anda tidak bisa menggunakan definisi dari Dwiggins ini untuk menuntut gaji lebih ke bos anda, karena toh, memang anda sudah sepakat dengan gaji yang diberikan dengan job desc anda itu. Jadi jangan bawa-bawa atau jadikan Dwiggins ketika anda minta kenaikan gaji.

Obrolan praktis yang lebih serius, saya merasa memahami pandangan ini secara tidak langsung mempelajari sedikit kewajiban-kewajiban yang ada ketika label pekerjaan itu mulai muncul. Sebagai seorang desainer grafis, saya bangga dengan apa yang saya kerjakan. Saya senang bertemu dan belajar bersama dengan klien, saya pun senang nongkrongin operator ngeprint (yang ramah dan baik) sampai tidak tidur, dan sudah pasti saya suka mendesain. Secara independen dan freelance, saya rasa apa yang anda kerjakan pasti sama dengan apa yang saya kerjakan. Tapi sebagai seorang yang belum bekerja sebagai desainer, ambil-lah paduan Dwiggins sebagai pedoman untuk melatih ‘life skills’ anda kelak sebagai desainer.


Bacaan lebih Lanjut:

Designishistory.com

Pioneers of Modern Graphic Design: A Complete History oleh Jeremy Aynsley.

Rick Poynor:

“designers inevitably express the values of their day”

Kutipan sederhana dari buku bacaan saya: “What is Graphic Design For” karya Alice Twemlow. Buku lama sih, tapi tetep bacaan yang menyenangkan.

Kembali ke ungkapan Rick Poynor, disini saya ingin memberi sedikit respon terhadap ungkapan tersebut. Secara sederhana yang ingin dikatakan Poynor adalah desainer pasti akan mengekspresikan atau mengungkapkan apa yang memiliki nilai di harinya. ‘Hari’ disini dapat secara sederhana berbicara secara personal, namun juga dapat secara luas: yaitu zaman atau era tempat desainer tersebut bernaung.

Dalam kelas sejarah seni rupa dan peradaban, dimana saya turut membantu, mahasiswa atau mahasiswi diingatkan bagaimana konteks zaman memiliki kaitan terhadap artefak-artefak seni mereka. Sehingga kita bisa melihat zaman melalui benda-benda yang ada di zaman tersebut, dan benda-benda tersebut akan memiliki ‘nilai’ ketika dilihat bersamaan dengan zaman itu.

Singkatnya: nggak lepas dari zaman.

Dengan menggebu-gebunya pemahaman tersebut dalam pikiran saya, saya bertemu pada ulasan Poynor ini, dan saya rasa kutipan ini melengkapi penjelasan mengapa karya seni/desain tidak terlepas dari zaman tempat ia berada. Jawabannya sesederhana, seniman/desainernya tidak terlepas dari zamannya juga. Dengan sang pembuat karya berada dalam sebuah situasi didalam zamannya, tentunya pengaruh apa yang terjadi di dunia pada waktunya akan membantu membentuk apa yang ia lihat, pikirkan dan rasakan. Hal itu menjadi nilai-nilai yang sedikit banyak tertuang dalam karya-karyanya, baik sadar maupun tidak sadar.


Hari ini saya hentikan sampai sini dulu, karena awalnya saya ingin menulis hal lain, dan dalam upaya saya membaca dan menulis, saya menemukan kutipan Poynor tersebut, sehingga saya putuskan untuk menulis secara sederhana pandangan Poynor.

Jadi sampai sini dulu ya.

 

Apa itu : Information Design

Dalam upaya memperluas perspektif (saya dan juga anda), maka saya akan sedikit merangkai apa yang selama ini saya dapat dan pelajari (dan juga bawakan) mengenai information design atau kalau bahasa lokal saya : desain informasi. Tadinya mau disingkat jadi DI atau ID, tapi singkatannya agak rancu, jadi biar ndak tertukar dengan jurusan sebelah ada baiknya saya tidak singkat-singkat.

Mulai masuk kedalam topik mengenai desain informasi, sebenarnya pembahasan ini sudah bukan hal yang baru. Information Design mulai meramai dibicarakan seiring ‘ngetrend’nya pembahasan mengenai UI & UX. Hal itu disebabkan karena sedikit banyak mereka memiliki relasi. Information Design merupakan salah satu komponen didalam desain UX, makannya obrolannya cukup rame (walau mungkin masih banyak terdapat miskonsepsi mengenai UI & UX itu sendiri *lirik teman kuliah*)

Nah tapi kenapa masuk dalam pembahasan di blog saya? Ya karena sedikit banyak tiga istilah tadi ada urusannya sama desain, termasuk desain grafis.


Mengulang dan meminjam apa yang sebelumnya saya kemukakan : Desain Grafis adalah desain menggunakan gambar dan huruf. Jadi ketika ‘barang’ dari UI&UX serta information design  itu berupa sesuatu yang memiliki gambar dan huruf, ya boleh lah ya saya ulas sedikit.

Tapi apakah yang termasuk dalam information design itu desain-desain digital seperti website? Nah, disini saya berani berkata tidak. Sebelumnya mari kita tengok sedikit apa yang dimaksudkan dengan information design dari Society for Technical Communication.

“… the translating [of] complex, unorganized, or unstructured data into valuable, meaningful information.”

Cukup sederhana dan mendasar ya sebenarnya. Information design adalah kegiatan atau proses desain yang menyederhanakan data yang kompleks menjadi informasi yang berarti. Namun definisi ini tidak serta merta mengatakan data yang kompleks dan tidak terorganisir itu adalah data yang tidak bermakna ya.

Saya pribadi melihat ‘bermakna’ disini muncul ketika seseorang yang tadinya ‘malas’ melihat data tersebut kemudian terajak untuk melihat sebuah informasi yang telah ditata secara baik. Kemudahan yang ditawarkan dengan information design yang baik mampu membuat seseorang yang tidak tertarik akan data itu (tidak memiliki makna), menjadi sadar dan akhirnya data itu akan memiliki makna karena dikonsumsi atau dipahami.

Selanjutnya mari sedikit membahas ‘alat’ untuk information design itu. Disini yang akan saya tawarkan adalah desain grafis. Karena saya melihat kegunaan desain grafis dalam information design sangat efektif dan juga efisien. Pada akhirnya informasi disampaikan secara verbal maupun tidak verbal. Ketika tidak tersampaikan dengan verbal, maka apa lagi cara untuk memberikan informasi kalau tidak secara graphe?

Ketika kita sepakat bahwa tujuan information design adalah menyederhanakan data dengan (cara) desain grafis, selanjutnya yang perlu saya tekankan adalah produk atau barang yang dihasilkan atau merupakan wujud dari information design. Disinilah mulai menarik, karena salah satu tujuan atau kepentingan dari desain grafis adalah memberikan informasi, maka bisa dikatakan ‘output’ dari information design sangat banyak dan dekat dengan obyek hasil desain grafis. Mulai dari brosur, poster, website, tampilan aplikasi, buku, majalah, signage, dan benda-benda desain grafis lain yang belum sempat saya pikirkan.

information design-03.jpg
Ceritanya membuat diagram, yang tentunya merupakan output desain grafis dengan kepentingan informatif jikalau anda buru-buru dan tidak membaca tulisan diatas.

Begitulah kira-kira perspektif saya berdasarkan pengalaman praktis saya yang cukup praktis dan pengalaman teoritis yang nyatanya tidak hanya teori.

Berusaha menutup dan menyimpulkan postingan kali ini, mungkin saya ingin secara literal dan eksplisit mengajak pembaca, untuk melihat apakah desain grafis memang cuma ‘gitu-gitu’ aja? Karena setelah melewati beragam interaksi yang saya alami selama di ruang akademik, saya melihat bahwa banyak kemungkinan-kemungkinan yang terbaca namun tidak ditindak lanjuti. Oleh karena itu obrolan-obrolan kecil itu saya bawa dalam obrolan yang sedikit lebih luas, yaitu secara online.

Memang, desain grafis tidak akan menaikan indeks saham perusahaan anda, atau tidak akan menyembuhkan AIDS maupun kanker. Tapi mungkin perlu sedikit diperhatikan bahwa ‘medium’ melacak pergerakan nilai saham anda maupun dalam urusan-urusan medis, ada manifestasi desain grafis juga. Memang, tidak disebut dan tidak perlu disembah-sembah juga, tapi ketahui saja, ada loh orang-orang (seperti saya) yang ingin hidup anda lebih nyaman dengan menata informasi yang anda butuhkan dengan lebih baik.

Selamat mengakses informasi lebih lanjut. 😉

Apa itu Desain Grafis.

Tulisan ini ‘menutup’ gambaran saya mengenai keilmuan yang tengah saya geluti belakangan.

Pada postingan pertama yang membahas desain secara umum, saya coba menjelaskan mengapa desain bukanlah hal yang eksklusif. Desain bukan sesuatu yang membutuhkan prasyarat tekhnis atau sense yang langsung membuat dikotomi antara ‘desainer’ dan bukan ‘desainer’.

Pada postingan selanjutnya, sedikit menyempitkan pembicaraan desain pada tahap desain komunikasi visual, atau DKV. DKV adalah keilmuan yang memberi saya latar dari gelar saya. DKV membuka ruang bagi seorang desainer untuk dinilai bukan dari benda yang dihasilkan, namun melalui keilmuan yang digelutinya. Memang, seorang praktisi DKV membuat poster, membuat logo, membuat majalah, namun keilmuan dibelakangnya dapat menjadi pembahasan beralinea jika kesempatan tersebut muncul.

Pada postingan ini, postingan terakhir dalam ‘trilogi’ apa itu desain saya, saya akan membahas secara spesifik bagian kecil dari keilmuan saya (dan juga keilmuan yang tengah saya geluti dalam pekerjaan saya). Sedikit berbeda dengan tulisan sebelumnya, tulisan kali ini adalah adaptasi materi perkuliahan yang saya berikan dalam mata kuliah Studio.


Umumnya dalam membuka perbincangan, saya suka sedikit menanyakan kembali arti dari kata-kata yang umumnya digunakan. Karena dalam postingan sebelum-sebelumnya, saya sudah sempat membahas : apa itu desain, maka saya bisa langsung membahas apa itu grafis. Karena menurut saya, kata ‘grafis’ ini juga sangat berlebihan penggunaannya, dan sangat cetek sekali pemahamannya.

“Desain grafis itu yang desain logo kan?”

betul. Tapi saya rasa hal tersebut tidak menjawab apa itu ‘grafis’.

“Grafis itu yang Photoshop itu kan?”

Cukup Sudah.

***

Dalam usaha menjawab definisi sebuah kata, dalam kasus kali ini : grafis, saya suka kembali menengok kepada kamus. Atau kalau tidak puas, bisa melihat etimologi kata tersebut. Grafis sendiri berasal dari kata graphe, yang berarti tulisan atau gambaran. Melihat kedua ‘barang’ yang muncul dari arti kata graphe, maka kita bisa melihat lebih lanjut apa yang menjadi bagian dari ‘grafis’ itu sendiri.

Tulisan dan gambaran ketika dicacah kembali kepada komponen-komponen yang lebih kecil berisikan kumpulan abjad-abjad atau aksara (type) dan juga gambar (image). Dan menengok apa yang saya kerjakan dalam praktek keseharian seorang ‘desainer grafis’, maka saya melihat bahwa sepertinya ada kecocokan antara apa yang memang dilakukan dengan akar kata itu sendiri.

Desain grafis,

adalah sebuah desain menggunakan gambar dan huruf.

Mengapa pemahaman ini sangatlah penting? Karena kembali lagi, hal ini memberikan batasan-batasan tentang apa yang dapat dikerjakan desainer namun juga membuka horizon-horizon baru mengenai apa yang memang dapat dilakukan (atau seharusnya dilakukan).

Ketika kita sudah mengetahui apa yang dikerjakan, lalu apa yang dibuat? Nah ini dia yang bisa panjang sekali, dan umumnya benda-benda itu menjadi nama mata kuliah dalam program studi DKV. Benda hasil proses desainnya dapat berupa logo, majalah, poster, website, brosur, buku, spanduk, kemasan, rambu-rambu, atau tampilan apapun yang memiliki gambar dan aksara. Berhenti sejenak dan lihat apa yang ada di sekitar anda. Apa sih yang kira-kira tidak (harusnya) didesain seorang desainer grafis atau benda apa sih yang tidak di’bubuhi’ oleh karya seorang desainer grafis?

GSK Proposal Identity Design
Garuda Solusi Kreatif, Designed by Brian Alvin Hananto

Sedikit mejeng. gambar diatas adalah salah satu ‘gawean’ saya pada tahun 2014 ketika masih lugu dan agak dunggu dalam mendesain. Tapi inilah salah satu pekerjaan desain grafis yang telah saya lakukan.

Sedikit bercerita mengenai apa yang ada disana, gambar tersebut adalah sebuah desain yang saya lakukan untuk sebuah perusahaan bernama Garuda Solusi Kreatif pada tahun 2014. Barang yang ditampilkan diatas : Salah satu halaman proposal. Dalam proposal itu, kita dapat melihat contoh anggaran, timeframe, dan juga proposal instalasi hardware yang digambarkan dengan diagram (yang didesain tentunya).

Proposal mungkin bukan sebuah barang yang ‘asik’ untuk didesain, namun hal itu tidak berarti hal tersebut tidak bisa didesain lebih baik. Kalau ditanya: “mengapa harus didesain dengan baik?”, maka jawaban pertama saya: “mengapa tidak?”, dan jawaban kedua saya, jawaban yang lebih serius: “Karena desain grafis adalah bagian dari desain komunikasi visual, dan apa yang saya kerjakan tujuannya adalah untuk kepentingan komunikasi visual itu sendiri.”

Desain, terlepas dari kepentingan-kepentingan eksternal, memiliki tujuan sendiri atas keilmuan dan prakteknya. Desain komunikasi visual memiliki tanggung jawab untuk membuat proses komunikasi secara visual lebih ‘baik’ (dan demi mempersingkat tulisan, mari kita sepakati baik adalah efektif & efisien untuk kali ini). Desain grafis, adalah perpanjangan atau wujud yang lebih nyata dari desain komunikasi visual itu sendiri.

Dalam proposal diatas, terdapat informasi-informasi yang mungkin dapat lebih cepat dan lebih baik dipahami ketika disampaikan tidak hanya menggunakan tulisan. Mungkin dengan dirangkai dalam sebuah tabel? Diberikan diagram atau ikon-ikon untuk memberi ‘wujud’ dalam istilah atau kata-kata yang tidak dikenali sebelumnya (seperti istilah-istilah hardware yang ada dalam proposal tersebut). Mengapa perlu didesain dengan baik?

Meminjam wejangan dari Dieter Rams,

“Good design is invisible”

Karena ketika desain itu sendiri dilakukan dengan tidak baik, maka akan ada konsekuensi-konsekuensi yang dirasakan. Sederhana dan untuk melabeli istilah-istilah tersebut, ada yang mengatakan “norak”, ada yang mengatakan “lebai”, dengan deskripsi lebih formal, mungkin ketika desainnya terlalu kontras, maka akan menganggu visibilitas dan kenyamanan dalam membaca (atau jadi tidak terbaca). Selain itu fokus (yang dapat diciptakan dengan mendesain menggunakan hirarki) dapat membantu agar desain itu lebih efektif dan efisien.

Jadi jangan heran kalau ada wejangan Dieter Rams tadi.


Saya rasa untuk menutup tulisan ini ada baiknya untuk mengungkapkan komitmen-komitmen yang cukup realistis. Tiga postingan terakhir: ‘Apa itu Desain’, ‘Apa itu Desain Komunikasi Visual’ & ‘Apa itu Desain Grafis’ mampu mengeluarkan perspektif saya yang mungkin tidak atau belum diterima orang-orang pada umumnya (atau orang-orang tersebut tidak sadar bahwa ada perspektif dan tidak peduli akan perspektif yang ada). Selain mencoba memberikan definisi dan pemahaman, dalam beberapa tulisan tersebut saya coba untuk mempropagandakan nilai-nilai lain yang ada dalam desain.

Ketiga tulisan ini sedikit banyak mengajak saya untuk kembali melihat keilmuan saya, dan dunia yang ada didepan saya sekarang. Saya harap kedepannya apa yang saya tulis dapat menjadi peringatan untuk diri saya sendiri, khususnya ketika tekanan dan tuntutan kepentingan eksternal (yang non desain) mulai membebani saya dalam mendesain.

Sekian untuk tema kali ini. Kita lihat apa yang ada didepan kita nanti.

 

Melihat kembali: Apa itu Desain.

Yeah, sepertinya saya selalu mengawali setiap tulisan dengan rasa penyesalan dan introspeksi dibandingkan gagasan ataupun tema untuk menulis. Karena memang komitmen adalah hal yang sulit sekali untuk ditepati atau dituruti.

Tanpa beralasan dan membuang kata, mari terjun ke pokok pembicaraan kali ini:


Judul yang saya harap cukup sederhana dan tidak asing, khususnya yang berhasil mengakses blog saya beasiswadesain (nama saya bea, saya siswa desain). Saya akan memberikan sebuah kalimat, yang seharusnya sebuah kutipan (hanya saja saya tidak ingat siapa yang mengatakan hal tersebut sebelumnya, akan saya edit kalau sudah ingat atau ketemu), yang menurut saya cukup menjelaskan apa itu desain:

A designer’s job is to design a design for a design.

Di kalimat tersebut ada empat kata design, yang saya rasa dapat menunjukan beberapa pandangan tentang desain.

  1. “A designer‘s …”, desainer adalah pelaku desain. Sosok dibelakang sebuah desain.
  2. “… job is to design …”, desain sebagai kata kerja, sebagai tindakan merancang. Ketika berbicara mengenai tindakan, kita berbicara sebuah kegiatan, suatu hal yang berjalan dan juga aktif.
  3. “… a design …”, kali ini kata desain diposisikan sebagai kata benda, yang dimaksud disini adalah perencanaan. Sering diasosiasikan dengan blue print, atau skema, ataupun ide.
  4. “… for a design.”, kata terakhir dari desain juga sebuah kata benda, namun berbeda dengan kata ketiga yang berarti rencana, kata desain disini berbicara mengenai hasil dari rencana tersebut, atau sebuah obyek konkret hasil sang desainer.

Keempat posisi kata desain berbicara mengenai bagaimana kata desain itu dapat berfungsi dengan luas, jadi wajar saja kata itu sering diucapkan ataupun didengar.

Saya suka sebal ketika ada orang-orang yang sebal mendengar orang lain menggunakan kata desain. Alasannya cukup masuk akal, mereka merasa bagian dari mereka (entah pekerjaan, atau paham mereka) diucapkan dengan ‘seenaknya’, seolah tidak memiliki arti atau nilai yang tinggi. Nah, justru saya sebal dengan orang seperti ini.

Kenapa? Karena menurut saya memang desain itu kata yang umum, dan kata ‘desain’ itu sendiri menurut saya tidak memiliki nilai yang signifikan. Desain, ketika dipahami sebagai sebuah tindakan merancang, sangatlah umum dan tentunya dilakukan oleh semua orang. Jadi saya rasa tidak ada alasan untuk membuat ‘desain’ menjadi sebuah terminologi yang eksklusif.

Ketika saya perlu ‘menjual’ keilmuan saya, saya selalu menjelaskan dengan cara seperti ini. Maksud saya adalah untuk mematahkan asumsi-asumsi bahwa desain adalah sebuah kegiatan atau pekerjaan yang membutuhkan banyak prasyarat. Saya rasa satu-satunya syarat untuk ‘melakukan’ desain adalah memiliki kapasitas berfikir, atau otak yang fungsional.

Lalu bagaimana dengan keahlian menggambar? Nah itu pembicaraan dalam desain grafis ataupun desain komunikasi visual. Banyak kok desain-desain yang tidak perlu kemampuan menggambar, seperti sound design, game design, application design atau hal-hal dengan kata desain yang belum saya jumpai.

Bahkan desain juga dapat dilakukan terlepas dari pembahasan profesi. Seperti ketika bangun pagi, saya memutuskan untuk pergi ke kantor. Ketika saya memutuskan untuk pergi ke kantor, saya membuat rancangan-rancangan atau desain. Saya mendesain apa yang akan saya kenakan, apakah saya akan mengenakan seragam saya sepenuhnya, apakah saya akan ‘bandel’ dan tidak pakai seragam, apakah saya akan memakai dasi atau asesoris, sepatu apa yang akan saya gunakan, dll.

Balik lagi, ini opini dan paradigma saya sendiri. Untuk hal ini, saya cukup terbuka untuk dialog, tapi dialognya jangan baper. haha.

Apa saja yang anda desain hari ini?

Warna : RGB & CMYK

Hello. Ini bagian dua dari serangkaian (semoga) postingan yang akan ngebahas mengenai warna. Kalau kemaren gue sempet ngebahas tentang Newton & Goethe dan kontribusi mereka terhadap teori warna, sebelum kita masuk ngebahas teori warna lebih dalem, gue merasa perlu ngomongin tentang jenis warna dulu sebelumnya.


Sebelum masuk ke topik RGB & CMYK, gue mau ngejelasin dua hal dulu sebelumnya, yaitu warna aditif & warna subtraktif.

Warna aditif: Disebut juga warna cahaya, dimana ketika warna ditambah-tambahkan akan menghasilkan warna yang lebih terang. Warna aditif inilah yang sering juga disebut warna RGB, karena memiliki warna primer merah (red), hijau (green) dan biru (blue).

Warna subtraktif: Disebut juga warna cetak, dimana ketika warna ditambah-tambahkan akan menghasilkan warna yang lebih gelap. Warna aditif inilah yang sering juga disebut warna CMYK, karena memiliki warna primer cyan, magenta, kuning (yellow), dan warna kunci (key color) yang merupakan warna hitam.

additive-subtractive-mixing
Warna Aditif & Subtraktif

 

Selain perbedaan sistem itu, apa lagi sih bedanya?

Perbedaannya yang cukup mendasar adalah gamut warnanya. Gamut warna itu ‘batasan’ warna. Gamut warna RGB lebih luas daripada warna CMYK, artinya RGB bisa mencapai warna-warna yang tidak bisa dicapai sama CMYK. Hal inilah yang menyebabkan ketika kita melihat gambar di layar dan hasil cetak umumnya berbeda. Lebih gelap, lebih ‘kependem’, etc.

rods20photographic20glossaryg_clip_image001
Gamut Warna RGB & CMYK

 


 

Nah, cuma gue sekarang memiliki misi khusus juga sebenernya. Pertama gue perlu meluruskan bahwa walaupun CMYK adalah warna cetak, bukan berarti semua warna yang dicetak itu CMYK loh. Ini sedikit nyimpang, tapi ada juga istilah spot color, atau warna khusus. Nah kalau ini gue jelasin lebih lagi sebenernya udah masuk ke ranah kelas MRG (biasanya).

Selain istilah spot color, ada juga beberapa perusahaan yang mencoba mengembangkan sistem warna cetak yang baru, salah satunya print hexachrome. Cetak dengan hexachrome sendiri gue ga tau detailnya gimana, tapi konon, mereka menggunakan enam warna dasar untuk cetaknya, warna cyan, magenta, yellow, key, orange dan hijau. Dengan menambahkan dua warna dasar ini untuk cetak, katanya sih gamut warnanya pun lebih lebar lagi, sehingga bisa menjangkau warna-warna yang sebelumnya nggak bisa didapet dari CMYK.

hex_gamut
Gamut Hexachrome dan CMYK

Berbicara mengenai cetakan juga, kalau di google, ada juga printer LumiJet S200 yang konon bisa cetak dengan model warna RGB. Sehingga ya balik lagi, gamut warnanya lebih luas juga daripada CMYK biasa. Kalau ini sih gue gatau udah ada apa nggak di Indonesia, dan belom pernah liat sendiri hasilnya, beda sama hexachrome tadi.

79fb78d76f4028fb13a8ce228606e3c7_xl
LumiJet S200

Pembahasan warna terakhir, masih dengan memperluas gamut warna, tapi kali ini untuk media layar, dimana TV Sharp Quattron menggunakan sistem warna RGBY. TV ini menambah warna dasar mereka dengan warna kuning untuk bisa mencapai warna-warna yang lebih tajam dan ‘hidup’.

quattron_4-color_pixel_structure
Sistem warna Quattron

Ngomong-ngomongin ini, gue jadi keinget harusnya di mol-mol ada deh TV yang memang udah pake sistem ini di demo. Kalo gue liat sih keren-keren yak, tapi balik lagi nggak tau tu beneran apa nggak. haha.


Ya dan sedikit kembali ke misi pribadi gue, sebenernya sih yang gue pengen omongin adalah : Apakah luas gamut warna itu penting banget? Kalo gue terus terang nggak sebegitunya sih. Karena terus terang gue ngrasa klien, atau kadang gue sendiri, nggak gitu bisa bedain warna secara detail. Jadi ya selama warna yang mestinya merah nggak berubah jadi ungu atau coklat, ya gue sih nggak akan komplain. Karena dari pengalaman gue sendiri kerja di tempat cetak, ngejer warna itu nggak akan ada habisnya. Dari ngomongin viskositas tinta, sampe ngomongin color profile, etc etc. Capek banget.

Buat yang baru belajar tentang cetak-cetak, ada hal yang menurut gue lebih penting daripada gamut warna, yaitu hasil cetak itu sendiri. Gue akan memilih hasil cetak yang tahan lama dibandingkan warna realistis yang nggak tahan lama. Itu baru kalau ngebahas ketahanan warna yak, belum ngomongin kondisi printer. Kalau head printernya nggak bersih, atau lagi ada masalah, kadang ada aja warna-warna yang ga pekat atau ga mrata. Jadi diujung kanan merahnya A, diujung kiri merahnya jadi B. Yaa problem kayak gitu sebenernya lebih obvious daripada warna lu meleset sih. Penyakit begini nih yang gue hindarin banget dalam cetak.

Doh. Kalau ngomongin cetak yah, jadi baper.

Eniwei itu dulu sih pembahasan gue mengenai RGB & CMYK. Gue harap kalian jadi tau tentang istilah warna Aditif & Subtraktif, inget juga kalau dibahas mengenai gamut warna, dan tau gimana harus memposisikan diri ketika lagi nyetak-nyetak.

Sekian dulu buat hari ini. Gue lanjut yang lain dulu. Salam Damai. Have a nice day.

 

Hirarki dalam Desain dengan Zootopia!

Yes. Lanjut lagi dengan Zootopia! Mungkin kalau dibuat seri, sekarang gue udah masuk part ketiga, udah trilogi postingan yak. haha.

Part 1 : Tema & Isu dalam Zootopia

Part 2: Anatomi Huruf dalam Logo Zootopia

Sekarang gue mau ngomongin apa yang jadi makanan gue dalam belajar sehari-hari sekarang. Gue mau bicara mengenai salah satu prinsip desain, yaitu Hirarki. Tapi sebelumnya gue harus sedikit bicara bahwa ada banyak sekali opini tentang prinsip desain, dan mungkin salah satu sumber ada yang bilang hirarki tidak termasuk, tapi ada juga sumber lain yang dibilang hirarki termasuk. dll. Jadi ya kita lanjut saja, hal seperti itu minor kok, tidak perlu dipermasalahkan. Pokoknya kita bahas tentang hirarki dalam desain.Sebelumnya gue akan memperkenalkan dulu apa itu hirarki. Definisi dari dictionary.com cukup bagus untuk memulai.

Hierarchy : any system of persons or things ranked one above another.

Yes, secara singkat, dalam desain grafis. Hirarki bisa dikatakan sebuah sistem dimana ada elemen-elemen yang diposisikan lebih tinggi ‘kelas’nya. Buat apa? Nah kelas ini itu kita liat duluan, setelah itu baru selanjutnya, terus lanjut lagi seterusnya sampai habis. Gitu deh. Gue nemu gambar di internet yang cukup ngejelasin dengan cukup baik.

20130219_hierarchyofinformationgraphic_image

Nah. Kalau gue (dan gue harap kalian juga), gue liat di contoh sebelah kanan ‘lebih menarik’. ‘Lebih menarik’ ini ya karena adanya hirarki yang lebih terlihat di contoh sebelah kanan. Terus kita lanjut, emang hirarki yang sebelah kanan gimana sih? Balik lagi, kalau gue, gue akan lihat kotak merahnya duluan. Terus baru kotak Krem, baru ngeliat blok hitam. Inipun agak diperdebatkan. Karena disatu sisi gue mungkin akan ‘ketarik’ buat ngeliat blok hitam kebawah daripada ngeliat blok hitam paling atas. Sehingga elemen di sisi atas malah agak ke skip buat gue. Nah lho, nggak ok dong?

Nah disini lah gue akan ngomong komponen-komponen lain yang mempengaruhi hirarki buat gue. Pertama ya elemen desain itu sendiri. Bentuk, warna, ukuran elemen dan seterusnya. Jelas aja, yang dicontoh diatas gue liat kotak merah duluan karena ukurannya yang cukup besar (walau bukan paling besar), terus juga karena merahnya. Nah kedua, penyusunan elemen desain itu sendiri. Disini gue udah bicara mengenai prinsip desain, dan mungkin juga prinsip-prinsip gestalt. Inilah yang ngebuat gue lanjut liat kotak krem dibawahnya, dan bukan lihat ke atas. Dan karena sudah ada tendensi untuk melihat kebawah, maka ‘ketarik’lah gue untuk lanjut ngeliat ke arah bawah. Komponen lain menurut gue sebenernya konteks sih. Gimana kondisi kita ketika ngeliat desain atau obyek tersebut. Kalau gue liat secara gamblang ya begitulah hirarki yang gue dapet. Tapi coba kita sejenak bayangkan kalau obyek serupa itu kita liat sebagai layout website. Dimana kita harus scroll. Jadi mau nggak mau kita akan liat blok hitam paling atas (which is judul blog / judul web) baru kita liat blok hitam besar selanjutnya (judul post) dan seterusnya. Ketika dalam skenario tersebut, gue ga akan terekspos sama kotak merah tadi atau kotak krem. dan mungkin gue akan melihat/membaca semua elemen dalam desain tersebut secara menyeluruh, dan tetap terasa hirarkinya. Btw, ini cuma opini aja, nggak ada text book atau riset gimana-gimana kok. haha.

your-eyes-here

Nah contoh gambar diatas ini lebih keliatan deh hirarkinya, dengan maen ukuran huruf, case dari huruf juga, terus kalau kita ibaratkan dengan bentuk, bentuk ini sangat kontras dengan warna latar belakangnya, dan juga kontras lebih beasr daripada elemen-elemen lain. Gitu aja sih ngejelasinnya, dengan penjelasan itu, gue udah ngomongin masalah warna, typografis, komposisi, prinsip desain kontras, relasi figure ground, dan tentunya udah mbahas dikit tentang hirarki. Gue belum bahas mengenai pemaknaan dan aspek fungsi desain =P

zootopia

Nah kalau gitu kembali ke Zootopia. Gimana sih hirarkinya (menurut gue)? Kalau mau kita cacah-cacah tiap elemennya mungkin sulit yak. Kenapa sulit? Karena emang banyak banget elemen-elemen yang ada disana. Tapi secara sederhana gue bakal bahas dikit tentang flow mata gue, dan kenapa gue ngeliat seperti itu, dan kenapa gue bilang itu bagus.

  1. Gue liat Disney, kemudian judul Zootopia. Kenapa? Posisinya agak tengah, paling atas, sangat kontras dibandingkan dengan latar belakang biru langit, bandingkan dengan elemen-elemen lain yang ada di poster yang ramai. Jadi keliatan menonjol kan? Sedikit tambahan aja gue suka gimana mereka nggak harus blow up judul filmnya, dan gimana cerdasnya mereka implementasi judulnya terhadap poster secara keseluruhan. Duh, bisa bikin postingan baru cuma sekedar ngomongin itu.
  2. Gue liat icon rubah jalannya. Karena dia nempel juga sama judul. Mungkin juga dipengaruhi mata gue turun secara diagonal, ngikutin orientasi logo Zootopia yang emang agak diagonal turun begitu. Jadi otomatis buat gue, gue lanjut ngeliat bawahnya. Selain itu , icon rubahnya cukup beda. Terdiri dari elemen titik-titik yang sangat beda dengan elemen-elemen ilustrasi lainnya di sisi lain.
  3. Gue liat karakter kelinci dan rubah (terus si domba juga). Kenapa? Nah ini seru buat gue bahas. Kalau gue, sama kayak alesan sebelumnya, karena mereka bener-bener dibawah elemen icon rubah tadi sebelumnya. Mereka terletak satu orientasi di bawahnya. Lalu terlepas dari itu, perhatiin deh gimana terang gelap pencahayaan di poster juga membuat separasi khusus dari kedua tokoh ini dengan tokoh-tokoh lain. Jadi emang ya mata kita diajak ngeliat kesitu dengan terang gelapnya. Mungkin nggak bisa dijabarkan secara gamblang. Tapi ya kita akan persepsikan gitu. Persepsiin gimana terang itu sesuatu yang ingin di ekspos dan gelap sesuatu yang ingin disamarkan. Ini nih letak kekaguman gue terhadap posternya yang signifikan.
  4. Ya abis itu baru deh liat yang from the director bla bla bla dan juga March 4 nya. Karena pas mata gue udah sampe di rubah dan kelincinya, sekelilingnya gelap. Gue ga mungkin naik lagi ngeliat icon. Ya mungkin aja sih, tapi buat apa? Nah kedua text ini tiba-tiba muncul secara kontras dibandingkan dengan elemen lain. Jadi ya mereka langsung narik mata gue kesitu. Ditambah lagi karena mereka text. Elemen yang emang beda karakteristiknya disitu, jadi nimbulin kontras juga dibanding yang lain-lain.

Jeng jeng. Begitu deh. Nggak terasa banyak juga pembahasan gue. Sebelum ngetik berasa akan sangat singkat dan sederhana. Haha.

Kalau gitu gue sudahin dulu aja disini. Dalam kesempatan ini gue mau ucapin banyak terima kasih sudah membaca post saya. Kalau boleh, mungkin bisa di like atau juga di share ke teman-teman sesama pelajar desain. Setiap kritik dan komentar pasti akan membangun gue. Asal jangan terlalu pedas dan galak ya.

Jadi sampai disini dulu pembahasan gue tentang Zootopia. Salam, Have a great day. V