Mengapa Kuliah Desain?

Lebih spesifiknya kuliah desain komunikasi visual.

Tulisan kali ini berusaha memberikan perspektif saya dari respon atas pertanyaan “Mengapa kuliah desain?”. Pertanyaan yang mungkin ditanyakan secara basa-basi ini adalah pertanyaan yang terkadang memberikan kepada sang penanya gambaran dari pola pikir atau motivasi dari si responden. Serius atau tidak, tentunya jawaban yang diberikan tidak muncul dari kekosongan.


Sebelum sedikit membahas jawabannya, saya ingin menceritakan sedikit mengapa pertanyaan ini kerap saya tanyakan ke mahasiswa ketika sedang berbicara dalam tahap yang lebih personal. Ya, pertanyaan ini bukanlah pertanyaan yang dapat saya berikan secara massal. Pertanyaan ini diberikan ketika beberapa barrier sudah diruntuhkan dulu sebelumnya, ketika mahasiswa sudah ‘cukup’ nyaman untuk mengungkapkan pikirannya kepada saya.

Kuliah bukanlah pilihan yang sepele. Tidak sebatas mengeluarkan biaya saja, namun waktu dan tenaga yang perlu diinvestasikan dalam perkuliahan tentu bukan hal yang sederhana. Kuliah desain di beberapa kampus di ibu kota pun seolah sangat prestis (beberapa waktu yang lalu), namun prestis tersebut tentu disertai tanggung jawab yang tidak asing ditelinga orang-orang, tugas.

Ketika saya bertanya, mengapa memutuskan untuk kuliah desain, hal yang ingin saya ketahui pertama adalah pemahaman awal mahasiswa ketika memutuskan untuk kuliah desain. Ada mahasiswa yang memang sudah mengetahui apa yang akan didapatkan nantinya ketika kuliah desain, sehingga ketika memulai studi mereka, mereka lebih siap. Namun ada juga mahasiswa yang ‘salah’ mengetahui seperti apa itu kuliah desain. Ketika hal ini terjadi, respon pertama saya adalah meluruskan hal-hal yang memang perlu diluruskan. atau menyarankan untuk pindah jurusan.

Hal lain yang ingin saya ketahui adalah bagaimana persiapan atau ketertarikan mereka. Tidak jauh berbeda dari poin pertama, poin kedua ini ingin menggali lebih persiapan mereka dalam kuliah desain. Ketika seseorang ingin kuliah DKV karena ingin bekerja di advertising agency, saya pribadi akan mempush mahasiswa ini nantinya untuk berpikir lebih ‘kreatif’ dan ‘out of the box‘. Ketika seorang anak kuliah DKV karena ingin menjadi seorang web designer, saya akan mempersiapkan anak ini untuk lebih memahami tipografi dan logika-logika dalam mendesain sebuah interface. Ketika seorang anak ingin menjadi illustrator kelak setelah lulus kuliah, maka saya akan dukung dan push anak tersebut untuk lebih illustratif dalam tugas-tugas ‘non ilustrasi’nya.

Mungkin memang tidak semua pertanyaan ‘kenapa kuliah desain?” dilatar belakangi alasan-alasan spesifik seperti yang saya miliki, tapi kira-kira begitulah yang terjadi ketika saya bertanya. Nah, sesuai tujuan utama tulisan ini, berikut adalah beberapa jawaban yang saya sering kali dengar, dan opini saya pribadi merespon jawaban tersebut:

Mau Jadi XXXXXXX

Selama menjadi seseorang yang masih berhubungan langsung dengan keilmuan desain, saya rasa jawaban ini adalah jawaban terbaik (walau perlu dilihat lebih lanjut sejauh mana pengetahuan mahasiswa akan profesi yang ia sebutkan).

Suka Menggambar

Suka menggambar adalah sebuah permulaan yang baik, yang kerap kali memang menerjunkan orang-orang untuk kuliah desain. Dari ‘suka menggambar’, kita dapat mengetahui minat dari seseorang dan juga mengetahui karakteristik visual dari gambar mahasiswa tersebut.

Ketika seseorang suka menggambar secara komprehensif dan detail, mungkin mahasiswa tersebut dapat lebih fokus ketika mengerjakan kewajiban illustrasi. Ketika seseorang suka menggambar secara rutin tanpa level detail yang tinggi, mungkin mahasiswa tersebut dapat lebih maksimal mengerjakan kewajiban animasi 2d ataupun membuat komik. Ketika seseorang suka men’doodle’, mungkin anak itu lebih cocok masuk desain grafis dibandingkan masuk animasi nantinya (terlepas dari klaim anak tersebut).

Suka Lihat Desain

Suka melihat desain juga merupakan hal yang cukup baik, namun perlu sedikit diwaspadai. Karena jawaban ini tidak secara utuh menjelaskan sesiap apa anak tersebut dari segi kemampuan.

Saya suka mendengar lagu, namun hal itu tidak menjadikan saya seorang musisi. Saya suka melihat film, namun bukan berarti saya mau menjadi seorang sutradara atau seorang aktor. Saya suka sekali makan, namun tidak menjadikan saya seorang foodie ataupun seorang chef. 

Suka melihat desain itu sah-sah saja, namun tidak cukup untuk menjadikan seorang ‘visual enthusiast’ menjadi seorang desainer. Ada beberapa hal yang perlu dilalui seorang mahasiswa untuk menjadi seorang desainer, dan tidak semuanya itu ‘menyenangkan untuk dilihat’. Seperti kata rekan kerja saya, “Learning can be fun, but not necessarily have to be fun.”

Tidak Suka XXXX

Jawaban yang paling sering didengar dan terus terang saja jawaban terburuk. hahaha.

Tidak menyukai matematika akan menyulitkan seseorang ketika belajar tipografi ataupun mengerjakan tugas-tugas yang sangat sistematis, seperti majalah, buku, website, aplikasi, ataupun identitas visual.

Tidak menyukai hafalan akan menyulitkan seseorang untuk bekerja, desain atau tidak desain.

Tidak menyukai IPA akan ‘menumpulkan’ pemahaman seorang desainer. Memang desainer bukan seorang scientist, namun berfikir komprehensif dan logis yang merupakan salah satu modal utama yang diberikan di pelajaran-pelajaran IPA juga merupakan modal utama dalam menjadi seorang desainer.

Tidak menyukai IPS adalah hal yang cukup aneh sebenarnya. Desain dan seni sering dianggap sebagai cabang dari ilmu humaniora. Memutuskan untuk kuliah di jurusan humaniora tapi tidak menyukai ilmu sosial agak aneh. Terus terang saja.

Singkatnya, tidak menyukai sesuatu bukanlah basis untuk memilih sesuatu hal yang lain.


Saya rasa itulah keempat kategori jawaban yang saya pribadi kerap kali temukan. Apapun jawaban yang diberikan, sebenarnya sah-sah saja seseorang untuk belajar atau kuliah desain, ataupun menjadi seorang desainer. Namun harapan pribadi saya, ketika memutuskan untuk kuliah, ada baiknya perlu mengetahui secara menyeluruh jurusan yang ingin dipelajari. Hal ini bermaksud untuk mengurangi asumsi-asumsi salah tentang sebuah jurusan.

Setiap kampus dan jurusan tentu memiliki kacamata desain dan pendekatan desainnya masing-masing. Setelah ‘mantap’ dengan kuliah desain, saya rasa ada baiknya untuk mengetahui kampus dan jurusan mana yang cocok dengan ketertarikan orang tersebut. Terlepas dari ungkapan bahwa “design is one“, salah jurusan tetaplah salah jurusan. Tidak jarang mahasiswa DKV pindah ke jurusan produk, atau jurusan arsitek pindah ke interior, dll.

Jadi, setelah tahu mau kuliah desain, cari tahu desain apa, dan cari tahu kampus mana. Terlepas dari contoh saya yang menggunakan istilah-istilah didalam perkuliahan DKV, dan kacamata saya sebagai seorang pengajar DKV di sebuah universitas swasta, saya harap penjelasan saya dapat membantu untuk yang masih belum memutuskan.

Jangan terpersuasi untuk kuliah desain. Kuliah-lah di jurusan yang memang diminati dan cocok dengan natur anda.

Belajar Dihambat

Ada orang-orang yang suka dibatasi, dan ada orang-orang yang lebih memilih untuk tidak dibatasi. Tapi ini secara general loh ya. Dalam kerjaan, gue memiliki pengalaman sama kedua jenis orang tersebut, orang-orang yang suka dibatasi, dan juga yang tidak bisa dibatasi. Sering kali gue langsung bisa ngenalin tipe orang-orang itu ketika mereka pertama kali terima brief kerja. Ada yang demen banget sama brief-brief ‘bebas eksplorasi’, dan ada yang suka kalau briefnya secara spesifik dijabarkan. Gue sebagai dosen, lebih suka membatasi murid-murid gue dalam berkarya. Minimal secara output dan content, fungsinya biar mereka nggak lari-lari dalam bikin tugas dan juga supaya lebih mudah untuk ‘membandingkan’ dan menilai. Salah satu tujuan lain yang ga cukup kalah adalah supaya mereka biasa kerja dibatasi, karena realita yang gue alami adalah banyak sekali pekerjaan desain yang penuh dengan batasan. Khususnya batasan waktu dan batasan budget.

Jadi apakah batasan-batasan adalah hal yang negatif?

Buat gue sekali-kali enggak. Batasan membuat kita ‘terperangkap’ dalam ruang yang sama, dalam konteks yang lebih memiliki relevansi, dan disinilah menurut gue proses pembelajaran dan pengembangan individu bisa lebih efektif. Pelajar bisa diperkenalkan pada dunia kompetisi, yang fungsinya hanya sekedar untuk menapakkan kaki mereka ke realita. Mungkin memang ada orang-orang yang menilai kompetisi itu hal yang nggak baik, tapi ya balik lagi untuk menjadi ‘perbandingan’, menjadi ‘tolak ukur’, untuk landasan kritik dan pembelajaran menurut gue ‘batasan’ itu perlu.

Sebelum banyak berargumen lebih lanjut coba kita berhenti dan membayangkan. Bayangkan kita masuk ke kelas gambar, dan arahan dari dosen adalah : menggambar bebas. Secara sederhana, anak bisa bebas menggambar apa saja yang ia mau. Kalau ada yang nyeleneh, ya mungkin nggambar yang nyeleneh. Secara lebih luas, anak bisa menggambar dalam ukuran dan alat apapun yang ia mau, bisa saja ada anak yang mengumpulkan ukuran A2, dan temen sebelahnya Cuma nggambar ukuran A7. Secara ekstrim, sang anak bisa menggambar kasar dalam 10 menit, da nada anak yang memilih menggambar dalam setahun. Secara lebih ekstrim lagi, anak bisa menggambar di meja, di bangku, di tembok, bahkan di wajah pengajarnya kalau ia berani. Dan dalam pemahaman gue, anak itu sah-sah saja, karena arahan dari dosen adalah ‘menggambar bebas’. Kalau ada kasus vandalisme atau kasus plagiat atau kalau secara ekstrim ada kasus pelecehan/penganiayaan/kekerasan (seperti menggambar di jidat teman), gue rasa sudah menjadi tanggung jawab sang dosen juga.

Tapi tunggu, kan sudah sewajarnya anak nggak menggambar di jidat temannya? Disini gue mengasumsikan ‘sewajarnya’ adalah sebuah batasan moral dan etika. Kalau batasan moral dan etika diperlukan, berarti secara tidak langsung batasan-batasan itu ada secara tidak terlihat bukan?

Selain bicara menggambar di jidat, bayangkan apabila kasus di kelas, arahan sang dosen adalah : menggambar still life dalam waktu 60 menit di A3, dengan media watercolor (still lifenya lalu dosen mengambil serangkaian buah ditaruh diatas baskom seperti pada umumnya). Disini, anak pasti akan menggambar selama durasi yang diberikan, menggambar dalam bidang yang ditentukan, dan dengan alat gambar yang digunakan. Lalu apakah akan sama semua hasil anak-anak satu kelas? Tentu tidak. Kompetensi teknis tentu akan mempengaruhi, lalu dia duduk dimana dan melihat seperti apa akan mempengaruhi sudut sang baskom berbuah tadi, pilihan untuk menggambar sebesar apa di kertas pun juga akan mempengaruhi komposisi gambarnya. Jadi apa yang ingin gue utarakan? Dengan batasan-batasan saja, hasil yang dicapai bisa tetap beragam. Dalam sisi pengajaran, apabila akan diadakan review hasil kelas, gue rasa hasilnya pun akan bisa lebih relevan: semua anak melihat obyek yang sama (walau terserah mau dari sudut pandang mana) dan mengerjakan dengan batasan yang sama. Kita bisa bahas, si Anu memiliki sudut pandang dan komposisi asimetris, si Ani memiliki kemampuan teknis yang tinggi walaupun komposisinya monoton, Si Ane memiliki kemampuan teknis yang kurang namun eksplorasi dalam komposisinya yang hiperbolik. Menyenangkan bukan?

Gue rasa inilah yang memang diterapkan di kelas-kelas pada umumnya. Disini gue Cuma ingin memberikan opini dan sudut pandang gue tentang aturan/ketentuan/batasan dalam kelas. Kita perlu tau kapabilitas kita, dan bagaimana cara kita tau sudah sampai mana kapabilitas kita kalau kita tidak pernah menengok orang-orang disekitar kita? Lalu, orang yang kita tengok harus seperti apa? Tidak perlu depresi apabila kita membandingkan diri, dan menemukan bahwa kompetensi kita sekarang masih sangat lemah. Yauda lah ya makannya kan beda, minumnya juga beda, tidurnya juga di kamar yang berbeda. Yang penting udah tau, keukur (walau belum tentu perbandingannya ‘adil’) terus kita mengambil sikap (kalau bisa ya yang positif), tentuin kita mau gimana, dan di laksanakan deh sebaik mungkin. Jangan anggep batasan itu sebuah hambatan mutlak (karena mungkin awalnya menghambat) Kalau sudah kita lewati, harusnya akan membawa dampak yang positif, baik membawa kita ke tahap yang lebih tinggi (atau luas kalau selama ini mbayangin hambatan itu seperti tembok).

Jadi sekian, maaf ga ada gambar. Salam, selamat malam mingguan ya.