Mengapa Kuliah Desain?

Lebih spesifiknya kuliah desain komunikasi visual.

Tulisan kali ini berusaha memberikan perspektif saya dari respon atas pertanyaan “Mengapa kuliah desain?”. Pertanyaan yang mungkin ditanyakan secara basa-basi ini adalah pertanyaan yang terkadang memberikan kepada sang penanya gambaran dari pola pikir atau motivasi dari si responden. Serius atau tidak, tentunya jawaban yang diberikan tidak muncul dari kekosongan.


Sebelum sedikit membahas jawabannya, saya ingin menceritakan sedikit mengapa pertanyaan ini kerap saya tanyakan ke mahasiswa ketika sedang berbicara dalam tahap yang lebih personal. Ya, pertanyaan ini bukanlah pertanyaan yang dapat saya berikan secara massal. Pertanyaan ini diberikan ketika beberapa barrier sudah diruntuhkan dulu sebelumnya, ketika mahasiswa sudah ‘cukup’ nyaman untuk mengungkapkan pikirannya kepada saya.

Kuliah bukanlah pilihan yang sepele. Tidak sebatas mengeluarkan biaya saja, namun waktu dan tenaga yang perlu diinvestasikan dalam perkuliahan tentu bukan hal yang sederhana. Kuliah desain di beberapa kampus di ibu kota pun seolah sangat prestis (beberapa waktu yang lalu), namun prestis tersebut tentu disertai tanggung jawab yang tidak asing ditelinga orang-orang, tugas.

Ketika saya bertanya, mengapa memutuskan untuk kuliah desain, hal yang ingin saya ketahui pertama adalah pemahaman awal mahasiswa ketika memutuskan untuk kuliah desain. Ada mahasiswa yang memang sudah mengetahui apa yang akan didapatkan nantinya ketika kuliah desain, sehingga ketika memulai studi mereka, mereka lebih siap. Namun ada juga mahasiswa yang ‘salah’ mengetahui seperti apa itu kuliah desain. Ketika hal ini terjadi, respon pertama saya adalah meluruskan hal-hal yang memang perlu diluruskan. atau menyarankan untuk pindah jurusan.

Hal lain yang ingin saya ketahui adalah bagaimana persiapan atau ketertarikan mereka. Tidak jauh berbeda dari poin pertama, poin kedua ini ingin menggali lebih persiapan mereka dalam kuliah desain. Ketika seseorang ingin kuliah DKV karena ingin bekerja di advertising agency, saya pribadi akan mempush mahasiswa ini nantinya untuk berpikir lebih ‘kreatif’ dan ‘out of the box‘. Ketika seorang anak kuliah DKV karena ingin menjadi seorang web designer, saya akan mempersiapkan anak ini untuk lebih memahami tipografi dan logika-logika dalam mendesain sebuah interface. Ketika seorang anak ingin menjadi illustrator kelak setelah lulus kuliah, maka saya akan dukung dan push anak tersebut untuk lebih illustratif dalam tugas-tugas ‘non ilustrasi’nya.

Mungkin memang tidak semua pertanyaan ‘kenapa kuliah desain?” dilatar belakangi alasan-alasan spesifik seperti yang saya miliki, tapi kira-kira begitulah yang terjadi ketika saya bertanya. Nah, sesuai tujuan utama tulisan ini, berikut adalah beberapa jawaban yang saya sering kali dengar, dan opini saya pribadi merespon jawaban tersebut:

Mau Jadi XXXXXXX

Selama menjadi seseorang yang masih berhubungan langsung dengan keilmuan desain, saya rasa jawaban ini adalah jawaban terbaik (walau perlu dilihat lebih lanjut sejauh mana pengetahuan mahasiswa akan profesi yang ia sebutkan).

Suka Menggambar

Suka menggambar adalah sebuah permulaan yang baik, yang kerap kali memang menerjunkan orang-orang untuk kuliah desain. Dari ‘suka menggambar’, kita dapat mengetahui minat dari seseorang dan juga mengetahui karakteristik visual dari gambar mahasiswa tersebut.

Ketika seseorang suka menggambar secara komprehensif dan detail, mungkin mahasiswa tersebut dapat lebih fokus ketika mengerjakan kewajiban illustrasi. Ketika seseorang suka menggambar secara rutin tanpa level detail yang tinggi, mungkin mahasiswa tersebut dapat lebih maksimal mengerjakan kewajiban animasi 2d ataupun membuat komik. Ketika seseorang suka men’doodle’, mungkin anak itu lebih cocok masuk desain grafis dibandingkan masuk animasi nantinya (terlepas dari klaim anak tersebut).

Suka Lihat Desain

Suka melihat desain juga merupakan hal yang cukup baik, namun perlu sedikit diwaspadai. Karena jawaban ini tidak secara utuh menjelaskan sesiap apa anak tersebut dari segi kemampuan.

Saya suka mendengar lagu, namun hal itu tidak menjadikan saya seorang musisi. Saya suka melihat film, namun bukan berarti saya mau menjadi seorang sutradara atau seorang aktor. Saya suka sekali makan, namun tidak menjadikan saya seorang foodie ataupun seorang chef. 

Suka melihat desain itu sah-sah saja, namun tidak cukup untuk menjadikan seorang ‘visual enthusiast’ menjadi seorang desainer. Ada beberapa hal yang perlu dilalui seorang mahasiswa untuk menjadi seorang desainer, dan tidak semuanya itu ‘menyenangkan untuk dilihat’. Seperti kata rekan kerja saya, “Learning can be fun, but not necessarily have to be fun.”

Tidak Suka XXXX

Jawaban yang paling sering didengar dan terus terang saja jawaban terburuk. hahaha.

Tidak menyukai matematika akan menyulitkan seseorang ketika belajar tipografi ataupun mengerjakan tugas-tugas yang sangat sistematis, seperti majalah, buku, website, aplikasi, ataupun identitas visual.

Tidak menyukai hafalan akan menyulitkan seseorang untuk bekerja, desain atau tidak desain.

Tidak menyukai IPA akan ‘menumpulkan’ pemahaman seorang desainer. Memang desainer bukan seorang scientist, namun berfikir komprehensif dan logis yang merupakan salah satu modal utama yang diberikan di pelajaran-pelajaran IPA juga merupakan modal utama dalam menjadi seorang desainer.

Tidak menyukai IPS adalah hal yang cukup aneh sebenarnya. Desain dan seni sering dianggap sebagai cabang dari ilmu humaniora. Memutuskan untuk kuliah di jurusan humaniora tapi tidak menyukai ilmu sosial agak aneh. Terus terang saja.

Singkatnya, tidak menyukai sesuatu bukanlah basis untuk memilih sesuatu hal yang lain.


Saya rasa itulah keempat kategori jawaban yang saya pribadi kerap kali temukan. Apapun jawaban yang diberikan, sebenarnya sah-sah saja seseorang untuk belajar atau kuliah desain, ataupun menjadi seorang desainer. Namun harapan pribadi saya, ketika memutuskan untuk kuliah, ada baiknya perlu mengetahui secara menyeluruh jurusan yang ingin dipelajari. Hal ini bermaksud untuk mengurangi asumsi-asumsi salah tentang sebuah jurusan.

Setiap kampus dan jurusan tentu memiliki kacamata desain dan pendekatan desainnya masing-masing. Setelah ‘mantap’ dengan kuliah desain, saya rasa ada baiknya untuk mengetahui kampus dan jurusan mana yang cocok dengan ketertarikan orang tersebut. Terlepas dari ungkapan bahwa “design is one“, salah jurusan tetaplah salah jurusan. Tidak jarang mahasiswa DKV pindah ke jurusan produk, atau jurusan arsitek pindah ke interior, dll.

Jadi, setelah tahu mau kuliah desain, cari tahu desain apa, dan cari tahu kampus mana. Terlepas dari contoh saya yang menggunakan istilah-istilah didalam perkuliahan DKV, dan kacamata saya sebagai seorang pengajar DKV di sebuah universitas swasta, saya harap penjelasan saya dapat membantu untuk yang masih belum memutuskan.

Jangan terpersuasi untuk kuliah desain. Kuliah-lah di jurusan yang memang diminati dan cocok dengan natur anda.

Rick Poynor:

“designers inevitably express the values of their day”

Kutipan sederhana dari buku bacaan saya: “What is Graphic Design For” karya Alice Twemlow. Buku lama sih, tapi tetep bacaan yang menyenangkan.

Kembali ke ungkapan Rick Poynor, disini saya ingin memberi sedikit respon terhadap ungkapan tersebut. Secara sederhana yang ingin dikatakan Poynor adalah desainer pasti akan mengekspresikan atau mengungkapkan apa yang memiliki nilai di harinya. ‘Hari’ disini dapat secara sederhana berbicara secara personal, namun juga dapat secara luas: yaitu zaman atau era tempat desainer tersebut bernaung.

Dalam kelas sejarah seni rupa dan peradaban, dimana saya turut membantu, mahasiswa atau mahasiswi diingatkan bagaimana konteks zaman memiliki kaitan terhadap artefak-artefak seni mereka. Sehingga kita bisa melihat zaman melalui benda-benda yang ada di zaman tersebut, dan benda-benda tersebut akan memiliki ‘nilai’ ketika dilihat bersamaan dengan zaman itu.

Singkatnya: nggak lepas dari zaman.

Dengan menggebu-gebunya pemahaman tersebut dalam pikiran saya, saya bertemu pada ulasan Poynor ini, dan saya rasa kutipan ini melengkapi penjelasan mengapa karya seni/desain tidak terlepas dari zaman tempat ia berada. Jawabannya sesederhana, seniman/desainernya tidak terlepas dari zamannya juga. Dengan sang pembuat karya berada dalam sebuah situasi didalam zamannya, tentunya pengaruh apa yang terjadi di dunia pada waktunya akan membantu membentuk apa yang ia lihat, pikirkan dan rasakan. Hal itu menjadi nilai-nilai yang sedikit banyak tertuang dalam karya-karyanya, baik sadar maupun tidak sadar.


Hari ini saya hentikan sampai sini dulu, karena awalnya saya ingin menulis hal lain, dan dalam upaya saya membaca dan menulis, saya menemukan kutipan Poynor tersebut, sehingga saya putuskan untuk menulis secara sederhana pandangan Poynor.

Jadi sampai sini dulu ya.

 

Grafis dan Desain Informasi

Berpadu dalam komunikasi informatif melalui gambar dan aksara.

Ditulisan kali ini, yang sebenarnya tidak banyak membicarakan mengenai desain informasi secara mendetil, akan membahas mengenai kedua elemen desain grafis dan dicoba dikaitkan dalam performanya didalam desain informasi. Tulisan kali ini berdiri secara independen, namun untuk menyamakan persepsi mungkin ada baiknya membaca sedikit tulisan mengenai apa itu Information DesignKarena sepakat (atau setidaknya simpatik) terhadap perspektif yang akan saya tawarkan akan memudahkan pemahaman apa yang ingin saya sampaikan. Dalam tulisan kali ini, saya ingin meminjam beberapa pemahaman mengenai komponen-komponen desain grafis dari Nancy Skolos & Thomas Wedell. Saya sih nggak pernah ngobrol, tapi dari buku mereka Type Image Message – A Graphic Design Layout Workshop, saya sedikit banyak mendapat pencerahan dari secuil perspektif mereka dalam gambar dan aksara.


Dalam bukunya, Skolos & Wedell memberi contoh bagaimana sebuah foto dan sebuah tulisan ‘dibaca’ dengan cara yang berbeda. Foto dilihat sebagai representasi dari dunia fisik yang memiliki kesan waktu dan ruang, sedangkan tulisan atau aksara, tidak dapat ditemukan dalam dunia fisik. Bertolak dari pandangan tersebut, saya mencoba untuk memperluas pemahaman foto menjadi gambar, karena gambar bisa berupa foto maupun ilustrasi, dan keduanya juga merupakan representasi langsung dari apa yang kita lihat di dunia fisik secara natural.

beasiswadesain-05
For people that does not speak the language of Japan, Indonesia or Russia, the only ‘thing’ that they can fully understand is probably number 1, 2 or 3. For people that speak English (and other languages that may absorb several vocabularies, such as Indonesia), ‘5’ probably can be interpreted with some assumptions. 

Untuk yang mungkin tidak fasih dalam bahasa Inggris, atau merasa bahasa Inggris saya tidak jelas, deskripsi diatas hanya mencoba mendemokan gagasan yang saya sampaikan sebelumnya. Melalui gambar apel (baik foto, ilustrasi ataupun stilasi) kita dapat lebih memahami apa yang ada dibelakang ‘tanda’ nomor 1, 2 dan 3. Untuk kita yang berbahasa Indonesia, kita juga paham bahwa ‘a’, ‘p’, ‘e’ dan ‘l’ ketika disusun menjadi ‘apel’ menandakan buah apel (atau makna-makna lain yang homograf dengan ‘apel’). Untuk yang sedikit banyak paham bahasa Jepang dan Rusia, mungkin tanda nomor 4 & 6 juga dapat dimaknai sebagai buah apel (walau saya sendiri sepenuhnya mempercayai google translate dan tidak meluangkan waktu untuk klarifikasi hasil terjemahan google).

Pertanyaannya sederhana: mengapa gambar dapat dipahami lebih mudah daripada tulisan? Mudah disini maksudnya lebih universal dan lebih banyak orang dapat memahaminya. Jawabannya seperti yang coba dijelaskan oleh Skolos & Wedell. Gambar merupakan representasi dari apa yang kita temukan secara natural sehari-hari, sedangkan tulisan, atau setidaknya aksara-aksara tersebut, tidak ditemukan secara natural dalam keseharian kita.

Makna dari tanda nomor 5 didapatkan dari proses konstruksi dalam tatanan pikiran kita sehingga wujud tulisan ‘apel’ dapat dimaknai dengan mudah sebagai buah apel (atau makna-makna lain yang homograf). Makna darti tanda nomor 1,2 dan 3 didapatkan dari pengalaman personal berinteraksi dengan benda aslinya, yaitu buah apel itu sendiri. Ketika kita mencuci buah apel, mengupas buah apel, menggigit buah apel, pengalaman-pengalaman personal itu membantu membentuk konstruksi makna melalui pengalaman kita akan buah apel. Sehingga melihat gambar buah apel, segala pengalaman tersebut dapat ‘terpanggil’ dan kita dapat langsung paham apa yang dicoba direpresentasikan dalam tanda nomor 1,2 dan 3. Sedangkan tulisan ‘apel’ mencoba merepresentasikan buah apel itu dengan upaya mekanik dan geometrik, yaitu melalui aksara ‘a’, ‘p’,’e’ dan ‘l’ yang disusun menjadi kata ‘apel’.

Gile ya.

Ketika sejenak kita mencoba melihat bahwa dalam keseharian kita, kita selalu menggunakan simbol-simbol, maka tidak heran kalau ada hal-hal seperti miskomunikasi, atau mis pemberian dan penangkapan makna dari simbol.

Namun apakah berbahasa melalui visual, melalui gambar semata adalah hal yang baik? saya rasa kalau jawabannya adalah iya, maka tidak akan pernah tercipta bahasa. Kembali ketika kita melihat bahwa gambar apel dapat dimaknai secara personal sesuai dengan bagaimana kita masing-masing berinteraksi dengan buah apel itu, maka cukup sulit untuk dapat ‘sepakat’ akan sesuatu berdasarkan pengalaman personal yang beragam itu.

Buah apel dapat dilihat sebagai buah saja. Buat beberapa orang, buah yang enak, ada yang bilang buah yang tidak enak. Ketika konteks ekonomi turut membentuk makna, maka ada yang beranggapan apel adalah buah yang mahal, tapi ada juga buah yang murah. Ketika aspek kesehatan ikut juga, maka ada yang melihat buah apel sebagai buah mahal yang tidak enak namun menyehatkan, namun ada yang melihat apel sebagai buah yang enak, murah dan menyehatkan. Fantastis.

Oleh karena itu saya rasa sangat mustahil untuk berbahasa semata-mata dengan visual, atau dengan menggunakan makna yang didapatkan dari pengalaman personal untuk setiap-setiap orang. Disinilah peran bahasa dan aksara muncul. Karena arti dari bahasa adalah sesuatu yang dikonstruksi secara bersamaan dengan orang-orang lain disekitar kita, maka walau tidak secara langsung merepresentasikan benda nyatanya, maka kata ‘apel’ dapat secara jelas menceritakan buah apel, dan kata ‘apel yang mahal’ dapat secara langsung berbicara mengenai buah apel yang secara harga dan nilai tidak masuk akal, walau kembali, persepsi mahal itu dapat berbeda-beda juga yah. hahaha.


Oke-oke kurang lebih itu pemaparan saya yang mungkin agak redundant, tapi semoga cukup jelas.

Lalu korelasi antara grafis (gambar dan aksara) dengan information design apa???

information-graphics-isotype-chart-wwi
Salah satu infografis dengan ISOTYPE dari Otto Neurath.

Gambar diatas adalah salah satu contoh infografis (itu tuh yang lagi ngehype dan ramai). Infografis humble ini mencoba ngasi tau kita hasil dari perang dunia pertama. Gambar dari prajurit, prajurit cedera dan kuburan prajurit sebenarnya cukup merepresentasikan gagasan utama untuk orang-orang yang tahu bahwa baju prajurit tersebut adalah seragam dari prajurit pada era perang dunia pertama. Sehingga melihat perbandingan jumlah, kita dapat secara cepat mendapat gambaran perbandingan dari prajurit dua pihak, yang ditunjukan melalui dua arah yang berlawanan. Tulisan yang menjadi judul dan tambahan deskripsi membantu orang-orang yang terlepas dari zaman itu untuk tahu informasi tersebut, sehingga informasi tetap bisa dipahami oleh orang-orang yang hidup 100 tahun sejak perang tersebut.

Disini peran gambar dan peran tulisan saling mendukung untuk memberikan informasi sebanyak mungkin dengan desain yang sesederhana mungkin. Ini-lah sesuatu yang sangat ideal untuk dicapai dalam sebuah information design. Terlihat sederhana, tapi butuh waktu, latihan dan pikiran untuk benar-benar bisa menguasai paradigma tersebut.


Supaya tidak meluas pembicaraannya, saya akan coba sudahi tulisan sederhana ini disini dulu saja. Kalau di recap, sedikit banyak postingan ini mencoba menjelaskan bagaimana gambar dan tulisan mampu memberikan makna. Bagaimana keduanya bekerja dan potensi kerja sama seperti apa yang keduanya dapat lakukan.

Semoga tulisan ini dapat menjadi tulisan lanjutan dari apa yang saya tulis sebelumnya. Akhir kata, mengutip apa yang Otto Neurath sampaikan:

Words divide, pictures unite. 

Warna : RGB & CMYK

Hello. Ini bagian dua dari serangkaian (semoga) postingan yang akan ngebahas mengenai warna. Kalau kemaren gue sempet ngebahas tentang Newton & Goethe dan kontribusi mereka terhadap teori warna, sebelum kita masuk ngebahas teori warna lebih dalem, gue merasa perlu ngomongin tentang jenis warna dulu sebelumnya.


Sebelum masuk ke topik RGB & CMYK, gue mau ngejelasin dua hal dulu sebelumnya, yaitu warna aditif & warna subtraktif.

Warna aditif: Disebut juga warna cahaya, dimana ketika warna ditambah-tambahkan akan menghasilkan warna yang lebih terang. Warna aditif inilah yang sering juga disebut warna RGB, karena memiliki warna primer merah (red), hijau (green) dan biru (blue).

Warna subtraktif: Disebut juga warna cetak, dimana ketika warna ditambah-tambahkan akan menghasilkan warna yang lebih gelap. Warna aditif inilah yang sering juga disebut warna CMYK, karena memiliki warna primer cyan, magenta, kuning (yellow), dan warna kunci (key color) yang merupakan warna hitam.

additive-subtractive-mixing
Warna Aditif & Subtraktif

 

Selain perbedaan sistem itu, apa lagi sih bedanya?

Perbedaannya yang cukup mendasar adalah gamut warnanya. Gamut warna itu ‘batasan’ warna. Gamut warna RGB lebih luas daripada warna CMYK, artinya RGB bisa mencapai warna-warna yang tidak bisa dicapai sama CMYK. Hal inilah yang menyebabkan ketika kita melihat gambar di layar dan hasil cetak umumnya berbeda. Lebih gelap, lebih ‘kependem’, etc.

rods20photographic20glossaryg_clip_image001
Gamut Warna RGB & CMYK

 


 

Nah, cuma gue sekarang memiliki misi khusus juga sebenernya. Pertama gue perlu meluruskan bahwa walaupun CMYK adalah warna cetak, bukan berarti semua warna yang dicetak itu CMYK loh. Ini sedikit nyimpang, tapi ada juga istilah spot color, atau warna khusus. Nah kalau ini gue jelasin lebih lagi sebenernya udah masuk ke ranah kelas MRG (biasanya).

Selain istilah spot color, ada juga beberapa perusahaan yang mencoba mengembangkan sistem warna cetak yang baru, salah satunya print hexachrome. Cetak dengan hexachrome sendiri gue ga tau detailnya gimana, tapi konon, mereka menggunakan enam warna dasar untuk cetaknya, warna cyan, magenta, yellow, key, orange dan hijau. Dengan menambahkan dua warna dasar ini untuk cetak, katanya sih gamut warnanya pun lebih lebar lagi, sehingga bisa menjangkau warna-warna yang sebelumnya nggak bisa didapet dari CMYK.

hex_gamut
Gamut Hexachrome dan CMYK

Berbicara mengenai cetakan juga, kalau di google, ada juga printer LumiJet S200 yang konon bisa cetak dengan model warna RGB. Sehingga ya balik lagi, gamut warnanya lebih luas juga daripada CMYK biasa. Kalau ini sih gue gatau udah ada apa nggak di Indonesia, dan belom pernah liat sendiri hasilnya, beda sama hexachrome tadi.

79fb78d76f4028fb13a8ce228606e3c7_xl
LumiJet S200

Pembahasan warna terakhir, masih dengan memperluas gamut warna, tapi kali ini untuk media layar, dimana TV Sharp Quattron menggunakan sistem warna RGBY. TV ini menambah warna dasar mereka dengan warna kuning untuk bisa mencapai warna-warna yang lebih tajam dan ‘hidup’.

quattron_4-color_pixel_structure
Sistem warna Quattron

Ngomong-ngomongin ini, gue jadi keinget harusnya di mol-mol ada deh TV yang memang udah pake sistem ini di demo. Kalo gue liat sih keren-keren yak, tapi balik lagi nggak tau tu beneran apa nggak. haha.


Ya dan sedikit kembali ke misi pribadi gue, sebenernya sih yang gue pengen omongin adalah : Apakah luas gamut warna itu penting banget? Kalo gue terus terang nggak sebegitunya sih. Karena terus terang gue ngrasa klien, atau kadang gue sendiri, nggak gitu bisa bedain warna secara detail. Jadi ya selama warna yang mestinya merah nggak berubah jadi ungu atau coklat, ya gue sih nggak akan komplain. Karena dari pengalaman gue sendiri kerja di tempat cetak, ngejer warna itu nggak akan ada habisnya. Dari ngomongin viskositas tinta, sampe ngomongin color profile, etc etc. Capek banget.

Buat yang baru belajar tentang cetak-cetak, ada hal yang menurut gue lebih penting daripada gamut warna, yaitu hasil cetak itu sendiri. Gue akan memilih hasil cetak yang tahan lama dibandingkan warna realistis yang nggak tahan lama. Itu baru kalau ngebahas ketahanan warna yak, belum ngomongin kondisi printer. Kalau head printernya nggak bersih, atau lagi ada masalah, kadang ada aja warna-warna yang ga pekat atau ga mrata. Jadi diujung kanan merahnya A, diujung kiri merahnya jadi B. Yaa problem kayak gitu sebenernya lebih obvious daripada warna lu meleset sih. Penyakit begini nih yang gue hindarin banget dalam cetak.

Doh. Kalau ngomongin cetak yah, jadi baper.

Eniwei itu dulu sih pembahasan gue mengenai RGB & CMYK. Gue harap kalian jadi tau tentang istilah warna Aditif & Subtraktif, inget juga kalau dibahas mengenai gamut warna, dan tau gimana harus memposisikan diri ketika lagi nyetak-nyetak.

Sekian dulu buat hari ini. Gue lanjut yang lain dulu. Salam Damai. Have a nice day.

 

Warna: Newton & Goethe

Halo, selamat hari kenaikan Yesus Kristus atau Isa Almasih.

Oke, kembali lagi yak. Hari ini gue akan sedikit ngebahas tentang Newton & Goethe. Nah lho. Mungkin mayoritas akan lebih tahu tentang Newton itu siapa, tapi untuk Goethe mungkin nggak semuanya familiat. Boleh digoogle dulu buat yang gatau, karena gue ga akan bahas mendetail tentang Goethe nya sih.

Nah, Newton & Goethe keduanya merupakan orang-orang yang pernah berbicara tentang warna. Dalam definisi yang cukup ilmiah, warna adalah sifat yang dimiliki sebuah obyek, dimana obyek tersebut memproduksikan berbagai sensasi ke mata sebagai hasil pantulan cahaya. Jadi warna itu berasal dari cahaya, dimana cahaya tersebut turun ke obyek, kemudian dipantulkan, dan kemudian kita lihat melalui mata kita.

color-and-light

Nah, si Newton dan Goethe itu ada sedikit perbedaan pendapat mengenai pantulan cahaya yang masuk ke mata kita. Jadi asal muasalnya Newton menaruh sebuah prisma dideket jendelanya, dan prisma tersebut membiaskan sebuah spektrum warna di temboknya. Newton kemudian mengambil prisma yang mirip dengan prisma pertama, dan memposisikannya dekat spektrum warna itu, sehingga spektrum warna tersebut terbiaskan menjadi ‘cahaya’ lagi.

Prisma-lightSpectrum-goethe.gif

Prisma ini nggak menghasilkan warna, dan nggak ‘mempunyai’ warna juga, alias tembus pandang. Tapi Prisma ini membiaskan cahaya sehingga kita bisa ‘melihat’ warna. Warna yang dihasilkan adalah merah, oren, kuning, hijau, biru dan ungu. Newton kemudian ‘memetakan’ warna-warna tersebut kedalam sebuah lingkaran, dimana warna disusun bertolak belakang dengan warna yang ‘komplementer’. Hal ini dimaksudkan untuk menghasilkan kontras optis dengan menyandangkan sebuah warna dengan warna ‘komplementer’nya. Inilah asal muasal ide mengenai lingkaran warna.

Newton's_color_circle.png

Gambar diatas adalah gambar lingkar warna yang dihasilkan oleh Newton. Kalau kita perhatikan pembagiannya nggak bener-bener sama besarnya, ada perbedaan-perbedaannya. Terus apa hubungannya sama Goethe? Nah si Goethe bilang kalau kasus yang dilihat Newton itu kasus yang khusus. Dalam eksperimen serupa Goethe, dia mendapatkan hasil yang berbeda dengan Newton. Dia membiaskan cahaya ke kertas putih, bukan ke tembok, dan ia mendapat hasil yang berbeda. Goethe kemudian menggeser kertas putih tersebut menjauh dari prismanya. Setelah sampai ke jarak tertentu, maka hasil pembiasan prisma tersebut menjadi seperti apa yang Newton dapatkan.

Goethe kemudian banyak mengadakan eksperimen dan juga penelitian mengenai warna itu sendiri. Goethe juga membuat sebuah lingkaran warna yang sampai sekarang sering digunakan dalam pendidikan dasar seni ataupun desain grafis.

Goethe,_Farbenkreis_zur_Symbolisierung_des_menschlichen_Geistes-_und_Seelenlebens,_1809.jpg

Ada beberapa pembahasan yang cukup ilmiah mengenai eksperimen yang dilakukan Newton dan Goethe, tapi gue sendiri nggak bener-bener menyimak untuk mempelajari keduanya. Yang gue cukup ketahui dan pelajari ya ini, tentang apa sih sumbangan Newton terhadap seni, dan apa sumbangan Goethe terhadap seni. Buat gue, gue nggak mempermasalahkan siapa yang bener ataupun siapa yang lebih hebat. Setiap orang punya kontribusi yang berbeda-beda.

Goethe juga akhirnya menulis buku tentang teori-teori warna. Salah satu hal menarik buat gue adalah, Newton melihat cahaya sebagai karakter atau sifat ilmiah semata, sedangkan Goethe menilai bahwa warna terbentuk juga karena persepsi manusia itu sendiri. Newton melihat lebih ke sensasi, dan Goethe ke persepsi. Itu juga yang akhirnya membuat Goethe sedikit berbicara mengenai asosiasi sebuah warna terhadap sifat-sifat tertentu. Nah ini bisa gue bahas lagi selanjutnya.

51pb9bsp6xl-_sy344_bo1204203200_

Buat sekarang, kayaknya segini dulu aja deh. Sebelumnya gue pernah bahas isu ini di akun youtube gue yang lama. Berikut link videonya kalau yang pengen tau, isinya kurang lebih sama.

Gue berencana buat ngebahas lebeih lagi mengenai warna dalam postingan selanjutnya. Semoga bisa kelakon ya. Untuk sekarang gue undur diri dulu. Ada beberapa tugas ujian yang harus gue lakuin kalau gue mau lulus kuliah yang bener. Sampai nanti lagi ya. Selamat berlibur.

Edan

Halo setelah sebulan lebih saya undur diri, sekarang saya kembali. Entah gue juga nggak paham tapi sebulan kemaren ada aja hal-hal unik yang ngebuat gue nggak bisa fokus. Tapi yasudalah, gue juga manfaatkan periode itu buat istirahat dan buat ngasi jeda aja, jadi bulan ini saya akan kembali menulis. Terus terang aja bulan ini banyak peer, dan ya cukup memusingkan juga, tapi menarik dan juga agak tertantang. Ya kita liat aja bisa ampe gimana gue bulan ini.

Sedikit mengenai apa yang terjadi seputar gue. Pertama, periode 1152 sudah selesai, dan sekarang lagi persiapan memasuki periode 1153. Artinya, gue bakal dapet kelas baru lagi semester depan. Harusnya gue update CV gua yah, soalnya jumlah kelas yang gue pegang kan udah bertambah juga. *Senang*. 1153 berat sih, dan dalam periode waktu yang nggak bersahabat juga. Tapi ya seorang pelajar harus bisa belajar gimanapun juga, karena hakekatnya adalah untuk menangkap dan juga mencerna terlepas apapun situasinya.

Ya terus terang gue sendiri juga udah sempet ke skip dan melupakan prinsip tersebut. Gue sempet beberapa kali down dan agak lose hope dengan kelas-kelas gue, tapi ya gue coba inget kembali apa aja yang udah gue terima, dan gimana sih gue sendiri dulu. Memang gue nggak dalam situasi yang serupa dengan mereka, tapi gue sadar dulu gue pernah menjadi mereka, menjadi orang-orang yang buta dan butuh bantuan. Gue sekarang udah lewatin itu, walau belum sepenuhnya juga. Sekarang gue harus bisa nuntun juga, nggak cuma dituntun.

Bulan ini juga gue abis ngerampungin beberapa proyek. Nggak banyak, dan nggak extravagan juga, tapi it’s done. Sampai pada titik proyek gue udah ada yang rampung aja sebenernya udah sebuah pencapaian sih. Pencapaian dimana gue berhasil bertahan ataupun sukses berinovasi. Di setiap proyek yang gue lewatin pasti ada hal-hal baru yang gue pelajari. Karena menurut gue, nggak ada proyek yang sia-sia, dan nggak ada pelajaran yang nggak bermanfaat. Mungkin gue belum liat manfaatnya sekarang, tapi gue belajar untuk percaya bahwa kelak akan ada manfaatnya juga, seberapa kecil ataupun signifikan proyek tersebut terhadap karir gue.

Oh, dan bulan ini gue juga sampai ke sebuah konklusi. Ceileh. Gue sampai pada pendirian bahwa gue nggak cocok dan nggak bisa bikin proyek iseng atau random gitu aja. Gue nggak bisa kejar form dengan buta gitu. Ketika gue eksperimen, gue tetep butuh yang namanya pemahaman akan didalam dan disekitar. Gue butuh konten dan juga konteks, tapi ya gitu, gue agak hipster, jadi gue coba urungkan penggunaan kata tersebut. Kemaren-kemaren gue mau coba ‘bebas’ bikin sesuatu, dan astaga susah banget. Gue selalu stuck dengan memikirkan apa tema yang pas, dan bukan bentuk apa yang harus gue kejer. Dah salah fokus dan abis tenaga dari awal gitu deh, capek. Mungkin gejala ini sebenernya udah ada dari dulu. Gue paling bingung kalo udah dibilang bebas tuh. Bebas dalam artian bikin karya apa aja bebas. Bingung abis. Gue suka banget dihajar sama brief, atau dikasih tema minimal. Ngebantu gue banget sih. Mungkin hal ini juga yang melatar-belakangin obrolan gue sebelumnya.

Ah minggu ini gue pengen nonton Captain America Civil War. Nanti kalo udah nonton, gue pasti ngobrol lagi di blog ini. Entah kenapa gue demen juga ngulas ‘sensasi’ apa yang gue dapet selama nonton. Dimana hal itu biasanya menjadi alesan utama gue bisa apresiasi sebuah film. Maklum yak, saya bukan anak film atau sinematografi. Saya cuma demen nonton dan sangat ekspresif menggambarkan isi kepala gue, sesuatu yang mungkin emang nggak mudah gue lakukan di kehidupan nyata. Jadi ya gitu deh, pelarian nih blog. Haha.

Eniwei gue nggak akan lama lagi. Masih ada beberapa hal yang harus gue kejer buat besok. Diantaranya gue harap bisa share dalam waktu dekat.

Maret 2016

Nggak kerasa udah mau sebulan sejak blog ini pertama kali gue bikin. Yaa persiapan sih udah dari sebelumnya, tapi emang sih baru bener-bener bisa kebentuknya belakangan ini. Berhubung besok agenda agak padat, jadi gue mau evaluasi kerjaan gue sendiri bulan ini sekarang. Haha.

Dalam bulan ini gue bikin 12 postingan, ini yang ketiga belas. Dan dalam postingan itu kalo gue liat sendiri, gue ngebahas tentang film lima kali. Well ga semua ngomong tentang filmnya sih, kalau yang Zootopia gue ngebahasnya lebih ke aspek desain yang gue liat dan sedikit materi-materi desain (Movie Review, Anatomi Huruf, Hirarki Desain), nah tapi contohnya secara spesifik si Zootopia itu. Kalau Film Batman V Superman sama Mad Max: Fury Road gue lebih ngomongin tentang refleksi diri dari apa yang gue dapet di film itu. Terus gue ikut 2 pameran, dimana keduanya gue liput sebisa gue di blog ini juga (HT -Shift & Lokakarya Lintas Media). Gue juga sempet ngomongin tentang McD dan desain kemasannya. Terakhir gue ada sempet ngeluarin uneg-uneg pemikiran gue tentang Belajar Dihambat, Coba-Coba dan Typografi & Pasangan Hidup. Banyak juga ya. Dari insight yang dikasi sama wordpress, gue belajar bahwa post gue yang paling ramai (kalau boleh disebut kayak gitu), ada di Batman V Superman. Kayaknya sih gara-gara lagi trend kekinian aja. haha. Gue harap postingan gue bisa lebih ramai dan mulai ada interaksi juga buat bulan depan. Amin.

Selain dari postingan, gue sempet ngulik dikit wordpress gue. Ngganti theme dan juga desain yang gue pengen. Nggak banyak, tapi gue lakukan. Disini gue ngerasa gue masih perlu banyak belajar ngulik wordpress. Yaaa buat mbikin struktur blog yang lebih bagus lagi. Maklum, gue nggak piawai dalam HTML dan CSS. Gimana yang lain. haha.

Terlepas dari kegiatan di blog, di beberapa minggu ini gue ada kesempatan buat ngedesain lagi, buat ngulik-ngulik lagi. Mungkin belom semua bisa gue update di portfolio (atau bahkan disini) karena ya emang gue sendiri masih keteteran ngupdate di behance ataupun kreavi gue. Tapi will do my best. Kalo ngelirik HD gue, gue masih ada beberapa kerjaan typografi, poster, editorial dan juga digital yang belom gue masukin. Ada yang iseng, ada yang client work, ada yang experimental. Eh, sama aja ya iseng dan experimental?

Nah abis ngeliat ini dan itu timbul dong pertanyaan gue selanjutnya. Dalam April 2016 gue mau ngapain aja sih? Nah ini nih yang membingungkan karena gue sendiri belum tau mau ngapain. Cuma kalo ngeliat to do list gue. Paling utama ya gue mau nulis lebih konsisten tentang apa yang ada di dunia gue. Kalo sekarang sih desain dan sedikit film. Selain itu, mungkin gue bakal coba posting karya fiksi. Nah, ini nih yang agak serem juga. Karena pada dasarnya kan gue bukan penulis fiksi (Ya penulis normal aja juga belom.) tapi gue sendiri kadang kesambet sama ide-ide yang emang sayang kalo nggak gue tuangin jadi ya mungkin akan ada dalam bulan April 2016.

Kayaknya begitu dulu deh sekarang. Gue mau persiapan dulu buat kelas. Sampai nanti lagi ya, sampai nanti bulan April maksudnya. Salam, jangan sampai masuk angin.