Warna : RGB & CMYK

Hello. Ini bagian dua dari serangkaian (semoga) postingan yang akan ngebahas mengenai warna. Kalau kemaren gue sempet ngebahas tentang Newton & Goethe dan kontribusi mereka terhadap teori warna, sebelum kita masuk ngebahas teori warna lebih dalem, gue merasa perlu ngomongin tentang jenis warna dulu sebelumnya.


Sebelum masuk ke topik RGB & CMYK, gue mau ngejelasin dua hal dulu sebelumnya, yaitu warna aditif & warna subtraktif.

Warna aditif: Disebut juga warna cahaya, dimana ketika warna ditambah-tambahkan akan menghasilkan warna yang lebih terang. Warna aditif inilah yang sering juga disebut warna RGB, karena memiliki warna primer merah (red), hijau (green) dan biru (blue).

Warna subtraktif: Disebut juga warna cetak, dimana ketika warna ditambah-tambahkan akan menghasilkan warna yang lebih gelap. Warna aditif inilah yang sering juga disebut warna CMYK, karena memiliki warna primer cyan, magenta, kuning (yellow), dan warna kunci (key color) yang merupakan warna hitam.

additive-subtractive-mixing
Warna Aditif & Subtraktif

 

Selain perbedaan sistem itu, apa lagi sih bedanya?

Perbedaannya yang cukup mendasar adalah gamut warnanya. Gamut warna itu ‘batasan’ warna. Gamut warna RGB lebih luas daripada warna CMYK, artinya RGB bisa mencapai warna-warna yang tidak bisa dicapai sama CMYK. Hal inilah yang menyebabkan ketika kita melihat gambar di layar dan hasil cetak umumnya berbeda. Lebih gelap, lebih ‘kependem’, etc.

rods20photographic20glossaryg_clip_image001
Gamut Warna RGB & CMYK

 


 

Nah, cuma gue sekarang memiliki misi khusus juga sebenernya. Pertama gue perlu meluruskan bahwa walaupun CMYK adalah warna cetak, bukan berarti semua warna yang dicetak itu CMYK loh. Ini sedikit nyimpang, tapi ada juga istilah spot color, atau warna khusus. Nah kalau ini gue jelasin lebih lagi sebenernya udah masuk ke ranah kelas MRG (biasanya).

Selain istilah spot color, ada juga beberapa perusahaan yang mencoba mengembangkan sistem warna cetak yang baru, salah satunya print hexachrome. Cetak dengan hexachrome sendiri gue ga tau detailnya gimana, tapi konon, mereka menggunakan enam warna dasar untuk cetaknya, warna cyan, magenta, yellow, key, orange dan hijau. Dengan menambahkan dua warna dasar ini untuk cetak, katanya sih gamut warnanya pun lebih lebar lagi, sehingga bisa menjangkau warna-warna yang sebelumnya nggak bisa didapet dari CMYK.

hex_gamut
Gamut Hexachrome dan CMYK

Berbicara mengenai cetakan juga, kalau di google, ada juga printer LumiJet S200 yang konon bisa cetak dengan model warna RGB. Sehingga ya balik lagi, gamut warnanya lebih luas juga daripada CMYK biasa. Kalau ini sih gue gatau udah ada apa nggak di Indonesia, dan belom pernah liat sendiri hasilnya, beda sama hexachrome tadi.

79fb78d76f4028fb13a8ce228606e3c7_xl
LumiJet S200

Pembahasan warna terakhir, masih dengan memperluas gamut warna, tapi kali ini untuk media layar, dimana TV Sharp Quattron menggunakan sistem warna RGBY. TV ini menambah warna dasar mereka dengan warna kuning untuk bisa mencapai warna-warna yang lebih tajam dan ‘hidup’.

quattron_4-color_pixel_structure
Sistem warna Quattron

Ngomong-ngomongin ini, gue jadi keinget harusnya di mol-mol ada deh TV yang memang udah pake sistem ini di demo. Kalo gue liat sih keren-keren yak, tapi balik lagi nggak tau tu beneran apa nggak. haha.


Ya dan sedikit kembali ke misi pribadi gue, sebenernya sih yang gue pengen omongin adalah : Apakah luas gamut warna itu penting banget? Kalo gue terus terang nggak sebegitunya sih. Karena terus terang gue ngrasa klien, atau kadang gue sendiri, nggak gitu bisa bedain warna secara detail. Jadi ya selama warna yang mestinya merah nggak berubah jadi ungu atau coklat, ya gue sih nggak akan komplain. Karena dari pengalaman gue sendiri kerja di tempat cetak, ngejer warna itu nggak akan ada habisnya. Dari ngomongin viskositas tinta, sampe ngomongin color profile, etc etc. Capek banget.

Buat yang baru belajar tentang cetak-cetak, ada hal yang menurut gue lebih penting daripada gamut warna, yaitu hasil cetak itu sendiri. Gue akan memilih hasil cetak yang tahan lama dibandingkan warna realistis yang nggak tahan lama. Itu baru kalau ngebahas ketahanan warna yak, belum ngomongin kondisi printer. Kalau head printernya nggak bersih, atau lagi ada masalah, kadang ada aja warna-warna yang ga pekat atau ga mrata. Jadi diujung kanan merahnya A, diujung kiri merahnya jadi B. Yaa problem kayak gitu sebenernya lebih obvious daripada warna lu meleset sih. Penyakit begini nih yang gue hindarin banget dalam cetak.

Doh. Kalau ngomongin cetak yah, jadi baper.

Eniwei itu dulu sih pembahasan gue mengenai RGB & CMYK. Gue harap kalian jadi tau tentang istilah warna Aditif & Subtraktif, inget juga kalau dibahas mengenai gamut warna, dan tau gimana harus memposisikan diri ketika lagi nyetak-nyetak.

Sekian dulu buat hari ini. Gue lanjut yang lain dulu. Salam Damai. Have a nice day.

 

Advertisements

Edan

Halo setelah sebulan lebih saya undur diri, sekarang saya kembali. Entah gue juga nggak paham tapi sebulan kemaren ada aja hal-hal unik yang ngebuat gue nggak bisa fokus. Tapi yasudalah, gue juga manfaatkan periode itu buat istirahat dan buat ngasi jeda aja, jadi bulan ini saya akan kembali menulis. Terus terang aja bulan ini banyak peer, dan ya cukup memusingkan juga, tapi menarik dan juga agak tertantang. Ya kita liat aja bisa ampe gimana gue bulan ini.

Sedikit mengenai apa yang terjadi seputar gue. Pertama, periode 1152 sudah selesai, dan sekarang lagi persiapan memasuki periode 1153. Artinya, gue bakal dapet kelas baru lagi semester depan. Harusnya gue update CV gua yah, soalnya jumlah kelas yang gue pegang kan udah bertambah juga. *Senang*. 1153 berat sih, dan dalam periode waktu yang nggak bersahabat juga. Tapi ya seorang pelajar harus bisa belajar gimanapun juga, karena hakekatnya adalah untuk menangkap dan juga mencerna terlepas apapun situasinya.

Ya terus terang gue sendiri juga udah sempet ke skip dan melupakan prinsip tersebut. Gue sempet beberapa kali down dan agak lose hope dengan kelas-kelas gue, tapi ya gue coba inget kembali apa aja yang udah gue terima, dan gimana sih gue sendiri dulu. Memang gue nggak dalam situasi yang serupa dengan mereka, tapi gue sadar dulu gue pernah menjadi mereka, menjadi orang-orang yang buta dan butuh bantuan. Gue sekarang udah lewatin itu, walau belum sepenuhnya juga. Sekarang gue harus bisa nuntun juga, nggak cuma dituntun.

Bulan ini juga gue abis ngerampungin beberapa proyek. Nggak banyak, dan nggak extravagan juga, tapi it’s done. Sampai pada titik proyek gue udah ada yang rampung aja sebenernya udah sebuah pencapaian sih. Pencapaian dimana gue berhasil bertahan ataupun sukses berinovasi. Di setiap proyek yang gue lewatin pasti ada hal-hal baru yang gue pelajari. Karena menurut gue, nggak ada proyek yang sia-sia, dan nggak ada pelajaran yang nggak bermanfaat. Mungkin gue belum liat manfaatnya sekarang, tapi gue belajar untuk percaya bahwa kelak akan ada manfaatnya juga, seberapa kecil ataupun signifikan proyek tersebut terhadap karir gue.

Oh, dan bulan ini gue juga sampai ke sebuah konklusi. Ceileh. Gue sampai pada pendirian bahwa gue nggak cocok dan nggak bisa bikin proyek iseng atau random gitu aja. Gue nggak bisa kejar form dengan buta gitu. Ketika gue eksperimen, gue tetep butuh yang namanya pemahaman akan didalam dan disekitar. Gue butuh konten dan juga konteks, tapi ya gitu, gue agak hipster, jadi gue coba urungkan penggunaan kata tersebut. Kemaren-kemaren gue mau coba ‘bebas’ bikin sesuatu, dan astaga susah banget. Gue selalu stuck dengan memikirkan apa tema yang pas, dan bukan bentuk apa yang harus gue kejer. Dah salah fokus dan abis tenaga dari awal gitu deh, capek. Mungkin gejala ini sebenernya udah ada dari dulu. Gue paling bingung kalo udah dibilang bebas tuh. Bebas dalam artian bikin karya apa aja bebas. Bingung abis. Gue suka banget dihajar sama brief, atau dikasih tema minimal. Ngebantu gue banget sih. Mungkin hal ini juga yang melatar-belakangin obrolan gue sebelumnya.

Ah minggu ini gue pengen nonton Captain America Civil War. Nanti kalo udah nonton, gue pasti ngobrol lagi di blog ini. Entah kenapa gue demen juga ngulas ‘sensasi’ apa yang gue dapet selama nonton. Dimana hal itu biasanya menjadi alesan utama gue bisa apresiasi sebuah film. Maklum yak, saya bukan anak film atau sinematografi. Saya cuma demen nonton dan sangat ekspresif menggambarkan isi kepala gue, sesuatu yang mungkin emang nggak mudah gue lakukan di kehidupan nyata. Jadi ya gitu deh, pelarian nih blog. Haha.

Eniwei gue nggak akan lama lagi. Masih ada beberapa hal yang harus gue kejer buat besok. Diantaranya gue harap bisa share dalam waktu dekat.

Maret 2016

Nggak kerasa udah mau sebulan sejak blog ini pertama kali gue bikin. Yaa persiapan sih udah dari sebelumnya, tapi emang sih baru bener-bener bisa kebentuknya belakangan ini. Berhubung besok agenda agak padat, jadi gue mau evaluasi kerjaan gue sendiri bulan ini sekarang. Haha.

Dalam bulan ini gue bikin 12 postingan, ini yang ketiga belas. Dan dalam postingan itu kalo gue liat sendiri, gue ngebahas tentang film lima kali. Well ga semua ngomong tentang filmnya sih, kalau yang Zootopia gue ngebahasnya lebih ke aspek desain yang gue liat dan sedikit materi-materi desain (Movie Review, Anatomi Huruf, Hirarki Desain), nah tapi contohnya secara spesifik si Zootopia itu. Kalau Film Batman V Superman sama Mad Max: Fury Road gue lebih ngomongin tentang refleksi diri dari apa yang gue dapet di film itu. Terus gue ikut 2 pameran, dimana keduanya gue liput sebisa gue di blog ini juga (HT -Shift & Lokakarya Lintas Media). Gue juga sempet ngomongin tentang McD dan desain kemasannya. Terakhir gue ada sempet ngeluarin uneg-uneg pemikiran gue tentang Belajar Dihambat, Coba-Coba dan Typografi & Pasangan Hidup. Banyak juga ya. Dari insight yang dikasi sama wordpress, gue belajar bahwa post gue yang paling ramai (kalau boleh disebut kayak gitu), ada di Batman V Superman. Kayaknya sih gara-gara lagi trend kekinian aja. haha. Gue harap postingan gue bisa lebih ramai dan mulai ada interaksi juga buat bulan depan. Amin.

Selain dari postingan, gue sempet ngulik dikit wordpress gue. Ngganti theme dan juga desain yang gue pengen. Nggak banyak, tapi gue lakukan. Disini gue ngerasa gue masih perlu banyak belajar ngulik wordpress. Yaaa buat mbikin struktur blog yang lebih bagus lagi. Maklum, gue nggak piawai dalam HTML dan CSS. Gimana yang lain. haha.

Terlepas dari kegiatan di blog, di beberapa minggu ini gue ada kesempatan buat ngedesain lagi, buat ngulik-ngulik lagi. Mungkin belom semua bisa gue update di portfolio (atau bahkan disini) karena ya emang gue sendiri masih keteteran ngupdate di behance ataupun kreavi gue. Tapi will do my best. Kalo ngelirik HD gue, gue masih ada beberapa kerjaan typografi, poster, editorial dan juga digital yang belom gue masukin. Ada yang iseng, ada yang client work, ada yang experimental. Eh, sama aja ya iseng dan experimental?

Nah abis ngeliat ini dan itu timbul dong pertanyaan gue selanjutnya. Dalam April 2016 gue mau ngapain aja sih? Nah ini nih yang membingungkan karena gue sendiri belum tau mau ngapain. Cuma kalo ngeliat to do list gue. Paling utama ya gue mau nulis lebih konsisten tentang apa yang ada di dunia gue. Kalo sekarang sih desain dan sedikit film. Selain itu, mungkin gue bakal coba posting karya fiksi. Nah, ini nih yang agak serem juga. Karena pada dasarnya kan gue bukan penulis fiksi (Ya penulis normal aja juga belom.) tapi gue sendiri kadang kesambet sama ide-ide yang emang sayang kalo nggak gue tuangin jadi ya mungkin akan ada dalam bulan April 2016.

Kayaknya begitu dulu deh sekarang. Gue mau persiapan dulu buat kelas. Sampai nanti lagi ya, sampai nanti bulan April maksudnya. Salam, jangan sampai masuk angin.

Hirarki dalam Desain dengan Zootopia!

Yes. Lanjut lagi dengan Zootopia! Mungkin kalau dibuat seri, sekarang gue udah masuk part ketiga, udah trilogi postingan yak. haha.

Part 1 : Tema & Isu dalam Zootopia

Part 2: Anatomi Huruf dalam Logo Zootopia

Sekarang gue mau ngomongin apa yang jadi makanan gue dalam belajar sehari-hari sekarang. Gue mau bicara mengenai salah satu prinsip desain, yaitu Hirarki. Tapi sebelumnya gue harus sedikit bicara bahwa ada banyak sekali opini tentang prinsip desain, dan mungkin salah satu sumber ada yang bilang hirarki tidak termasuk, tapi ada juga sumber lain yang dibilang hirarki termasuk. dll. Jadi ya kita lanjut saja, hal seperti itu minor kok, tidak perlu dipermasalahkan. Pokoknya kita bahas tentang hirarki dalam desain.Sebelumnya gue akan memperkenalkan dulu apa itu hirarki. Definisi dari dictionary.com cukup bagus untuk memulai.

Hierarchy : any system of persons or things ranked one above another.

Yes, secara singkat, dalam desain grafis. Hirarki bisa dikatakan sebuah sistem dimana ada elemen-elemen yang diposisikan lebih tinggi ‘kelas’nya. Buat apa? Nah kelas ini itu kita liat duluan, setelah itu baru selanjutnya, terus lanjut lagi seterusnya sampai habis. Gitu deh. Gue nemu gambar di internet yang cukup ngejelasin dengan cukup baik.

20130219_hierarchyofinformationgraphic_image

Nah. Kalau gue (dan gue harap kalian juga), gue liat di contoh sebelah kanan ‘lebih menarik’. ‘Lebih menarik’ ini ya karena adanya hirarki yang lebih terlihat di contoh sebelah kanan. Terus kita lanjut, emang hirarki yang sebelah kanan gimana sih? Balik lagi, kalau gue, gue akan lihat kotak merahnya duluan. Terus baru kotak Krem, baru ngeliat blok hitam. Inipun agak diperdebatkan. Karena disatu sisi gue mungkin akan ‘ketarik’ buat ngeliat blok hitam kebawah daripada ngeliat blok hitam paling atas. Sehingga elemen di sisi atas malah agak ke skip buat gue. Nah lho, nggak ok dong?

Nah disini lah gue akan ngomong komponen-komponen lain yang mempengaruhi hirarki buat gue. Pertama ya elemen desain itu sendiri. Bentuk, warna, ukuran elemen dan seterusnya. Jelas aja, yang dicontoh diatas gue liat kotak merah duluan karena ukurannya yang cukup besar (walau bukan paling besar), terus juga karena merahnya. Nah kedua, penyusunan elemen desain itu sendiri. Disini gue udah bicara mengenai prinsip desain, dan mungkin juga prinsip-prinsip gestalt. Inilah yang ngebuat gue lanjut liat kotak krem dibawahnya, dan bukan lihat ke atas. Dan karena sudah ada tendensi untuk melihat kebawah, maka ‘ketarik’lah gue untuk lanjut ngeliat ke arah bawah. Komponen lain menurut gue sebenernya konteks sih. Gimana kondisi kita ketika ngeliat desain atau obyek tersebut. Kalau gue liat secara gamblang ya begitulah hirarki yang gue dapet. Tapi coba kita sejenak bayangkan kalau obyek serupa itu kita liat sebagai layout website. Dimana kita harus scroll. Jadi mau nggak mau kita akan liat blok hitam paling atas (which is judul blog / judul web) baru kita liat blok hitam besar selanjutnya (judul post) dan seterusnya. Ketika dalam skenario tersebut, gue ga akan terekspos sama kotak merah tadi atau kotak krem. dan mungkin gue akan melihat/membaca semua elemen dalam desain tersebut secara menyeluruh, dan tetap terasa hirarkinya. Btw, ini cuma opini aja, nggak ada text book atau riset gimana-gimana kok. haha.

your-eyes-here

Nah contoh gambar diatas ini lebih keliatan deh hirarkinya, dengan maen ukuran huruf, case dari huruf juga, terus kalau kita ibaratkan dengan bentuk, bentuk ini sangat kontras dengan warna latar belakangnya, dan juga kontras lebih beasr daripada elemen-elemen lain. Gitu aja sih ngejelasinnya, dengan penjelasan itu, gue udah ngomongin masalah warna, typografis, komposisi, prinsip desain kontras, relasi figure ground, dan tentunya udah mbahas dikit tentang hirarki. Gue belum bahas mengenai pemaknaan dan aspek fungsi desain =P

zootopia

Nah kalau gitu kembali ke Zootopia. Gimana sih hirarkinya (menurut gue)? Kalau mau kita cacah-cacah tiap elemennya mungkin sulit yak. Kenapa sulit? Karena emang banyak banget elemen-elemen yang ada disana. Tapi secara sederhana gue bakal bahas dikit tentang flow mata gue, dan kenapa gue ngeliat seperti itu, dan kenapa gue bilang itu bagus.

  1. Gue liat Disney, kemudian judul Zootopia. Kenapa? Posisinya agak tengah, paling atas, sangat kontras dibandingkan dengan latar belakang biru langit, bandingkan dengan elemen-elemen lain yang ada di poster yang ramai. Jadi keliatan menonjol kan? Sedikit tambahan aja gue suka gimana mereka nggak harus blow up judul filmnya, dan gimana cerdasnya mereka implementasi judulnya terhadap poster secara keseluruhan. Duh, bisa bikin postingan baru cuma sekedar ngomongin itu.
  2. Gue liat icon rubah jalannya. Karena dia nempel juga sama judul. Mungkin juga dipengaruhi mata gue turun secara diagonal, ngikutin orientasi logo Zootopia yang emang agak diagonal turun begitu. Jadi otomatis buat gue, gue lanjut ngeliat bawahnya. Selain itu , icon rubahnya cukup beda. Terdiri dari elemen titik-titik yang sangat beda dengan elemen-elemen ilustrasi lainnya di sisi lain.
  3. Gue liat karakter kelinci dan rubah (terus si domba juga). Kenapa? Nah ini seru buat gue bahas. Kalau gue, sama kayak alesan sebelumnya, karena mereka bener-bener dibawah elemen icon rubah tadi sebelumnya. Mereka terletak satu orientasi di bawahnya. Lalu terlepas dari itu, perhatiin deh gimana terang gelap pencahayaan di poster juga membuat separasi khusus dari kedua tokoh ini dengan tokoh-tokoh lain. Jadi emang ya mata kita diajak ngeliat kesitu dengan terang gelapnya. Mungkin nggak bisa dijabarkan secara gamblang. Tapi ya kita akan persepsikan gitu. Persepsiin gimana terang itu sesuatu yang ingin di ekspos dan gelap sesuatu yang ingin disamarkan. Ini nih letak kekaguman gue terhadap posternya yang signifikan.
  4. Ya abis itu baru deh liat yang from the director bla bla bla dan juga March 4 nya. Karena pas mata gue udah sampe di rubah dan kelincinya, sekelilingnya gelap. Gue ga mungkin naik lagi ngeliat icon. Ya mungkin aja sih, tapi buat apa? Nah kedua text ini tiba-tiba muncul secara kontras dibandingkan dengan elemen lain. Jadi ya mereka langsung narik mata gue kesitu. Ditambah lagi karena mereka text. Elemen yang emang beda karakteristiknya disitu, jadi nimbulin kontras juga dibanding yang lain-lain.

Jeng jeng. Begitu deh. Nggak terasa banyak juga pembahasan gue. Sebelum ngetik berasa akan sangat singkat dan sederhana. Haha.

Kalau gitu gue sudahin dulu aja disini. Dalam kesempatan ini gue mau ucapin banyak terima kasih sudah membaca post saya. Kalau boleh, mungkin bisa di like atau juga di share ke teman-teman sesama pelajar desain. Setiap kritik dan komentar pasti akan membangun gue. Asal jangan terlalu pedas dan galak ya.

Jadi sampai disini dulu pembahasan gue tentang Zootopia. Salam, Have a great day. V

Zootopia!

OK, hari ini gue mau tulis sesuatu yang berbeda, sesuatu yang pengen gue tulis beberapa hari belakangan ini. Sesuatu yang menginspirasi gue dan gue diskusi terus menerus sampai temen-temen gue ngrasa gue agak aneh dan membosankan. Gue bakal ngebahas: ZOOTOPIA! Gue nonton Zootopia beberapa hari yang lalu. dan gue sangat hyped dengan film tersebut. Sebelumnya gue nggak tertarik sama film itu dan salah persepsi sebenernya tentang tu film. Gue pikir Zootopia itu film lain dengan judul ‘Zoo…’ juga.

maxresdefault3

Males kan? makannya gue sendiri nggak nonton trailer atau nggak nyadar keberadaannya sampai seminggu sebelum gue nonton tu film. dan gue harus akuin, gue super duper tertarik pas liat poster, liat trailer dan juga nyari tau tentang Zootopia. (bye bye Zoolander). Ok, sekarang kita ngomong dikit tentang Zootopia. Film aduhai ini adalah film animasi keluaran 2016 oleh Walt Disney Animation Studios. Kalau belum pernah tahu apa itu Walt Disney, boleh kok googling buat cari tau. Salah satu pengisi suara filmnya adalah Jason Bateman. Dirinya pertama kali gue liat di film ‘The Switch’ bareng Jennifer Anniston. Disitu gue cukup suka suaranya dan langsung recognize suara dia pas gue liat trailer Zootopia. Gue terus melanjutkan pencarian gue dengan liat poster filmnya (Bisa diliat di akhir paragraf). Poster filmnya keren banget buat gue. Mungkin dikesempatan lain gue bisa critain opini gue tentang poster film itu. Fix gue mau tonton ni film.

zootopia

Pergilah gue jumat lalu menonton film itu.

Fast forward ke hari ini.

Sebelumnya gue peringatkan karena gue mau ngulas tentang Zootopia, sudah pasti ada sedikit bocoran. Gue usahakan semaksimal mungkin buat nggak membocorkan, tapi ya kalau bocor juga ya jangan marah. Anda sudah saya peringatkan. Jadi secara sederhana aja. Zootopia adalah film yang menceritakan sebuah kota atau area, Zootopia, yang ditinggali sama binatang-binatang mamalia yang beragam. Dari tikus sampai gajah, dari domba sampai harimau, dari kelinci sampai rubah. Intinya, beragam dan juga unik. Karena mamalia predator dan mamalia yang di mangsa bisa hidup bersama-sama dengan harmonis. Atau benarkah harmonis?

thumbnail_22123

Nah, cerita di film ini mulai bergulir ketika terjadi insiden-insiden binatang mulai lenyap gitu aja nggak bisa ditemukan. Dalam film ini, ada seekor polisi kelinci dan juga temennya, seekor rubah, yang berusaha menguak misteri ini yang terjadi di Zootopia. Jeng jeng. Ceritanya cukup simple kok, ada sebuah masalah, dan ga lama muncullah jagoan, dan kita diantar ngikutin perjalanan si jagoan dan juga masalah-masalah yang dia hadapin. Mungkin yang familiar dengan ‘monomyth’ bakal ngeh kalau model ceritanya sangat-sangat seperti demikian.

Terus apa sih yang menarik dari film ini? Pertama, kita ga liat ada manusia. Kita ngeliat hewan-hewan yang bertingkah laku seperti manusia. Kita bisa ngeliat karakteristik hewan yang beragam dan unik-unik pada tokoh dalam film itu. Disinilah gue merasa film ini luar biasa berhasil dan jadi keren. Dengan penokohan unik mereka, mereka menyisipkan sebuah isu yang terjadi nyata sekarang. Yaitu isu tentang diskriminasi. Hanya saja isu ini disampaikan dengan cara yang berbeda dan unik dalam film ini. Isu ini digambarkan dengan gimana hewan-hewan atau kelompok hewan-hewan tertentu mengalami ketidak adilan dalam masyarakat sosial mereka. Mereka sering kali dihina atau dicemooh dan diperlakukan semena-mena hanya karena mereka hidup menjadi diri mereka sendiri.

Isu ini nyata. Di Indonesia khususnya gue melihat adanya diskriminasi terhadap ras-ras tertentu. Baik diskriminasi dari kalangan mayoritas ke minoritas maupun sebaliknya juga, begitu pula di film ini. Di Zootopia terjadi diskriminasi juga. Dari kaum A terhadap kaum B, dan begitu pula sebaliknya. Apa sih yang ngebuat ada terjadinya diskriminasi ini? Dalam film ini gue merasa jawabannya adalah ignorance, atau ketidak pedulian. Kita nggak peduli makannya kita berlaku demikian. Kita nggak mempedulikan mereka, oleh karena itu kita ‘gagal’ untuk ngeliat mereka sama kayak kita, sama-sama manusia (atau sama-sama mamalia dalam konteks film zootopia).

zootopia-trailer-movie1-728x409

Tapi sebelum gue lanjut lebih dalam lagi, gue akan akui bahwa selepas film ini, ada juga beberapa isu-isu yang muncul. Ya kembali lagi ke individu tiap orang sih. Atas dasar menjaga konten, gue ga akan post isu-isu tersebut karena disini, gue mencoba membawa dan juga menyebarkan nilai positif yang ada dalam film Zootopia. Gue harap dalam kesempatan lain gue akan bisa ngebahas lebih lanjut tentang Zootopia. Gue ga tau bisa apa nggak. Gue masih ada beberapa PR juga di blog ini yang harus gue kerjakan. Jadi ya, kita liat aja nanti.

Sampai jumpa di obrolan selanjutnya. Jaga kesehatan ya temans. Have a good day!

Coba – Coba

‘Bekerja’ adalah sebuah kata yang gue pribadi nggak begitu suka. Terkesan formal, terkesan seperti sebuah beban/ paksaan, walau mungkin belum tentu seperti itu juga. Terkesan agak membosankan atau monoton. Nggak ada sentuhan pribadi atau nggak ada ekspresi didalamnya. Tapi itu menurut gue loh ya. ‘Kewajiban’ adalah sebuah kata yang gue pribadi lebih nggak suka, tapi suka gue pake. Kewajiban memiliki kesan yang lebih terpaksa. Kalau dulu pas SD dibilang, “kalau kita mau dapetin hak kita, kita harus lebih dulu melakukan kewajiban kita” which is bagus sekali sebenernya, tapi sayangnya ada orang-orang yang memaksakan haknya tanpa melakukan kewajibannya. Belum lagi ditambah dengan kata dasar kewajiban itu ‘wajib’. Beh. ‘Tanggung jawab’ adalah sebuah kata yang sering kali digunakan menggantikan kata ‘bekerja’. Tanggung jawab memiliki kesan yang lebih mulia, patriotik. Terkesan apa yang lagi dilakukan itu penting dan spesial, seolah kalo nggak elo, sapa lagi bro?

Gue pribadi menggunakan ketiga kata itu untuk menjelaskan apa yang gue lakukan. Gue menjelaskan gue memiliki tanggung jawab ngajar, nyiapin materi, ngedidik anak-anak. Gue bilang gue punya tanggung jawab atas keluarga gue, atas istri dan anak-anak gue kelak. Tapi gue bilang gue ngerjain proyek X atau proyek Y ketika gue ngerasa proyek itu udah nggak banyak ngebawa keuntungan non materiil buat gue. Misal, gue udah nggak bangga atas kerjaan gue karena masalah ini dan itu. Terakhir gue menggunakan kata ‘kewajiban’ gue buat hal-hal yang kalau diizinkan dan diperbolehkan, gue bakal nggak lakuin, contoh: ‘gue punya kewajiban buat ngurus surat X or suray Y’. Gue nggak suka.

Gue mulai menyadari pemilihan kata gue berubah ketika gue banyak melakukan banyak aktivitas, seperti kerja X, Y, Z, dll. Gue mulai menilai apa yang gue lakukan itu buat apa, apakah buat gue sendiri sekarang atau nanti di masa yang akan datang, atau gue lakukan karena gue harus lakuin, atau gue ‘berkewajiban’ untuk melakukan itu? Hal-hal ini mulai ngebuat gue merespon lebih lama, bukan karena lambat, tapi karena ada hal-hal yang gue harus ukur dulu, dipikirin dulu. Gue sekarang lebih ngerem ketika ada tawaran atau gue secara impulsive ingin melakukan sesuatu. Gue merasa nggak bertanggung jawab ketika gue melakukan banyak hal dan hal-hal tersebut hasilnya nggak maksimal atau malah nggak kelar. Gue suka maen, suka nyoba hal-hal baru, dulu itu jadi beban buat gue yang impulsive, sekarang udah bisa agak ditahan maennya. Alhasil gue bisa lebih fokus nyelesaiin tanggung jawab, kerjaan dan kewajiban gue.

Lalu muncul pertanyaan, apakah gue suka ngelakuin itu semua? Terus terang aja kadang tanggung jawab pun tidak menyenangkan gue. Tidak membuat gue senang ketika dikerjakan maupun diselesaikan. Terkadang tanggung jawab perlahan berubah menjadi kewajiban. Tapi balik lagi, suka apa nggak itu perasaan, dan gue nggak mau terlalu didikte sama perasaan gue. Gue mikir itu harus dilakukan, dan suka apa nggak, males apa nggak, ya harus dilaksanakan. Melelahkan, sulit dan mengesalkan, tapi bagian dari kehidupan setiap orang.

Jadi apakah gue hidup dengan menyumbat semua perasaan gue terhadap aktivitas gue? Nggak juga. Ada hal-hal yang gue suka lakukan, dan kadang ada kala ketika gue demen banget ngelakuin hal-hal yang ga biasanya gue lakuin, kadang gue suka melakukan kewajiban gue. Nah ini nih yang gue gatau kenapa bisa demikian, dan ketika itu terjadi, gue memilih buat nggak ngeblok impulse tersebut. Membantu gue lebih produktif, kayak sekarang.

Jadi, apa sih yang pengen gue utarakan dalam catatan singkat gue hari ini? Kalau mengikuti bahasa komersil sekarang, “just do it”. Ya bukan gue bilang lakukan aja tanpa mikir, tapi lebih ke  apa yang udah di putuskan dan sudah ditentukan akan dilakukan, baik itu kewajiban, pekerjaan, maupun tanggung jawab, lakuin aja semaksimal mungkin, kita nggak tau kan nanti kedepan bakal gimana? Kalau meminjam optimisme orang-orang, siapa tau abis kita menyelesaikan pekerjaan kita, kita bisa mendapatkan sebuah tanggung jawab? Sebuah posisi (atau jabatan) yang kita inginkan selama ini, atau siapa tau kita bisa mendapat banyak hal (selain duit atau pemasukan). Ada banyak hal diluar sana yang mungkin asing buat kita, kita belum tau kita bakal suka apa nggak, tapi ya kita bakal tau suka apa nggak ketika kita udah nemuin itu kan? Ada orang-orang yang nggak suka kerja desain, dan dia nyemplung di dunia copywriting dan nagih gitu. Orang itu udah cobain ngedesain, makannya dia tau dia ga suka, dan dia coba dunia copywriting, dan dia suka. Dia coba baru dia tau. Tapi gue harus tarik kembali, bukan berarti coba-coba sembarangan juga, tetep coba pakai hikmat dan akal sehat, tau apa yang mau lu lakuin. Mungkin untuk sekarang itu dulu. Selamat coba-coba.