Coba – Coba

‘Bekerja’ adalah sebuah kata yang gue pribadi nggak begitu suka. Terkesan formal, terkesan seperti sebuah beban/ paksaan, walau mungkin belum tentu seperti itu juga. Terkesan agak membosankan atau monoton. Nggak ada sentuhan pribadi atau nggak ada ekspresi didalamnya. Tapi itu menurut gue loh ya. ‘Kewajiban’ adalah sebuah kata yang gue pribadi lebih nggak suka, tapi suka gue pake. Kewajiban memiliki kesan yang lebih terpaksa. Kalau dulu pas SD dibilang, “kalau kita mau dapetin hak kita, kita harus lebih dulu melakukan kewajiban kita” which is bagus sekali sebenernya, tapi sayangnya ada orang-orang yang memaksakan haknya tanpa melakukan kewajibannya. Belum lagi ditambah dengan kata dasar kewajiban itu ‘wajib’. Beh. ‘Tanggung jawab’ adalah sebuah kata yang sering kali digunakan menggantikan kata ‘bekerja’. Tanggung jawab memiliki kesan yang lebih mulia, patriotik. Terkesan apa yang lagi dilakukan itu penting dan spesial, seolah kalo nggak elo, sapa lagi bro?

Gue pribadi menggunakan ketiga kata itu untuk menjelaskan apa yang gue lakukan. Gue menjelaskan gue memiliki tanggung jawab ngajar, nyiapin materi, ngedidik anak-anak. Gue bilang gue punya tanggung jawab atas keluarga gue, atas istri dan anak-anak gue kelak. Tapi gue bilang gue ngerjain proyek X atau proyek Y ketika gue ngerasa proyek itu udah nggak banyak ngebawa keuntungan non materiil buat gue. Misal, gue udah nggak bangga atas kerjaan gue karena masalah ini dan itu. Terakhir gue menggunakan kata ‘kewajiban’ gue buat hal-hal yang kalau diizinkan dan diperbolehkan, gue bakal nggak lakuin, contoh: ‘gue punya kewajiban buat ngurus surat X or suray Y’. Gue nggak suka.

Gue mulai menyadari pemilihan kata gue berubah ketika gue banyak melakukan banyak aktivitas, seperti kerja X, Y, Z, dll. Gue mulai menilai apa yang gue lakukan itu buat apa, apakah buat gue sendiri sekarang atau nanti di masa yang akan datang, atau gue lakukan karena gue harus lakuin, atau gue ‘berkewajiban’ untuk melakukan itu? Hal-hal ini mulai ngebuat gue merespon lebih lama, bukan karena lambat, tapi karena ada hal-hal yang gue harus ukur dulu, dipikirin dulu. Gue sekarang lebih ngerem ketika ada tawaran atau gue secara impulsive ingin melakukan sesuatu. Gue merasa nggak bertanggung jawab ketika gue melakukan banyak hal dan hal-hal tersebut hasilnya nggak maksimal atau malah nggak kelar. Gue suka maen, suka nyoba hal-hal baru, dulu itu jadi beban buat gue yang impulsive, sekarang udah bisa agak ditahan maennya. Alhasil gue bisa lebih fokus nyelesaiin tanggung jawab, kerjaan dan kewajiban gue.

Lalu muncul pertanyaan, apakah gue suka ngelakuin itu semua? Terus terang aja kadang tanggung jawab pun tidak menyenangkan gue. Tidak membuat gue senang ketika dikerjakan maupun diselesaikan. Terkadang tanggung jawab perlahan berubah menjadi kewajiban. Tapi balik lagi, suka apa nggak itu perasaan, dan gue nggak mau terlalu didikte sama perasaan gue. Gue mikir itu harus dilakukan, dan suka apa nggak, males apa nggak, ya harus dilaksanakan. Melelahkan, sulit dan mengesalkan, tapi bagian dari kehidupan setiap orang.

Jadi apakah gue hidup dengan menyumbat semua perasaan gue terhadap aktivitas gue? Nggak juga. Ada hal-hal yang gue suka lakukan, dan kadang ada kala ketika gue demen banget ngelakuin hal-hal yang ga biasanya gue lakuin, kadang gue suka melakukan kewajiban gue. Nah ini nih yang gue gatau kenapa bisa demikian, dan ketika itu terjadi, gue memilih buat nggak ngeblok impulse tersebut. Membantu gue lebih produktif, kayak sekarang.

Jadi, apa sih yang pengen gue utarakan dalam catatan singkat gue hari ini? Kalau mengikuti bahasa komersil sekarang, “just do it”. Ya bukan gue bilang lakukan aja tanpa mikir, tapi lebih ke  apa yang udah di putuskan dan sudah ditentukan akan dilakukan, baik itu kewajiban, pekerjaan, maupun tanggung jawab, lakuin aja semaksimal mungkin, kita nggak tau kan nanti kedepan bakal gimana? Kalau meminjam optimisme orang-orang, siapa tau abis kita menyelesaikan pekerjaan kita, kita bisa mendapatkan sebuah tanggung jawab? Sebuah posisi (atau jabatan) yang kita inginkan selama ini, atau siapa tau kita bisa mendapat banyak hal (selain duit atau pemasukan). Ada banyak hal diluar sana yang mungkin asing buat kita, kita belum tau kita bakal suka apa nggak, tapi ya kita bakal tau suka apa nggak ketika kita udah nemuin itu kan? Ada orang-orang yang nggak suka kerja desain, dan dia nyemplung di dunia copywriting dan nagih gitu. Orang itu udah cobain ngedesain, makannya dia tau dia ga suka, dan dia coba dunia copywriting, dan dia suka. Dia coba baru dia tau. Tapi gue harus tarik kembali, bukan berarti coba-coba sembarangan juga, tetep coba pakai hikmat dan akal sehat, tau apa yang mau lu lakuin. Mungkin untuk sekarang itu dulu. Selamat coba-coba.

 

Advertisements

Hidup secara Max

Ok. Hari ini terus terang aja nggak banyak hal yang terlintas di kepala gue. Haha. Boong sih. Kebayang tapi nggak yakin bener-bener bisa berguna aja sekarang. Maksudnya apa? Ketika gue ambil komitmen buat nulis 750 kata setiap hari, gue berharap buat bisa nulis bebas – fiksi, artikel atau bahkan isu-isu yang lagi terlintas aja. Nggak ada ekspektasi buat nulis sampai berhalaman-halaman. Nah, halaman-halaman itu lah yang muncul di kepala gue sekarang. Gue kebayang cerita, kebayang visual, kebayang buku, finishing, layout, plot yang agak kompleks, tapi buat tujuan gue sekarang kayaknya nggak relevan. Gue mau latihan nulis, bukan mbikin proyek berbulan-bulan. Setidaknya nggak sekarang.

Pada dasarnya gue ngrasa gue suka banget eksperimen dan eksplorasi tentang apapun yang gue pengen lakukan, tapi ya people grow. Ada faktor-faktor baru yang ‘melarang’ kita buat terus bermain seperti itu. Gue kemaren sempet pengen bikin blog; tapi ya belum kebayang juga. Gue pernah punya blog di wordpress, posterous, blogspot. Banyak, tapi nggak lanjut. Yang paling lanjut di tumblr, tapi gue sendiri gatau arahannya kemana, tapi malah jalan terus. Heran sih.

Yaaa orang suka ngomong kita harus tau kita mau kemana; heck, gue pun ngomong begitu. Tapi gue coba buat berhenti dan mempertanyakan pemikiran gue itu:

Apakah kita perlu sebuah arah?

Ok, ok. Coba denger (atau baca) omongan gue dulu. Banyak ga sih orang-orang yang Cuma go with the flow, nggak tau mau ngapain, tapi bisa aja sukses? Menurut gue bisa aja, Think about it. Mari sejenak kita lupakan yang namanya ide, kreativitas, hasrat, arah. Ada satu film yang gue suka banget belakangan ini: Mad Max – Fury Road. OK, gue suka banget penampilan Tom Hardy, jadi mungkin emang subyektif, tapi ya kan memang opini dan preferensi gue aja. Gue juga suka visual-visual yang ada di film ini. Keren kalau kata orang-orang. Nikmat kalau kata gue.

Buat yang belum nonton, ya silahkan tonton. Yaa tapi lanjut mbaca juga nggak apa, karena gue nggak akan spoil apa-apa juga. Ada satu quote dari Max yang ngena banget, walau gue nggak afal banget tapi gue tetep bisa keinget perasaan gue ketika line ini muncul.

mad max looking at wasteland
Mad Max opening scene

“I am the one that runs from both the living and the dead. Hunted by scavengers, haunted by those I could not protect. So I exist in this wasteland, reduced to one instinct: survive.”

Boom. Mind blown. Seriously. Di quote ini ada beberapa hal yang menarik, pertama dia njelasin posisi dia itu gimana: dia lari, lari dari yang hidup, dan yang mati. Sesuatu yang kontras, dia nggak mau didekati keduanya. Dia lari dari keduanya. Berlari; pergerakan yang cepat,  bener-bener sebegitunya dia entah takut, entah nggak suka, entah jijik atau  apa, dia berlari dari yang hidup dan yang mati. Kenapa buat gue ini menarik? Karena dia bicara sebuah semangat, walaupun mungkin didasari ketakutan, didasari kebencian, didasari hal-hal negatif, tapi dia memutuskan satu hal: berlari.

Bagian kedua juga cukup menarik, diburu dan dihantui, oleh karena itu dia tinggal dalam wasteland, kalau di bahasa Indonesiakan: gurun, atau kalau terjemahan yang gue lebih suka: tanah kosong. Diburu dan dihantui dan oleh karena itu dia hidup di tanah kosong, dia hidup dengan kehampaan, dia hidup tanpa apa-apa, sangat rapuh dan bisa ‘diserang’ sewaktu-waktu tanpa perlindungan, tanpa tempat persembunyian. Disini dia nggambarin betapa dia sangat rapuh, dan kemudian disusul dengan bagian terakhir, hanya ada satu insting yang tersisa: bertahan.

So here’s my standpoint: Kadang kala kita hidup nggak tau mau kemana, kita takut, kita ragu, kita lemah, kita rapuh tapi at the end of the day kita punya pilihan: kita bisa secara ekstrim memilih untuk mati, atau ya hidup. Itu pilihan kita. Kita bisa memilih untuk terus bertahan hidup, bertahan ditengah-tengah kelemahan dan segala hal-hal negatif di sekitar kita.

Jadi kalau sekarang gue ngrasa gue lagi nggak punya arah, gue selalu ‘dikuatkan’ dengan pemikiran ini. Gue harus bertahan. Gue akan bertahan dan mungkin kelak gue akan mendapat arah itu. Entah mendapatkan sendiri, ataupun diberikan arah itu oleh orang lain, tapi gue bertahan. Bertahan dengan segala kekuatan gue dan perform ague, bertahan supaya apa yang gue miliki ga berkurang tanpa alasan jelas, gue memilih buat hidup untuk hari esok, walaupun gue nggak tau besok gue mau apa. Kalau harus sedikit berbicara mengenai keyakinan dan kepercayaan gue pribadi, gue percaya besok atau kelak, hal-hal baik itu akan datang sendiri ke gue, dengan bentuk yang mungkin gue ga tau, tapi pasti akan datang. Yang gue harus lakukan adalah bertahan hidup, terus menjaga hidup gue, dan terus peka, terus siaga dan juga sigap untuk segala hal yang mungkin datang ke diri gue. So yeah, I’ll survive.

Lokakarya Seni Lintas Media

Di Galeri Nasional, Rabu lalu, tanggal 2 Maret 2016. Iya, saya ikut.haha. Gue ikut sama temen-temen dari jurusan DKV, ada campuran dosen dan mahasiswa jadinya di acara ini. Disini kita ikut dan mendengar banyak banget. Udah denger banyak terus dopet bantak juga dong. Ga coma asal denger doang.

Jadi sebelumnya, acara apa sih ini? Acara ini merupakan salah satu program yang diadakan sebagai bagian dari Pameran ‘Pintu Belakang | Derau Jawa’ oleh Hanafi. Lokakarya ini berisi presentasi dari berbagai narasumber dalam bidangnya masing-masing, dimana mereka menceritakan apa yang mereka kerjakan. That’s it. Tapi disini ada berbagai macam cerita, baik dari segi ekonomi, sosial, politik, seni, budaya, akademik, IT, dll. Banyak sekali. Kepala gue juga agak bingung memilah-milah informasi yang sanggup gue simpan sementara.

20160302_101848.jpg
Salah satu pemateri, Yuka D. Narendra

Apakah ada kesamaan atau benang merah dari obrolan-obrolan ini? Ada sih harusnya. Maksud dari loka karya ini adalah untuk pembahasan dan pengandaian dan memproyeksikan warteg pada tahun 2085 itu gimana sih? Apakah masih relevan? Apa yang masih ada? Apa yang udah punah? Nah, itu sih isi undangan yang gue dikasi tau pas mau hadir ke acara ini, sayangnya gue sendiri nggak ikut acara sampai selesai bener, jadi maaf saya nggak bisa bicara banyak tentang hal itu. Tapi kembali mengenai benang merah obrolan ini, gue ngeliat gimana mereka menggunakan data-data sebagai ‘senjata’ mereka dalam berkarya dalam bidangnya masing-masing. Gimana data membawa validitas dalam setiap isu yang mereka bawa. Salut dan cukup membukakan banget buat gue.

Gue suka gimana data bisa menjadi sebuah opsi tersendiri buat gue. Memang ga semua orang bisa dilawan dengan data, tapi ya gue merasa data bisa dikatakan ‘obyektif’, ‘sah’ atau pun ‘valid’ ketika dipresentasikan pada beberapa pihak. Gue kadang merasa perlu mencari backing-an data ketika harus mempresent karya desain gue, khususnya buat dosen-dosen. Gue ngerasa dengan adanya data, itu ‘menjustifikasi’ pilihan gue dalam mendesain, atau setidaknya, nunjukkin ke mereka gue nggak asal-asal. Dan gue rasa ini memang realita yang terjadi sebenernya di beberapa kampus (atau mungkin semua) dimana ‘data’ membantu ‘latar  belakang’ yang membentuk ‘konsep’ dan melahirkan ‘desain’. Ironis kah? Mungkin, tapi setidaknya data membantu melatih kita buat berhenti, berfikir sebelum terjun gitu aja. Data ngebantu gue ngambil keputusan. Apakah data mendikte pilihan gue? Mungkin, toh gue mengembil sebuah sikap setelah gue melihat atau mempelajari sebuah informasi atau fenomena atau ‘data’ itu tadi.

Ok, kita balik ke acara.

Setelah ada presentasi sendiri dari pemateri yang ada, kita ada ‘acara’ nongkrong di warteg, dimana pada kesempatan itu, kita dibiarin buat cair, buat ngelebur dan nyatu terlepas dari struktur acara yang formal. Kita bisa duduk, makan, ngopi, mungkin sedikit ngebul sambil ngomongin hal apa aja. Sama seperti budaya warteg yang mungkin sekarang udah nggak gitu ada.

Buat gue ndiri, gue di Jakarta or Tangerang nggak pernah nongkrong di warteg, bukannya karena udah punah or nggak ada, tapi simply karena gue nggak pernah terlintas or terpikir aja buat demikian. Gue pernah nongkrong di warteg dulu pas lagi naek gunung. Ya kan ada warteg, terus ya duduk-duduk aja nongkrong n ngebaur sama orang sebelah, lucu juga, sesuatu yang nggak gue lakukan disini, di kota. Tapi hey, itu gue doang kali ya?

Abis ngewarteg, kita balik lagi. Kali ini kita share mengenai isu-isu atau keresahan yang ada. Kali ini nggak ada pemateri khusus, jadi peserta atau yang tadi jadi penonton, boleh ikut ngomong. Yaa disini lebih liar sih daripada sesi materi tadi. Bagus atau nggak, gue nggak tau juga, tapi itulah yang terjadi. Gue nggak bisa nilai dari sisi materi apakah bagus apa nggak, tapi yang gue rasain, gue bisa denger opini orang. Gue bisa denger apa yang jadi ‘keresahan’ atau ‘komplain’ atau ‘uneg-uneg’ dari orang-orang yang sebelum hari itu nggak gue ketahui eksistensinya. Gue emang nggak berdialog, tapi gue bisa mendapat pemikiran mereka. Gue enjoy hal-hal kayak gitu, asal nggak too much aja.

Sekitar jam 2.40, rombongan dari kampus gue mau balik jadi kita keluar lebih awal. Gue nggak tau kelanjutan acaranya gimana. Yang gue tau rencanannya mereka bakal bikin ‘karya’ lalu dipamerkan. Itu aja sih, kalau berjalan sesuai rencana ya harusnya udah pameran juga. Maklum saya jurnalis telatan, acara bubar baru nulis. Haha.

Eniwei mungkin yang ingin gue share dari acara ini adalah satu: Ketika kita bekerja ataupun berkarya untuk hal yang baik, percayalah kita nggak sendiri, ada orang-orang lain, dalam belahan dunia lain, ataupun dalam bidang lain yang juga bekerja dan berkarya untuk kebaikan juga. #optimisme

Jadi gitu aja buat sekarang. Salam, Have a great day.

Selamat Hari Sarapan!

Ada yang beda hari ini. Bukan karena gue abis potong rambut, tapi karena hari ini gue sarapan McD. Hari ini gue dapet McMuffin dari McD pas lagi on the way ke kantor, terus gue notice ada bagi-bagi gitu dari McD, jadi ya kenapa enggak? Gue terus ke kantor dengan agak macet dengan bahagia karena sudah dapet sesuatu yang baik di pagi hari #McDBreakfastDay.

Sesampainya di kantor gue mikir apa yang pengen gue bagikan dari pengalaman ini? Sudah sangat jelas gue ga bisa nraktir orang-orang Egg McMuffin, jadi apa ya kira-kira? Selesai makan, gue teringat sebuah artikel ketika gue mau buang bungkus McD gue. Yup, artikel tentang redesain kemasan-kemasan McD. Berikut gambarnya:

mcdonalds_2016_packaging
Kemasan ‘baru’ McD – bukan desain gue.

Artikel ini udah lama sebenernya, tapi saat itu ya gue cuma “oh” aja. Terus sekarang gue inget kembali sama artikel ini dan menggali sedikit dan berusaha berterima kasih ke McD dengan nulis ulasan sedikit. (Walaupun kemasannya belom masuk ke Indo).

Gue suka ‘menganalisa’ desain dari hal-hal yang super obvious, dari typografi, warna, dan gambar / illustrasi / foto. Dari gambar yang gue terima ada 2 obyek yang bisa gue ulas, pertama gelas plastiknya, kedua paperbag yang biasa buat mbungkus makanan gitu. Keduanya memiliki bahan yang berbeda. Keduanya punya karakter beda, dan tentunya fungsi yang beda. Nah, gue coba ya ulas dengan kapabilitas gue.

 


Warna

Untuk warna ‘baru’ McD, gue liat ada warna-warna baru yang muncul. Ada magenta, cyan, yellow green, orange, ungu gitu-gitu. Sepintas gue liat di mockup itu, gambarnya cukup fresh. Colorful. Tapi ini ngebuat gue bertanya-tanya sendiri. Apakah McD sewarna-warni itu? Sebagai sebuah brand yang udah kenceng banget warna merah dan kuning-nya, apakah perlu McD melepas kekuatan itu dan ngerangkul warna-warna lain? Buat kita sekarang mungkin kita bisa asosiasikan kuning merah fastfood sebagai McD, tapi dengan treatment begini, apakah hal itu tetep bisa dalam 50 tahun kedepan? Gue nggak tau. Selain itu gue ngerasa sistem warna ini keliatan keren ketika di jejer begini dan kita tetep bisa ngeliat si ‘M’ itu. Kalau gue liat benda-benda ini secara terpisah, kayak gelas lastik paling kanan bawah yang warna hijau itu, gue rasa hasilnya kurang baik. Terkadang kita fokus ke ‘grand plan’ kita, tapi hal-hal mikronya jadi ke skip gitu. Sayang banget sih.

Remarks : Gue suka warna-warnanya, tapi terlepas dari itu, does it really work?

Typografi

Kebetulan karena tidak ada ‘gambar/foto’ jadi gue bakal coba ulas masalah penggunaan aksara dengan lebih detail disini. Oh, tapi sebelum itu, coba liat foto paperbag nya disini. Warna ungu ‘McDonald’s’-nya turun yak? Jadi tidak semenonjol mockupnya, Kuningnya juga turun dan malah nggak gitu kontras. Sayang. Kalau kalian perhatiin, sebelumnya di paperbag si ‘M’ itu dikasih latar kotak merah gitu, jadinya agak ketolong jadi makin kontras. Sebuah solusi yang cukup baik dan kembali lagi, mbuat kita lebih kental ngeliat ‘M’ kuning dan warna merah di fastfood.

Ok, kali ini beneran masuk typografi. Helvetica, gede, dicacah, McD (enter) on (gede, terus di enter) ald’s. Gue belum liat praktek penggunaan aksara lain di kemasan baru ini, jadi gue akan ngomongin itu aja. Kalau kalian pertama kali liat, kalian bakal notice apa sih? Kalo gue, gue akan fokus liat tulisan ‘on’ dibanding lain-lainnya. Setelah itu gue bakal liat secara keseluruhan, oh McD ternyata.

Tapi disini terdapat dilema pribadi. McD mencacah nama mereka dan dibagi tiga. untuk ‘McD’ dan ‘on’ gue rasa works fine. Karena ‘McD’ menjelaskan namanya, ‘on’ mungkin menjadi tema / gimik baru mereka, kayak ada yang happening nih, ada yang on nih. gitu-gitu, tapi setelah itu bagian ketiga, ‘ald’s’, terasa janggal buat gue. Itu apaan broh? Nah disini letak titik dilema gue. Disatu sisi gue rasa orang sudah cukup pinter buat asosiasi-in ald’s itu sebagai bagian nama dari brand tersebut, jadi ya peduli amat, tapi disatu sisi itu tetep nganggu sih. Seperti sesuatu yang nggak diulik aja. Seperti ‘terpaksa’ ada makannya disitu, beda banget perancangannya sama baris pertama dan kedua. Jadi gue gatau harus bilang ini hal positif atau negatif buat gue. Masih bingung.

Gue juga belum ngomong masalah penggunaan Helvetica. Please, haruskah? Karena gue ngerasa untuk sebuah brand yang kuat / kental, turun menggunakan Helvetica, yang terkenal ‘generik’ itu seperti sebuah penurunan. Banyak yang merasa Helvetica itu huruf terbaik secara fungsi, tapi apakah se-terbatas itu perbendaharaan huruf mereka? Ya mungkin memang Helvetica udah jadi bagian dari brand mereka, tapi apakah harus dipampang sebegitunya? Buat gue itu vulgar. Vulgar sekali.

Remarks : Sorry, bukan buat gue.


Ok, gue minta maaf kalau ini terkesan sebuah ‘hate’ post atau apa, tapi percayalah, nggak gitu. Gue suka McD, pagi ini gue sarapan McD, Minggu lalu gue makan McD, tahun ini gue makan McD lebih banyak daripada gue makan Indomie. Oh Indomie..

Kalau gue boleh tarik kesimpulan disini, gue rasa redesain kemasan McD bukan redesain yang buruk sebenernya, cuma karena ya dia McD, gue punya ekspektasi yang tinggi banget, dan eksekusi mereka secara form gue rasa nggak sebanding sama nama mereka yang udah gede aja. Sorry. Kalau seumpama yang redesain ini fastfood lain yang baru, atau mungkin sudah kurang terkenal kayak Texas Chicken atau CFC, gue rasa itu menjustifikasi segalanya.

Sekian dari gue. Gue bentar lagi kelas nih. Sampai nanti lagi. Salam, Have a nice day. Jangan telat kelas ya.

200px-CFC_logo.svg
CFC – bukan desain saya

 

House of Type – HT Shift.

Buat kalian yang nggak tahu, pada tanggal 26 dan 27 Februari lalu ada ‘pameran’ / ‘seminar’ di Galeri Salihara, Jakarta Selatan. Hajatannya House of Type, di support sama Arco Labs. Berikut posternya.

final-poster-preview-copy-12
Poster Acara – bukan gue yang desain.

Nah, gue dapet kesempatan buat bisa hadir di acara tersebut bareng sama teman-teman dosen dan juga mahasiswa lainnya. Gue dateng di hari kedua, hari sabtu, pas malam minggu. Asik ya? Gue ikut acara Diskusi ‘Man & Machine’ yang dibawain sama Rio Adiwijaya dan dimoderasi sama Yasser Rizky, terus acara kedua Typography Talk dibawain sama Khaerun (sang desainer, more on that) & Christo Wahyudi. Dalam skala 1 – 10, mungkin gue rate acara keseluruhan 78/9. Keren, tapi belum 87/9.

Jadi gue tarik mundur dulu. Acara ini diselenggarakan sebagai ‘peluncuran’ sebuah typeface baru, ‘HT Shift’ di desain oleh Khaerun dan juga event pertama kalinya gue denger si House of Type ini. Jadi di Galeri Salihara itu ada serangkaian artwork, dan juga beberapa poster-poster yang menarasikan si ‘HT Shift’ ini. Bisa dilihat di foto amatir gue dibawah ini.

This slideshow requires JavaScript.

Sebenernya apa sih ‘HT Shift’ ini? Pas diliat awal-awal sih ya gitu deh, huruf. Kenapa bisa masuk galeri? Bingung juga, makannya gue dateng dan ga malam mingguan. haha. Basicly huruf ini unik buat gue, pas pertama kali gue liat undangan yang dikasi ke gue, gue cukup ‘terpukau’ sama desain undangannya yang memakai ‘HT Shift’ ini. Pas pertama kali gue liat ini, yang kebayang di otak gue langsung. EKSPERIMENTAL. Which turns some people on, dan beberapa enggak. Kalo gue, gue tertarik.

Dalam beberapa aksara yang gue bisa perhatikan, gue nemu beberapa aksara yang unik, seperti huruf ‘u’ yang bener-bener huruf ‘n’ tapi dibalik, jadi aneh/unik, tergantung preferensi masing-masing. Terus gue juga liat gimana huruf kecil ‘a’ sama ‘e’ itu beda karakter banget. ‘a’ nya mirip sama huruf futura awal-awal, dan ‘e’ nya ya ‘e’ biasa. Kayak Gotham mungkin.

Lucu ya? Buat gue sih berani, karena ya ini kan sebuah eksplorasi bentuk, dan bentuknya bisa dikatakan nggak umum. Salut. Terus ada beberapa ligatur yang dipakai dalam desainnya, dan gue yang ada ‘secret crush’ sama ligatur-ligatur, juga bisa dikatakan terpikat sama HT Shift ini. If you’re looking an experimental (Indonesia-made) typeface, HT Shift is a must see! Oh ya, dan enggak, gue nggak di endorse dan gue nggak punya typefacenya, jadi jangan tiba-tiba minta gue. haha.

Terus kita balik lagi ngomongin acaranya, ada di acara pertama, ‘Man & Machine’, gue pribadi menangkap dan merefleksikan kehidupan gue sebagai manusia sekarang. Ada sebuah pernyataan kurang lebih ngomongin tentang gimana teknologi, yang seharusnya kita utilize, kita manfaatkan, sekarang malah ‘mendikte’ atau ‘mendrive’ kita. Kita ada di posisi dimana kita disetir sama teknologi dalam keseharian kita, baik karena kita suka dan ‘ketagihan’ ataupun karena tuntutan. Hal itu terjadi mungkin karena kita ‘take things for granted’. Kita lihat teknologi, ya kita pakai aja, nggak mikir panjang. Begitu juga dengan aksara atau huruf, they simply exist. Kita nggak tahu kenapa mereka ada, atau gimana mereka memfasilitasi kehidupan global dan ‘modern’ kita. Makannya mungkin orang mundur dan bertanya ke Khaerun, “lu pameran font????”

20160227_170313
Baju Kuning, Rio Adiwijaya; Baju Hitam, Yasser Rizky; Baju Abu-abu, Khaerun.

Acara kedua, Typography Talk sama Christo & Khaerun. Nah ini seru. Sebelumnya gue udah merasa kenal sama Christo dan suka ngobrol bareng, gue lihat Christo dalam typografi, ada preferensi pada typografi yang terstruktur, fungsional, legible, dll. Dan ketika gue tau dia ikut ngomong di acara ini, dimana undangannya aja cukup eksperimental dan mungkin ada poin-poin ‘huruf rapi’ yang nggak dimiliki ‘HT Shift’, gue penasaran. “Christo mau ngomong apa ya disini?” Udah deh. I’m sold.

Dalam acara kedua ini, Christo diminta opini dan pendapatnya tentang ‘HT Shift’, dan gue lihat dialog antara Christo, Khaerun dan Yasser sangat menarik. Gue ngeliat orang rapi & orang selengek-an, gue liat langit, gue liat bumi, gue liat terang, gue liat gelap, gue liat jedi, gue liat sith, gue liat modernis, dan gue liat postmodernis.

20160227_202215
Yasser & Khaerun dalam Typography Talk (Maaf, Christo nggak ke foto)

Sebagai orang yang terbiasa dididik dengan aliran typografi rapi gue cukup terbuka matanya dengan acara ini, gue ngeliat sisi lain dari typografi, dan gue ngeliat gimana sisi sana bukanlah sisi yang ‘jelek’ atau tidak ‘matang’, dan gue tertarik juga untuk menyebrang kesana, dan melihat apa yang bisa gue bawa pulang. Ada beberapa pertanyaan-pertanyaan yang muncul, dan selama perjalanan pulang gue banyak mikir, dan gue enjoy banget acara ini. Gue belajar gimana cara mengapresiasi kembali huruf yang eksistensinya udah kental banget sama kehidupan gue. Gue belajar ngeliat lebih dari sebuah bentuk, tapi juga gimana bentuk itu terwujud. Gue ngeliat gimana tanggung jawab desainer itu ada dalam karya-karya desainnya.

Sukses terus buat ‘HT Shift’, buat House of Type, buat Khaerun dan rekan-rekan semua. Salam, Have a great day.

 

Selamat Malam!

Akhirnya matahari tebenam dan akhirnya gue mulai menulis lagi. Kali ini gue nggak bisa janji banyak, tapi kali ini gue bakal berusaha. Udah itu aja sih sebenernya.

Lalu katanya, nggak kenal maka nggak sayang. Kalau nggak sayang nanti nggak follow. jadi sekarang kita kenalan dulu. Tentang penulis, tentang bea. Minta maaf sebelumnya saya tidak menawakan beasiswa, nama blog saya adalah identitas saya: yakni nama dan juga status saya. Sudah itu saja. Sedikit tentang gue selama ini, gue pelajar desain, dan mendapat kepercayaan buat bisa bekerja dalam lingkup desain yang (saat ini) gue suka. Gue juga suka nulis, dan gue pengen nulis. Jadilah seperti ini.

Sekarang penulis sedang mempelajari macam-macam hal, makannya agak amburadul isi kepalanya, tapi semoga yang diketik dalam blog ini tidak se amburadul ini. Penulis punya mimpi: punya penerbitan dan punya studio desain, makannya penulis melakukan keduanya secara sekaligus sekarang ini. Penulis sedang dalam fase mengumpulkan ‘serpihan’ jejak penulis yang tersebar. Semoga bisa dikumpulkan dan juga dirapikan dengan baik. Penulis menyesal, menyesal telah menyebar-nyebar hal yang belum pantes disebar. Jadi di maafkan ya.

Beberapa serpihan yang masih ‘terlacak’ dan agak aktif dan bisa dinikmati apabila dikehendaki:

3484123-53bd2ba87ce84
monogram pribadi saya.

Iya gue tau, agak berantakan, agak overlapping, dan agak nggak keurus.  Gue punya problem serius dalam hal tersebut. Ada beberapa alesan pribadi kenapa gue gagal, dan mungkin jadi refleksi pribadi juga:

Pertama, gue impulsif. Ababil kalau anak-anak jaman sekarang (masih nggak sih?). Gue bukannya bosenan, tapi suka kehilangan prioritas. Ketika gue belajar A, gue bakal lakuin A, ketika gue tiba-tiba belajar B, gue bakal lakuin B, tar kalo ada A, ya ngerjain A lagi. Sesimpel itu sebenernya. Tapi berakibat fatal. Dhuar.Kedua, gue nggak mikir panjang. Kayak sekarang, gue nulis pertama kedua ketiga tapi nggak gue pikirin emang apaan. Gue cuma mikir, gue pada dasarnya impulsif, main hajar aja gitu, kalo udah terjadi baru dipikirkan, kayak sekarang. Terus mau nggak mau ya improvisasi aja jadinya. haha.Ketiga, ada momen-momen gue males. Kayak tadi nomer dua. Gue males apus aja makannya gue pikir lanjut aja, toh ada kuota yang emang gue kejer dalam ngetik, jadi ya mari kita lanjutkan sebisanya. Hitung-hitung manjangin naskah. Maaf dan terima kasih.

Gue pengen bisa compile atau minimal sortir semua gawean gue. Butuh waktu, jadi tolong sabar. Gue juga dalam proses merapikan kerjaan dalam backup-an gue buat masuk ke internet (dan juga sini). Harapan gue: Ini bisa jadi tempat nulis, belajar sedikit html, dan juga tempat ngeluarin uneg-uneg gue , dan juga sedikit unjuk karya dan monolog diri. Gue buat blog ini juga untuk melatih diri, atau bisa dikatakan doa pribadi aja, berharap akan ada suatu fase yang lebih baik, ada arah yang lebih terlihat dan juga desain yang lebih baik untuk gue. Please oh please.

Dalam blog ini gue coba meminimalisir afiliasi gue sekarang. Ada beberapa kelompok / grup / perusahaan yang terhubung sama gue, mungkin kerjaannya akan gue publish disini (disamarkan ataupun tidak) tapi gue ngelakuin ini bukan dengan harapan (walau nggak nolak) mendapat atensi maupun apresiasi dari mereka.

Kayaknya buat sekarang segitu dulu deh. Jadi kembali lagi, salam kenal. Gue biasa dipanggil bea, gue siswa desain. Selamat datang di blog saya. Have a nice day.