Zootopia!

OK, hari ini gue mau tulis sesuatu yang berbeda, sesuatu yang pengen gue tulis beberapa hari belakangan ini. Sesuatu yang menginspirasi gue dan gue diskusi terus menerus sampai temen-temen gue ngrasa gue agak aneh dan membosankan. Gue bakal ngebahas: ZOOTOPIA! Gue nonton Zootopia beberapa hari yang lalu. dan gue sangat hyped dengan film tersebut. Sebelumnya gue nggak tertarik sama film itu dan salah persepsi sebenernya tentang tu film. Gue pikir Zootopia itu film lain dengan judul ‘Zoo…’ juga.

maxresdefault3

Males kan? makannya gue sendiri nggak nonton trailer atau nggak nyadar keberadaannya sampai seminggu sebelum gue nonton tu film. dan gue harus akuin, gue super duper tertarik pas liat poster, liat trailer dan juga nyari tau tentang Zootopia. (bye bye Zoolander). Ok, sekarang kita ngomong dikit tentang Zootopia. Film aduhai ini adalah film animasi keluaran 2016 oleh Walt Disney Animation Studios. Kalau belum pernah tahu apa itu Walt Disney, boleh kok googling buat cari tau. Salah satu pengisi suara filmnya adalah Jason Bateman. Dirinya pertama kali gue liat di film ‘The Switch’ bareng Jennifer Anniston. Disitu gue cukup suka suaranya dan langsung recognize suara dia pas gue liat trailer Zootopia. Gue terus melanjutkan pencarian gue dengan liat poster filmnya (Bisa diliat di akhir paragraf). Poster filmnya keren banget buat gue. Mungkin dikesempatan lain gue bisa critain opini gue tentang poster film itu. Fix gue mau tonton ni film.

zootopia

Pergilah gue jumat lalu menonton film itu.

Fast forward ke hari ini.

Sebelumnya gue peringatkan karena gue mau ngulas tentang Zootopia, sudah pasti ada sedikit bocoran. Gue usahakan semaksimal mungkin buat nggak membocorkan, tapi ya kalau bocor juga ya jangan marah. Anda sudah saya peringatkan. Jadi secara sederhana aja. Zootopia adalah film yang menceritakan sebuah kota atau area, Zootopia, yang ditinggali sama binatang-binatang mamalia yang beragam. Dari tikus sampai gajah, dari domba sampai harimau, dari kelinci sampai rubah. Intinya, beragam dan juga unik. Karena mamalia predator dan mamalia yang di mangsa bisa hidup bersama-sama dengan harmonis. Atau benarkah harmonis?

thumbnail_22123

Nah, cerita di film ini mulai bergulir ketika terjadi insiden-insiden binatang mulai lenyap gitu aja nggak bisa ditemukan. Dalam film ini, ada seekor polisi kelinci dan juga temennya, seekor rubah, yang berusaha menguak misteri ini yang terjadi di Zootopia. Jeng jeng. Ceritanya cukup simple kok, ada sebuah masalah, dan ga lama muncullah jagoan, dan kita diantar ngikutin perjalanan si jagoan dan juga masalah-masalah yang dia hadapin. Mungkin yang familiar dengan ‘monomyth’ bakal ngeh kalau model ceritanya sangat-sangat seperti demikian.

Terus apa sih yang menarik dari film ini? Pertama, kita ga liat ada manusia. Kita ngeliat hewan-hewan yang bertingkah laku seperti manusia. Kita bisa ngeliat karakteristik hewan yang beragam dan unik-unik pada tokoh dalam film itu. Disinilah gue merasa film ini luar biasa berhasil dan jadi keren. Dengan penokohan unik mereka, mereka menyisipkan sebuah isu yang terjadi nyata sekarang. Yaitu isu tentang diskriminasi. Hanya saja isu ini disampaikan dengan cara yang berbeda dan unik dalam film ini. Isu ini digambarkan dengan gimana hewan-hewan atau kelompok hewan-hewan tertentu mengalami ketidak adilan dalam masyarakat sosial mereka. Mereka sering kali dihina atau dicemooh dan diperlakukan semena-mena hanya karena mereka hidup menjadi diri mereka sendiri.

Isu ini nyata. Di Indonesia khususnya gue melihat adanya diskriminasi terhadap ras-ras tertentu. Baik diskriminasi dari kalangan mayoritas ke minoritas maupun sebaliknya juga, begitu pula di film ini. Di Zootopia terjadi diskriminasi juga. Dari kaum A terhadap kaum B, dan begitu pula sebaliknya. Apa sih yang ngebuat ada terjadinya diskriminasi ini? Dalam film ini gue merasa jawabannya adalah ignorance, atau ketidak pedulian. Kita nggak peduli makannya kita berlaku demikian. Kita nggak mempedulikan mereka, oleh karena itu kita ‘gagal’ untuk ngeliat mereka sama kayak kita, sama-sama manusia (atau sama-sama mamalia dalam konteks film zootopia).

zootopia-trailer-movie1-728x409

Tapi sebelum gue lanjut lebih dalam lagi, gue akan akui bahwa selepas film ini, ada juga beberapa isu-isu yang muncul. Ya kembali lagi ke individu tiap orang sih. Atas dasar menjaga konten, gue ga akan post isu-isu tersebut karena disini, gue mencoba membawa dan juga menyebarkan nilai positif yang ada dalam film Zootopia. Gue harap dalam kesempatan lain gue akan bisa ngebahas lebih lanjut tentang Zootopia. Gue ga tau bisa apa nggak. Gue masih ada beberapa PR juga di blog ini yang harus gue kerjakan. Jadi ya, kita liat aja nanti.

Sampai jumpa di obrolan selanjutnya. Jaga kesehatan ya temans. Have a good day!

Typografi & Pasangan Hidup

Dalam hujan pagi hari ini gue pengen sedikit ngeluarin ide yang tiba-tiba muncul di kepala gue. Gue sadar sebagai seorang ‘akademis’, orang yang konon memiliki tanggung jawab untuk dedikasi pada pendidikan, gue merasa gue terpanggil untuk ‘menyederhanakan’ atau ‘mempermudah’ pemahaman seseorang akan suatu hal yang gue udah pahami. Banyak orang pandai, dan banyak juga orang-orang yang kurang pandai, nah gue ngerasa punya tanggung jawab untuk jadi orang yang menghubungkan keduanya, baik untuk menyamakan persepsi, menyampaikan pesan, maupun menerjemahkan isyarat-isyarat.

Kali ini gue akan sedikit mengulas mengenai tipografi. Sebuah ilmu yang pemahamannya sendiri mengundang perdebatan kalau menurut gue. Kenapa? Gue suka definisi dari typografi ini,

“Typography is the visual representation of text information” (Hillner, 2011:13).

Dimana disini jelas sekali maksudnya, yaitu typografi adalah representasi visual dari informasi teks. Disini kata kuncinya adalah representasi visual dan informasi. Kenapa? Karena disinilah letak aspek yang menjelaskan fungsi dan juga apa itu typografi itu sendiri. Typografi adalah representasi visual, sebuah permainan grafis, komposisi elemen aksara, sebuah proses visualisasi. Lalu apa kegunaan dari semua permainan ini? Untuk informasi. Informasi apa? Nah ini untuk pembahasan lain waktu. Tapi disini mari kita samakan dulu persepsi kita: Typografi adalah sebuah visualisasi teks (atau komponen yang lebih kecil lagi, aksara) untuk informasi. Jadi kalau sebuah ‘karya typografi’ tidak informatif, apakah ia bukan sebuah karya typografi? Buat gue pribadi iya, karena menyalahi apa premis gue tadi. Tapi bukan berarti ‘karya typografi’ tidak informatif itu tidak penting atau tidak pantas ada. Boleh saja, tapi mungkin dengan nama atau istilah berbeda. Lalu apa kaitannya dengan pembahasan gue?

Typografi, kalau kita lihat dari sisi fungsi, memiliki tujuan untuk mengandung informasi; pasangan hidup, kalau kita harus melihat dari sisi fungsi paling sederhana, memiliki tujuan untuk mengimbangi kita, untuk ‘menggenapi’ kita.

Seorang pasangan hidup yang kita bisa pahami, adanya komunikasi yang jelas, bisa gue coba ibaratkan seperti sebuah paradigma typografi modernis yang terstruktur dan mengutamakan informasi. Kalau dari sudut pandang gue yang diakui sebagai pria, gue merasa seorang perempuan yang jelas maunya apa, itu sangat menyenangkan. Menyenangkan karena gue nggak perlu melakukan proses lebih dalam untuk bisa memahami apa yang dimaksud, semuanya crystal clear.

Disisi lain, seorang perempuan yang mungkin gue nggak bisa pahami sepenuhnya, maunya berubah-ubah, terselubung dan perlu effort lebih untuk bisa dipahami mungkin seperti pola typografi postmodern dimana memang mereka mencoba melawan norma atau pemikiran modernis. Tapi bukannya gue bilang perempuan yang ‘nggak jelas’ (kalau boleh digunakan istilah itu), melawan norma loh, ini cuma pengandaian belaka.  Ketika kita berdialog dengan pasangan kita, dan kita perlu sedikit waktu untuk mundur dan berpikir: “dia kenapa ya?”, “kemaren abis ada apaan ya?”, “ini tanggal berapa sih?” mungkin memang ini langkah serupa ketika mau mendalami karya typografi postmodern, dimana ketika kita lihat, mungkin menarik, mungkin tidak (tergantung preferensi), dan kita nggak bener-bener bisa memahaminya ketika kita lihat langsung.

Sebuah contoh sederhana adalah melihat David Carson (lagi). Karya beliau mungkin tidak ‘jelas’ tapi hal itu bukan berarti karya tersebut tidak informatif. Karya beliau memiliki informasi-informasi yang mungkin ga tampak (atau tertulis) tapi informasi itu ada untuk kita bisa tangkap. Konon ada sebuah artikel majalah yang ia desain menggunakan wingdings, sehingga tidak ada kata yang bisa dibaca secara langsung. Apakah karya itu tidak informatif? Tentu tidak! Informasinya ada disitu, tapi memang perlu ada usaha lain buat bisa memahaminya. Kenapa karyanya seperti itu? Kita harus melihat latar belakangnya dulu, jangan buru-buru menarik kesimpulan. Katanya, Carson mengungkapkan latar belakang layoutnya adalah karena ia merasa artikel yang ia kerjakan itu sangat membosankan, sehingga daripada orang membacanya bosan, lebih baik ia ganti aksaranya menjadi wingdings, dimana lebih menarik dan menyenangkan secara visual. Jadi naskahnya tidak bisa dibaca dong? Bisa, lu tinggal terjemahin aja dari webdings ke huruf biasa.

wingdings article publication design david carson
Designed David Carson – http://cdn2.theawl.com/wp-content/uploads/2012/08/raygun_wingdings-e1345563078570.jpg

Kalau boleh gue tarik kembali ke pengandaian tadi, ada perempuan-perempuan yang seperti karya Carson itu tadi. Kita nggak bisa nangkep apa maksudnya dari apa yang ia ucapkan, tapi bahasa tubuh, ekspresi wajah, serta konteks dalam interaksi kita bisa memiliki kontribusi lebih dalam memberikan informasi. Indra kita mungkin tidak bisa menangkap, persepsi kita mungkin bisa salah, hal itu terjadi karena kita membiarkan hal itu terjadi. Kita nggak ada usaha lebih untuk berhenti (tidak merespon secara impulsive), mundur selangkah (memahami konteks), dan untuk berpikir kenapa.

Gue suka mencerminkan preferensi desain dan juga preferensi orang dalam memilih pasangan, dan seperti yang gue duga, sepertinya ada relasinya. Walau mungkin tidak 100% akurat atau nampak, tapi benang merah itu ada. Orang-orang yang terbiasa dengan struktur, mungkin akan memilih istri pasanganberpenampilan rapi, umumnya komunikatif dan apa yang ia pikirin bisa disampaikan secara langsung. Orang yang mungkin suka desain yang lebih ‘berani’, lebih eksperimental, ya lebih condong ke postmodern mungkin juga menyukai pasangan yang lebih ‘berani’ dalam penampilan, atau mungkin lebih dinamis, tidak serapi atau se’predictable’ orang-orang modernis. Tapi gue rasa pasti ada fase-fase yang tetap nggak terprediksi. Namanya juga manusia; nggak bisa semudah itu diklasifikasikan.

Semoga dengan ini, teman-teman bisa sedikit memahami karya typografi postmodern, atau mungkin lebih memahami pasangan masing-masing.

 

 Daftar Pustaka
Hillner, Matthias. 2009. Basics Typography 01 : Virtual Typography. Case Postale: AVA.

Coba – Coba

‘Bekerja’ adalah sebuah kata yang gue pribadi nggak begitu suka. Terkesan formal, terkesan seperti sebuah beban/ paksaan, walau mungkin belum tentu seperti itu juga. Terkesan agak membosankan atau monoton. Nggak ada sentuhan pribadi atau nggak ada ekspresi didalamnya. Tapi itu menurut gue loh ya. ‘Kewajiban’ adalah sebuah kata yang gue pribadi lebih nggak suka, tapi suka gue pake. Kewajiban memiliki kesan yang lebih terpaksa. Kalau dulu pas SD dibilang, “kalau kita mau dapetin hak kita, kita harus lebih dulu melakukan kewajiban kita” which is bagus sekali sebenernya, tapi sayangnya ada orang-orang yang memaksakan haknya tanpa melakukan kewajibannya. Belum lagi ditambah dengan kata dasar kewajiban itu ‘wajib’. Beh. ‘Tanggung jawab’ adalah sebuah kata yang sering kali digunakan menggantikan kata ‘bekerja’. Tanggung jawab memiliki kesan yang lebih mulia, patriotik. Terkesan apa yang lagi dilakukan itu penting dan spesial, seolah kalo nggak elo, sapa lagi bro?

Gue pribadi menggunakan ketiga kata itu untuk menjelaskan apa yang gue lakukan. Gue menjelaskan gue memiliki tanggung jawab ngajar, nyiapin materi, ngedidik anak-anak. Gue bilang gue punya tanggung jawab atas keluarga gue, atas istri dan anak-anak gue kelak. Tapi gue bilang gue ngerjain proyek X atau proyek Y ketika gue ngerasa proyek itu udah nggak banyak ngebawa keuntungan non materiil buat gue. Misal, gue udah nggak bangga atas kerjaan gue karena masalah ini dan itu. Terakhir gue menggunakan kata ‘kewajiban’ gue buat hal-hal yang kalau diizinkan dan diperbolehkan, gue bakal nggak lakuin, contoh: ‘gue punya kewajiban buat ngurus surat X or suray Y’. Gue nggak suka.

Gue mulai menyadari pemilihan kata gue berubah ketika gue banyak melakukan banyak aktivitas, seperti kerja X, Y, Z, dll. Gue mulai menilai apa yang gue lakukan itu buat apa, apakah buat gue sendiri sekarang atau nanti di masa yang akan datang, atau gue lakukan karena gue harus lakuin, atau gue ‘berkewajiban’ untuk melakukan itu? Hal-hal ini mulai ngebuat gue merespon lebih lama, bukan karena lambat, tapi karena ada hal-hal yang gue harus ukur dulu, dipikirin dulu. Gue sekarang lebih ngerem ketika ada tawaran atau gue secara impulsive ingin melakukan sesuatu. Gue merasa nggak bertanggung jawab ketika gue melakukan banyak hal dan hal-hal tersebut hasilnya nggak maksimal atau malah nggak kelar. Gue suka maen, suka nyoba hal-hal baru, dulu itu jadi beban buat gue yang impulsive, sekarang udah bisa agak ditahan maennya. Alhasil gue bisa lebih fokus nyelesaiin tanggung jawab, kerjaan dan kewajiban gue.

Lalu muncul pertanyaan, apakah gue suka ngelakuin itu semua? Terus terang aja kadang tanggung jawab pun tidak menyenangkan gue. Tidak membuat gue senang ketika dikerjakan maupun diselesaikan. Terkadang tanggung jawab perlahan berubah menjadi kewajiban. Tapi balik lagi, suka apa nggak itu perasaan, dan gue nggak mau terlalu didikte sama perasaan gue. Gue mikir itu harus dilakukan, dan suka apa nggak, males apa nggak, ya harus dilaksanakan. Melelahkan, sulit dan mengesalkan, tapi bagian dari kehidupan setiap orang.

Jadi apakah gue hidup dengan menyumbat semua perasaan gue terhadap aktivitas gue? Nggak juga. Ada hal-hal yang gue suka lakukan, dan kadang ada kala ketika gue demen banget ngelakuin hal-hal yang ga biasanya gue lakuin, kadang gue suka melakukan kewajiban gue. Nah ini nih yang gue gatau kenapa bisa demikian, dan ketika itu terjadi, gue memilih buat nggak ngeblok impulse tersebut. Membantu gue lebih produktif, kayak sekarang.

Jadi, apa sih yang pengen gue utarakan dalam catatan singkat gue hari ini? Kalau mengikuti bahasa komersil sekarang, “just do it”. Ya bukan gue bilang lakukan aja tanpa mikir, tapi lebih ke  apa yang udah di putuskan dan sudah ditentukan akan dilakukan, baik itu kewajiban, pekerjaan, maupun tanggung jawab, lakuin aja semaksimal mungkin, kita nggak tau kan nanti kedepan bakal gimana? Kalau meminjam optimisme orang-orang, siapa tau abis kita menyelesaikan pekerjaan kita, kita bisa mendapatkan sebuah tanggung jawab? Sebuah posisi (atau jabatan) yang kita inginkan selama ini, atau siapa tau kita bisa mendapat banyak hal (selain duit atau pemasukan). Ada banyak hal diluar sana yang mungkin asing buat kita, kita belum tau kita bakal suka apa nggak, tapi ya kita bakal tau suka apa nggak ketika kita udah nemuin itu kan? Ada orang-orang yang nggak suka kerja desain, dan dia nyemplung di dunia copywriting dan nagih gitu. Orang itu udah cobain ngedesain, makannya dia tau dia ga suka, dan dia coba dunia copywriting, dan dia suka. Dia coba baru dia tau. Tapi gue harus tarik kembali, bukan berarti coba-coba sembarangan juga, tetep coba pakai hikmat dan akal sehat, tau apa yang mau lu lakuin. Mungkin untuk sekarang itu dulu. Selamat coba-coba.

 

Hidup secara Max

Ok. Hari ini terus terang aja nggak banyak hal yang terlintas di kepala gue. Haha. Boong sih. Kebayang tapi nggak yakin bener-bener bisa berguna aja sekarang. Maksudnya apa? Ketika gue ambil komitmen buat nulis 750 kata setiap hari, gue berharap buat bisa nulis bebas – fiksi, artikel atau bahkan isu-isu yang lagi terlintas aja. Nggak ada ekspektasi buat nulis sampai berhalaman-halaman. Nah, halaman-halaman itu lah yang muncul di kepala gue sekarang. Gue kebayang cerita, kebayang visual, kebayang buku, finishing, layout, plot yang agak kompleks, tapi buat tujuan gue sekarang kayaknya nggak relevan. Gue mau latihan nulis, bukan mbikin proyek berbulan-bulan. Setidaknya nggak sekarang.

Pada dasarnya gue ngrasa gue suka banget eksperimen dan eksplorasi tentang apapun yang gue pengen lakukan, tapi ya people grow. Ada faktor-faktor baru yang ‘melarang’ kita buat terus bermain seperti itu. Gue kemaren sempet pengen bikin blog; tapi ya belum kebayang juga. Gue pernah punya blog di wordpress, posterous, blogspot. Banyak, tapi nggak lanjut. Yang paling lanjut di tumblr, tapi gue sendiri gatau arahannya kemana, tapi malah jalan terus. Heran sih.

Yaaa orang suka ngomong kita harus tau kita mau kemana; heck, gue pun ngomong begitu. Tapi gue coba buat berhenti dan mempertanyakan pemikiran gue itu:

Apakah kita perlu sebuah arah?

Ok, ok. Coba denger (atau baca) omongan gue dulu. Banyak ga sih orang-orang yang Cuma go with the flow, nggak tau mau ngapain, tapi bisa aja sukses? Menurut gue bisa aja, Think about it. Mari sejenak kita lupakan yang namanya ide, kreativitas, hasrat, arah. Ada satu film yang gue suka banget belakangan ini: Mad Max – Fury Road. OK, gue suka banget penampilan Tom Hardy, jadi mungkin emang subyektif, tapi ya kan memang opini dan preferensi gue aja. Gue juga suka visual-visual yang ada di film ini. Keren kalau kata orang-orang. Nikmat kalau kata gue.

Buat yang belum nonton, ya silahkan tonton. Yaa tapi lanjut mbaca juga nggak apa, karena gue nggak akan spoil apa-apa juga. Ada satu quote dari Max yang ngena banget, walau gue nggak afal banget tapi gue tetep bisa keinget perasaan gue ketika line ini muncul.

mad max looking at wasteland
Mad Max opening scene

“I am the one that runs from both the living and the dead. Hunted by scavengers, haunted by those I could not protect. So I exist in this wasteland, reduced to one instinct: survive.”

Boom. Mind blown. Seriously. Di quote ini ada beberapa hal yang menarik, pertama dia njelasin posisi dia itu gimana: dia lari, lari dari yang hidup, dan yang mati. Sesuatu yang kontras, dia nggak mau didekati keduanya. Dia lari dari keduanya. Berlari; pergerakan yang cepat,  bener-bener sebegitunya dia entah takut, entah nggak suka, entah jijik atau  apa, dia berlari dari yang hidup dan yang mati. Kenapa buat gue ini menarik? Karena dia bicara sebuah semangat, walaupun mungkin didasari ketakutan, didasari kebencian, didasari hal-hal negatif, tapi dia memutuskan satu hal: berlari.

Bagian kedua juga cukup menarik, diburu dan dihantui, oleh karena itu dia tinggal dalam wasteland, kalau di bahasa Indonesiakan: gurun, atau kalau terjemahan yang gue lebih suka: tanah kosong. Diburu dan dihantui dan oleh karena itu dia hidup di tanah kosong, dia hidup dengan kehampaan, dia hidup tanpa apa-apa, sangat rapuh dan bisa ‘diserang’ sewaktu-waktu tanpa perlindungan, tanpa tempat persembunyian. Disini dia nggambarin betapa dia sangat rapuh, dan kemudian disusul dengan bagian terakhir, hanya ada satu insting yang tersisa: bertahan.

So here’s my standpoint: Kadang kala kita hidup nggak tau mau kemana, kita takut, kita ragu, kita lemah, kita rapuh tapi at the end of the day kita punya pilihan: kita bisa secara ekstrim memilih untuk mati, atau ya hidup. Itu pilihan kita. Kita bisa memilih untuk terus bertahan hidup, bertahan ditengah-tengah kelemahan dan segala hal-hal negatif di sekitar kita.

Jadi kalau sekarang gue ngrasa gue lagi nggak punya arah, gue selalu ‘dikuatkan’ dengan pemikiran ini. Gue harus bertahan. Gue akan bertahan dan mungkin kelak gue akan mendapat arah itu. Entah mendapatkan sendiri, ataupun diberikan arah itu oleh orang lain, tapi gue bertahan. Bertahan dengan segala kekuatan gue dan perform ague, bertahan supaya apa yang gue miliki ga berkurang tanpa alasan jelas, gue memilih buat hidup untuk hari esok, walaupun gue nggak tau besok gue mau apa. Kalau harus sedikit berbicara mengenai keyakinan dan kepercayaan gue pribadi, gue percaya besok atau kelak, hal-hal baik itu akan datang sendiri ke gue, dengan bentuk yang mungkin gue ga tau, tapi pasti akan datang. Yang gue harus lakukan adalah bertahan hidup, terus menjaga hidup gue, dan terus peka, terus siaga dan juga sigap untuk segala hal yang mungkin datang ke diri gue. So yeah, I’ll survive.

Lokakarya Seni Lintas Media

Di Galeri Nasional, Rabu lalu, tanggal 2 Maret 2016. Iya, saya ikut.haha. Gue ikut sama temen-temen dari jurusan DKV, ada campuran dosen dan mahasiswa jadinya di acara ini. Disini kita ikut dan mendengar banyak banget. Udah denger banyak terus dopet bantak juga dong. Ga coma asal denger doang.

Jadi sebelumnya, acara apa sih ini? Acara ini merupakan salah satu program yang diadakan sebagai bagian dari Pameran ‘Pintu Belakang | Derau Jawa’ oleh Hanafi. Lokakarya ini berisi presentasi dari berbagai narasumber dalam bidangnya masing-masing, dimana mereka menceritakan apa yang mereka kerjakan. That’s it. Tapi disini ada berbagai macam cerita, baik dari segi ekonomi, sosial, politik, seni, budaya, akademik, IT, dll. Banyak sekali. Kepala gue juga agak bingung memilah-milah informasi yang sanggup gue simpan sementara.

20160302_101848.jpg
Salah satu pemateri, Yuka D. Narendra

Apakah ada kesamaan atau benang merah dari obrolan-obrolan ini? Ada sih harusnya. Maksud dari loka karya ini adalah untuk pembahasan dan pengandaian dan memproyeksikan warteg pada tahun 2085 itu gimana sih? Apakah masih relevan? Apa yang masih ada? Apa yang udah punah? Nah, itu sih isi undangan yang gue dikasi tau pas mau hadir ke acara ini, sayangnya gue sendiri nggak ikut acara sampai selesai bener, jadi maaf saya nggak bisa bicara banyak tentang hal itu. Tapi kembali mengenai benang merah obrolan ini, gue ngeliat gimana mereka menggunakan data-data sebagai ‘senjata’ mereka dalam berkarya dalam bidangnya masing-masing. Gimana data membawa validitas dalam setiap isu yang mereka bawa. Salut dan cukup membukakan banget buat gue.

Gue suka gimana data bisa menjadi sebuah opsi tersendiri buat gue. Memang ga semua orang bisa dilawan dengan data, tapi ya gue merasa data bisa dikatakan ‘obyektif’, ‘sah’ atau pun ‘valid’ ketika dipresentasikan pada beberapa pihak. Gue kadang merasa perlu mencari backing-an data ketika harus mempresent karya desain gue, khususnya buat dosen-dosen. Gue ngerasa dengan adanya data, itu ‘menjustifikasi’ pilihan gue dalam mendesain, atau setidaknya, nunjukkin ke mereka gue nggak asal-asal. Dan gue rasa ini memang realita yang terjadi sebenernya di beberapa kampus (atau mungkin semua) dimana ‘data’ membantu ‘latar  belakang’ yang membentuk ‘konsep’ dan melahirkan ‘desain’. Ironis kah? Mungkin, tapi setidaknya data membantu melatih kita buat berhenti, berfikir sebelum terjun gitu aja. Data ngebantu gue ngambil keputusan. Apakah data mendikte pilihan gue? Mungkin, toh gue mengembil sebuah sikap setelah gue melihat atau mempelajari sebuah informasi atau fenomena atau ‘data’ itu tadi.

Ok, kita balik ke acara.

Setelah ada presentasi sendiri dari pemateri yang ada, kita ada ‘acara’ nongkrong di warteg, dimana pada kesempatan itu, kita dibiarin buat cair, buat ngelebur dan nyatu terlepas dari struktur acara yang formal. Kita bisa duduk, makan, ngopi, mungkin sedikit ngebul sambil ngomongin hal apa aja. Sama seperti budaya warteg yang mungkin sekarang udah nggak gitu ada.

Buat gue ndiri, gue di Jakarta or Tangerang nggak pernah nongkrong di warteg, bukannya karena udah punah or nggak ada, tapi simply karena gue nggak pernah terlintas or terpikir aja buat demikian. Gue pernah nongkrong di warteg dulu pas lagi naek gunung. Ya kan ada warteg, terus ya duduk-duduk aja nongkrong n ngebaur sama orang sebelah, lucu juga, sesuatu yang nggak gue lakukan disini, di kota. Tapi hey, itu gue doang kali ya?

Abis ngewarteg, kita balik lagi. Kali ini kita share mengenai isu-isu atau keresahan yang ada. Kali ini nggak ada pemateri khusus, jadi peserta atau yang tadi jadi penonton, boleh ikut ngomong. Yaa disini lebih liar sih daripada sesi materi tadi. Bagus atau nggak, gue nggak tau juga, tapi itulah yang terjadi. Gue nggak bisa nilai dari sisi materi apakah bagus apa nggak, tapi yang gue rasain, gue bisa denger opini orang. Gue bisa denger apa yang jadi ‘keresahan’ atau ‘komplain’ atau ‘uneg-uneg’ dari orang-orang yang sebelum hari itu nggak gue ketahui eksistensinya. Gue emang nggak berdialog, tapi gue bisa mendapat pemikiran mereka. Gue enjoy hal-hal kayak gitu, asal nggak too much aja.

Sekitar jam 2.40, rombongan dari kampus gue mau balik jadi kita keluar lebih awal. Gue nggak tau kelanjutan acaranya gimana. Yang gue tau rencanannya mereka bakal bikin ‘karya’ lalu dipamerkan. Itu aja sih, kalau berjalan sesuai rencana ya harusnya udah pameran juga. Maklum saya jurnalis telatan, acara bubar baru nulis. Haha.

Eniwei mungkin yang ingin gue share dari acara ini adalah satu: Ketika kita bekerja ataupun berkarya untuk hal yang baik, percayalah kita nggak sendiri, ada orang-orang lain, dalam belahan dunia lain, ataupun dalam bidang lain yang juga bekerja dan berkarya untuk kebaikan juga. #optimisme

Jadi gitu aja buat sekarang. Salam, Have a great day.

Selamat Hari Sarapan!

Ada yang beda hari ini. Bukan karena gue abis potong rambut, tapi karena hari ini gue sarapan McD. Hari ini gue dapet McMuffin dari McD pas lagi on the way ke kantor, terus gue notice ada bagi-bagi gitu dari McD, jadi ya kenapa enggak? Gue terus ke kantor dengan agak macet dengan bahagia karena sudah dapet sesuatu yang baik di pagi hari #McDBreakfastDay.

Sesampainya di kantor gue mikir apa yang pengen gue bagikan dari pengalaman ini? Sudah sangat jelas gue ga bisa nraktir orang-orang Egg McMuffin, jadi apa ya kira-kira? Selesai makan, gue teringat sebuah artikel ketika gue mau buang bungkus McD gue. Yup, artikel tentang redesain kemasan-kemasan McD. Berikut gambarnya:

mcdonalds_2016_packaging
Kemasan ‘baru’ McD – bukan desain gue.

Artikel ini udah lama sebenernya, tapi saat itu ya gue cuma “oh” aja. Terus sekarang gue inget kembali sama artikel ini dan menggali sedikit dan berusaha berterima kasih ke McD dengan nulis ulasan sedikit. (Walaupun kemasannya belom masuk ke Indo).

Gue suka ‘menganalisa’ desain dari hal-hal yang super obvious, dari typografi, warna, dan gambar / illustrasi / foto. Dari gambar yang gue terima ada 2 obyek yang bisa gue ulas, pertama gelas plastiknya, kedua paperbag yang biasa buat mbungkus makanan gitu. Keduanya memiliki bahan yang berbeda. Keduanya punya karakter beda, dan tentunya fungsi yang beda. Nah, gue coba ya ulas dengan kapabilitas gue.

 


Warna

Untuk warna ‘baru’ McD, gue liat ada warna-warna baru yang muncul. Ada magenta, cyan, yellow green, orange, ungu gitu-gitu. Sepintas gue liat di mockup itu, gambarnya cukup fresh. Colorful. Tapi ini ngebuat gue bertanya-tanya sendiri. Apakah McD sewarna-warni itu? Sebagai sebuah brand yang udah kenceng banget warna merah dan kuning-nya, apakah perlu McD melepas kekuatan itu dan ngerangkul warna-warna lain? Buat kita sekarang mungkin kita bisa asosiasikan kuning merah fastfood sebagai McD, tapi dengan treatment begini, apakah hal itu tetep bisa dalam 50 tahun kedepan? Gue nggak tau. Selain itu gue ngerasa sistem warna ini keliatan keren ketika di jejer begini dan kita tetep bisa ngeliat si ‘M’ itu. Kalau gue liat benda-benda ini secara terpisah, kayak gelas lastik paling kanan bawah yang warna hijau itu, gue rasa hasilnya kurang baik. Terkadang kita fokus ke ‘grand plan’ kita, tapi hal-hal mikronya jadi ke skip gitu. Sayang banget sih.

Remarks : Gue suka warna-warnanya, tapi terlepas dari itu, does it really work?

Typografi

Kebetulan karena tidak ada ‘gambar/foto’ jadi gue bakal coba ulas masalah penggunaan aksara dengan lebih detail disini. Oh, tapi sebelum itu, coba liat foto paperbag nya disini. Warna ungu ‘McDonald’s’-nya turun yak? Jadi tidak semenonjol mockupnya, Kuningnya juga turun dan malah nggak gitu kontras. Sayang. Kalau kalian perhatiin, sebelumnya di paperbag si ‘M’ itu dikasih latar kotak merah gitu, jadinya agak ketolong jadi makin kontras. Sebuah solusi yang cukup baik dan kembali lagi, mbuat kita lebih kental ngeliat ‘M’ kuning dan warna merah di fastfood.

Ok, kali ini beneran masuk typografi. Helvetica, gede, dicacah, McD (enter) on (gede, terus di enter) ald’s. Gue belum liat praktek penggunaan aksara lain di kemasan baru ini, jadi gue akan ngomongin itu aja. Kalau kalian pertama kali liat, kalian bakal notice apa sih? Kalo gue, gue akan fokus liat tulisan ‘on’ dibanding lain-lainnya. Setelah itu gue bakal liat secara keseluruhan, oh McD ternyata.

Tapi disini terdapat dilema pribadi. McD mencacah nama mereka dan dibagi tiga. untuk ‘McD’ dan ‘on’ gue rasa works fine. Karena ‘McD’ menjelaskan namanya, ‘on’ mungkin menjadi tema / gimik baru mereka, kayak ada yang happening nih, ada yang on nih. gitu-gitu, tapi setelah itu bagian ketiga, ‘ald’s’, terasa janggal buat gue. Itu apaan broh? Nah disini letak titik dilema gue. Disatu sisi gue rasa orang sudah cukup pinter buat asosiasi-in ald’s itu sebagai bagian nama dari brand tersebut, jadi ya peduli amat, tapi disatu sisi itu tetep nganggu sih. Seperti sesuatu yang nggak diulik aja. Seperti ‘terpaksa’ ada makannya disitu, beda banget perancangannya sama baris pertama dan kedua. Jadi gue gatau harus bilang ini hal positif atau negatif buat gue. Masih bingung.

Gue juga belum ngomong masalah penggunaan Helvetica. Please, haruskah? Karena gue ngerasa untuk sebuah brand yang kuat / kental, turun menggunakan Helvetica, yang terkenal ‘generik’ itu seperti sebuah penurunan. Banyak yang merasa Helvetica itu huruf terbaik secara fungsi, tapi apakah se-terbatas itu perbendaharaan huruf mereka? Ya mungkin memang Helvetica udah jadi bagian dari brand mereka, tapi apakah harus dipampang sebegitunya? Buat gue itu vulgar. Vulgar sekali.

Remarks : Sorry, bukan buat gue.


Ok, gue minta maaf kalau ini terkesan sebuah ‘hate’ post atau apa, tapi percayalah, nggak gitu. Gue suka McD, pagi ini gue sarapan McD, Minggu lalu gue makan McD, tahun ini gue makan McD lebih banyak daripada gue makan Indomie. Oh Indomie..

Kalau gue boleh tarik kesimpulan disini, gue rasa redesain kemasan McD bukan redesain yang buruk sebenernya, cuma karena ya dia McD, gue punya ekspektasi yang tinggi banget, dan eksekusi mereka secara form gue rasa nggak sebanding sama nama mereka yang udah gede aja. Sorry. Kalau seumpama yang redesain ini fastfood lain yang baru, atau mungkin sudah kurang terkenal kayak Texas Chicken atau CFC, gue rasa itu menjustifikasi segalanya.

Sekian dari gue. Gue bentar lagi kelas nih. Sampai nanti lagi. Salam, Have a nice day. Jangan telat kelas ya.

200px-CFC_logo.svg
CFC – bukan desain saya