Blackletter & Poster Film King Arthur: Legend of the Sword

Dalam tulisan singkat ini, saya mau mengungkapkan apresiasi dan kekaguman saya terhadap film King Arthur: Legend of the Sword (dan berikutnya disingkat King Arthur saja). Terlepas dari berita-berita bahwa film tersebut tidak begitu sukses sebagai film box office, saya tetap merasa film ini adalah film yang keren. Mulai dari beberapa tekhnik storytelling yang dinamik dan beda dari beberapa film yang saya tonton belakangan, desain kostum untuk Vortigen, scoringnya, sampai posternya. Yes, poster-posternya cukup keren.

Yang agak disayangkan dari keseluruhan desain posternya adalah agak tidak konsisten saja desain-desainnya. Ada dua poster yang menarik dari film ini, sayang keduanya secara visual tampak berbeda, jadi ‘kesempurnaan’nya berkurang. Berikut poster film King Arthur yang pertama kali saya lihat dan langsung tertarik untuk menonton:

cn-_zfyuaaavvlw
Poster film King Arthur. Melihat dari desainnya, sepertinya ini poster awal-awal, karena masih mencantumkan tahun 2017 saja, belum ada tanggal, belum ada hashtag, belum ada embel-embel lainnya. 

Disini, poster hanya menampilkan Arthur dan membawa pedang excalibur dengan pewarnaan monochromatic, dan dengan pose yang cukup kalem. Bicara mengenai posenya, terus terang saja posenya terasa monoton, tidak memiliki action line, namun bukan berarti monoton adalah hal yang buruk ya. Terlepas dari pose monoton tersebut, saya pribadi secara komposisi menyukai penempatan elemen-elemen desain didalam poster ini. Terlebih judulnbya.

Judul film ‘King Arthur’ ditulis dengan typeface klasifikasi blackletter, dan di komplemen-kan dengan typeface (yang sepertinya) klasifikasi neo-grotesque yang condensed. Kombinasi yang cukup baik kalau menurut saya pribadi. Karena neo-grotesque yang semi-kokoh, semi-netral cukup berfungsi baik ketika ditampilkan dengan ukuran kecil dibandingkan blackletter-nya.

Sekilas berbicara mengenai huruf-huruf blackletter, jenis huruf ini cukup populer di Jerman, dan kemudian merambah ke seluruh Eropa pada zaman RenaissanceBlackletter juga digunakan untuk mencetak pertama kali oleh Gutenberg, sehingga penggunaan-penggunaan huruf Blackletter langsung terasosiasi dengan Eropa kuno, dan ya, asosiasi yang cukup baik untuk film King Arthur ini.

Penggunaan jenis typeface ini membantu menekankan aspek geografi dan era yang ada didalam film ini, walaupun pada akhirnya aplikasi dari typeface ini dibuat tidak sepekat itu dengan menggunakan warna ungu terang, yang menjadi satu-satunya warna lain selain hitam dan turunannya. Jadi walaupun kuno secara bentuk, warna ungunya membuat desainnya tidak se kaku itu. Cukup berani dan menarik.


Hanya ada dua hal yang sangat disayangkan dari kacamata desain grafis secara keseluruhan pada promosi film King Arthur ini, pertama ketidak konsistenan, yang sudah saya bahas sebelumnya. Kedua, karena tidak konsisten, kita tidak tahu mood mana yang ingin disampaikan melalui posternya. Tapi ya, poster adalah salah satu media promosi. Dalam konteks ini, promosi film. Perlu kita sadari bersama iklan tidak sama dengan kenyataan dari produk atau apapun yang diiklankan. Poster film yang menarik tidak sama dengan film yang baik (walau menurut saya film ini cukup baik). Mungkin mood film ini disampaikan lebih baik dengan poster film yang lain, bukan yang ini (walaupun menurut saya desain yang ini cukup baik).

Hal sederhana yang bisa dipelajari dari desain poster ini adalah bahwa budaya tulisan yang ada di dunia ini cukup beragam, baik dari aspek waktu dan juga tempat, ketika kita menggunakan budaya tulisan yang tepat maka komunikasi dalam desain grafis kita juga dapat lebih efektif (menurut saya). Blackletter disini sangat fantastis dan menarik sekali, dibandingkan dengan poster King Arthur film lain. Mungkin bisa saya bahas poster film itu dilain waktu. hahaha.

 

Sampai sini dulu.

Bacaan tambahan:

designishistory.com

Advertisements

Mengapa Kuliah Desain?

Lebih spesifiknya kuliah desain komunikasi visual.

Tulisan kali ini berusaha memberikan perspektif saya dari respon atas pertanyaan “Mengapa kuliah desain?”. Pertanyaan yang mungkin ditanyakan secara basa-basi ini adalah pertanyaan yang terkadang memberikan kepada sang penanya gambaran dari pola pikir atau motivasi dari si responden. Serius atau tidak, tentunya jawaban yang diberikan tidak muncul dari kekosongan.


Sebelum sedikit membahas jawabannya, saya ingin menceritakan sedikit mengapa pertanyaan ini kerap saya tanyakan ke mahasiswa ketika sedang berbicara dalam tahap yang lebih personal. Ya, pertanyaan ini bukanlah pertanyaan yang dapat saya berikan secara massal. Pertanyaan ini diberikan ketika beberapa barrier sudah diruntuhkan dulu sebelumnya, ketika mahasiswa sudah ‘cukup’ nyaman untuk mengungkapkan pikirannya kepada saya.

Kuliah bukanlah pilihan yang sepele. Tidak sebatas mengeluarkan biaya saja, namun waktu dan tenaga yang perlu diinvestasikan dalam perkuliahan tentu bukan hal yang sederhana. Kuliah desain di beberapa kampus di ibu kota pun seolah sangat prestis (beberapa waktu yang lalu), namun prestis tersebut tentu disertai tanggung jawab yang tidak asing ditelinga orang-orang, tugas.

Ketika saya bertanya, mengapa memutuskan untuk kuliah desain, hal yang ingin saya ketahui pertama adalah pemahaman awal mahasiswa ketika memutuskan untuk kuliah desain. Ada mahasiswa yang memang sudah mengetahui apa yang akan didapatkan nantinya ketika kuliah desain, sehingga ketika memulai studi mereka, mereka lebih siap. Namun ada juga mahasiswa yang ‘salah’ mengetahui seperti apa itu kuliah desain. Ketika hal ini terjadi, respon pertama saya adalah meluruskan hal-hal yang memang perlu diluruskan. atau menyarankan untuk pindah jurusan.

Hal lain yang ingin saya ketahui adalah bagaimana persiapan atau ketertarikan mereka. Tidak jauh berbeda dari poin pertama, poin kedua ini ingin menggali lebih persiapan mereka dalam kuliah desain. Ketika seseorang ingin kuliah DKV karena ingin bekerja di advertising agency, saya pribadi akan mempush mahasiswa ini nantinya untuk berpikir lebih ‘kreatif’ dan ‘out of the box‘. Ketika seorang anak kuliah DKV karena ingin menjadi seorang web designer, saya akan mempersiapkan anak ini untuk lebih memahami tipografi dan logika-logika dalam mendesain sebuah interface. Ketika seorang anak ingin menjadi illustrator kelak setelah lulus kuliah, maka saya akan dukung dan push anak tersebut untuk lebih illustratif dalam tugas-tugas ‘non ilustrasi’nya.

Mungkin memang tidak semua pertanyaan ‘kenapa kuliah desain?” dilatar belakangi alasan-alasan spesifik seperti yang saya miliki, tapi kira-kira begitulah yang terjadi ketika saya bertanya. Nah, sesuai tujuan utama tulisan ini, berikut adalah beberapa jawaban yang saya sering kali dengar, dan opini saya pribadi merespon jawaban tersebut:

Mau Jadi XXXXXXX

Selama menjadi seseorang yang masih berhubungan langsung dengan keilmuan desain, saya rasa jawaban ini adalah jawaban terbaik (walau perlu dilihat lebih lanjut sejauh mana pengetahuan mahasiswa akan profesi yang ia sebutkan).

Suka Menggambar

Suka menggambar adalah sebuah permulaan yang baik, yang kerap kali memang menerjunkan orang-orang untuk kuliah desain. Dari ‘suka menggambar’, kita dapat mengetahui minat dari seseorang dan juga mengetahui karakteristik visual dari gambar mahasiswa tersebut.

Ketika seseorang suka menggambar secara komprehensif dan detail, mungkin mahasiswa tersebut dapat lebih fokus ketika mengerjakan kewajiban illustrasi. Ketika seseorang suka menggambar secara rutin tanpa level detail yang tinggi, mungkin mahasiswa tersebut dapat lebih maksimal mengerjakan kewajiban animasi 2d ataupun membuat komik. Ketika seseorang suka men’doodle’, mungkin anak itu lebih cocok masuk desain grafis dibandingkan masuk animasi nantinya (terlepas dari klaim anak tersebut).

Suka Lihat Desain

Suka melihat desain juga merupakan hal yang cukup baik, namun perlu sedikit diwaspadai. Karena jawaban ini tidak secara utuh menjelaskan sesiap apa anak tersebut dari segi kemampuan.

Saya suka mendengar lagu, namun hal itu tidak menjadikan saya seorang musisi. Saya suka melihat film, namun bukan berarti saya mau menjadi seorang sutradara atau seorang aktor. Saya suka sekali makan, namun tidak menjadikan saya seorang foodie ataupun seorang chef. 

Suka melihat desain itu sah-sah saja, namun tidak cukup untuk menjadikan seorang ‘visual enthusiast’ menjadi seorang desainer. Ada beberapa hal yang perlu dilalui seorang mahasiswa untuk menjadi seorang desainer, dan tidak semuanya itu ‘menyenangkan untuk dilihat’. Seperti kata rekan kerja saya, “Learning can be fun, but not necessarily have to be fun.”

Tidak Suka XXXX

Jawaban yang paling sering didengar dan terus terang saja jawaban terburuk. hahaha.

Tidak menyukai matematika akan menyulitkan seseorang ketika belajar tipografi ataupun mengerjakan tugas-tugas yang sangat sistematis, seperti majalah, buku, website, aplikasi, ataupun identitas visual.

Tidak menyukai hafalan akan menyulitkan seseorang untuk bekerja, desain atau tidak desain.

Tidak menyukai IPA akan ‘menumpulkan’ pemahaman seorang desainer. Memang desainer bukan seorang scientist, namun berfikir komprehensif dan logis yang merupakan salah satu modal utama yang diberikan di pelajaran-pelajaran IPA juga merupakan modal utama dalam menjadi seorang desainer.

Tidak menyukai IPS adalah hal yang cukup aneh sebenarnya. Desain dan seni sering dianggap sebagai cabang dari ilmu humaniora. Memutuskan untuk kuliah di jurusan humaniora tapi tidak menyukai ilmu sosial agak aneh. Terus terang saja.

Singkatnya, tidak menyukai sesuatu bukanlah basis untuk memilih sesuatu hal yang lain.


Saya rasa itulah keempat kategori jawaban yang saya pribadi kerap kali temukan. Apapun jawaban yang diberikan, sebenarnya sah-sah saja seseorang untuk belajar atau kuliah desain, ataupun menjadi seorang desainer. Namun harapan pribadi saya, ketika memutuskan untuk kuliah, ada baiknya perlu mengetahui secara menyeluruh jurusan yang ingin dipelajari. Hal ini bermaksud untuk mengurangi asumsi-asumsi salah tentang sebuah jurusan.

Setiap kampus dan jurusan tentu memiliki kacamata desain dan pendekatan desainnya masing-masing. Setelah ‘mantap’ dengan kuliah desain, saya rasa ada baiknya untuk mengetahui kampus dan jurusan mana yang cocok dengan ketertarikan orang tersebut. Terlepas dari ungkapan bahwa “design is one“, salah jurusan tetaplah salah jurusan. Tidak jarang mahasiswa DKV pindah ke jurusan produk, atau jurusan arsitek pindah ke interior, dll.

Jadi, setelah tahu mau kuliah desain, cari tahu desain apa, dan cari tahu kampus mana. Terlepas dari contoh saya yang menggunakan istilah-istilah didalam perkuliahan DKV, dan kacamata saya sebagai seorang pengajar DKV di sebuah universitas swasta, saya harap penjelasan saya dapat membantu untuk yang masih belum memutuskan.

Jangan terpersuasi untuk kuliah desain. Kuliah-lah di jurusan yang memang diminati dan cocok dengan natur anda.

Tentang 1162.

Tepat pada tanggal dua Mei ini, adalah hari ‘pertama’ saya terlepas dari gemuruh perkuliahan 1162. Pada kesempatan kali ini saya ingin memberi ruang untuk so called refleksi dan juga evaluasi terhadap apa yang telah saya lakukan baik di kampus dan juga di blog ini.

Sejak Januari 2017. Sukses ditulis dan dipublikasikan 9 artikel. Kalau dirata-ratakan, mungkin 2 artikel setiap bulannya. Berbicara jumlah, mungkin sangat minim dibandingkan blog-blog atau website yang bisa secara intensif menulis setiap hari. Tapi buat saya secara personal, bisa menulis secara konsisten saja sudah merupakan achievement tersendiri.

Tulisan-tulisan mendasar, seperti “apa itu desain”, “apa itu desain komunikasi visual” dan “apa itu desain grafis” menjadi momen ‘favorit’ pribadi saya, karena dalam kesempatan itu, saya dapat mempertegas perspektif saya dan pandangan saya akan dunia saya sendiri. Tulisan mengenai kontribusi desain dan desainer (yang ditulis dalam beberapa format yang berbeda) juga merupakan tema-tema eksploratif yang memang beresonan dengan apa yang saya pelajari (dan ajarkan) di semester ini. Sedangkan tulisan yang sedikit membahas sejarah sangat menyita waktu dan tenaga karena membutuhkan waktu lebih untuk menggali data-data.

Dalam setiap postingan saya di blog ini, saya mengusahakan untuk membuat sebuah grafis untuk judul. Sehingga saya mendapat ‘alasan’ untuk kembali mengulik dan juga mendesain. Walau mungkin tidak selalu menjadi hal yang menyenangkan (karena kalau ide tidak ada, ya ide tidak ada), namun selalu menjadi latihan untuk berusaha menggagas visual ditangah-tengah kemelut semester 1162.

Secara spesifik berbicara di 1162, semester ini mungkin salah satu semester ‘terpadat’ yang pernah saya dapatkan. Secara praktek, saya mendapat tanggung jawab kelas setiap hari (terkecuali hari rabu). Kelas-kelas tersebut, terlepas dari dinamika yang menyenangkan dan menantang setiap pertemuannya, menuntut persiapan tersendiri sebelumnya, yang tidak bisa dilakukan di jam kerja kantor.

Persiapan materi, koordinasi dengan tim pengajar, serta mereview tugas mahasiswa dan paper dari mahasiswa bimbingan sudah menjadi rutinitas selama empat bulan terakhir. Rutinitas yang saya harap tidak dijumpai atau ditemukan di 1163 maupun 1171 (dan semester-semester lain didepannya).

Dalam review sederhana saya sempat berniat meninggalkan kembali lahan tulis ini. Sesederhana karena ada banyak hal yang perlu ditulis, mulai dari blog ini, majalah dari seorang kawan, dokumen-dokumen jurusan, sampai thesis atau tugas kuliah lainnya. Bergumul terus menerus dengan form yang serupa namun konten yang berbeda cukup menguras pikiran.

Namun setelah lebih waras, saya putuskan untuk terus dan tetap berkarya di lahan ini. Bicara praktis, lahan ini membawa kesenangan dan tantangan tersendiri. Dapat menulis bisa dikatakan dapat menuangkan perasaan dan pikiran sekaligus. Mungkin serupa bisa dimanifestasi melalui seni lainnya. Tapi mungkin medium tulis ini menjadi salah satu obat yang cukup ampuh (selain dengan medium seni visual). Jadi kenapa harus dihentikan mengatas namakan kuota?

Tapi kita lihat saja ya sampai kapan.

Warna : RGB & CMYK

Hello. Ini bagian dua dari serangkaian (semoga) postingan yang akan ngebahas mengenai warna. Kalau kemaren gue sempet ngebahas tentang Newton & Goethe dan kontribusi mereka terhadap teori warna, sebelum kita masuk ngebahas teori warna lebih dalem, gue merasa perlu ngomongin tentang jenis warna dulu sebelumnya.


Sebelum masuk ke topik RGB & CMYK, gue mau ngejelasin dua hal dulu sebelumnya, yaitu warna aditif & warna subtraktif.

Warna aditif: Disebut juga warna cahaya, dimana ketika warna ditambah-tambahkan akan menghasilkan warna yang lebih terang. Warna aditif inilah yang sering juga disebut warna RGB, karena memiliki warna primer merah (red), hijau (green) dan biru (blue).

Warna subtraktif: Disebut juga warna cetak, dimana ketika warna ditambah-tambahkan akan menghasilkan warna yang lebih gelap. Warna aditif inilah yang sering juga disebut warna CMYK, karena memiliki warna primer cyan, magenta, kuning (yellow), dan warna kunci (key color) yang merupakan warna hitam.

additive-subtractive-mixing
Warna Aditif & Subtraktif

 

Selain perbedaan sistem itu, apa lagi sih bedanya?

Perbedaannya yang cukup mendasar adalah gamut warnanya. Gamut warna itu ‘batasan’ warna. Gamut warna RGB lebih luas daripada warna CMYK, artinya RGB bisa mencapai warna-warna yang tidak bisa dicapai sama CMYK. Hal inilah yang menyebabkan ketika kita melihat gambar di layar dan hasil cetak umumnya berbeda. Lebih gelap, lebih ‘kependem’, etc.

rods20photographic20glossaryg_clip_image001
Gamut Warna RGB & CMYK

 


 

Nah, cuma gue sekarang memiliki misi khusus juga sebenernya. Pertama gue perlu meluruskan bahwa walaupun CMYK adalah warna cetak, bukan berarti semua warna yang dicetak itu CMYK loh. Ini sedikit nyimpang, tapi ada juga istilah spot color, atau warna khusus. Nah kalau ini gue jelasin lebih lagi sebenernya udah masuk ke ranah kelas MRG (biasanya).

Selain istilah spot color, ada juga beberapa perusahaan yang mencoba mengembangkan sistem warna cetak yang baru, salah satunya print hexachrome. Cetak dengan hexachrome sendiri gue ga tau detailnya gimana, tapi konon, mereka menggunakan enam warna dasar untuk cetaknya, warna cyan, magenta, yellow, key, orange dan hijau. Dengan menambahkan dua warna dasar ini untuk cetak, katanya sih gamut warnanya pun lebih lebar lagi, sehingga bisa menjangkau warna-warna yang sebelumnya nggak bisa didapet dari CMYK.

hex_gamut
Gamut Hexachrome dan CMYK

Berbicara mengenai cetakan juga, kalau di google, ada juga printer LumiJet S200 yang konon bisa cetak dengan model warna RGB. Sehingga ya balik lagi, gamut warnanya lebih luas juga daripada CMYK biasa. Kalau ini sih gue gatau udah ada apa nggak di Indonesia, dan belom pernah liat sendiri hasilnya, beda sama hexachrome tadi.

79fb78d76f4028fb13a8ce228606e3c7_xl
LumiJet S200

Pembahasan warna terakhir, masih dengan memperluas gamut warna, tapi kali ini untuk media layar, dimana TV Sharp Quattron menggunakan sistem warna RGBY. TV ini menambah warna dasar mereka dengan warna kuning untuk bisa mencapai warna-warna yang lebih tajam dan ‘hidup’.

quattron_4-color_pixel_structure
Sistem warna Quattron

Ngomong-ngomongin ini, gue jadi keinget harusnya di mol-mol ada deh TV yang memang udah pake sistem ini di demo. Kalo gue liat sih keren-keren yak, tapi balik lagi nggak tau tu beneran apa nggak. haha.


Ya dan sedikit kembali ke misi pribadi gue, sebenernya sih yang gue pengen omongin adalah : Apakah luas gamut warna itu penting banget? Kalo gue terus terang nggak sebegitunya sih. Karena terus terang gue ngrasa klien, atau kadang gue sendiri, nggak gitu bisa bedain warna secara detail. Jadi ya selama warna yang mestinya merah nggak berubah jadi ungu atau coklat, ya gue sih nggak akan komplain. Karena dari pengalaman gue sendiri kerja di tempat cetak, ngejer warna itu nggak akan ada habisnya. Dari ngomongin viskositas tinta, sampe ngomongin color profile, etc etc. Capek banget.

Buat yang baru belajar tentang cetak-cetak, ada hal yang menurut gue lebih penting daripada gamut warna, yaitu hasil cetak itu sendiri. Gue akan memilih hasil cetak yang tahan lama dibandingkan warna realistis yang nggak tahan lama. Itu baru kalau ngebahas ketahanan warna yak, belum ngomongin kondisi printer. Kalau head printernya nggak bersih, atau lagi ada masalah, kadang ada aja warna-warna yang ga pekat atau ga mrata. Jadi diujung kanan merahnya A, diujung kiri merahnya jadi B. Yaa problem kayak gitu sebenernya lebih obvious daripada warna lu meleset sih. Penyakit begini nih yang gue hindarin banget dalam cetak.

Doh. Kalau ngomongin cetak yah, jadi baper.

Eniwei itu dulu sih pembahasan gue mengenai RGB & CMYK. Gue harap kalian jadi tau tentang istilah warna Aditif & Subtraktif, inget juga kalau dibahas mengenai gamut warna, dan tau gimana harus memposisikan diri ketika lagi nyetak-nyetak.

Sekian dulu buat hari ini. Gue lanjut yang lain dulu. Salam Damai. Have a nice day.

 

Warna: Newton & Goethe

Halo, selamat hari kenaikan Yesus Kristus atau Isa Almasih.

Oke, kembali lagi yak. Hari ini gue akan sedikit ngebahas tentang Newton & Goethe. Nah lho. Mungkin mayoritas akan lebih tahu tentang Newton itu siapa, tapi untuk Goethe mungkin nggak semuanya familiat. Boleh digoogle dulu buat yang gatau, karena gue ga akan bahas mendetail tentang Goethe nya sih.

Nah, Newton & Goethe keduanya merupakan orang-orang yang pernah berbicara tentang warna. Dalam definisi yang cukup ilmiah, warna adalah sifat yang dimiliki sebuah obyek, dimana obyek tersebut memproduksikan berbagai sensasi ke mata sebagai hasil pantulan cahaya. Jadi warna itu berasal dari cahaya, dimana cahaya tersebut turun ke obyek, kemudian dipantulkan, dan kemudian kita lihat melalui mata kita.

color-and-light

Nah, si Newton dan Goethe itu ada sedikit perbedaan pendapat mengenai pantulan cahaya yang masuk ke mata kita. Jadi asal muasalnya Newton menaruh sebuah prisma dideket jendelanya, dan prisma tersebut membiaskan sebuah spektrum warna di temboknya. Newton kemudian mengambil prisma yang mirip dengan prisma pertama, dan memposisikannya dekat spektrum warna itu, sehingga spektrum warna tersebut terbiaskan menjadi ‘cahaya’ lagi.

Prisma-lightSpectrum-goethe.gif

Prisma ini nggak menghasilkan warna, dan nggak ‘mempunyai’ warna juga, alias tembus pandang. Tapi Prisma ini membiaskan cahaya sehingga kita bisa ‘melihat’ warna. Warna yang dihasilkan adalah merah, oren, kuning, hijau, biru dan ungu. Newton kemudian ‘memetakan’ warna-warna tersebut kedalam sebuah lingkaran, dimana warna disusun bertolak belakang dengan warna yang ‘komplementer’. Hal ini dimaksudkan untuk menghasilkan kontras optis dengan menyandangkan sebuah warna dengan warna ‘komplementer’nya. Inilah asal muasal ide mengenai lingkaran warna.

Newton's_color_circle.png

Gambar diatas adalah gambar lingkar warna yang dihasilkan oleh Newton. Kalau kita perhatikan pembagiannya nggak bener-bener sama besarnya, ada perbedaan-perbedaannya. Terus apa hubungannya sama Goethe? Nah si Goethe bilang kalau kasus yang dilihat Newton itu kasus yang khusus. Dalam eksperimen serupa Goethe, dia mendapatkan hasil yang berbeda dengan Newton. Dia membiaskan cahaya ke kertas putih, bukan ke tembok, dan ia mendapat hasil yang berbeda. Goethe kemudian menggeser kertas putih tersebut menjauh dari prismanya. Setelah sampai ke jarak tertentu, maka hasil pembiasan prisma tersebut menjadi seperti apa yang Newton dapatkan.

Goethe kemudian banyak mengadakan eksperimen dan juga penelitian mengenai warna itu sendiri. Goethe juga membuat sebuah lingkaran warna yang sampai sekarang sering digunakan dalam pendidikan dasar seni ataupun desain grafis.

Goethe,_Farbenkreis_zur_Symbolisierung_des_menschlichen_Geistes-_und_Seelenlebens,_1809.jpg

Ada beberapa pembahasan yang cukup ilmiah mengenai eksperimen yang dilakukan Newton dan Goethe, tapi gue sendiri nggak bener-bener menyimak untuk mempelajari keduanya. Yang gue cukup ketahui dan pelajari ya ini, tentang apa sih sumbangan Newton terhadap seni, dan apa sumbangan Goethe terhadap seni. Buat gue, gue nggak mempermasalahkan siapa yang bener ataupun siapa yang lebih hebat. Setiap orang punya kontribusi yang berbeda-beda.

Goethe juga akhirnya menulis buku tentang teori-teori warna. Salah satu hal menarik buat gue adalah, Newton melihat cahaya sebagai karakter atau sifat ilmiah semata, sedangkan Goethe menilai bahwa warna terbentuk juga karena persepsi manusia itu sendiri. Newton melihat lebih ke sensasi, dan Goethe ke persepsi. Itu juga yang akhirnya membuat Goethe sedikit berbicara mengenai asosiasi sebuah warna terhadap sifat-sifat tertentu. Nah ini bisa gue bahas lagi selanjutnya.

51pb9bsp6xl-_sy344_bo1204203200_

Buat sekarang, kayaknya segini dulu aja deh. Sebelumnya gue pernah bahas isu ini di akun youtube gue yang lama. Berikut link videonya kalau yang pengen tau, isinya kurang lebih sama.

Gue berencana buat ngebahas lebeih lagi mengenai warna dalam postingan selanjutnya. Semoga bisa kelakon ya. Untuk sekarang gue undur diri dulu. Ada beberapa tugas ujian yang harus gue lakuin kalau gue mau lulus kuliah yang bener. Sampai nanti lagi ya. Selamat berlibur.

Lokakarya Seni Lintas Media

Di Galeri Nasional, Rabu lalu, tanggal 2 Maret 2016. Iya, saya ikut.haha. Gue ikut sama temen-temen dari jurusan DKV, ada campuran dosen dan mahasiswa jadinya di acara ini. Disini kita ikut dan mendengar banyak banget. Udah denger banyak terus dopet bantak juga dong. Ga coma asal denger doang.

Jadi sebelumnya, acara apa sih ini? Acara ini merupakan salah satu program yang diadakan sebagai bagian dari Pameran ‘Pintu Belakang | Derau Jawa’ oleh Hanafi. Lokakarya ini berisi presentasi dari berbagai narasumber dalam bidangnya masing-masing, dimana mereka menceritakan apa yang mereka kerjakan. That’s it. Tapi disini ada berbagai macam cerita, baik dari segi ekonomi, sosial, politik, seni, budaya, akademik, IT, dll. Banyak sekali. Kepala gue juga agak bingung memilah-milah informasi yang sanggup gue simpan sementara.

20160302_101848.jpg
Salah satu pemateri, Yuka D. Narendra

Apakah ada kesamaan atau benang merah dari obrolan-obrolan ini? Ada sih harusnya. Maksud dari loka karya ini adalah untuk pembahasan dan pengandaian dan memproyeksikan warteg pada tahun 2085 itu gimana sih? Apakah masih relevan? Apa yang masih ada? Apa yang udah punah? Nah, itu sih isi undangan yang gue dikasi tau pas mau hadir ke acara ini, sayangnya gue sendiri nggak ikut acara sampai selesai bener, jadi maaf saya nggak bisa bicara banyak tentang hal itu. Tapi kembali mengenai benang merah obrolan ini, gue ngeliat gimana mereka menggunakan data-data sebagai ‘senjata’ mereka dalam berkarya dalam bidangnya masing-masing. Gimana data membawa validitas dalam setiap isu yang mereka bawa. Salut dan cukup membukakan banget buat gue.

Gue suka gimana data bisa menjadi sebuah opsi tersendiri buat gue. Memang ga semua orang bisa dilawan dengan data, tapi ya gue merasa data bisa dikatakan ‘obyektif’, ‘sah’ atau pun ‘valid’ ketika dipresentasikan pada beberapa pihak. Gue kadang merasa perlu mencari backing-an data ketika harus mempresent karya desain gue, khususnya buat dosen-dosen. Gue ngerasa dengan adanya data, itu ‘menjustifikasi’ pilihan gue dalam mendesain, atau setidaknya, nunjukkin ke mereka gue nggak asal-asal. Dan gue rasa ini memang realita yang terjadi sebenernya di beberapa kampus (atau mungkin semua) dimana ‘data’ membantu ‘latar  belakang’ yang membentuk ‘konsep’ dan melahirkan ‘desain’. Ironis kah? Mungkin, tapi setidaknya data membantu melatih kita buat berhenti, berfikir sebelum terjun gitu aja. Data ngebantu gue ngambil keputusan. Apakah data mendikte pilihan gue? Mungkin, toh gue mengembil sebuah sikap setelah gue melihat atau mempelajari sebuah informasi atau fenomena atau ‘data’ itu tadi.

Ok, kita balik ke acara.

Setelah ada presentasi sendiri dari pemateri yang ada, kita ada ‘acara’ nongkrong di warteg, dimana pada kesempatan itu, kita dibiarin buat cair, buat ngelebur dan nyatu terlepas dari struktur acara yang formal. Kita bisa duduk, makan, ngopi, mungkin sedikit ngebul sambil ngomongin hal apa aja. Sama seperti budaya warteg yang mungkin sekarang udah nggak gitu ada.

Buat gue ndiri, gue di Jakarta or Tangerang nggak pernah nongkrong di warteg, bukannya karena udah punah or nggak ada, tapi simply karena gue nggak pernah terlintas or terpikir aja buat demikian. Gue pernah nongkrong di warteg dulu pas lagi naek gunung. Ya kan ada warteg, terus ya duduk-duduk aja nongkrong n ngebaur sama orang sebelah, lucu juga, sesuatu yang nggak gue lakukan disini, di kota. Tapi hey, itu gue doang kali ya?

Abis ngewarteg, kita balik lagi. Kali ini kita share mengenai isu-isu atau keresahan yang ada. Kali ini nggak ada pemateri khusus, jadi peserta atau yang tadi jadi penonton, boleh ikut ngomong. Yaa disini lebih liar sih daripada sesi materi tadi. Bagus atau nggak, gue nggak tau juga, tapi itulah yang terjadi. Gue nggak bisa nilai dari sisi materi apakah bagus apa nggak, tapi yang gue rasain, gue bisa denger opini orang. Gue bisa denger apa yang jadi ‘keresahan’ atau ‘komplain’ atau ‘uneg-uneg’ dari orang-orang yang sebelum hari itu nggak gue ketahui eksistensinya. Gue emang nggak berdialog, tapi gue bisa mendapat pemikiran mereka. Gue enjoy hal-hal kayak gitu, asal nggak too much aja.

Sekitar jam 2.40, rombongan dari kampus gue mau balik jadi kita keluar lebih awal. Gue nggak tau kelanjutan acaranya gimana. Yang gue tau rencanannya mereka bakal bikin ‘karya’ lalu dipamerkan. Itu aja sih, kalau berjalan sesuai rencana ya harusnya udah pameran juga. Maklum saya jurnalis telatan, acara bubar baru nulis. Haha.

Eniwei mungkin yang ingin gue share dari acara ini adalah satu: Ketika kita bekerja ataupun berkarya untuk hal yang baik, percayalah kita nggak sendiri, ada orang-orang lain, dalam belahan dunia lain, ataupun dalam bidang lain yang juga bekerja dan berkarya untuk kebaikan juga. #optimisme

Jadi gitu aja buat sekarang. Salam, Have a great day.