Mengapa Kuliah Desain?

Lebih spesifiknya kuliah desain komunikasi visual.

Tulisan kali ini berusaha memberikan perspektif saya dari respon atas pertanyaan “Mengapa kuliah desain?”. Pertanyaan yang mungkin ditanyakan secara basa-basi ini adalah pertanyaan yang terkadang memberikan kepada sang penanya gambaran dari pola pikir atau motivasi dari si responden. Serius atau tidak, tentunya jawaban yang diberikan tidak muncul dari kekosongan.


Sebelum sedikit membahas jawabannya, saya ingin menceritakan sedikit mengapa pertanyaan ini kerap saya tanyakan ke mahasiswa ketika sedang berbicara dalam tahap yang lebih personal. Ya, pertanyaan ini bukanlah pertanyaan yang dapat saya berikan secara massal. Pertanyaan ini diberikan ketika beberapa barrier sudah diruntuhkan dulu sebelumnya, ketika mahasiswa sudah ‘cukup’ nyaman untuk mengungkapkan pikirannya kepada saya.

Kuliah bukanlah pilihan yang sepele. Tidak sebatas mengeluarkan biaya saja, namun waktu dan tenaga yang perlu diinvestasikan dalam perkuliahan tentu bukan hal yang sederhana. Kuliah desain di beberapa kampus di ibu kota pun seolah sangat prestis (beberapa waktu yang lalu), namun prestis tersebut tentu disertai tanggung jawab yang tidak asing ditelinga orang-orang, tugas.

Ketika saya bertanya, mengapa memutuskan untuk kuliah desain, hal yang ingin saya ketahui pertama adalah pemahaman awal mahasiswa ketika memutuskan untuk kuliah desain. Ada mahasiswa yang memang sudah mengetahui apa yang akan didapatkan nantinya ketika kuliah desain, sehingga ketika memulai studi mereka, mereka lebih siap. Namun ada juga mahasiswa yang ‘salah’ mengetahui seperti apa itu kuliah desain. Ketika hal ini terjadi, respon pertama saya adalah meluruskan hal-hal yang memang perlu diluruskan. atau menyarankan untuk pindah jurusan.

Hal lain yang ingin saya ketahui adalah bagaimana persiapan atau ketertarikan mereka. Tidak jauh berbeda dari poin pertama, poin kedua ini ingin menggali lebih persiapan mereka dalam kuliah desain. Ketika seseorang ingin kuliah DKV karena ingin bekerja di advertising agency, saya pribadi akan mempush mahasiswa ini nantinya untuk berpikir lebih ‘kreatif’ dan ‘out of the box‘. Ketika seorang anak kuliah DKV karena ingin menjadi seorang web designer, saya akan mempersiapkan anak ini untuk lebih memahami tipografi dan logika-logika dalam mendesain sebuah interface. Ketika seorang anak ingin menjadi illustrator kelak setelah lulus kuliah, maka saya akan dukung dan push anak tersebut untuk lebih illustratif dalam tugas-tugas ‘non ilustrasi’nya.

Mungkin memang tidak semua pertanyaan ‘kenapa kuliah desain?” dilatar belakangi alasan-alasan spesifik seperti yang saya miliki, tapi kira-kira begitulah yang terjadi ketika saya bertanya. Nah, sesuai tujuan utama tulisan ini, berikut adalah beberapa jawaban yang saya sering kali dengar, dan opini saya pribadi merespon jawaban tersebut:

Mau Jadi XXXXXXX

Selama menjadi seseorang yang masih berhubungan langsung dengan keilmuan desain, saya rasa jawaban ini adalah jawaban terbaik (walau perlu dilihat lebih lanjut sejauh mana pengetahuan mahasiswa akan profesi yang ia sebutkan).

Suka Menggambar

Suka menggambar adalah sebuah permulaan yang baik, yang kerap kali memang menerjunkan orang-orang untuk kuliah desain. Dari ‘suka menggambar’, kita dapat mengetahui minat dari seseorang dan juga mengetahui karakteristik visual dari gambar mahasiswa tersebut.

Ketika seseorang suka menggambar secara komprehensif dan detail, mungkin mahasiswa tersebut dapat lebih fokus ketika mengerjakan kewajiban illustrasi. Ketika seseorang suka menggambar secara rutin tanpa level detail yang tinggi, mungkin mahasiswa tersebut dapat lebih maksimal mengerjakan kewajiban animasi 2d ataupun membuat komik. Ketika seseorang suka men’doodle’, mungkin anak itu lebih cocok masuk desain grafis dibandingkan masuk animasi nantinya (terlepas dari klaim anak tersebut).

Suka Lihat Desain

Suka melihat desain juga merupakan hal yang cukup baik, namun perlu sedikit diwaspadai. Karena jawaban ini tidak secara utuh menjelaskan sesiap apa anak tersebut dari segi kemampuan.

Saya suka mendengar lagu, namun hal itu tidak menjadikan saya seorang musisi. Saya suka melihat film, namun bukan berarti saya mau menjadi seorang sutradara atau seorang aktor. Saya suka sekali makan, namun tidak menjadikan saya seorang foodie ataupun seorang chef. 

Suka melihat desain itu sah-sah saja, namun tidak cukup untuk menjadikan seorang ‘visual enthusiast’ menjadi seorang desainer. Ada beberapa hal yang perlu dilalui seorang mahasiswa untuk menjadi seorang desainer, dan tidak semuanya itu ‘menyenangkan untuk dilihat’. Seperti kata rekan kerja saya, “Learning can be fun, but not necessarily have to be fun.”

Tidak Suka XXXX

Jawaban yang paling sering didengar dan terus terang saja jawaban terburuk. hahaha.

Tidak menyukai matematika akan menyulitkan seseorang ketika belajar tipografi ataupun mengerjakan tugas-tugas yang sangat sistematis, seperti majalah, buku, website, aplikasi, ataupun identitas visual.

Tidak menyukai hafalan akan menyulitkan seseorang untuk bekerja, desain atau tidak desain.

Tidak menyukai IPA akan ‘menumpulkan’ pemahaman seorang desainer. Memang desainer bukan seorang scientist, namun berfikir komprehensif dan logis yang merupakan salah satu modal utama yang diberikan di pelajaran-pelajaran IPA juga merupakan modal utama dalam menjadi seorang desainer.

Tidak menyukai IPS adalah hal yang cukup aneh sebenarnya. Desain dan seni sering dianggap sebagai cabang dari ilmu humaniora. Memutuskan untuk kuliah di jurusan humaniora tapi tidak menyukai ilmu sosial agak aneh. Terus terang saja.

Singkatnya, tidak menyukai sesuatu bukanlah basis untuk memilih sesuatu hal yang lain.


Saya rasa itulah keempat kategori jawaban yang saya pribadi kerap kali temukan. Apapun jawaban yang diberikan, sebenarnya sah-sah saja seseorang untuk belajar atau kuliah desain, ataupun menjadi seorang desainer. Namun harapan pribadi saya, ketika memutuskan untuk kuliah, ada baiknya perlu mengetahui secara menyeluruh jurusan yang ingin dipelajari. Hal ini bermaksud untuk mengurangi asumsi-asumsi salah tentang sebuah jurusan.

Setiap kampus dan jurusan tentu memiliki kacamata desain dan pendekatan desainnya masing-masing. Setelah ‘mantap’ dengan kuliah desain, saya rasa ada baiknya untuk mengetahui kampus dan jurusan mana yang cocok dengan ketertarikan orang tersebut. Terlepas dari ungkapan bahwa “design is one“, salah jurusan tetaplah salah jurusan. Tidak jarang mahasiswa DKV pindah ke jurusan produk, atau jurusan arsitek pindah ke interior, dll.

Jadi, setelah tahu mau kuliah desain, cari tahu desain apa, dan cari tahu kampus mana. Terlepas dari contoh saya yang menggunakan istilah-istilah didalam perkuliahan DKV, dan kacamata saya sebagai seorang pengajar DKV di sebuah universitas swasta, saya harap penjelasan saya dapat membantu untuk yang masih belum memutuskan.

Jangan terpersuasi untuk kuliah desain. Kuliah-lah di jurusan yang memang diminati dan cocok dengan natur anda.

Advertisements

Peter Behrens

Terdorong dari tulisan saya sendiri sebelumnya, saya ingin menulis lebih banyak (tapi tidak panjang) mengenai desainer-desainer yang saya sendiri tidak begitu familiar sebelumnya. Harapannya, saya jadi baca lebih lagi dan belajar lebih banyak lagi. Jadi tidak selalu merujuk ke satu desainer saja, tapi bisa lebih banyak nama-nama lain yang turut membangun disiplin dan dunia desain grafis sampai hari ini.

Sosok yang ingin saya bahas pada tulisan kali ini adalah Peter Behrens. Bapak kelahiran Hamburg yang satu ini adalah seorang arsitek dan desainer otodidak. Seorang ‘tokoh’ dari gerakan Jugendstil, atau biasa lebih dikenal dengan nama Art Nouveau.

Tanpa membahas lebih detail ‘kisah’ hidupnya, saya ingin menuliskan dua hal yang saya pelajari dari Behrens dan juga apa yang ia lakukan semasa hidup.


Behrens mendesain Behrens-Antiqua

Jadi salah satu prestasi Behrens menurut saya adalah dengan berhasilnya ia mendesain Behrens-Antiqua. Asal muasal dibuatnya typeface tersebut adalah karena keinginan dari sebuah type foundry, sebuah perusahaan atau penerbit typeface dalam bentuk font, yang ingin Behrens mendesain sebuah typeface yang bisa merepresentasikan Jerman dan juga era 1900an.

Yang dilakukan Behrens cukup diluar dugaan adalah, Behrens mendasari desainnya dengan huruf-huruf romawi, dan bukan huruf gothic. Huruf gothic adalah huruf-hruuf yang secara tradisi digunakan oleh Jerman pada saat itu, sehingga apa yang dilakukan Behrens cukup kontroversial.

6a498921db758e5529477d3ae193e295
Huruf Gothic, atau kadang dikenal dengan sebutan Black Letter.

Hasil awalnya adalah Behrens-Schrift pada tahun 1902, yang memiliki karakteristik kaligrafi walaupun didasari dari huruf romawi. Pengembangan lebih lanjut menghasilkan Behrens-Antiqua pada tahun 1908, sebuah huruf romawi dengan karakteristik Jerman.

d661b251861b9b29501eed9d6df99593
Behrens-Antiqua yang diterbitkan pada tahun 1908 oleh Peter Behrens.
tumblr_nacxubj3er1rpgpe2o3_r1_1280
Behrens-Antiqua didesain untuk type foundry Klingspor.

Behrens & corporate identity mula-mula.

Jika William Addison Dwiggins adalah orang pertama yang disebut sebagai desainer grafis, maka Behrens adalah orang pertama yang membuat corporate identity, atau dalam bahasa lebih pantas, identitas visual untuk sebuah perusahaan. Pada tahun 1907, Behrens diminta untuk menjadi art director untuk perusaahan AEG, sebuah produsen dari generator, kabel, bohlam, lampu, dan keperluan listrik lainnya. Perubahan yang dibawa Behrens adalah menyatukan desain dari AEG, seperti dari poster, iklan ataupun pamflet, sesuatu yang umumnya dilakukan pada hari ini ketika mendesain sebuah identitas visual untuk sebuah perusahaan.

tumblr_nm0u34k54m1r0ca37o1_500
Beberapa desain Behrens untuk AEG
256025859_1203f98521
Karakteristik dari desain-desain Behren untuk AEG: memiliki aksis ditengah yang kuat sekali, simetris dan juga geometris.

Behrens menggunakan kembali typeface yang ia desain, Behrens-Antiqua, untuk desain-desain AEG. Penggunaan secara konsisten dan disiplin membuat desain-desain dari AEG sangat dikenali oleh publik. Puncak dari ‘prestasi’ Behrens terhadap AEG adalah mendesain sebuah logo yang dinilai sangat merepresentasikan AEG dan apa yang mereka lakukan. Desain dari logo tersebut menggunakan heksagon sebagai struktur dan motif utama yang kemudian diterapkan ke desain-desain produk dari AEG.

logo_aeg-behrens-grande
Logo AEG yang didesain oleh Behrens, typeface Behrens-Antiqua digunakan juga didalam logo ini.

Secara makna, heksagon dinilai melambangkan struktur dari sarang lebah, yang dianggap sebagai binatang-binatang pekerja yang gigih dan tangguh, sesuatu yang mencerminkan AEG pada saat itu.


Menariknya dari karya-karya Behrens dan kehidupannya adalah bahwa ia tetap bisa berinovasi dan membuat karya-karya fenomenal walaupun bekerja secara ‘terkekang’ oleh tradisi dan juga kewajiban sebagai ‘inhouse’. Kedua alasan ini terus terang saja sering sekali terdengar ketika ada sebuah desain yang ‘nanggung’ dan tidak maksimal.

Tradisi, baik tradisi keilmuan, industri maupun publik kerap kali dijadikan alasan untuk tidak membuat desain yang berusaha ‘baru’. Memang, tidak ada hal yang baru dibawah kolong langit yang kita tinggali bersama ini, namun saya pribadi percaya kebaharuan muncul dari dalam desainer atau senimannya. Ketika ia berusaha menggagas sesuatu yang ‘lepas’ dari dirinya sendiri, bukan ‘baru’ atau ‘beda’ dengan apa yang ada sekarang.

kebaharuan muncul dari dalam desainer ketika ia berusaha menggagas sesuatu yang ‘lepas’ dari dirinya.

Ketika dihadapi oleh tradisi bahwa Jerman kental dengan huruf-huruf gothic, Behrens menawarkan sesuatu yang berbeda. Huruf romawi yang diberikan ‘sentuhan’ Jerman. Sentuhan dan karakter kaligrafi Jerman tersebut memang tidak muncul begitu saja, ataupun diada-adakan. Karakteristik itu ditemukan Behren karena memang ia kenal betul tulisan-tulisan Jerman itu seperti apa. Memang butuh usaha lebih untuk bisa mengidentifikasi hal tersebut dan mengaplikasikannya pada tulisan romawi, tapi Behren berhasil juga.

Perusahaan ataupun klien juga kerap kali dijadikan alasan dari ‘penumpul’ kreativitas. Alasan seperti preferensi, waktu, ataupun budget seolah menkerangkeng desain untuk menjadi sesuatu yang jelek. Memang secara personal saya belum pernah mendapati diri dalam kasus-kasus ekstrim, tapi bekerja untuk klien yang memiliki budget rendah dan waktu cekak pernah saya alami. Tentu sangat melelahkan dan sangat menggiurkan untuk ‘menyalahkan klien’, tapi ada baiknya kita melihat diri sendiri dahulu: apakah memang betul salah klien seorang diri?


Oke, tanpa terasa word count sudah sampai 700an, sepertinya saya kebablasan kalau sudah dalam mode kontemplatif atau reflektif, jadi biar ndak dicap ‘keterlaluan’ atau ‘keterusan’, lebih baik tulisannya disudahi disini. Presiden pertama Indonesia, Soekarno pernah berkata JAS MERAH: Jangan Sekali-kali Melupakan Sejarah. Dari sejarah-lah kita bisa belajar untuk membuat sejarah.


Bacaan lebih lanjut:

aeg.com

behrens-peter.com

Pioneers of Modern Graphic Design: A Complete History oleh Jeremy Aynsley.

Apa itu Desain Grafis.

Tulisan ini ‘menutup’ gambaran saya mengenai keilmuan yang tengah saya geluti belakangan.

Pada postingan pertama yang membahas desain secara umum, saya coba menjelaskan mengapa desain bukanlah hal yang eksklusif. Desain bukan sesuatu yang membutuhkan prasyarat tekhnis atau sense yang langsung membuat dikotomi antara ‘desainer’ dan bukan ‘desainer’.

Pada postingan selanjutnya, sedikit menyempitkan pembicaraan desain pada tahap desain komunikasi visual, atau DKV. DKV adalah keilmuan yang memberi saya latar dari gelar saya. DKV membuka ruang bagi seorang desainer untuk dinilai bukan dari benda yang dihasilkan, namun melalui keilmuan yang digelutinya. Memang, seorang praktisi DKV membuat poster, membuat logo, membuat majalah, namun keilmuan dibelakangnya dapat menjadi pembahasan beralinea jika kesempatan tersebut muncul.

Pada postingan ini, postingan terakhir dalam ‘trilogi’ apa itu desain saya, saya akan membahas secara spesifik bagian kecil dari keilmuan saya (dan juga keilmuan yang tengah saya geluti dalam pekerjaan saya). Sedikit berbeda dengan tulisan sebelumnya, tulisan kali ini adalah adaptasi materi perkuliahan yang saya berikan dalam mata kuliah Studio.


Umumnya dalam membuka perbincangan, saya suka sedikit menanyakan kembali arti dari kata-kata yang umumnya digunakan. Karena dalam postingan sebelum-sebelumnya, saya sudah sempat membahas : apa itu desain, maka saya bisa langsung membahas apa itu grafis. Karena menurut saya, kata ‘grafis’ ini juga sangat berlebihan penggunaannya, dan sangat cetek sekali pemahamannya.

“Desain grafis itu yang desain logo kan?”

betul. Tapi saya rasa hal tersebut tidak menjawab apa itu ‘grafis’.

“Grafis itu yang Photoshop itu kan?”

Cukup Sudah.

***

Dalam usaha menjawab definisi sebuah kata, dalam kasus kali ini : grafis, saya suka kembali menengok kepada kamus. Atau kalau tidak puas, bisa melihat etimologi kata tersebut. Grafis sendiri berasal dari kata graphe, yang berarti tulisan atau gambaran. Melihat kedua ‘barang’ yang muncul dari arti kata graphe, maka kita bisa melihat lebih lanjut apa yang menjadi bagian dari ‘grafis’ itu sendiri.

Tulisan dan gambaran ketika dicacah kembali kepada komponen-komponen yang lebih kecil berisikan kumpulan abjad-abjad atau aksara (type) dan juga gambar (image). Dan menengok apa yang saya kerjakan dalam praktek keseharian seorang ‘desainer grafis’, maka saya melihat bahwa sepertinya ada kecocokan antara apa yang memang dilakukan dengan akar kata itu sendiri.

Desain grafis,

adalah sebuah desain menggunakan gambar dan huruf.

Mengapa pemahaman ini sangatlah penting? Karena kembali lagi, hal ini memberikan batasan-batasan tentang apa yang dapat dikerjakan desainer namun juga membuka horizon-horizon baru mengenai apa yang memang dapat dilakukan (atau seharusnya dilakukan).

Ketika kita sudah mengetahui apa yang dikerjakan, lalu apa yang dibuat? Nah ini dia yang bisa panjang sekali, dan umumnya benda-benda itu menjadi nama mata kuliah dalam program studi DKV. Benda hasil proses desainnya dapat berupa logo, majalah, poster, website, brosur, buku, spanduk, kemasan, rambu-rambu, atau tampilan apapun yang memiliki gambar dan aksara. Berhenti sejenak dan lihat apa yang ada di sekitar anda. Apa sih yang kira-kira tidak (harusnya) didesain seorang desainer grafis atau benda apa sih yang tidak di’bubuhi’ oleh karya seorang desainer grafis?

GSK Proposal Identity Design
Garuda Solusi Kreatif, Designed by Brian Alvin Hananto

Sedikit mejeng. gambar diatas adalah salah satu ‘gawean’ saya pada tahun 2014 ketika masih lugu dan agak dunggu dalam mendesain. Tapi inilah salah satu pekerjaan desain grafis yang telah saya lakukan.

Sedikit bercerita mengenai apa yang ada disana, gambar tersebut adalah sebuah desain yang saya lakukan untuk sebuah perusahaan bernama Garuda Solusi Kreatif pada tahun 2014. Barang yang ditampilkan diatas : Salah satu halaman proposal. Dalam proposal itu, kita dapat melihat contoh anggaran, timeframe, dan juga proposal instalasi hardware yang digambarkan dengan diagram (yang didesain tentunya).

Proposal mungkin bukan sebuah barang yang ‘asik’ untuk didesain, namun hal itu tidak berarti hal tersebut tidak bisa didesain lebih baik. Kalau ditanya: “mengapa harus didesain dengan baik?”, maka jawaban pertama saya: “mengapa tidak?”, dan jawaban kedua saya, jawaban yang lebih serius: “Karena desain grafis adalah bagian dari desain komunikasi visual, dan apa yang saya kerjakan tujuannya adalah untuk kepentingan komunikasi visual itu sendiri.”

Desain, terlepas dari kepentingan-kepentingan eksternal, memiliki tujuan sendiri atas keilmuan dan prakteknya. Desain komunikasi visual memiliki tanggung jawab untuk membuat proses komunikasi secara visual lebih ‘baik’ (dan demi mempersingkat tulisan, mari kita sepakati baik adalah efektif & efisien untuk kali ini). Desain grafis, adalah perpanjangan atau wujud yang lebih nyata dari desain komunikasi visual itu sendiri.

Dalam proposal diatas, terdapat informasi-informasi yang mungkin dapat lebih cepat dan lebih baik dipahami ketika disampaikan tidak hanya menggunakan tulisan. Mungkin dengan dirangkai dalam sebuah tabel? Diberikan diagram atau ikon-ikon untuk memberi ‘wujud’ dalam istilah atau kata-kata yang tidak dikenali sebelumnya (seperti istilah-istilah hardware yang ada dalam proposal tersebut). Mengapa perlu didesain dengan baik?

Meminjam wejangan dari Dieter Rams,

“Good design is invisible”

Karena ketika desain itu sendiri dilakukan dengan tidak baik, maka akan ada konsekuensi-konsekuensi yang dirasakan. Sederhana dan untuk melabeli istilah-istilah tersebut, ada yang mengatakan “norak”, ada yang mengatakan “lebai”, dengan deskripsi lebih formal, mungkin ketika desainnya terlalu kontras, maka akan menganggu visibilitas dan kenyamanan dalam membaca (atau jadi tidak terbaca). Selain itu fokus (yang dapat diciptakan dengan mendesain menggunakan hirarki) dapat membantu agar desain itu lebih efektif dan efisien.

Jadi jangan heran kalau ada wejangan Dieter Rams tadi.


Saya rasa untuk menutup tulisan ini ada baiknya untuk mengungkapkan komitmen-komitmen yang cukup realistis. Tiga postingan terakhir: ‘Apa itu Desain’, ‘Apa itu Desain Komunikasi Visual’ & ‘Apa itu Desain Grafis’ mampu mengeluarkan perspektif saya yang mungkin tidak atau belum diterima orang-orang pada umumnya (atau orang-orang tersebut tidak sadar bahwa ada perspektif dan tidak peduli akan perspektif yang ada). Selain mencoba memberikan definisi dan pemahaman, dalam beberapa tulisan tersebut saya coba untuk mempropagandakan nilai-nilai lain yang ada dalam desain.

Ketiga tulisan ini sedikit banyak mengajak saya untuk kembali melihat keilmuan saya, dan dunia yang ada didepan saya sekarang. Saya harap kedepannya apa yang saya tulis dapat menjadi peringatan untuk diri saya sendiri, khususnya ketika tekanan dan tuntutan kepentingan eksternal (yang non desain) mulai membebani saya dalam mendesain.

Sekian untuk tema kali ini. Kita lihat apa yang ada didepan kita nanti.

 

Apa itu Desain Komunikasi Visual.

Melanjuti tulisan sebelumnya: Apa itu Desain, kali ini saya akan sedikit menuliskan perspektif saya dalam keilmuan S1 saya, yaitu Desain Komunikasi Visual atau DKV.

Pada kampus tempat saya memperoleh gelar S1 saya saja, DKV sudah ada sejak tahun 1994. Bisa dilihat bahwa program studi ini berdiri cukup lama, sehingga kerap kali ada pertanyaan apakah perlu dibahas kembali topik seputar DKV. Mengapa tidak secara spesifik membahas keilmuan ‘baru’, seperti , ‘digital design’, animasi, ataupun sinematografi. Pertanyaan perlu atau tidak selalu dijawab dengan sederhana: mengapa tidak perlu?

Apakah tidak perlu membahas sebuah keilmuan yang ‘tidak’ terikat pada obyek atau medium, seperti desain komunikasi visual?  Apakah tidak perlu membahas sebuah keilmuan yang pada praktiknya sangat primordial, bukan ‘tua’, tapi sudah ada sejak awal mula peradaban? Apakah tidak perlu membahas sebuah keilmuan yang output dari keilmuannya digunakan dan dinikmati setiap hari oleh setiap manusia di dunia (kecuali yang tidak bisa melihat pastinya). Atau apakah tidak perlu membahas sebuah keilmuan yang melahirkan banyak keilmuan lain?

Kalau kita memikirkan kembali, saya rasa akan ada banyak alasan untuk dapat menjelaskan mengapa perlu membicarakan kembali mengenai apa itu desain komunikasi visual. Namun perlu disadari juga bahwa untuk menjaga koridor dan tidak membuat postingan yang terlalu panjang, maka saya akan mencoba menguraikan apa itu DKV tanpa menyentuh terlalu banyak urusan tekhnis, filosofis, historis maupun kegunaan. Hanya membahas apa itu DKV.


Desain Komunikasi Visual. Istilah ini sendiri terdiri atas tiga kata yang berbeda, yaitu ‘desain’, ‘komunikasi’, dan ‘visual’. Sebelum berusaha menyimpulkan definisi dari istilah desain komunikasi visual, ada baiknya kita melihat ketiga kata tersebut secara terpisah.

Desain

Dalam tulisan ini, saya membatasi pemahaman desain sebagai sebuah perencanaan. Untuk uraian lebih panjang, dapat anda lihat disini.

Visual

Meminjam definisi dari kbbi.web.id, visual berarti sesuatu yang dapat dilihat dengan indra penglihat. Hal ini memberikan ruang yang sangat luas namun sekaligus sempit, ketika kita membahas tentang apa itu DKV. Adanya kata visual membuat diskusi mengenai apa yang termasuk dalam obyek DKV dapat dibatasi melalui indera pengelihatan. Apa yang bisa dilihat, maka hal itu dapat termasuk dalam obyek DKV.

Namun hal ini sering kali mengundang kontra khususnya dari pihak yang berinteraksi dengan hal-hal non visual, seperti film dan animasi. Sering kali, yang dipermasalahkan adalah pembahasan diluar visual, salah satunya masalah audio. Ada pandangan bahwa dalam membuat film yang baik, perlu disertai dengan audio yang baik juga. Sampai pada tahap ini, saya setuju sekali bahwa dalam membuat sebuah film yang baik tentunya diperlukan pemanfaatan audio seperti sound effect dan scoring yang baik. Namun hal ini tidak berarti bagian audio adalah sesuatu yang perlu dikerjakan dalam keilmuan DKV.

Mengapa demikian? Sederhananya, karena ada keilmuan yang lain untuk mengakomodir pembelajaran mengenai hal tersebut, seperti program studi sound design. Kelak ketika sudah dalam ‘industri’ apakah seorang lulusan DKV akan mengurus audio itu sih sah-sah saja, walau saya percaya ada baiknya untuk urusan tersebut, umumnya akan lebih baik ketika diurus seorang sound designer atau musisi. Seseorang yang memang belajar dan dilatih dalam keilmuan tersebut.

Komunikasi

Dengan situs yang sama, komunikasi berarti sebuah pengiriman dan penerimaan pesan atau berita antara dua orang atau lebih sehingga pesan yang dimaksud dapat dipahami ; hubungan ; kontak. (Definisi ini tentunya dapat dibahas dan diurai lebih mendalam dan lebih detail, namun untuk kepentingan tulisan ini, maka saya akan mengikuti pembahasan ini sepenuhnya.)

Hal yang saya sedang saya lakukan (menulis atau mengetik) adalah usaha saya untuk berkomunikasi dengan anda, dimanapun anda dimana. Secara sederhana terdapat tiga aspek dalam sebuah komunikasi, yaitu komunikator (pihak yang melakukan komunikasi), pesan (isi dari komunikasi tersebut), dan juga komunikan (pihak yang menerima komunikasi). Tentunya komunikator dan komunikan dapat bertukar tempat dengan cepat sesuai dengan berjalannya proses komunikasi itu sendiri.

Maksudnya? Saya akan coba jelaskan dengan contoh non visual. Bayangkan anda sedang berbicara pada pasangan anda. Anda mengungkapkan isi pikiran (atau hati) anda kepada pasangan anda yang mengingkari janjinya kepada anda. Setelah anda berbicara panjang lebar, pasangan anda hanya merespon dengan menghela nafas panjang.

Dalam kejadian tadi, anda dan pasangan anda berubah posisi dengan sangat organik. Komunikasi yang terjadi disini antara anda dan pasangan anda (berupa pengeluaran uneg-uneg anda), dan respon pasangan anda terhadap anda (menghela nafas panjang). Tindakan menghela nafas ini, sengaja atau tidak sengaja, dapat menjadi sebuah komunikasi ketika hal itu ditandai dan dipahami memiliki sebuah pesan (lelah atau kesal).

Desain Komunikasi Visual

Sebetulnya setelah melihat ketiga arti kata yang membentuk ‘desain komunikasi visual’, saya rasa cukup sederhana. DKV adalah sebuah perencanaan untuk berkomunikasi secara visual. Artinya?

Artinya desainer DKV bekerja dalam membuat sebuah proses komunikasi dengan visual. Kenapa perlu didesain? Tentunya agar pesan yang ingin disampaikan dapat disampaikan dengan baik, dapat dipahami dengan tepat dan kalau bisa, seefisien mungkin (khususnya ketika terdapat limitasi-limitasi). Lalu bagaimana cara berkomunikasi secara visual? Salah satu contohnya adalah dengan contoh pertama yang saya sampaikan. Dengan tulisan atau pun dengan gambar, atau dalam obyek-obyek yang bisa dipahami secara visual.


Apakah hal ini menunjukan bahwa pekerjaan seorang praktisi DKV ‘cuma gitu-gitu aja?’ Dalam kesempatan ini saya rasa tulisan saya memberikan jawaban atas pertanyaan itu. Setidaknya jawaban saya pribadi (yang mungkin dapat dibahas lebih lanjut dalam tulisan-tulisan lain). Mungkin pertanyaan ini dapat dijawab oleh rekan-rekan sejawat yang memang berkecimpung di ‘industri DKV’ ataupun sesama ‘akademisi DKV’.

Apa memang DKV cuma gitu-gitu aja?

Edan

Halo setelah sebulan lebih saya undur diri, sekarang saya kembali. Entah gue juga nggak paham tapi sebulan kemaren ada aja hal-hal unik yang ngebuat gue nggak bisa fokus. Tapi yasudalah, gue juga manfaatkan periode itu buat istirahat dan buat ngasi jeda aja, jadi bulan ini saya akan kembali menulis. Terus terang aja bulan ini banyak peer, dan ya cukup memusingkan juga, tapi menarik dan juga agak tertantang. Ya kita liat aja bisa ampe gimana gue bulan ini.

Sedikit mengenai apa yang terjadi seputar gue. Pertama, periode 1152 sudah selesai, dan sekarang lagi persiapan memasuki periode 1153. Artinya, gue bakal dapet kelas baru lagi semester depan. Harusnya gue update CV gua yah, soalnya jumlah kelas yang gue pegang kan udah bertambah juga. *Senang*. 1153 berat sih, dan dalam periode waktu yang nggak bersahabat juga. Tapi ya seorang pelajar harus bisa belajar gimanapun juga, karena hakekatnya adalah untuk menangkap dan juga mencerna terlepas apapun situasinya.

Ya terus terang gue sendiri juga udah sempet ke skip dan melupakan prinsip tersebut. Gue sempet beberapa kali down dan agak lose hope dengan kelas-kelas gue, tapi ya gue coba inget kembali apa aja yang udah gue terima, dan gimana sih gue sendiri dulu. Memang gue nggak dalam situasi yang serupa dengan mereka, tapi gue sadar dulu gue pernah menjadi mereka, menjadi orang-orang yang buta dan butuh bantuan. Gue sekarang udah lewatin itu, walau belum sepenuhnya juga. Sekarang gue harus bisa nuntun juga, nggak cuma dituntun.

Bulan ini juga gue abis ngerampungin beberapa proyek. Nggak banyak, dan nggak extravagan juga, tapi it’s done. Sampai pada titik proyek gue udah ada yang rampung aja sebenernya udah sebuah pencapaian sih. Pencapaian dimana gue berhasil bertahan ataupun sukses berinovasi. Di setiap proyek yang gue lewatin pasti ada hal-hal baru yang gue pelajari. Karena menurut gue, nggak ada proyek yang sia-sia, dan nggak ada pelajaran yang nggak bermanfaat. Mungkin gue belum liat manfaatnya sekarang, tapi gue belajar untuk percaya bahwa kelak akan ada manfaatnya juga, seberapa kecil ataupun signifikan proyek tersebut terhadap karir gue.

Oh, dan bulan ini gue juga sampai ke sebuah konklusi. Ceileh. Gue sampai pada pendirian bahwa gue nggak cocok dan nggak bisa bikin proyek iseng atau random gitu aja. Gue nggak bisa kejar form dengan buta gitu. Ketika gue eksperimen, gue tetep butuh yang namanya pemahaman akan didalam dan disekitar. Gue butuh konten dan juga konteks, tapi ya gitu, gue agak hipster, jadi gue coba urungkan penggunaan kata tersebut. Kemaren-kemaren gue mau coba ‘bebas’ bikin sesuatu, dan astaga susah banget. Gue selalu stuck dengan memikirkan apa tema yang pas, dan bukan bentuk apa yang harus gue kejer. Dah salah fokus dan abis tenaga dari awal gitu deh, capek. Mungkin gejala ini sebenernya udah ada dari dulu. Gue paling bingung kalo udah dibilang bebas tuh. Bebas dalam artian bikin karya apa aja bebas. Bingung abis. Gue suka banget dihajar sama brief, atau dikasih tema minimal. Ngebantu gue banget sih. Mungkin hal ini juga yang melatar-belakangin obrolan gue sebelumnya.

Ah minggu ini gue pengen nonton Captain America Civil War. Nanti kalo udah nonton, gue pasti ngobrol lagi di blog ini. Entah kenapa gue demen juga ngulas ‘sensasi’ apa yang gue dapet selama nonton. Dimana hal itu biasanya menjadi alesan utama gue bisa apresiasi sebuah film. Maklum yak, saya bukan anak film atau sinematografi. Saya cuma demen nonton dan sangat ekspresif menggambarkan isi kepala gue, sesuatu yang mungkin emang nggak mudah gue lakukan di kehidupan nyata. Jadi ya gitu deh, pelarian nih blog. Haha.

Eniwei gue nggak akan lama lagi. Masih ada beberapa hal yang harus gue kejer buat besok. Diantaranya gue harap bisa share dalam waktu dekat.

Maret 2016

Nggak kerasa udah mau sebulan sejak blog ini pertama kali gue bikin. Yaa persiapan sih udah dari sebelumnya, tapi emang sih baru bener-bener bisa kebentuknya belakangan ini. Berhubung besok agenda agak padat, jadi gue mau evaluasi kerjaan gue sendiri bulan ini sekarang. Haha.

Dalam bulan ini gue bikin 12 postingan, ini yang ketiga belas. Dan dalam postingan itu kalo gue liat sendiri, gue ngebahas tentang film lima kali. Well ga semua ngomong tentang filmnya sih, kalau yang Zootopia gue ngebahasnya lebih ke aspek desain yang gue liat dan sedikit materi-materi desain (Movie Review, Anatomi Huruf, Hirarki Desain), nah tapi contohnya secara spesifik si Zootopia itu. Kalau Film Batman V Superman sama Mad Max: Fury Road gue lebih ngomongin tentang refleksi diri dari apa yang gue dapet di film itu. Terus gue ikut 2 pameran, dimana keduanya gue liput sebisa gue di blog ini juga (HT -Shift & Lokakarya Lintas Media). Gue juga sempet ngomongin tentang McD dan desain kemasannya. Terakhir gue ada sempet ngeluarin uneg-uneg pemikiran gue tentang Belajar Dihambat, Coba-Coba dan Typografi & Pasangan Hidup. Banyak juga ya. Dari insight yang dikasi sama wordpress, gue belajar bahwa post gue yang paling ramai (kalau boleh disebut kayak gitu), ada di Batman V Superman. Kayaknya sih gara-gara lagi trend kekinian aja. haha. Gue harap postingan gue bisa lebih ramai dan mulai ada interaksi juga buat bulan depan. Amin.

Selain dari postingan, gue sempet ngulik dikit wordpress gue. Ngganti theme dan juga desain yang gue pengen. Nggak banyak, tapi gue lakukan. Disini gue ngerasa gue masih perlu banyak belajar ngulik wordpress. Yaaa buat mbikin struktur blog yang lebih bagus lagi. Maklum, gue nggak piawai dalam HTML dan CSS. Gimana yang lain. haha.

Terlepas dari kegiatan di blog, di beberapa minggu ini gue ada kesempatan buat ngedesain lagi, buat ngulik-ngulik lagi. Mungkin belom semua bisa gue update di portfolio (atau bahkan disini) karena ya emang gue sendiri masih keteteran ngupdate di behance ataupun kreavi gue. Tapi will do my best. Kalo ngelirik HD gue, gue masih ada beberapa kerjaan typografi, poster, editorial dan juga digital yang belom gue masukin. Ada yang iseng, ada yang client work, ada yang experimental. Eh, sama aja ya iseng dan experimental?

Nah abis ngeliat ini dan itu timbul dong pertanyaan gue selanjutnya. Dalam April 2016 gue mau ngapain aja sih? Nah ini nih yang membingungkan karena gue sendiri belum tau mau ngapain. Cuma kalo ngeliat to do list gue. Paling utama ya gue mau nulis lebih konsisten tentang apa yang ada di dunia gue. Kalo sekarang sih desain dan sedikit film. Selain itu, mungkin gue bakal coba posting karya fiksi. Nah, ini nih yang agak serem juga. Karena pada dasarnya kan gue bukan penulis fiksi (Ya penulis normal aja juga belom.) tapi gue sendiri kadang kesambet sama ide-ide yang emang sayang kalo nggak gue tuangin jadi ya mungkin akan ada dalam bulan April 2016.

Kayaknya begitu dulu deh sekarang. Gue mau persiapan dulu buat kelas. Sampai nanti lagi ya, sampai nanti bulan April maksudnya. Salam, jangan sampai masuk angin.

Selamat Malam!

Akhirnya matahari tebenam dan akhirnya gue mulai menulis lagi. Kali ini gue nggak bisa janji banyak, tapi kali ini gue bakal berusaha. Udah itu aja sih sebenernya.

Lalu katanya, nggak kenal maka nggak sayang. Kalau nggak sayang nanti nggak follow. jadi sekarang kita kenalan dulu. Tentang penulis, tentang bea. Minta maaf sebelumnya saya tidak menawakan beasiswa, nama blog saya adalah identitas saya: yakni nama dan juga status saya. Sudah itu saja. Sedikit tentang gue selama ini, gue pelajar desain, dan mendapat kepercayaan buat bisa bekerja dalam lingkup desain yang (saat ini) gue suka. Gue juga suka nulis, dan gue pengen nulis. Jadilah seperti ini.

Sekarang penulis sedang mempelajari macam-macam hal, makannya agak amburadul isi kepalanya, tapi semoga yang diketik dalam blog ini tidak se amburadul ini. Penulis punya mimpi: punya penerbitan dan punya studio desain, makannya penulis melakukan keduanya secara sekaligus sekarang ini. Penulis sedang dalam fase mengumpulkan ‘serpihan’ jejak penulis yang tersebar. Semoga bisa dikumpulkan dan juga dirapikan dengan baik. Penulis menyesal, menyesal telah menyebar-nyebar hal yang belum pantes disebar. Jadi di maafkan ya.

Beberapa serpihan yang masih ‘terlacak’ dan agak aktif dan bisa dinikmati apabila dikehendaki:

3484123-53bd2ba87ce84
monogram pribadi saya.

Iya gue tau, agak berantakan, agak overlapping, dan agak nggak keurus.  Gue punya problem serius dalam hal tersebut. Ada beberapa alesan pribadi kenapa gue gagal, dan mungkin jadi refleksi pribadi juga:

Pertama, gue impulsif. Ababil kalau anak-anak jaman sekarang (masih nggak sih?). Gue bukannya bosenan, tapi suka kehilangan prioritas. Ketika gue belajar A, gue bakal lakuin A, ketika gue tiba-tiba belajar B, gue bakal lakuin B, tar kalo ada A, ya ngerjain A lagi. Sesimpel itu sebenernya. Tapi berakibat fatal. Dhuar.Kedua, gue nggak mikir panjang. Kayak sekarang, gue nulis pertama kedua ketiga tapi nggak gue pikirin emang apaan. Gue cuma mikir, gue pada dasarnya impulsif, main hajar aja gitu, kalo udah terjadi baru dipikirkan, kayak sekarang. Terus mau nggak mau ya improvisasi aja jadinya. haha.Ketiga, ada momen-momen gue males. Kayak tadi nomer dua. Gue males apus aja makannya gue pikir lanjut aja, toh ada kuota yang emang gue kejer dalam ngetik, jadi ya mari kita lanjutkan sebisanya. Hitung-hitung manjangin naskah. Maaf dan terima kasih.

Gue pengen bisa compile atau minimal sortir semua gawean gue. Butuh waktu, jadi tolong sabar. Gue juga dalam proses merapikan kerjaan dalam backup-an gue buat masuk ke internet (dan juga sini). Harapan gue: Ini bisa jadi tempat nulis, belajar sedikit html, dan juga tempat ngeluarin uneg-uneg gue , dan juga sedikit unjuk karya dan monolog diri. Gue buat blog ini juga untuk melatih diri, atau bisa dikatakan doa pribadi aja, berharap akan ada suatu fase yang lebih baik, ada arah yang lebih terlihat dan juga desain yang lebih baik untuk gue. Please oh please.

Dalam blog ini gue coba meminimalisir afiliasi gue sekarang. Ada beberapa kelompok / grup / perusahaan yang terhubung sama gue, mungkin kerjaannya akan gue publish disini (disamarkan ataupun tidak) tapi gue ngelakuin ini bukan dengan harapan (walau nggak nolak) mendapat atensi maupun apresiasi dari mereka.

Kayaknya buat sekarang segitu dulu deh. Jadi kembali lagi, salam kenal. Gue biasa dipanggil bea, gue siswa desain. Selamat datang di blog saya. Have a nice day.