Apa itu : Information Design

Dalam upaya memperluas perspektif (saya dan juga anda), maka saya akan sedikit merangkai apa yang selama ini saya dapat dan pelajari (dan juga bawakan) mengenai information design atau kalau bahasa lokal saya : desain informasi. Tadinya mau disingkat jadi DI atau ID, tapi singkatannya agak rancu, jadi biar ndak tertukar dengan jurusan sebelah ada baiknya saya tidak singkat-singkat.

Mulai masuk kedalam topik mengenai desain informasi, sebenarnya pembahasan ini sudah bukan hal yang baru. Information Design mulai meramai dibicarakan seiring ‘ngetrend’nya pembahasan mengenai UI & UX. Hal itu disebabkan karena sedikit banyak mereka memiliki relasi. Information Design merupakan salah satu komponen didalam desain UX, makannya obrolannya cukup rame (walau mungkin masih banyak terdapat miskonsepsi mengenai UI & UX itu sendiri *lirik teman kuliah*)

Nah tapi kenapa masuk dalam pembahasan di blog saya? Ya karena sedikit banyak tiga istilah tadi ada urusannya sama desain, termasuk desain grafis.


Mengulang dan meminjam apa yang sebelumnya saya kemukakan : Desain Grafis adalah desain menggunakan gambar dan huruf. Jadi ketika ‘barang’ dari UI&UX serta information design  itu berupa sesuatu yang memiliki gambar dan huruf, ya boleh lah ya saya ulas sedikit.

Tapi apakah yang termasuk dalam information design itu desain-desain digital seperti website? Nah, disini saya berani berkata tidak. Sebelumnya mari kita tengok sedikit apa yang dimaksudkan dengan information design dari Society for Technical Communication.

“… the translating [of] complex, unorganized, or unstructured data into valuable, meaningful information.”

Cukup sederhana dan mendasar ya sebenarnya. Information design adalah kegiatan atau proses desain yang menyederhanakan data yang kompleks menjadi informasi yang berarti. Namun definisi ini tidak serta merta mengatakan data yang kompleks dan tidak terorganisir itu adalah data yang tidak bermakna ya.

Saya pribadi melihat ‘bermakna’ disini muncul ketika seseorang yang tadinya ‘malas’ melihat data tersebut kemudian terajak untuk melihat sebuah informasi yang telah ditata secara baik. Kemudahan yang ditawarkan dengan information design yang baik mampu membuat seseorang yang tidak tertarik akan data itu (tidak memiliki makna), menjadi sadar dan akhirnya data itu akan memiliki makna karena dikonsumsi atau dipahami.

Selanjutnya mari sedikit membahas ‘alat’ untuk information design itu. Disini yang akan saya tawarkan adalah desain grafis. Karena saya melihat kegunaan desain grafis dalam information design sangat efektif dan juga efisien. Pada akhirnya informasi disampaikan secara verbal maupun tidak verbal. Ketika tidak tersampaikan dengan verbal, maka apa lagi cara untuk memberikan informasi kalau tidak secara graphe?

Ketika kita sepakat bahwa tujuan information design adalah menyederhanakan data dengan (cara) desain grafis, selanjutnya yang perlu saya tekankan adalah produk atau barang yang dihasilkan atau merupakan wujud dari information design. Disinilah mulai menarik, karena salah satu tujuan atau kepentingan dari desain grafis adalah memberikan informasi, maka bisa dikatakan ‘output’ dari information design sangat banyak dan dekat dengan obyek hasil desain grafis. Mulai dari brosur, poster, website, tampilan aplikasi, buku, majalah, signage, dan benda-benda desain grafis lain yang belum sempat saya pikirkan.

information design-03.jpg
Ceritanya membuat diagram, yang tentunya merupakan output desain grafis dengan kepentingan informatif jikalau anda buru-buru dan tidak membaca tulisan diatas.

Begitulah kira-kira perspektif saya berdasarkan pengalaman praktis saya yang cukup praktis dan pengalaman teoritis yang nyatanya tidak hanya teori.

Berusaha menutup dan menyimpulkan postingan kali ini, mungkin saya ingin secara literal dan eksplisit mengajak pembaca, untuk melihat apakah desain grafis memang cuma ‘gitu-gitu’ aja? Karena setelah melewati beragam interaksi yang saya alami selama di ruang akademik, saya melihat bahwa banyak kemungkinan-kemungkinan yang terbaca namun tidak ditindak lanjuti. Oleh karena itu obrolan-obrolan kecil itu saya bawa dalam obrolan yang sedikit lebih luas, yaitu secara online.

Memang, desain grafis tidak akan menaikan indeks saham perusahaan anda, atau tidak akan menyembuhkan AIDS maupun kanker. Tapi mungkin perlu sedikit diperhatikan bahwa ‘medium’ melacak pergerakan nilai saham anda maupun dalam urusan-urusan medis, ada manifestasi desain grafis juga. Memang, tidak disebut dan tidak perlu disembah-sembah juga, tapi ketahui saja, ada loh orang-orang (seperti saya) yang ingin hidup anda lebih nyaman dengan menata informasi yang anda butuhkan dengan lebih baik.

Selamat mengakses informasi lebih lanjut. 😉

Advertisements

Apa itu Desain Grafis.

Tulisan ini ‘menutup’ gambaran saya mengenai keilmuan yang tengah saya geluti belakangan.

Pada postingan pertama yang membahas desain secara umum, saya coba menjelaskan mengapa desain bukanlah hal yang eksklusif. Desain bukan sesuatu yang membutuhkan prasyarat tekhnis atau sense yang langsung membuat dikotomi antara ‘desainer’ dan bukan ‘desainer’.

Pada postingan selanjutnya, sedikit menyempitkan pembicaraan desain pada tahap desain komunikasi visual, atau DKV. DKV adalah keilmuan yang memberi saya latar dari gelar saya. DKV membuka ruang bagi seorang desainer untuk dinilai bukan dari benda yang dihasilkan, namun melalui keilmuan yang digelutinya. Memang, seorang praktisi DKV membuat poster, membuat logo, membuat majalah, namun keilmuan dibelakangnya dapat menjadi pembahasan beralinea jika kesempatan tersebut muncul.

Pada postingan ini, postingan terakhir dalam ‘trilogi’ apa itu desain saya, saya akan membahas secara spesifik bagian kecil dari keilmuan saya (dan juga keilmuan yang tengah saya geluti dalam pekerjaan saya). Sedikit berbeda dengan tulisan sebelumnya, tulisan kali ini adalah adaptasi materi perkuliahan yang saya berikan dalam mata kuliah Studio.


Umumnya dalam membuka perbincangan, saya suka sedikit menanyakan kembali arti dari kata-kata yang umumnya digunakan. Karena dalam postingan sebelum-sebelumnya, saya sudah sempat membahas : apa itu desain, maka saya bisa langsung membahas apa itu grafis. Karena menurut saya, kata ‘grafis’ ini juga sangat berlebihan penggunaannya, dan sangat cetek sekali pemahamannya.

“Desain grafis itu yang desain logo kan?”

betul. Tapi saya rasa hal tersebut tidak menjawab apa itu ‘grafis’.

“Grafis itu yang Photoshop itu kan?”

Cukup Sudah.

***

Dalam usaha menjawab definisi sebuah kata, dalam kasus kali ini : grafis, saya suka kembali menengok kepada kamus. Atau kalau tidak puas, bisa melihat etimologi kata tersebut. Grafis sendiri berasal dari kata graphe, yang berarti tulisan atau gambaran. Melihat kedua ‘barang’ yang muncul dari arti kata graphe, maka kita bisa melihat lebih lanjut apa yang menjadi bagian dari ‘grafis’ itu sendiri.

Tulisan dan gambaran ketika dicacah kembali kepada komponen-komponen yang lebih kecil berisikan kumpulan abjad-abjad atau aksara (type) dan juga gambar (image). Dan menengok apa yang saya kerjakan dalam praktek keseharian seorang ‘desainer grafis’, maka saya melihat bahwa sepertinya ada kecocokan antara apa yang memang dilakukan dengan akar kata itu sendiri.

Desain grafis,

adalah sebuah desain menggunakan gambar dan huruf.

Mengapa pemahaman ini sangatlah penting? Karena kembali lagi, hal ini memberikan batasan-batasan tentang apa yang dapat dikerjakan desainer namun juga membuka horizon-horizon baru mengenai apa yang memang dapat dilakukan (atau seharusnya dilakukan).

Ketika kita sudah mengetahui apa yang dikerjakan, lalu apa yang dibuat? Nah ini dia yang bisa panjang sekali, dan umumnya benda-benda itu menjadi nama mata kuliah dalam program studi DKV. Benda hasil proses desainnya dapat berupa logo, majalah, poster, website, brosur, buku, spanduk, kemasan, rambu-rambu, atau tampilan apapun yang memiliki gambar dan aksara. Berhenti sejenak dan lihat apa yang ada di sekitar anda. Apa sih yang kira-kira tidak (harusnya) didesain seorang desainer grafis atau benda apa sih yang tidak di’bubuhi’ oleh karya seorang desainer grafis?

GSK Proposal Identity Design
Garuda Solusi Kreatif, Designed by Brian Alvin Hananto

Sedikit mejeng. gambar diatas adalah salah satu ‘gawean’ saya pada tahun 2014 ketika masih lugu dan agak dunggu dalam mendesain. Tapi inilah salah satu pekerjaan desain grafis yang telah saya lakukan.

Sedikit bercerita mengenai apa yang ada disana, gambar tersebut adalah sebuah desain yang saya lakukan untuk sebuah perusahaan bernama Garuda Solusi Kreatif pada tahun 2014. Barang yang ditampilkan diatas : Salah satu halaman proposal. Dalam proposal itu, kita dapat melihat contoh anggaran, timeframe, dan juga proposal instalasi hardware yang digambarkan dengan diagram (yang didesain tentunya).

Proposal mungkin bukan sebuah barang yang ‘asik’ untuk didesain, namun hal itu tidak berarti hal tersebut tidak bisa didesain lebih baik. Kalau ditanya: “mengapa harus didesain dengan baik?”, maka jawaban pertama saya: “mengapa tidak?”, dan jawaban kedua saya, jawaban yang lebih serius: “Karena desain grafis adalah bagian dari desain komunikasi visual, dan apa yang saya kerjakan tujuannya adalah untuk kepentingan komunikasi visual itu sendiri.”

Desain, terlepas dari kepentingan-kepentingan eksternal, memiliki tujuan sendiri atas keilmuan dan prakteknya. Desain komunikasi visual memiliki tanggung jawab untuk membuat proses komunikasi secara visual lebih ‘baik’ (dan demi mempersingkat tulisan, mari kita sepakati baik adalah efektif & efisien untuk kali ini). Desain grafis, adalah perpanjangan atau wujud yang lebih nyata dari desain komunikasi visual itu sendiri.

Dalam proposal diatas, terdapat informasi-informasi yang mungkin dapat lebih cepat dan lebih baik dipahami ketika disampaikan tidak hanya menggunakan tulisan. Mungkin dengan dirangkai dalam sebuah tabel? Diberikan diagram atau ikon-ikon untuk memberi ‘wujud’ dalam istilah atau kata-kata yang tidak dikenali sebelumnya (seperti istilah-istilah hardware yang ada dalam proposal tersebut). Mengapa perlu didesain dengan baik?

Meminjam wejangan dari Dieter Rams,

“Good design is invisible”

Karena ketika desain itu sendiri dilakukan dengan tidak baik, maka akan ada konsekuensi-konsekuensi yang dirasakan. Sederhana dan untuk melabeli istilah-istilah tersebut, ada yang mengatakan “norak”, ada yang mengatakan “lebai”, dengan deskripsi lebih formal, mungkin ketika desainnya terlalu kontras, maka akan menganggu visibilitas dan kenyamanan dalam membaca (atau jadi tidak terbaca). Selain itu fokus (yang dapat diciptakan dengan mendesain menggunakan hirarki) dapat membantu agar desain itu lebih efektif dan efisien.

Jadi jangan heran kalau ada wejangan Dieter Rams tadi.


Saya rasa untuk menutup tulisan ini ada baiknya untuk mengungkapkan komitmen-komitmen yang cukup realistis. Tiga postingan terakhir: ‘Apa itu Desain’, ‘Apa itu Desain Komunikasi Visual’ & ‘Apa itu Desain Grafis’ mampu mengeluarkan perspektif saya yang mungkin tidak atau belum diterima orang-orang pada umumnya (atau orang-orang tersebut tidak sadar bahwa ada perspektif dan tidak peduli akan perspektif yang ada). Selain mencoba memberikan definisi dan pemahaman, dalam beberapa tulisan tersebut saya coba untuk mempropagandakan nilai-nilai lain yang ada dalam desain.

Ketiga tulisan ini sedikit banyak mengajak saya untuk kembali melihat keilmuan saya, dan dunia yang ada didepan saya sekarang. Saya harap kedepannya apa yang saya tulis dapat menjadi peringatan untuk diri saya sendiri, khususnya ketika tekanan dan tuntutan kepentingan eksternal (yang non desain) mulai membebani saya dalam mendesain.

Sekian untuk tema kali ini. Kita lihat apa yang ada didepan kita nanti.

 

Apa itu Desain Komunikasi Visual.

Melanjuti tulisan sebelumnya: Apa itu Desain, kali ini saya akan sedikit menuliskan perspektif saya dalam keilmuan S1 saya, yaitu Desain Komunikasi Visual atau DKV.

Pada kampus tempat saya memperoleh gelar S1 saya saja, DKV sudah ada sejak tahun 1994. Bisa dilihat bahwa program studi ini berdiri cukup lama, sehingga kerap kali ada pertanyaan apakah perlu dibahas kembali topik seputar DKV. Mengapa tidak secara spesifik membahas keilmuan ‘baru’, seperti , ‘digital design’, animasi, ataupun sinematografi. Pertanyaan perlu atau tidak selalu dijawab dengan sederhana: mengapa tidak perlu?

Apakah tidak perlu membahas sebuah keilmuan yang ‘tidak’ terikat pada obyek atau medium, seperti desain komunikasi visual?  Apakah tidak perlu membahas sebuah keilmuan yang pada praktiknya sangat primordial, bukan ‘tua’, tapi sudah ada sejak awal mula peradaban? Apakah tidak perlu membahas sebuah keilmuan yang output dari keilmuannya digunakan dan dinikmati setiap hari oleh setiap manusia di dunia (kecuali yang tidak bisa melihat pastinya). Atau apakah tidak perlu membahas sebuah keilmuan yang melahirkan banyak keilmuan lain?

Kalau kita memikirkan kembali, saya rasa akan ada banyak alasan untuk dapat menjelaskan mengapa perlu membicarakan kembali mengenai apa itu desain komunikasi visual. Namun perlu disadari juga bahwa untuk menjaga koridor dan tidak membuat postingan yang terlalu panjang, maka saya akan mencoba menguraikan apa itu DKV tanpa menyentuh terlalu banyak urusan tekhnis, filosofis, historis maupun kegunaan. Hanya membahas apa itu DKV.


Desain Komunikasi Visual. Istilah ini sendiri terdiri atas tiga kata yang berbeda, yaitu ‘desain’, ‘komunikasi’, dan ‘visual’. Sebelum berusaha menyimpulkan definisi dari istilah desain komunikasi visual, ada baiknya kita melihat ketiga kata tersebut secara terpisah.

Desain

Dalam tulisan ini, saya membatasi pemahaman desain sebagai sebuah perencanaan. Untuk uraian lebih panjang, dapat anda lihat disini.

Visual

Meminjam definisi dari kbbi.web.id, visual berarti sesuatu yang dapat dilihat dengan indra penglihat. Hal ini memberikan ruang yang sangat luas namun sekaligus sempit, ketika kita membahas tentang apa itu DKV. Adanya kata visual membuat diskusi mengenai apa yang termasuk dalam obyek DKV dapat dibatasi melalui indera pengelihatan. Apa yang bisa dilihat, maka hal itu dapat termasuk dalam obyek DKV.

Namun hal ini sering kali mengundang kontra khususnya dari pihak yang berinteraksi dengan hal-hal non visual, seperti film dan animasi. Sering kali, yang dipermasalahkan adalah pembahasan diluar visual, salah satunya masalah audio. Ada pandangan bahwa dalam membuat film yang baik, perlu disertai dengan audio yang baik juga. Sampai pada tahap ini, saya setuju sekali bahwa dalam membuat sebuah film yang baik tentunya diperlukan pemanfaatan audio seperti sound effect dan scoring yang baik. Namun hal ini tidak berarti bagian audio adalah sesuatu yang perlu dikerjakan dalam keilmuan DKV.

Mengapa demikian? Sederhananya, karena ada keilmuan yang lain untuk mengakomodir pembelajaran mengenai hal tersebut, seperti program studi sound design. Kelak ketika sudah dalam ‘industri’ apakah seorang lulusan DKV akan mengurus audio itu sih sah-sah saja, walau saya percaya ada baiknya untuk urusan tersebut, umumnya akan lebih baik ketika diurus seorang sound designer atau musisi. Seseorang yang memang belajar dan dilatih dalam keilmuan tersebut.

Komunikasi

Dengan situs yang sama, komunikasi berarti sebuah pengiriman dan penerimaan pesan atau berita antara dua orang atau lebih sehingga pesan yang dimaksud dapat dipahami ; hubungan ; kontak. (Definisi ini tentunya dapat dibahas dan diurai lebih mendalam dan lebih detail, namun untuk kepentingan tulisan ini, maka saya akan mengikuti pembahasan ini sepenuhnya.)

Hal yang saya sedang saya lakukan (menulis atau mengetik) adalah usaha saya untuk berkomunikasi dengan anda, dimanapun anda dimana. Secara sederhana terdapat tiga aspek dalam sebuah komunikasi, yaitu komunikator (pihak yang melakukan komunikasi), pesan (isi dari komunikasi tersebut), dan juga komunikan (pihak yang menerima komunikasi). Tentunya komunikator dan komunikan dapat bertukar tempat dengan cepat sesuai dengan berjalannya proses komunikasi itu sendiri.

Maksudnya? Saya akan coba jelaskan dengan contoh non visual. Bayangkan anda sedang berbicara pada pasangan anda. Anda mengungkapkan isi pikiran (atau hati) anda kepada pasangan anda yang mengingkari janjinya kepada anda. Setelah anda berbicara panjang lebar, pasangan anda hanya merespon dengan menghela nafas panjang.

Dalam kejadian tadi, anda dan pasangan anda berubah posisi dengan sangat organik. Komunikasi yang terjadi disini antara anda dan pasangan anda (berupa pengeluaran uneg-uneg anda), dan respon pasangan anda terhadap anda (menghela nafas panjang). Tindakan menghela nafas ini, sengaja atau tidak sengaja, dapat menjadi sebuah komunikasi ketika hal itu ditandai dan dipahami memiliki sebuah pesan (lelah atau kesal).

Desain Komunikasi Visual

Sebetulnya setelah melihat ketiga arti kata yang membentuk ‘desain komunikasi visual’, saya rasa cukup sederhana. DKV adalah sebuah perencanaan untuk berkomunikasi secara visual. Artinya?

Artinya desainer DKV bekerja dalam membuat sebuah proses komunikasi dengan visual. Kenapa perlu didesain? Tentunya agar pesan yang ingin disampaikan dapat disampaikan dengan baik, dapat dipahami dengan tepat dan kalau bisa, seefisien mungkin (khususnya ketika terdapat limitasi-limitasi). Lalu bagaimana cara berkomunikasi secara visual? Salah satu contohnya adalah dengan contoh pertama yang saya sampaikan. Dengan tulisan atau pun dengan gambar, atau dalam obyek-obyek yang bisa dipahami secara visual.


Apakah hal ini menunjukan bahwa pekerjaan seorang praktisi DKV ‘cuma gitu-gitu aja?’ Dalam kesempatan ini saya rasa tulisan saya memberikan jawaban atas pertanyaan itu. Setidaknya jawaban saya pribadi (yang mungkin dapat dibahas lebih lanjut dalam tulisan-tulisan lain). Mungkin pertanyaan ini dapat dijawab oleh rekan-rekan sejawat yang memang berkecimpung di ‘industri DKV’ ataupun sesama ‘akademisi DKV’.

Apa memang DKV cuma gitu-gitu aja?

Melihat kembali: Apa itu Desain.

Yeah, sepertinya saya selalu mengawali setiap tulisan dengan rasa penyesalan dan introspeksi dibandingkan gagasan ataupun tema untuk menulis. Karena memang komitmen adalah hal yang sulit sekali untuk ditepati atau dituruti.

Tanpa beralasan dan membuang kata, mari terjun ke pokok pembicaraan kali ini:


Judul yang saya harap cukup sederhana dan tidak asing, khususnya yang berhasil mengakses blog saya beasiswadesain (nama saya bea, saya siswa desain). Saya akan memberikan sebuah kalimat, yang seharusnya sebuah kutipan (hanya saja saya tidak ingat siapa yang mengatakan hal tersebut sebelumnya, akan saya edit kalau sudah ingat atau ketemu), yang menurut saya cukup menjelaskan apa itu desain:

A designer’s job is to design a design for a design.

Di kalimat tersebut ada empat kata design, yang saya rasa dapat menunjukan beberapa pandangan tentang desain.

  1. “A designer‘s …”, desainer adalah pelaku desain. Sosok dibelakang sebuah desain.
  2. “… job is to design …”, desain sebagai kata kerja, sebagai tindakan merancang. Ketika berbicara mengenai tindakan, kita berbicara sebuah kegiatan, suatu hal yang berjalan dan juga aktif.
  3. “… a design …”, kali ini kata desain diposisikan sebagai kata benda, yang dimaksud disini adalah perencanaan. Sering diasosiasikan dengan blue print, atau skema, ataupun ide.
  4. “… for a design.”, kata terakhir dari desain juga sebuah kata benda, namun berbeda dengan kata ketiga yang berarti rencana, kata desain disini berbicara mengenai hasil dari rencana tersebut, atau sebuah obyek konkret hasil sang desainer.

Keempat posisi kata desain berbicara mengenai bagaimana kata desain itu dapat berfungsi dengan luas, jadi wajar saja kata itu sering diucapkan ataupun didengar.

Saya suka sebal ketika ada orang-orang yang sebal mendengar orang lain menggunakan kata desain. Alasannya cukup masuk akal, mereka merasa bagian dari mereka (entah pekerjaan, atau paham mereka) diucapkan dengan ‘seenaknya’, seolah tidak memiliki arti atau nilai yang tinggi. Nah, justru saya sebal dengan orang seperti ini.

Kenapa? Karena menurut saya memang desain itu kata yang umum, dan kata ‘desain’ itu sendiri menurut saya tidak memiliki nilai yang signifikan. Desain, ketika dipahami sebagai sebuah tindakan merancang, sangatlah umum dan tentunya dilakukan oleh semua orang. Jadi saya rasa tidak ada alasan untuk membuat ‘desain’ menjadi sebuah terminologi yang eksklusif.

Ketika saya perlu ‘menjual’ keilmuan saya, saya selalu menjelaskan dengan cara seperti ini. Maksud saya adalah untuk mematahkan asumsi-asumsi bahwa desain adalah sebuah kegiatan atau pekerjaan yang membutuhkan banyak prasyarat. Saya rasa satu-satunya syarat untuk ‘melakukan’ desain adalah memiliki kapasitas berfikir, atau otak yang fungsional.

Lalu bagaimana dengan keahlian menggambar? Nah itu pembicaraan dalam desain grafis ataupun desain komunikasi visual. Banyak kok desain-desain yang tidak perlu kemampuan menggambar, seperti sound design, game design, application design atau hal-hal dengan kata desain yang belum saya jumpai.

Bahkan desain juga dapat dilakukan terlepas dari pembahasan profesi. Seperti ketika bangun pagi, saya memutuskan untuk pergi ke kantor. Ketika saya memutuskan untuk pergi ke kantor, saya membuat rancangan-rancangan atau desain. Saya mendesain apa yang akan saya kenakan, apakah saya akan mengenakan seragam saya sepenuhnya, apakah saya akan ‘bandel’ dan tidak pakai seragam, apakah saya akan memakai dasi atau asesoris, sepatu apa yang akan saya gunakan, dll.

Balik lagi, ini opini dan paradigma saya sendiri. Untuk hal ini, saya cukup terbuka untuk dialog, tapi dialognya jangan baper. haha.

Apa saja yang anda desain hari ini?

Warna : RGB & CMYK

Hello. Ini bagian dua dari serangkaian (semoga) postingan yang akan ngebahas mengenai warna. Kalau kemaren gue sempet ngebahas tentang Newton & Goethe dan kontribusi mereka terhadap teori warna, sebelum kita masuk ngebahas teori warna lebih dalem, gue merasa perlu ngomongin tentang jenis warna dulu sebelumnya.


Sebelum masuk ke topik RGB & CMYK, gue mau ngejelasin dua hal dulu sebelumnya, yaitu warna aditif & warna subtraktif.

Warna aditif: Disebut juga warna cahaya, dimana ketika warna ditambah-tambahkan akan menghasilkan warna yang lebih terang. Warna aditif inilah yang sering juga disebut warna RGB, karena memiliki warna primer merah (red), hijau (green) dan biru (blue).

Warna subtraktif: Disebut juga warna cetak, dimana ketika warna ditambah-tambahkan akan menghasilkan warna yang lebih gelap. Warna aditif inilah yang sering juga disebut warna CMYK, karena memiliki warna primer cyan, magenta, kuning (yellow), dan warna kunci (key color) yang merupakan warna hitam.

additive-subtractive-mixing
Warna Aditif & Subtraktif

 

Selain perbedaan sistem itu, apa lagi sih bedanya?

Perbedaannya yang cukup mendasar adalah gamut warnanya. Gamut warna itu ‘batasan’ warna. Gamut warna RGB lebih luas daripada warna CMYK, artinya RGB bisa mencapai warna-warna yang tidak bisa dicapai sama CMYK. Hal inilah yang menyebabkan ketika kita melihat gambar di layar dan hasil cetak umumnya berbeda. Lebih gelap, lebih ‘kependem’, etc.

rods20photographic20glossaryg_clip_image001
Gamut Warna RGB & CMYK

 


 

Nah, cuma gue sekarang memiliki misi khusus juga sebenernya. Pertama gue perlu meluruskan bahwa walaupun CMYK adalah warna cetak, bukan berarti semua warna yang dicetak itu CMYK loh. Ini sedikit nyimpang, tapi ada juga istilah spot color, atau warna khusus. Nah kalau ini gue jelasin lebih lagi sebenernya udah masuk ke ranah kelas MRG (biasanya).

Selain istilah spot color, ada juga beberapa perusahaan yang mencoba mengembangkan sistem warna cetak yang baru, salah satunya print hexachrome. Cetak dengan hexachrome sendiri gue ga tau detailnya gimana, tapi konon, mereka menggunakan enam warna dasar untuk cetaknya, warna cyan, magenta, yellow, key, orange dan hijau. Dengan menambahkan dua warna dasar ini untuk cetak, katanya sih gamut warnanya pun lebih lebar lagi, sehingga bisa menjangkau warna-warna yang sebelumnya nggak bisa didapet dari CMYK.

hex_gamut
Gamut Hexachrome dan CMYK

Berbicara mengenai cetakan juga, kalau di google, ada juga printer LumiJet S200 yang konon bisa cetak dengan model warna RGB. Sehingga ya balik lagi, gamut warnanya lebih luas juga daripada CMYK biasa. Kalau ini sih gue gatau udah ada apa nggak di Indonesia, dan belom pernah liat sendiri hasilnya, beda sama hexachrome tadi.

79fb78d76f4028fb13a8ce228606e3c7_xl
LumiJet S200

Pembahasan warna terakhir, masih dengan memperluas gamut warna, tapi kali ini untuk media layar, dimana TV Sharp Quattron menggunakan sistem warna RGBY. TV ini menambah warna dasar mereka dengan warna kuning untuk bisa mencapai warna-warna yang lebih tajam dan ‘hidup’.

quattron_4-color_pixel_structure
Sistem warna Quattron

Ngomong-ngomongin ini, gue jadi keinget harusnya di mol-mol ada deh TV yang memang udah pake sistem ini di demo. Kalo gue liat sih keren-keren yak, tapi balik lagi nggak tau tu beneran apa nggak. haha.


Ya dan sedikit kembali ke misi pribadi gue, sebenernya sih yang gue pengen omongin adalah : Apakah luas gamut warna itu penting banget? Kalo gue terus terang nggak sebegitunya sih. Karena terus terang gue ngrasa klien, atau kadang gue sendiri, nggak gitu bisa bedain warna secara detail. Jadi ya selama warna yang mestinya merah nggak berubah jadi ungu atau coklat, ya gue sih nggak akan komplain. Karena dari pengalaman gue sendiri kerja di tempat cetak, ngejer warna itu nggak akan ada habisnya. Dari ngomongin viskositas tinta, sampe ngomongin color profile, etc etc. Capek banget.

Buat yang baru belajar tentang cetak-cetak, ada hal yang menurut gue lebih penting daripada gamut warna, yaitu hasil cetak itu sendiri. Gue akan memilih hasil cetak yang tahan lama dibandingkan warna realistis yang nggak tahan lama. Itu baru kalau ngebahas ketahanan warna yak, belum ngomongin kondisi printer. Kalau head printernya nggak bersih, atau lagi ada masalah, kadang ada aja warna-warna yang ga pekat atau ga mrata. Jadi diujung kanan merahnya A, diujung kiri merahnya jadi B. Yaa problem kayak gitu sebenernya lebih obvious daripada warna lu meleset sih. Penyakit begini nih yang gue hindarin banget dalam cetak.

Doh. Kalau ngomongin cetak yah, jadi baper.

Eniwei itu dulu sih pembahasan gue mengenai RGB & CMYK. Gue harap kalian jadi tau tentang istilah warna Aditif & Subtraktif, inget juga kalau dibahas mengenai gamut warna, dan tau gimana harus memposisikan diri ketika lagi nyetak-nyetak.

Sekian dulu buat hari ini. Gue lanjut yang lain dulu. Salam Damai. Have a nice day.

 

Warna: Newton & Goethe

Halo, selamat hari kenaikan Yesus Kristus atau Isa Almasih.

Oke, kembali lagi yak. Hari ini gue akan sedikit ngebahas tentang Newton & Goethe. Nah lho. Mungkin mayoritas akan lebih tahu tentang Newton itu siapa, tapi untuk Goethe mungkin nggak semuanya familiat. Boleh digoogle dulu buat yang gatau, karena gue ga akan bahas mendetail tentang Goethe nya sih.

Nah, Newton & Goethe keduanya merupakan orang-orang yang pernah berbicara tentang warna. Dalam definisi yang cukup ilmiah, warna adalah sifat yang dimiliki sebuah obyek, dimana obyek tersebut memproduksikan berbagai sensasi ke mata sebagai hasil pantulan cahaya. Jadi warna itu berasal dari cahaya, dimana cahaya tersebut turun ke obyek, kemudian dipantulkan, dan kemudian kita lihat melalui mata kita.

color-and-light

Nah, si Newton dan Goethe itu ada sedikit perbedaan pendapat mengenai pantulan cahaya yang masuk ke mata kita. Jadi asal muasalnya Newton menaruh sebuah prisma dideket jendelanya, dan prisma tersebut membiaskan sebuah spektrum warna di temboknya. Newton kemudian mengambil prisma yang mirip dengan prisma pertama, dan memposisikannya dekat spektrum warna itu, sehingga spektrum warna tersebut terbiaskan menjadi ‘cahaya’ lagi.

Prisma-lightSpectrum-goethe.gif

Prisma ini nggak menghasilkan warna, dan nggak ‘mempunyai’ warna juga, alias tembus pandang. Tapi Prisma ini membiaskan cahaya sehingga kita bisa ‘melihat’ warna. Warna yang dihasilkan adalah merah, oren, kuning, hijau, biru dan ungu. Newton kemudian ‘memetakan’ warna-warna tersebut kedalam sebuah lingkaran, dimana warna disusun bertolak belakang dengan warna yang ‘komplementer’. Hal ini dimaksudkan untuk menghasilkan kontras optis dengan menyandangkan sebuah warna dengan warna ‘komplementer’nya. Inilah asal muasal ide mengenai lingkaran warna.

Newton's_color_circle.png

Gambar diatas adalah gambar lingkar warna yang dihasilkan oleh Newton. Kalau kita perhatikan pembagiannya nggak bener-bener sama besarnya, ada perbedaan-perbedaannya. Terus apa hubungannya sama Goethe? Nah si Goethe bilang kalau kasus yang dilihat Newton itu kasus yang khusus. Dalam eksperimen serupa Goethe, dia mendapatkan hasil yang berbeda dengan Newton. Dia membiaskan cahaya ke kertas putih, bukan ke tembok, dan ia mendapat hasil yang berbeda. Goethe kemudian menggeser kertas putih tersebut menjauh dari prismanya. Setelah sampai ke jarak tertentu, maka hasil pembiasan prisma tersebut menjadi seperti apa yang Newton dapatkan.

Goethe kemudian banyak mengadakan eksperimen dan juga penelitian mengenai warna itu sendiri. Goethe juga membuat sebuah lingkaran warna yang sampai sekarang sering digunakan dalam pendidikan dasar seni ataupun desain grafis.

Goethe,_Farbenkreis_zur_Symbolisierung_des_menschlichen_Geistes-_und_Seelenlebens,_1809.jpg

Ada beberapa pembahasan yang cukup ilmiah mengenai eksperimen yang dilakukan Newton dan Goethe, tapi gue sendiri nggak bener-bener menyimak untuk mempelajari keduanya. Yang gue cukup ketahui dan pelajari ya ini, tentang apa sih sumbangan Newton terhadap seni, dan apa sumbangan Goethe terhadap seni. Buat gue, gue nggak mempermasalahkan siapa yang bener ataupun siapa yang lebih hebat. Setiap orang punya kontribusi yang berbeda-beda.

Goethe juga akhirnya menulis buku tentang teori-teori warna. Salah satu hal menarik buat gue adalah, Newton melihat cahaya sebagai karakter atau sifat ilmiah semata, sedangkan Goethe menilai bahwa warna terbentuk juga karena persepsi manusia itu sendiri. Newton melihat lebih ke sensasi, dan Goethe ke persepsi. Itu juga yang akhirnya membuat Goethe sedikit berbicara mengenai asosiasi sebuah warna terhadap sifat-sifat tertentu. Nah ini bisa gue bahas lagi selanjutnya.

51pb9bsp6xl-_sy344_bo1204203200_

Buat sekarang, kayaknya segini dulu aja deh. Sebelumnya gue pernah bahas isu ini di akun youtube gue yang lama. Berikut link videonya kalau yang pengen tau, isinya kurang lebih sama.

Gue berencana buat ngebahas lebeih lagi mengenai warna dalam postingan selanjutnya. Semoga bisa kelakon ya. Untuk sekarang gue undur diri dulu. Ada beberapa tugas ujian yang harus gue lakuin kalau gue mau lulus kuliah yang bener. Sampai nanti lagi ya. Selamat berlibur.

Edan

Halo setelah sebulan lebih saya undur diri, sekarang saya kembali. Entah gue juga nggak paham tapi sebulan kemaren ada aja hal-hal unik yang ngebuat gue nggak bisa fokus. Tapi yasudalah, gue juga manfaatkan periode itu buat istirahat dan buat ngasi jeda aja, jadi bulan ini saya akan kembali menulis. Terus terang aja bulan ini banyak peer, dan ya cukup memusingkan juga, tapi menarik dan juga agak tertantang. Ya kita liat aja bisa ampe gimana gue bulan ini.

Sedikit mengenai apa yang terjadi seputar gue. Pertama, periode 1152 sudah selesai, dan sekarang lagi persiapan memasuki periode 1153. Artinya, gue bakal dapet kelas baru lagi semester depan. Harusnya gue update CV gua yah, soalnya jumlah kelas yang gue pegang kan udah bertambah juga. *Senang*. 1153 berat sih, dan dalam periode waktu yang nggak bersahabat juga. Tapi ya seorang pelajar harus bisa belajar gimanapun juga, karena hakekatnya adalah untuk menangkap dan juga mencerna terlepas apapun situasinya.

Ya terus terang gue sendiri juga udah sempet ke skip dan melupakan prinsip tersebut. Gue sempet beberapa kali down dan agak lose hope dengan kelas-kelas gue, tapi ya gue coba inget kembali apa aja yang udah gue terima, dan gimana sih gue sendiri dulu. Memang gue nggak dalam situasi yang serupa dengan mereka, tapi gue sadar dulu gue pernah menjadi mereka, menjadi orang-orang yang buta dan butuh bantuan. Gue sekarang udah lewatin itu, walau belum sepenuhnya juga. Sekarang gue harus bisa nuntun juga, nggak cuma dituntun.

Bulan ini juga gue abis ngerampungin beberapa proyek. Nggak banyak, dan nggak extravagan juga, tapi it’s done. Sampai pada titik proyek gue udah ada yang rampung aja sebenernya udah sebuah pencapaian sih. Pencapaian dimana gue berhasil bertahan ataupun sukses berinovasi. Di setiap proyek yang gue lewatin pasti ada hal-hal baru yang gue pelajari. Karena menurut gue, nggak ada proyek yang sia-sia, dan nggak ada pelajaran yang nggak bermanfaat. Mungkin gue belum liat manfaatnya sekarang, tapi gue belajar untuk percaya bahwa kelak akan ada manfaatnya juga, seberapa kecil ataupun signifikan proyek tersebut terhadap karir gue.

Oh, dan bulan ini gue juga sampai ke sebuah konklusi. Ceileh. Gue sampai pada pendirian bahwa gue nggak cocok dan nggak bisa bikin proyek iseng atau random gitu aja. Gue nggak bisa kejar form dengan buta gitu. Ketika gue eksperimen, gue tetep butuh yang namanya pemahaman akan didalam dan disekitar. Gue butuh konten dan juga konteks, tapi ya gitu, gue agak hipster, jadi gue coba urungkan penggunaan kata tersebut. Kemaren-kemaren gue mau coba ‘bebas’ bikin sesuatu, dan astaga susah banget. Gue selalu stuck dengan memikirkan apa tema yang pas, dan bukan bentuk apa yang harus gue kejer. Dah salah fokus dan abis tenaga dari awal gitu deh, capek. Mungkin gejala ini sebenernya udah ada dari dulu. Gue paling bingung kalo udah dibilang bebas tuh. Bebas dalam artian bikin karya apa aja bebas. Bingung abis. Gue suka banget dihajar sama brief, atau dikasih tema minimal. Ngebantu gue banget sih. Mungkin hal ini juga yang melatar-belakangin obrolan gue sebelumnya.

Ah minggu ini gue pengen nonton Captain America Civil War. Nanti kalo udah nonton, gue pasti ngobrol lagi di blog ini. Entah kenapa gue demen juga ngulas ‘sensasi’ apa yang gue dapet selama nonton. Dimana hal itu biasanya menjadi alesan utama gue bisa apresiasi sebuah film. Maklum yak, saya bukan anak film atau sinematografi. Saya cuma demen nonton dan sangat ekspresif menggambarkan isi kepala gue, sesuatu yang mungkin emang nggak mudah gue lakukan di kehidupan nyata. Jadi ya gitu deh, pelarian nih blog. Haha.

Eniwei gue nggak akan lama lagi. Masih ada beberapa hal yang harus gue kejer buat besok. Diantaranya gue harap bisa share dalam waktu dekat.