Blackletter & Poster Film King Arthur: Legend of the Sword

Dalam tulisan singkat ini, saya mau mengungkapkan apresiasi dan kekaguman saya terhadap film King Arthur: Legend of the Sword (dan berikutnya disingkat King Arthur saja). Terlepas dari berita-berita bahwa film tersebut tidak begitu sukses sebagai film box office, saya tetap merasa film ini adalah film yang keren. Mulai dari beberapa tekhnik storytelling yang dinamik dan beda dari beberapa film yang saya tonton belakangan, desain kostum untuk Vortigen, scoringnya, sampai posternya. Yes, poster-posternya cukup keren.

Yang agak disayangkan dari keseluruhan desain posternya adalah agak tidak konsisten saja desain-desainnya. Ada dua poster yang menarik dari film ini, sayang keduanya secara visual tampak berbeda, jadi ‘kesempurnaan’nya berkurang. Berikut poster film King Arthur yang pertama kali saya lihat dan langsung tertarik untuk menonton:

cn-_zfyuaaavvlw
Poster film King Arthur. Melihat dari desainnya, sepertinya ini poster awal-awal, karena masih mencantumkan tahun 2017 saja, belum ada tanggal, belum ada hashtag, belum ada embel-embel lainnya. 

Disini, poster hanya menampilkan Arthur dan membawa pedang excalibur dengan pewarnaan monochromatic, dan dengan pose yang cukup kalem. Bicara mengenai posenya, terus terang saja posenya terasa monoton, tidak memiliki action line, namun bukan berarti monoton adalah hal yang buruk ya. Terlepas dari pose monoton tersebut, saya pribadi secara komposisi menyukai penempatan elemen-elemen desain didalam poster ini. Terlebih judulnbya.

Judul film ‘King Arthur’ ditulis dengan typeface klasifikasi blackletter, dan di komplemen-kan dengan typeface (yang sepertinya) klasifikasi neo-grotesque yang condensed. Kombinasi yang cukup baik kalau menurut saya pribadi. Karena neo-grotesque yang semi-kokoh, semi-netral cukup berfungsi baik ketika ditampilkan dengan ukuran kecil dibandingkan blackletter-nya.

Sekilas berbicara mengenai huruf-huruf blackletter, jenis huruf ini cukup populer di Jerman, dan kemudian merambah ke seluruh Eropa pada zaman RenaissanceBlackletter juga digunakan untuk mencetak pertama kali oleh Gutenberg, sehingga penggunaan-penggunaan huruf Blackletter langsung terasosiasi dengan Eropa kuno, dan ya, asosiasi yang cukup baik untuk film King Arthur ini.

Penggunaan jenis typeface ini membantu menekankan aspek geografi dan era yang ada didalam film ini, walaupun pada akhirnya aplikasi dari typeface ini dibuat tidak sepekat itu dengan menggunakan warna ungu terang, yang menjadi satu-satunya warna lain selain hitam dan turunannya. Jadi walaupun kuno secara bentuk, warna ungunya membuat desainnya tidak se kaku itu. Cukup berani dan menarik.


Hanya ada dua hal yang sangat disayangkan dari kacamata desain grafis secara keseluruhan pada promosi film King Arthur ini, pertama ketidak konsistenan, yang sudah saya bahas sebelumnya. Kedua, karena tidak konsisten, kita tidak tahu mood mana yang ingin disampaikan melalui posternya. Tapi ya, poster adalah salah satu media promosi. Dalam konteks ini, promosi film. Perlu kita sadari bersama iklan tidak sama dengan kenyataan dari produk atau apapun yang diiklankan. Poster film yang menarik tidak sama dengan film yang baik (walau menurut saya film ini cukup baik). Mungkin mood film ini disampaikan lebih baik dengan poster film yang lain, bukan yang ini (walaupun menurut saya desain yang ini cukup baik).

Hal sederhana yang bisa dipelajari dari desain poster ini adalah bahwa budaya tulisan yang ada di dunia ini cukup beragam, baik dari aspek waktu dan juga tempat, ketika kita menggunakan budaya tulisan yang tepat maka komunikasi dalam desain grafis kita juga dapat lebih efektif (menurut saya). Blackletter disini sangat fantastis dan menarik sekali, dibandingkan dengan poster King Arthur film lain. Mungkin bisa saya bahas poster film itu dilain waktu. hahaha.

 

Sampai sini dulu.

Bacaan tambahan:

designishistory.com

Advertisements

Mengapa Kuliah Desain?

Lebih spesifiknya kuliah desain komunikasi visual.

Tulisan kali ini berusaha memberikan perspektif saya dari respon atas pertanyaan “Mengapa kuliah desain?”. Pertanyaan yang mungkin ditanyakan secara basa-basi ini adalah pertanyaan yang terkadang memberikan kepada sang penanya gambaran dari pola pikir atau motivasi dari si responden. Serius atau tidak, tentunya jawaban yang diberikan tidak muncul dari kekosongan.


Sebelum sedikit membahas jawabannya, saya ingin menceritakan sedikit mengapa pertanyaan ini kerap saya tanyakan ke mahasiswa ketika sedang berbicara dalam tahap yang lebih personal. Ya, pertanyaan ini bukanlah pertanyaan yang dapat saya berikan secara massal. Pertanyaan ini diberikan ketika beberapa barrier sudah diruntuhkan dulu sebelumnya, ketika mahasiswa sudah ‘cukup’ nyaman untuk mengungkapkan pikirannya kepada saya.

Kuliah bukanlah pilihan yang sepele. Tidak sebatas mengeluarkan biaya saja, namun waktu dan tenaga yang perlu diinvestasikan dalam perkuliahan tentu bukan hal yang sederhana. Kuliah desain di beberapa kampus di ibu kota pun seolah sangat prestis (beberapa waktu yang lalu), namun prestis tersebut tentu disertai tanggung jawab yang tidak asing ditelinga orang-orang, tugas.

Ketika saya bertanya, mengapa memutuskan untuk kuliah desain, hal yang ingin saya ketahui pertama adalah pemahaman awal mahasiswa ketika memutuskan untuk kuliah desain. Ada mahasiswa yang memang sudah mengetahui apa yang akan didapatkan nantinya ketika kuliah desain, sehingga ketika memulai studi mereka, mereka lebih siap. Namun ada juga mahasiswa yang ‘salah’ mengetahui seperti apa itu kuliah desain. Ketika hal ini terjadi, respon pertama saya adalah meluruskan hal-hal yang memang perlu diluruskan. atau menyarankan untuk pindah jurusan.

Hal lain yang ingin saya ketahui adalah bagaimana persiapan atau ketertarikan mereka. Tidak jauh berbeda dari poin pertama, poin kedua ini ingin menggali lebih persiapan mereka dalam kuliah desain. Ketika seseorang ingin kuliah DKV karena ingin bekerja di advertising agency, saya pribadi akan mempush mahasiswa ini nantinya untuk berpikir lebih ‘kreatif’ dan ‘out of the box‘. Ketika seorang anak kuliah DKV karena ingin menjadi seorang web designer, saya akan mempersiapkan anak ini untuk lebih memahami tipografi dan logika-logika dalam mendesain sebuah interface. Ketika seorang anak ingin menjadi illustrator kelak setelah lulus kuliah, maka saya akan dukung dan push anak tersebut untuk lebih illustratif dalam tugas-tugas ‘non ilustrasi’nya.

Mungkin memang tidak semua pertanyaan ‘kenapa kuliah desain?” dilatar belakangi alasan-alasan spesifik seperti yang saya miliki, tapi kira-kira begitulah yang terjadi ketika saya bertanya. Nah, sesuai tujuan utama tulisan ini, berikut adalah beberapa jawaban yang saya sering kali dengar, dan opini saya pribadi merespon jawaban tersebut:

Mau Jadi XXXXXXX

Selama menjadi seseorang yang masih berhubungan langsung dengan keilmuan desain, saya rasa jawaban ini adalah jawaban terbaik (walau perlu dilihat lebih lanjut sejauh mana pengetahuan mahasiswa akan profesi yang ia sebutkan).

Suka Menggambar

Suka menggambar adalah sebuah permulaan yang baik, yang kerap kali memang menerjunkan orang-orang untuk kuliah desain. Dari ‘suka menggambar’, kita dapat mengetahui minat dari seseorang dan juga mengetahui karakteristik visual dari gambar mahasiswa tersebut.

Ketika seseorang suka menggambar secara komprehensif dan detail, mungkin mahasiswa tersebut dapat lebih fokus ketika mengerjakan kewajiban illustrasi. Ketika seseorang suka menggambar secara rutin tanpa level detail yang tinggi, mungkin mahasiswa tersebut dapat lebih maksimal mengerjakan kewajiban animasi 2d ataupun membuat komik. Ketika seseorang suka men’doodle’, mungkin anak itu lebih cocok masuk desain grafis dibandingkan masuk animasi nantinya (terlepas dari klaim anak tersebut).

Suka Lihat Desain

Suka melihat desain juga merupakan hal yang cukup baik, namun perlu sedikit diwaspadai. Karena jawaban ini tidak secara utuh menjelaskan sesiap apa anak tersebut dari segi kemampuan.

Saya suka mendengar lagu, namun hal itu tidak menjadikan saya seorang musisi. Saya suka melihat film, namun bukan berarti saya mau menjadi seorang sutradara atau seorang aktor. Saya suka sekali makan, namun tidak menjadikan saya seorang foodie ataupun seorang chef. 

Suka melihat desain itu sah-sah saja, namun tidak cukup untuk menjadikan seorang ‘visual enthusiast’ menjadi seorang desainer. Ada beberapa hal yang perlu dilalui seorang mahasiswa untuk menjadi seorang desainer, dan tidak semuanya itu ‘menyenangkan untuk dilihat’. Seperti kata rekan kerja saya, “Learning can be fun, but not necessarily have to be fun.”

Tidak Suka XXXX

Jawaban yang paling sering didengar dan terus terang saja jawaban terburuk. hahaha.

Tidak menyukai matematika akan menyulitkan seseorang ketika belajar tipografi ataupun mengerjakan tugas-tugas yang sangat sistematis, seperti majalah, buku, website, aplikasi, ataupun identitas visual.

Tidak menyukai hafalan akan menyulitkan seseorang untuk bekerja, desain atau tidak desain.

Tidak menyukai IPA akan ‘menumpulkan’ pemahaman seorang desainer. Memang desainer bukan seorang scientist, namun berfikir komprehensif dan logis yang merupakan salah satu modal utama yang diberikan di pelajaran-pelajaran IPA juga merupakan modal utama dalam menjadi seorang desainer.

Tidak menyukai IPS adalah hal yang cukup aneh sebenarnya. Desain dan seni sering dianggap sebagai cabang dari ilmu humaniora. Memutuskan untuk kuliah di jurusan humaniora tapi tidak menyukai ilmu sosial agak aneh. Terus terang saja.

Singkatnya, tidak menyukai sesuatu bukanlah basis untuk memilih sesuatu hal yang lain.


Saya rasa itulah keempat kategori jawaban yang saya pribadi kerap kali temukan. Apapun jawaban yang diberikan, sebenarnya sah-sah saja seseorang untuk belajar atau kuliah desain, ataupun menjadi seorang desainer. Namun harapan pribadi saya, ketika memutuskan untuk kuliah, ada baiknya perlu mengetahui secara menyeluruh jurusan yang ingin dipelajari. Hal ini bermaksud untuk mengurangi asumsi-asumsi salah tentang sebuah jurusan.

Setiap kampus dan jurusan tentu memiliki kacamata desain dan pendekatan desainnya masing-masing. Setelah ‘mantap’ dengan kuliah desain, saya rasa ada baiknya untuk mengetahui kampus dan jurusan mana yang cocok dengan ketertarikan orang tersebut. Terlepas dari ungkapan bahwa “design is one“, salah jurusan tetaplah salah jurusan. Tidak jarang mahasiswa DKV pindah ke jurusan produk, atau jurusan arsitek pindah ke interior, dll.

Jadi, setelah tahu mau kuliah desain, cari tahu desain apa, dan cari tahu kampus mana. Terlepas dari contoh saya yang menggunakan istilah-istilah didalam perkuliahan DKV, dan kacamata saya sebagai seorang pengajar DKV di sebuah universitas swasta, saya harap penjelasan saya dapat membantu untuk yang masih belum memutuskan.

Jangan terpersuasi untuk kuliah desain. Kuliah-lah di jurusan yang memang diminati dan cocok dengan natur anda.

Tentang 1162.

Tepat pada tanggal dua Mei ini, adalah hari ‘pertama’ saya terlepas dari gemuruh perkuliahan 1162. Pada kesempatan kali ini saya ingin memberi ruang untuk so called refleksi dan juga evaluasi terhadap apa yang telah saya lakukan baik di kampus dan juga di blog ini.

Sejak Januari 2017. Sukses ditulis dan dipublikasikan 9 artikel. Kalau dirata-ratakan, mungkin 2 artikel setiap bulannya. Berbicara jumlah, mungkin sangat minim dibandingkan blog-blog atau website yang bisa secara intensif menulis setiap hari. Tapi buat saya secara personal, bisa menulis secara konsisten saja sudah merupakan achievement tersendiri.

Tulisan-tulisan mendasar, seperti “apa itu desain”, “apa itu desain komunikasi visual” dan “apa itu desain grafis” menjadi momen ‘favorit’ pribadi saya, karena dalam kesempatan itu, saya dapat mempertegas perspektif saya dan pandangan saya akan dunia saya sendiri. Tulisan mengenai kontribusi desain dan desainer (yang ditulis dalam beberapa format yang berbeda) juga merupakan tema-tema eksploratif yang memang beresonan dengan apa yang saya pelajari (dan ajarkan) di semester ini. Sedangkan tulisan yang sedikit membahas sejarah sangat menyita waktu dan tenaga karena membutuhkan waktu lebih untuk menggali data-data.

Dalam setiap postingan saya di blog ini, saya mengusahakan untuk membuat sebuah grafis untuk judul. Sehingga saya mendapat ‘alasan’ untuk kembali mengulik dan juga mendesain. Walau mungkin tidak selalu menjadi hal yang menyenangkan (karena kalau ide tidak ada, ya ide tidak ada), namun selalu menjadi latihan untuk berusaha menggagas visual ditangah-tengah kemelut semester 1162.

Secara spesifik berbicara di 1162, semester ini mungkin salah satu semester ‘terpadat’ yang pernah saya dapatkan. Secara praktek, saya mendapat tanggung jawab kelas setiap hari (terkecuali hari rabu). Kelas-kelas tersebut, terlepas dari dinamika yang menyenangkan dan menantang setiap pertemuannya, menuntut persiapan tersendiri sebelumnya, yang tidak bisa dilakukan di jam kerja kantor.

Persiapan materi, koordinasi dengan tim pengajar, serta mereview tugas mahasiswa dan paper dari mahasiswa bimbingan sudah menjadi rutinitas selama empat bulan terakhir. Rutinitas yang saya harap tidak dijumpai atau ditemukan di 1163 maupun 1171 (dan semester-semester lain didepannya).

Dalam review sederhana saya sempat berniat meninggalkan kembali lahan tulis ini. Sesederhana karena ada banyak hal yang perlu ditulis, mulai dari blog ini, majalah dari seorang kawan, dokumen-dokumen jurusan, sampai thesis atau tugas kuliah lainnya. Bergumul terus menerus dengan form yang serupa namun konten yang berbeda cukup menguras pikiran.

Namun setelah lebih waras, saya putuskan untuk terus dan tetap berkarya di lahan ini. Bicara praktis, lahan ini membawa kesenangan dan tantangan tersendiri. Dapat menulis bisa dikatakan dapat menuangkan perasaan dan pikiran sekaligus. Mungkin serupa bisa dimanifestasi melalui seni lainnya. Tapi mungkin medium tulis ini menjadi salah satu obat yang cukup ampuh (selain dengan medium seni visual). Jadi kenapa harus dihentikan mengatas namakan kuota?

Tapi kita lihat saja ya sampai kapan.