Apa itu Desain Komunikasi Visual.

Melanjuti tulisan sebelumnya: Apa itu Desain, kali ini saya akan sedikit menuliskan perspektif saya dalam keilmuan S1 saya, yaitu Desain Komunikasi Visual atau DKV.

Pada kampus tempat saya memperoleh gelar S1 saya saja, DKV sudah ada sejak tahun 1994. Bisa dilihat bahwa program studi ini berdiri cukup lama, sehingga kerap kali ada pertanyaan apakah perlu dibahas kembali topik seputar DKV. Mengapa tidak secara spesifik membahas keilmuan ‘baru’, seperti , ‘digital design’, animasi, ataupun sinematografi. Pertanyaan perlu atau tidak selalu dijawab dengan sederhana: mengapa tidak perlu?

Apakah tidak perlu membahas sebuah keilmuan yang ‘tidak’ terikat pada obyek atau medium, seperti desain komunikasi visual?  Apakah tidak perlu membahas sebuah keilmuan yang pada praktiknya sangat primordial, bukan ‘tua’, tapi sudah ada sejak awal mula peradaban? Apakah tidak perlu membahas sebuah keilmuan yang output dari keilmuannya digunakan dan dinikmati setiap hari oleh setiap manusia di dunia (kecuali yang tidak bisa melihat pastinya). Atau apakah tidak perlu membahas sebuah keilmuan yang melahirkan banyak keilmuan lain?

Kalau kita memikirkan kembali, saya rasa akan ada banyak alasan untuk dapat menjelaskan mengapa perlu membicarakan kembali mengenai apa itu desain komunikasi visual. Namun perlu disadari juga bahwa untuk menjaga koridor dan tidak membuat postingan yang terlalu panjang, maka saya akan mencoba menguraikan apa itu DKV tanpa menyentuh terlalu banyak urusan tekhnis, filosofis, historis maupun kegunaan. Hanya membahas apa itu DKV.


Desain Komunikasi Visual. Istilah ini sendiri terdiri atas tiga kata yang berbeda, yaitu ‘desain’, ‘komunikasi’, dan ‘visual’. Sebelum berusaha menyimpulkan definisi dari istilah desain komunikasi visual, ada baiknya kita melihat ketiga kata tersebut secara terpisah.

Desain

Dalam tulisan ini, saya membatasi pemahaman desain sebagai sebuah perencanaan. Untuk uraian lebih panjang, dapat anda lihat disini.

Visual

Meminjam definisi dari kbbi.web.id, visual berarti sesuatu yang dapat dilihat dengan indra penglihat. Hal ini memberikan ruang yang sangat luas namun sekaligus sempit, ketika kita membahas tentang apa itu DKV. Adanya kata visual membuat diskusi mengenai apa yang termasuk dalam obyek DKV dapat dibatasi melalui indera pengelihatan. Apa yang bisa dilihat, maka hal itu dapat termasuk dalam obyek DKV.

Namun hal ini sering kali mengundang kontra khususnya dari pihak yang berinteraksi dengan hal-hal non visual, seperti film dan animasi. Sering kali, yang dipermasalahkan adalah pembahasan diluar visual, salah satunya masalah audio. Ada pandangan bahwa dalam membuat film yang baik, perlu disertai dengan audio yang baik juga. Sampai pada tahap ini, saya setuju sekali bahwa dalam membuat sebuah film yang baik tentunya diperlukan pemanfaatan audio seperti sound effect dan scoring yang baik. Namun hal ini tidak berarti bagian audio adalah sesuatu yang perlu dikerjakan dalam keilmuan DKV.

Mengapa demikian? Sederhananya, karena ada keilmuan yang lain untuk mengakomodir pembelajaran mengenai hal tersebut, seperti program studi sound design. Kelak ketika sudah dalam ‘industri’ apakah seorang lulusan DKV akan mengurus audio itu sih sah-sah saja, walau saya percaya ada baiknya untuk urusan tersebut, umumnya akan lebih baik ketika diurus seorang sound designer atau musisi. Seseorang yang memang belajar dan dilatih dalam keilmuan tersebut.

Komunikasi

Dengan situs yang sama, komunikasi berarti sebuah pengiriman dan penerimaan pesan atau berita antara dua orang atau lebih sehingga pesan yang dimaksud dapat dipahami ; hubungan ; kontak. (Definisi ini tentunya dapat dibahas dan diurai lebih mendalam dan lebih detail, namun untuk kepentingan tulisan ini, maka saya akan mengikuti pembahasan ini sepenuhnya.)

Hal yang saya sedang saya lakukan (menulis atau mengetik) adalah usaha saya untuk berkomunikasi dengan anda, dimanapun anda dimana. Secara sederhana terdapat tiga aspek dalam sebuah komunikasi, yaitu komunikator (pihak yang melakukan komunikasi), pesan (isi dari komunikasi tersebut), dan juga komunikan (pihak yang menerima komunikasi). Tentunya komunikator dan komunikan dapat bertukar tempat dengan cepat sesuai dengan berjalannya proses komunikasi itu sendiri.

Maksudnya? Saya akan coba jelaskan dengan contoh non visual. Bayangkan anda sedang berbicara pada pasangan anda. Anda mengungkapkan isi pikiran (atau hati) anda kepada pasangan anda yang mengingkari janjinya kepada anda. Setelah anda berbicara panjang lebar, pasangan anda hanya merespon dengan menghela nafas panjang.

Dalam kejadian tadi, anda dan pasangan anda berubah posisi dengan sangat organik. Komunikasi yang terjadi disini antara anda dan pasangan anda (berupa pengeluaran uneg-uneg anda), dan respon pasangan anda terhadap anda (menghela nafas panjang). Tindakan menghela nafas ini, sengaja atau tidak sengaja, dapat menjadi sebuah komunikasi ketika hal itu ditandai dan dipahami memiliki sebuah pesan (lelah atau kesal).

Desain Komunikasi Visual

Sebetulnya setelah melihat ketiga arti kata yang membentuk ‘desain komunikasi visual’, saya rasa cukup sederhana. DKV adalah sebuah perencanaan untuk berkomunikasi secara visual. Artinya?

Artinya desainer DKV bekerja dalam membuat sebuah proses komunikasi dengan visual. Kenapa perlu didesain? Tentunya agar pesan yang ingin disampaikan dapat disampaikan dengan baik, dapat dipahami dengan tepat dan kalau bisa, seefisien mungkin (khususnya ketika terdapat limitasi-limitasi). Lalu bagaimana cara berkomunikasi secara visual? Salah satu contohnya adalah dengan contoh pertama yang saya sampaikan. Dengan tulisan atau pun dengan gambar, atau dalam obyek-obyek yang bisa dipahami secara visual.


Apakah hal ini menunjukan bahwa pekerjaan seorang praktisi DKV ‘cuma gitu-gitu aja?’ Dalam kesempatan ini saya rasa tulisan saya memberikan jawaban atas pertanyaan itu. Setidaknya jawaban saya pribadi (yang mungkin dapat dibahas lebih lanjut dalam tulisan-tulisan lain). Mungkin pertanyaan ini dapat dijawab oleh rekan-rekan sejawat yang memang berkecimpung di ‘industri DKV’ ataupun sesama ‘akademisi DKV’.

Apa memang DKV cuma gitu-gitu aja?

Advertisements

Melihat kembali: Apa itu Desain.

Yeah, sepertinya saya selalu mengawali setiap tulisan dengan rasa penyesalan dan introspeksi dibandingkan gagasan ataupun tema untuk menulis. Karena memang komitmen adalah hal yang sulit sekali untuk ditepati atau dituruti.

Tanpa beralasan dan membuang kata, mari terjun ke pokok pembicaraan kali ini:


Judul yang saya harap cukup sederhana dan tidak asing, khususnya yang berhasil mengakses blog saya beasiswadesain (nama saya bea, saya siswa desain). Saya akan memberikan sebuah kalimat, yang seharusnya sebuah kutipan (hanya saja saya tidak ingat siapa yang mengatakan hal tersebut sebelumnya, akan saya edit kalau sudah ingat atau ketemu), yang menurut saya cukup menjelaskan apa itu desain:

A designer’s job is to design a design for a design.

Di kalimat tersebut ada empat kata design, yang saya rasa dapat menunjukan beberapa pandangan tentang desain.

  1. “A designer‘s …”, desainer adalah pelaku desain. Sosok dibelakang sebuah desain.
  2. “… job is to design …”, desain sebagai kata kerja, sebagai tindakan merancang. Ketika berbicara mengenai tindakan, kita berbicara sebuah kegiatan, suatu hal yang berjalan dan juga aktif.
  3. “… a design …”, kali ini kata desain diposisikan sebagai kata benda, yang dimaksud disini adalah perencanaan. Sering diasosiasikan dengan blue print, atau skema, ataupun ide.
  4. “… for a design.”, kata terakhir dari desain juga sebuah kata benda, namun berbeda dengan kata ketiga yang berarti rencana, kata desain disini berbicara mengenai hasil dari rencana tersebut, atau sebuah obyek konkret hasil sang desainer.

Keempat posisi kata desain berbicara mengenai bagaimana kata desain itu dapat berfungsi dengan luas, jadi wajar saja kata itu sering diucapkan ataupun didengar.

Saya suka sebal ketika ada orang-orang yang sebal mendengar orang lain menggunakan kata desain. Alasannya cukup masuk akal, mereka merasa bagian dari mereka (entah pekerjaan, atau paham mereka) diucapkan dengan ‘seenaknya’, seolah tidak memiliki arti atau nilai yang tinggi. Nah, justru saya sebal dengan orang seperti ini.

Kenapa? Karena menurut saya memang desain itu kata yang umum, dan kata ‘desain’ itu sendiri menurut saya tidak memiliki nilai yang signifikan. Desain, ketika dipahami sebagai sebuah tindakan merancang, sangatlah umum dan tentunya dilakukan oleh semua orang. Jadi saya rasa tidak ada alasan untuk membuat ‘desain’ menjadi sebuah terminologi yang eksklusif.

Ketika saya perlu ‘menjual’ keilmuan saya, saya selalu menjelaskan dengan cara seperti ini. Maksud saya adalah untuk mematahkan asumsi-asumsi bahwa desain adalah sebuah kegiatan atau pekerjaan yang membutuhkan banyak prasyarat. Saya rasa satu-satunya syarat untuk ‘melakukan’ desain adalah memiliki kapasitas berfikir, atau otak yang fungsional.

Lalu bagaimana dengan keahlian menggambar? Nah itu pembicaraan dalam desain grafis ataupun desain komunikasi visual. Banyak kok desain-desain yang tidak perlu kemampuan menggambar, seperti sound design, game design, application design atau hal-hal dengan kata desain yang belum saya jumpai.

Bahkan desain juga dapat dilakukan terlepas dari pembahasan profesi. Seperti ketika bangun pagi, saya memutuskan untuk pergi ke kantor. Ketika saya memutuskan untuk pergi ke kantor, saya membuat rancangan-rancangan atau desain. Saya mendesain apa yang akan saya kenakan, apakah saya akan mengenakan seragam saya sepenuhnya, apakah saya akan ‘bandel’ dan tidak pakai seragam, apakah saya akan memakai dasi atau asesoris, sepatu apa yang akan saya gunakan, dll.

Balik lagi, ini opini dan paradigma saya sendiri. Untuk hal ini, saya cukup terbuka untuk dialog, tapi dialognya jangan baper. haha.

Apa saja yang anda desain hari ini?