Warna : RGB & CMYK

Hello. Ini bagian dua dari serangkaian (semoga) postingan yang akan ngebahas mengenai warna. Kalau kemaren gue sempet ngebahas tentang Newton & Goethe dan kontribusi mereka terhadap teori warna, sebelum kita masuk ngebahas teori warna lebih dalem, gue merasa perlu ngomongin tentang jenis warna dulu sebelumnya.


Sebelum masuk ke topik RGB & CMYK, gue mau ngejelasin dua hal dulu sebelumnya, yaitu warna aditif & warna subtraktif.

Warna aditif: Disebut juga warna cahaya, dimana ketika warna ditambah-tambahkan akan menghasilkan warna yang lebih terang. Warna aditif inilah yang sering juga disebut warna RGB, karena memiliki warna primer merah (red), hijau (green) dan biru (blue).

Warna subtraktif: Disebut juga warna cetak, dimana ketika warna ditambah-tambahkan akan menghasilkan warna yang lebih gelap. Warna aditif inilah yang sering juga disebut warna CMYK, karena memiliki warna primer cyan, magenta, kuning (yellow), dan warna kunci (key color) yang merupakan warna hitam.

additive-subtractive-mixing
Warna Aditif & Subtraktif

 

Selain perbedaan sistem itu, apa lagi sih bedanya?

Perbedaannya yang cukup mendasar adalah gamut warnanya. Gamut warna itu ‘batasan’ warna. Gamut warna RGB lebih luas daripada warna CMYK, artinya RGB bisa mencapai warna-warna yang tidak bisa dicapai sama CMYK. Hal inilah yang menyebabkan ketika kita melihat gambar di layar dan hasil cetak umumnya berbeda. Lebih gelap, lebih ‘kependem’, etc.

rods20photographic20glossaryg_clip_image001
Gamut Warna RGB & CMYK

 


 

Nah, cuma gue sekarang memiliki misi khusus juga sebenernya. Pertama gue perlu meluruskan bahwa walaupun CMYK adalah warna cetak, bukan berarti semua warna yang dicetak itu CMYK loh. Ini sedikit nyimpang, tapi ada juga istilah spot color, atau warna khusus. Nah kalau ini gue jelasin lebih lagi sebenernya udah masuk ke ranah kelas MRG (biasanya).

Selain istilah spot color, ada juga beberapa perusahaan yang mencoba mengembangkan sistem warna cetak yang baru, salah satunya print hexachrome. Cetak dengan hexachrome sendiri gue ga tau detailnya gimana, tapi konon, mereka menggunakan enam warna dasar untuk cetaknya, warna cyan, magenta, yellow, key, orange dan hijau. Dengan menambahkan dua warna dasar ini untuk cetak, katanya sih gamut warnanya pun lebih lebar lagi, sehingga bisa menjangkau warna-warna yang sebelumnya nggak bisa didapet dari CMYK.

hex_gamut
Gamut Hexachrome dan CMYK

Berbicara mengenai cetakan juga, kalau di google, ada juga printer LumiJet S200 yang konon bisa cetak dengan model warna RGB. Sehingga ya balik lagi, gamut warnanya lebih luas juga daripada CMYK biasa. Kalau ini sih gue gatau udah ada apa nggak di Indonesia, dan belom pernah liat sendiri hasilnya, beda sama hexachrome tadi.

79fb78d76f4028fb13a8ce228606e3c7_xl
LumiJet S200

Pembahasan warna terakhir, masih dengan memperluas gamut warna, tapi kali ini untuk media layar, dimana TV Sharp Quattron menggunakan sistem warna RGBY. TV ini menambah warna dasar mereka dengan warna kuning untuk bisa mencapai warna-warna yang lebih tajam dan ‘hidup’.

quattron_4-color_pixel_structure
Sistem warna Quattron

Ngomong-ngomongin ini, gue jadi keinget harusnya di mol-mol ada deh TV yang memang udah pake sistem ini di demo. Kalo gue liat sih keren-keren yak, tapi balik lagi nggak tau tu beneran apa nggak. haha.


Ya dan sedikit kembali ke misi pribadi gue, sebenernya sih yang gue pengen omongin adalah : Apakah luas gamut warna itu penting banget? Kalo gue terus terang nggak sebegitunya sih. Karena terus terang gue ngrasa klien, atau kadang gue sendiri, nggak gitu bisa bedain warna secara detail. Jadi ya selama warna yang mestinya merah nggak berubah jadi ungu atau coklat, ya gue sih nggak akan komplain. Karena dari pengalaman gue sendiri kerja di tempat cetak, ngejer warna itu nggak akan ada habisnya. Dari ngomongin viskositas tinta, sampe ngomongin color profile, etc etc. Capek banget.

Buat yang baru belajar tentang cetak-cetak, ada hal yang menurut gue lebih penting daripada gamut warna, yaitu hasil cetak itu sendiri. Gue akan memilih hasil cetak yang tahan lama dibandingkan warna realistis yang nggak tahan lama. Itu baru kalau ngebahas ketahanan warna yak, belum ngomongin kondisi printer. Kalau head printernya nggak bersih, atau lagi ada masalah, kadang ada aja warna-warna yang ga pekat atau ga mrata. Jadi diujung kanan merahnya A, diujung kiri merahnya jadi B. Yaa problem kayak gitu sebenernya lebih obvious daripada warna lu meleset sih. Penyakit begini nih yang gue hindarin banget dalam cetak.

Doh. Kalau ngomongin cetak yah, jadi baper.

Eniwei itu dulu sih pembahasan gue mengenai RGB & CMYK. Gue harap kalian jadi tau tentang istilah warna Aditif & Subtraktif, inget juga kalau dibahas mengenai gamut warna, dan tau gimana harus memposisikan diri ketika lagi nyetak-nyetak.

Sekian dulu buat hari ini. Gue lanjut yang lain dulu. Salam Damai. Have a nice day.

 

Advertisements

Published by

b e a

Seseorang yang belajar desain.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s