CCDVTP

Yes, setelah lama nggak ngepost, gue kembali dengan judul postingan yang nggak biasa. Yaaa kali ini gue mau coba share sedikit apa yang gue dapet di perkuliahan gue kemaren-kemaren. Kelas yang gue ambil, desain dan bisnis, lagi ngebahas sedikit tentang marketing. Setelah ngasi konteks tentang apa itu marketing, kita masuk ke pembahasan tentang marketing mantra. Nah ini nih yang pengen gue share dalam kesempatan kali ini.


Marketing Mantra, menurut pemahaman gue, itu ya kurang lebih teori dasar aja sih tentang marketing. Tapi ya disini perlu gue pisahkan dulu mengenai teori dan juga formula atau rumus. Kalau dulu sekolah kita ngerjain soal mat pakai rumus supaya bisa dapet jawaban, nah pemahaman mengenai kenapa ada rumus tersebut-lah yang bisa disebut sebagai teori. teori itu sederhananya, ide. Atau gagasan, atau pandangan. Nah beda yak. Jadi kembali lagi, pandangan dasar dari marketing berdasarkan Philip Kotler, adalah CCDVTP.

Creating, Communicating and Delivering the Value to the Target Market for Profit.

Sebuah perusahaan marketing yang baik adalah yang menjalankan aspek aspek tersebut, yaitu mampu menciptakan, mengkomunkasikan, menyampaikan nilai kepada target market yang tepat untuk sebuah keuntungan.

Philip Kotler lanjut menjelaskan bahwa ada tiga kegiatan yang cukup menjalankan aspek, aspek dari marketing mantra tersebut, yaitu Product Management (Creating), Brand Management (Communicating), dan juga Customer Management (Delivering). Gue ga akan bahas lebih detail lagi isi ketiganya karena apa yang gue dapet belum banyak dan info yang gue cari-cari sendiri masih simpang siur.


Ketika pemahaman baru ini gue coba terapkan di kelas gue yang lain, gue melihat bahwa aspek-aspek yang ada di marketing mantra ini sebenernya cukup relevan dan bisa ngejembatanin beberapa pemikiran lain, contohnya dalam konteks desain komunikasi visual. Desain juga perlu kok menciptakan, mengkomunikasikan dan menyampaikan pesan-pesan yang terkandung didalamnya. Cuma gue rasa nggak semuanya buat profit, atau keuntungan.

Jadi ‘P’ terakhir, atau ‘Profit’, gue coba ganti ke ‘Purpose’ buat gue keep sendiri.

Desainer perlu menciptakan desain, dimana desain tersebut mengkomunikasikan dan menyampaikan pesan atau konten yang berada didalamnya, untuk target market atau audience yang ingin dituju. Untuk apa? Untuk tujuan tertentu, bisa untuk menghasilkan transaksi, atau menghasilkan keuntungan , ataupun mengajak melakukan sesuatu. Apapun tujuannya, ya harus dilakukan.

Mungkin itu design mantra gue. Sama juga, CCDVTP.

Designers should: Create design, that Communicates and Deliver Values to a Target for a Purpose.

Mantab.

Advertisements

Warna : RGB & CMYK

Hello. Ini bagian dua dari serangkaian (semoga) postingan yang akan ngebahas mengenai warna. Kalau kemaren gue sempet ngebahas tentang Newton & Goethe dan kontribusi mereka terhadap teori warna, sebelum kita masuk ngebahas teori warna lebih dalem, gue merasa perlu ngomongin tentang jenis warna dulu sebelumnya.


Sebelum masuk ke topik RGB & CMYK, gue mau ngejelasin dua hal dulu sebelumnya, yaitu warna aditif & warna subtraktif.

Warna aditif: Disebut juga warna cahaya, dimana ketika warna ditambah-tambahkan akan menghasilkan warna yang lebih terang. Warna aditif inilah yang sering juga disebut warna RGB, karena memiliki warna primer merah (red), hijau (green) dan biru (blue).

Warna subtraktif: Disebut juga warna cetak, dimana ketika warna ditambah-tambahkan akan menghasilkan warna yang lebih gelap. Warna aditif inilah yang sering juga disebut warna CMYK, karena memiliki warna primer cyan, magenta, kuning (yellow), dan warna kunci (key color) yang merupakan warna hitam.

additive-subtractive-mixing
Warna Aditif & Subtraktif

 

Selain perbedaan sistem itu, apa lagi sih bedanya?

Perbedaannya yang cukup mendasar adalah gamut warnanya. Gamut warna itu ‘batasan’ warna. Gamut warna RGB lebih luas daripada warna CMYK, artinya RGB bisa mencapai warna-warna yang tidak bisa dicapai sama CMYK. Hal inilah yang menyebabkan ketika kita melihat gambar di layar dan hasil cetak umumnya berbeda. Lebih gelap, lebih ‘kependem’, etc.

rods20photographic20glossaryg_clip_image001
Gamut Warna RGB & CMYK

 


 

Nah, cuma gue sekarang memiliki misi khusus juga sebenernya. Pertama gue perlu meluruskan bahwa walaupun CMYK adalah warna cetak, bukan berarti semua warna yang dicetak itu CMYK loh. Ini sedikit nyimpang, tapi ada juga istilah spot color, atau warna khusus. Nah kalau ini gue jelasin lebih lagi sebenernya udah masuk ke ranah kelas MRG (biasanya).

Selain istilah spot color, ada juga beberapa perusahaan yang mencoba mengembangkan sistem warna cetak yang baru, salah satunya print hexachrome. Cetak dengan hexachrome sendiri gue ga tau detailnya gimana, tapi konon, mereka menggunakan enam warna dasar untuk cetaknya, warna cyan, magenta, yellow, key, orange dan hijau. Dengan menambahkan dua warna dasar ini untuk cetak, katanya sih gamut warnanya pun lebih lebar lagi, sehingga bisa menjangkau warna-warna yang sebelumnya nggak bisa didapet dari CMYK.

hex_gamut
Gamut Hexachrome dan CMYK

Berbicara mengenai cetakan juga, kalau di google, ada juga printer LumiJet S200 yang konon bisa cetak dengan model warna RGB. Sehingga ya balik lagi, gamut warnanya lebih luas juga daripada CMYK biasa. Kalau ini sih gue gatau udah ada apa nggak di Indonesia, dan belom pernah liat sendiri hasilnya, beda sama hexachrome tadi.

79fb78d76f4028fb13a8ce228606e3c7_xl
LumiJet S200

Pembahasan warna terakhir, masih dengan memperluas gamut warna, tapi kali ini untuk media layar, dimana TV Sharp Quattron menggunakan sistem warna RGBY. TV ini menambah warna dasar mereka dengan warna kuning untuk bisa mencapai warna-warna yang lebih tajam dan ‘hidup’.

quattron_4-color_pixel_structure
Sistem warna Quattron

Ngomong-ngomongin ini, gue jadi keinget harusnya di mol-mol ada deh TV yang memang udah pake sistem ini di demo. Kalo gue liat sih keren-keren yak, tapi balik lagi nggak tau tu beneran apa nggak. haha.


Ya dan sedikit kembali ke misi pribadi gue, sebenernya sih yang gue pengen omongin adalah : Apakah luas gamut warna itu penting banget? Kalo gue terus terang nggak sebegitunya sih. Karena terus terang gue ngrasa klien, atau kadang gue sendiri, nggak gitu bisa bedain warna secara detail. Jadi ya selama warna yang mestinya merah nggak berubah jadi ungu atau coklat, ya gue sih nggak akan komplain. Karena dari pengalaman gue sendiri kerja di tempat cetak, ngejer warna itu nggak akan ada habisnya. Dari ngomongin viskositas tinta, sampe ngomongin color profile, etc etc. Capek banget.

Buat yang baru belajar tentang cetak-cetak, ada hal yang menurut gue lebih penting daripada gamut warna, yaitu hasil cetak itu sendiri. Gue akan memilih hasil cetak yang tahan lama dibandingkan warna realistis yang nggak tahan lama. Itu baru kalau ngebahas ketahanan warna yak, belum ngomongin kondisi printer. Kalau head printernya nggak bersih, atau lagi ada masalah, kadang ada aja warna-warna yang ga pekat atau ga mrata. Jadi diujung kanan merahnya A, diujung kiri merahnya jadi B. Yaa problem kayak gitu sebenernya lebih obvious daripada warna lu meleset sih. Penyakit begini nih yang gue hindarin banget dalam cetak.

Doh. Kalau ngomongin cetak yah, jadi baper.

Eniwei itu dulu sih pembahasan gue mengenai RGB & CMYK. Gue harap kalian jadi tau tentang istilah warna Aditif & Subtraktif, inget juga kalau dibahas mengenai gamut warna, dan tau gimana harus memposisikan diri ketika lagi nyetak-nyetak.

Sekian dulu buat hari ini. Gue lanjut yang lain dulu. Salam Damai. Have a nice day.

 

Warna: Newton & Goethe

Halo, selamat hari kenaikan Yesus Kristus atau Isa Almasih.

Oke, kembali lagi yak. Hari ini gue akan sedikit ngebahas tentang Newton & Goethe. Nah lho. Mungkin mayoritas akan lebih tahu tentang Newton itu siapa, tapi untuk Goethe mungkin nggak semuanya familiat. Boleh digoogle dulu buat yang gatau, karena gue ga akan bahas mendetail tentang Goethe nya sih.

Nah, Newton & Goethe keduanya merupakan orang-orang yang pernah berbicara tentang warna. Dalam definisi yang cukup ilmiah, warna adalah sifat yang dimiliki sebuah obyek, dimana obyek tersebut memproduksikan berbagai sensasi ke mata sebagai hasil pantulan cahaya. Jadi warna itu berasal dari cahaya, dimana cahaya tersebut turun ke obyek, kemudian dipantulkan, dan kemudian kita lihat melalui mata kita.

color-and-light

Nah, si Newton dan Goethe itu ada sedikit perbedaan pendapat mengenai pantulan cahaya yang masuk ke mata kita. Jadi asal muasalnya Newton menaruh sebuah prisma dideket jendelanya, dan prisma tersebut membiaskan sebuah spektrum warna di temboknya. Newton kemudian mengambil prisma yang mirip dengan prisma pertama, dan memposisikannya dekat spektrum warna itu, sehingga spektrum warna tersebut terbiaskan menjadi ‘cahaya’ lagi.

Prisma-lightSpectrum-goethe.gif

Prisma ini nggak menghasilkan warna, dan nggak ‘mempunyai’ warna juga, alias tembus pandang. Tapi Prisma ini membiaskan cahaya sehingga kita bisa ‘melihat’ warna. Warna yang dihasilkan adalah merah, oren, kuning, hijau, biru dan ungu. Newton kemudian ‘memetakan’ warna-warna tersebut kedalam sebuah lingkaran, dimana warna disusun bertolak belakang dengan warna yang ‘komplementer’. Hal ini dimaksudkan untuk menghasilkan kontras optis dengan menyandangkan sebuah warna dengan warna ‘komplementer’nya. Inilah asal muasal ide mengenai lingkaran warna.

Newton's_color_circle.png

Gambar diatas adalah gambar lingkar warna yang dihasilkan oleh Newton. Kalau kita perhatikan pembagiannya nggak bener-bener sama besarnya, ada perbedaan-perbedaannya. Terus apa hubungannya sama Goethe? Nah si Goethe bilang kalau kasus yang dilihat Newton itu kasus yang khusus. Dalam eksperimen serupa Goethe, dia mendapatkan hasil yang berbeda dengan Newton. Dia membiaskan cahaya ke kertas putih, bukan ke tembok, dan ia mendapat hasil yang berbeda. Goethe kemudian menggeser kertas putih tersebut menjauh dari prismanya. Setelah sampai ke jarak tertentu, maka hasil pembiasan prisma tersebut menjadi seperti apa yang Newton dapatkan.

Goethe kemudian banyak mengadakan eksperimen dan juga penelitian mengenai warna itu sendiri. Goethe juga membuat sebuah lingkaran warna yang sampai sekarang sering digunakan dalam pendidikan dasar seni ataupun desain grafis.

Goethe,_Farbenkreis_zur_Symbolisierung_des_menschlichen_Geistes-_und_Seelenlebens,_1809.jpg

Ada beberapa pembahasan yang cukup ilmiah mengenai eksperimen yang dilakukan Newton dan Goethe, tapi gue sendiri nggak bener-bener menyimak untuk mempelajari keduanya. Yang gue cukup ketahui dan pelajari ya ini, tentang apa sih sumbangan Newton terhadap seni, dan apa sumbangan Goethe terhadap seni. Buat gue, gue nggak mempermasalahkan siapa yang bener ataupun siapa yang lebih hebat. Setiap orang punya kontribusi yang berbeda-beda.

Goethe juga akhirnya menulis buku tentang teori-teori warna. Salah satu hal menarik buat gue adalah, Newton melihat cahaya sebagai karakter atau sifat ilmiah semata, sedangkan Goethe menilai bahwa warna terbentuk juga karena persepsi manusia itu sendiri. Newton melihat lebih ke sensasi, dan Goethe ke persepsi. Itu juga yang akhirnya membuat Goethe sedikit berbicara mengenai asosiasi sebuah warna terhadap sifat-sifat tertentu. Nah ini bisa gue bahas lagi selanjutnya.

51pb9bsp6xl-_sy344_bo1204203200_

Buat sekarang, kayaknya segini dulu aja deh. Sebelumnya gue pernah bahas isu ini di akun youtube gue yang lama. Berikut link videonya kalau yang pengen tau, isinya kurang lebih sama.

Gue berencana buat ngebahas lebeih lagi mengenai warna dalam postingan selanjutnya. Semoga bisa kelakon ya. Untuk sekarang gue undur diri dulu. Ada beberapa tugas ujian yang harus gue lakuin kalau gue mau lulus kuliah yang bener. Sampai nanti lagi ya. Selamat berlibur.

Edan

Halo setelah sebulan lebih saya undur diri, sekarang saya kembali. Entah gue juga nggak paham tapi sebulan kemaren ada aja hal-hal unik yang ngebuat gue nggak bisa fokus. Tapi yasudalah, gue juga manfaatkan periode itu buat istirahat dan buat ngasi jeda aja, jadi bulan ini saya akan kembali menulis. Terus terang aja bulan ini banyak peer, dan ya cukup memusingkan juga, tapi menarik dan juga agak tertantang. Ya kita liat aja bisa ampe gimana gue bulan ini.

Sedikit mengenai apa yang terjadi seputar gue. Pertama, periode 1152 sudah selesai, dan sekarang lagi persiapan memasuki periode 1153. Artinya, gue bakal dapet kelas baru lagi semester depan. Harusnya gue update CV gua yah, soalnya jumlah kelas yang gue pegang kan udah bertambah juga. *Senang*. 1153 berat sih, dan dalam periode waktu yang nggak bersahabat juga. Tapi ya seorang pelajar harus bisa belajar gimanapun juga, karena hakekatnya adalah untuk menangkap dan juga mencerna terlepas apapun situasinya.

Ya terus terang gue sendiri juga udah sempet ke skip dan melupakan prinsip tersebut. Gue sempet beberapa kali down dan agak lose hope dengan kelas-kelas gue, tapi ya gue coba inget kembali apa aja yang udah gue terima, dan gimana sih gue sendiri dulu. Memang gue nggak dalam situasi yang serupa dengan mereka, tapi gue sadar dulu gue pernah menjadi mereka, menjadi orang-orang yang buta dan butuh bantuan. Gue sekarang udah lewatin itu, walau belum sepenuhnya juga. Sekarang gue harus bisa nuntun juga, nggak cuma dituntun.

Bulan ini juga gue abis ngerampungin beberapa proyek. Nggak banyak, dan nggak extravagan juga, tapi it’s done. Sampai pada titik proyek gue udah ada yang rampung aja sebenernya udah sebuah pencapaian sih. Pencapaian dimana gue berhasil bertahan ataupun sukses berinovasi. Di setiap proyek yang gue lewatin pasti ada hal-hal baru yang gue pelajari. Karena menurut gue, nggak ada proyek yang sia-sia, dan nggak ada pelajaran yang nggak bermanfaat. Mungkin gue belum liat manfaatnya sekarang, tapi gue belajar untuk percaya bahwa kelak akan ada manfaatnya juga, seberapa kecil ataupun signifikan proyek tersebut terhadap karir gue.

Oh, dan bulan ini gue juga sampai ke sebuah konklusi. Ceileh. Gue sampai pada pendirian bahwa gue nggak cocok dan nggak bisa bikin proyek iseng atau random gitu aja. Gue nggak bisa kejar form dengan buta gitu. Ketika gue eksperimen, gue tetep butuh yang namanya pemahaman akan didalam dan disekitar. Gue butuh konten dan juga konteks, tapi ya gitu, gue agak hipster, jadi gue coba urungkan penggunaan kata tersebut. Kemaren-kemaren gue mau coba ‘bebas’ bikin sesuatu, dan astaga susah banget. Gue selalu stuck dengan memikirkan apa tema yang pas, dan bukan bentuk apa yang harus gue kejer. Dah salah fokus dan abis tenaga dari awal gitu deh, capek. Mungkin gejala ini sebenernya udah ada dari dulu. Gue paling bingung kalo udah dibilang bebas tuh. Bebas dalam artian bikin karya apa aja bebas. Bingung abis. Gue suka banget dihajar sama brief, atau dikasih tema minimal. Ngebantu gue banget sih. Mungkin hal ini juga yang melatar-belakangin obrolan gue sebelumnya.

Ah minggu ini gue pengen nonton Captain America Civil War. Nanti kalo udah nonton, gue pasti ngobrol lagi di blog ini. Entah kenapa gue demen juga ngulas ‘sensasi’ apa yang gue dapet selama nonton. Dimana hal itu biasanya menjadi alesan utama gue bisa apresiasi sebuah film. Maklum yak, saya bukan anak film atau sinematografi. Saya cuma demen nonton dan sangat ekspresif menggambarkan isi kepala gue, sesuatu yang mungkin emang nggak mudah gue lakukan di kehidupan nyata. Jadi ya gitu deh, pelarian nih blog. Haha.

Eniwei gue nggak akan lama lagi. Masih ada beberapa hal yang harus gue kejer buat besok. Diantaranya gue harap bisa share dalam waktu dekat.