Belajar Dihambat

Ada orang-orang yang suka dibatasi, dan ada orang-orang yang lebih memilih untuk tidak dibatasi. Tapi ini secara general loh ya. Dalam kerjaan, gue memiliki pengalaman sama kedua jenis orang tersebut, orang-orang yang suka dibatasi, dan juga yang tidak bisa dibatasi. Sering kali gue langsung bisa ngenalin tipe orang-orang itu ketika mereka pertama kali terima brief kerja. Ada yang demen banget sama brief-brief ‘bebas eksplorasi’, dan ada yang suka kalau briefnya secara spesifik dijabarkan. Gue sebagai dosen, lebih suka membatasi murid-murid gue dalam berkarya. Minimal secara output dan content, fungsinya biar mereka nggak lari-lari dalam bikin tugas dan juga supaya lebih mudah untuk ‘membandingkan’ dan menilai. Salah satu tujuan lain yang ga cukup kalah adalah supaya mereka biasa kerja dibatasi, karena realita yang gue alami adalah banyak sekali pekerjaan desain yang penuh dengan batasan. Khususnya batasan waktu dan batasan budget.

Jadi apakah batasan-batasan adalah hal yang negatif?

Buat gue sekali-kali enggak. Batasan membuat kita ‘terperangkap’ dalam ruang yang sama, dalam konteks yang lebih memiliki relevansi, dan disinilah menurut gue proses pembelajaran dan pengembangan individu bisa lebih efektif. Pelajar bisa diperkenalkan pada dunia kompetisi, yang fungsinya hanya sekedar untuk menapakkan kaki mereka ke realita. Mungkin memang ada orang-orang yang menilai kompetisi itu hal yang nggak baik, tapi ya balik lagi untuk menjadi ‘perbandingan’, menjadi ‘tolak ukur’, untuk landasan kritik dan pembelajaran menurut gue ‘batasan’ itu perlu.

Sebelum banyak berargumen lebih lanjut coba kita berhenti dan membayangkan. Bayangkan kita masuk ke kelas gambar, dan arahan dari dosen adalah : menggambar bebas. Secara sederhana, anak bisa bebas menggambar apa saja yang ia mau. Kalau ada yang nyeleneh, ya mungkin nggambar yang nyeleneh. Secara lebih luas, anak bisa menggambar dalam ukuran dan alat apapun yang ia mau, bisa saja ada anak yang mengumpulkan ukuran A2, dan temen sebelahnya Cuma nggambar ukuran A7. Secara ekstrim, sang anak bisa menggambar kasar dalam 10 menit, da nada anak yang memilih menggambar dalam setahun. Secara lebih ekstrim lagi, anak bisa menggambar di meja, di bangku, di tembok, bahkan di wajah pengajarnya kalau ia berani. Dan dalam pemahaman gue, anak itu sah-sah saja, karena arahan dari dosen adalah ‘menggambar bebas’. Kalau ada kasus vandalisme atau kasus plagiat atau kalau secara ekstrim ada kasus pelecehan/penganiayaan/kekerasan (seperti menggambar di jidat teman), gue rasa sudah menjadi tanggung jawab sang dosen juga.

Tapi tunggu, kan sudah sewajarnya anak nggak menggambar di jidat temannya? Disini gue mengasumsikan ‘sewajarnya’ adalah sebuah batasan moral dan etika. Kalau batasan moral dan etika diperlukan, berarti secara tidak langsung batasan-batasan itu ada secara tidak terlihat bukan?

Selain bicara menggambar di jidat, bayangkan apabila kasus di kelas, arahan sang dosen adalah : menggambar still life dalam waktu 60 menit di A3, dengan media watercolor (still lifenya lalu dosen mengambil serangkaian buah ditaruh diatas baskom seperti pada umumnya). Disini, anak pasti akan menggambar selama durasi yang diberikan, menggambar dalam bidang yang ditentukan, dan dengan alat gambar yang digunakan. Lalu apakah akan sama semua hasil anak-anak satu kelas? Tentu tidak. Kompetensi teknis tentu akan mempengaruhi, lalu dia duduk dimana dan melihat seperti apa akan mempengaruhi sudut sang baskom berbuah tadi, pilihan untuk menggambar sebesar apa di kertas pun juga akan mempengaruhi komposisi gambarnya. Jadi apa yang ingin gue utarakan? Dengan batasan-batasan saja, hasil yang dicapai bisa tetap beragam. Dalam sisi pengajaran, apabila akan diadakan review hasil kelas, gue rasa hasilnya pun akan bisa lebih relevan: semua anak melihat obyek yang sama (walau terserah mau dari sudut pandang mana) dan mengerjakan dengan batasan yang sama. Kita bisa bahas, si Anu memiliki sudut pandang dan komposisi asimetris, si Ani memiliki kemampuan teknis yang tinggi walaupun komposisinya monoton, Si Ane memiliki kemampuan teknis yang kurang namun eksplorasi dalam komposisinya yang hiperbolik. Menyenangkan bukan?

Gue rasa inilah yang memang diterapkan di kelas-kelas pada umumnya. Disini gue Cuma ingin memberikan opini dan sudut pandang gue tentang aturan/ketentuan/batasan dalam kelas. Kita perlu tau kapabilitas kita, dan bagaimana cara kita tau sudah sampai mana kapabilitas kita kalau kita tidak pernah menengok orang-orang disekitar kita? Lalu, orang yang kita tengok harus seperti apa? Tidak perlu depresi apabila kita membandingkan diri, dan menemukan bahwa kompetensi kita sekarang masih sangat lemah. Yauda lah ya makannya kan beda, minumnya juga beda, tidurnya juga di kamar yang berbeda. Yang penting udah tau, keukur (walau belum tentu perbandingannya ‘adil’) terus kita mengambil sikap (kalau bisa ya yang positif), tentuin kita mau gimana, dan di laksanakan deh sebaik mungkin. Jangan anggep batasan itu sebuah hambatan mutlak (karena mungkin awalnya menghambat) Kalau sudah kita lewati, harusnya akan membawa dampak yang positif, baik membawa kita ke tahap yang lebih tinggi (atau luas kalau selama ini mbayangin hambatan itu seperti tembok).

Jadi sekian, maaf ga ada gambar. Salam, selamat malam mingguan ya.

Advertisements

Published by

b e a

Seseorang yang belajar desain.

2 thoughts on “Belajar Dihambat”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s