Coba – Coba

‘Bekerja’ adalah sebuah kata yang gue pribadi nggak begitu suka. Terkesan formal, terkesan seperti sebuah beban/ paksaan, walau mungkin belum tentu seperti itu juga. Terkesan agak membosankan atau monoton. Nggak ada sentuhan pribadi atau nggak ada ekspresi didalamnya. Tapi itu menurut gue loh ya. ‘Kewajiban’ adalah sebuah kata yang gue pribadi lebih nggak suka, tapi suka gue pake. Kewajiban memiliki kesan yang lebih terpaksa. Kalau dulu pas SD dibilang, “kalau kita mau dapetin hak kita, kita harus lebih dulu melakukan kewajiban kita” which is bagus sekali sebenernya, tapi sayangnya ada orang-orang yang memaksakan haknya tanpa melakukan kewajibannya. Belum lagi ditambah dengan kata dasar kewajiban itu ‘wajib’. Beh. ‘Tanggung jawab’ adalah sebuah kata yang sering kali digunakan menggantikan kata ‘bekerja’. Tanggung jawab memiliki kesan yang lebih mulia, patriotik. Terkesan apa yang lagi dilakukan itu penting dan spesial, seolah kalo nggak elo, sapa lagi bro?

Gue pribadi menggunakan ketiga kata itu untuk menjelaskan apa yang gue lakukan. Gue menjelaskan gue memiliki tanggung jawab ngajar, nyiapin materi, ngedidik anak-anak. Gue bilang gue punya tanggung jawab atas keluarga gue, atas istri dan anak-anak gue kelak. Tapi gue bilang gue ngerjain proyek X atau proyek Y ketika gue ngerasa proyek itu udah nggak banyak ngebawa keuntungan non materiil buat gue. Misal, gue udah nggak bangga atas kerjaan gue karena masalah ini dan itu. Terakhir gue menggunakan kata ‘kewajiban’ gue buat hal-hal yang kalau diizinkan dan diperbolehkan, gue bakal nggak lakuin, contoh: ‘gue punya kewajiban buat ngurus surat X or suray Y’. Gue nggak suka.

Gue mulai menyadari pemilihan kata gue berubah ketika gue banyak melakukan banyak aktivitas, seperti kerja X, Y, Z, dll. Gue mulai menilai apa yang gue lakukan itu buat apa, apakah buat gue sendiri sekarang atau nanti di masa yang akan datang, atau gue lakukan karena gue harus lakuin, atau gue ‘berkewajiban’ untuk melakukan itu? Hal-hal ini mulai ngebuat gue merespon lebih lama, bukan karena lambat, tapi karena ada hal-hal yang gue harus ukur dulu, dipikirin dulu. Gue sekarang lebih ngerem ketika ada tawaran atau gue secara impulsive ingin melakukan sesuatu. Gue merasa nggak bertanggung jawab ketika gue melakukan banyak hal dan hal-hal tersebut hasilnya nggak maksimal atau malah nggak kelar. Gue suka maen, suka nyoba hal-hal baru, dulu itu jadi beban buat gue yang impulsive, sekarang udah bisa agak ditahan maennya. Alhasil gue bisa lebih fokus nyelesaiin tanggung jawab, kerjaan dan kewajiban gue.

Lalu muncul pertanyaan, apakah gue suka ngelakuin itu semua? Terus terang aja kadang tanggung jawab pun tidak menyenangkan gue. Tidak membuat gue senang ketika dikerjakan maupun diselesaikan. Terkadang tanggung jawab perlahan berubah menjadi kewajiban. Tapi balik lagi, suka apa nggak itu perasaan, dan gue nggak mau terlalu didikte sama perasaan gue. Gue mikir itu harus dilakukan, dan suka apa nggak, males apa nggak, ya harus dilaksanakan. Melelahkan, sulit dan mengesalkan, tapi bagian dari kehidupan setiap orang.

Jadi apakah gue hidup dengan menyumbat semua perasaan gue terhadap aktivitas gue? Nggak juga. Ada hal-hal yang gue suka lakukan, dan kadang ada kala ketika gue demen banget ngelakuin hal-hal yang ga biasanya gue lakuin, kadang gue suka melakukan kewajiban gue. Nah ini nih yang gue gatau kenapa bisa demikian, dan ketika itu terjadi, gue memilih buat nggak ngeblok impulse tersebut. Membantu gue lebih produktif, kayak sekarang.

Jadi, apa sih yang pengen gue utarakan dalam catatan singkat gue hari ini? Kalau mengikuti bahasa komersil sekarang, “just do it”. Ya bukan gue bilang lakukan aja tanpa mikir, tapi lebih ke  apa yang udah di putuskan dan sudah ditentukan akan dilakukan, baik itu kewajiban, pekerjaan, maupun tanggung jawab, lakuin aja semaksimal mungkin, kita nggak tau kan nanti kedepan bakal gimana? Kalau meminjam optimisme orang-orang, siapa tau abis kita menyelesaikan pekerjaan kita, kita bisa mendapatkan sebuah tanggung jawab? Sebuah posisi (atau jabatan) yang kita inginkan selama ini, atau siapa tau kita bisa mendapat banyak hal (selain duit atau pemasukan). Ada banyak hal diluar sana yang mungkin asing buat kita, kita belum tau kita bakal suka apa nggak, tapi ya kita bakal tau suka apa nggak ketika kita udah nemuin itu kan? Ada orang-orang yang nggak suka kerja desain, dan dia nyemplung di dunia copywriting dan nagih gitu. Orang itu udah cobain ngedesain, makannya dia tau dia ga suka, dan dia coba dunia copywriting, dan dia suka. Dia coba baru dia tau. Tapi gue harus tarik kembali, bukan berarti coba-coba sembarangan juga, tetep coba pakai hikmat dan akal sehat, tau apa yang mau lu lakuin. Mungkin untuk sekarang itu dulu. Selamat coba-coba.

 

Advertisements

Published by

b e a

Seseorang yang belajar desain.

One thought on “Coba – Coba”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s