Lokakarya Seni Lintas Media

Di Galeri Nasional, Rabu lalu, tanggal 2 Maret 2016. Iya, saya ikut.haha. Gue ikut sama temen-temen dari jurusan DKV, ada campuran dosen dan mahasiswa jadinya di acara ini. Disini kita ikut dan mendengar banyak banget. Udah denger banyak terus dopet bantak juga dong. Ga coma asal denger doang.

Jadi sebelumnya, acara apa sih ini? Acara ini merupakan salah satu program yang diadakan sebagai bagian dari Pameran ‘Pintu Belakang | Derau Jawa’ oleh Hanafi. Lokakarya ini berisi presentasi dari berbagai narasumber dalam bidangnya masing-masing, dimana mereka menceritakan apa yang mereka kerjakan. That’s it. Tapi disini ada berbagai macam cerita, baik dari segi ekonomi, sosial, politik, seni, budaya, akademik, IT, dll. Banyak sekali. Kepala gue juga agak bingung memilah-milah informasi yang sanggup gue simpan sementara.

20160302_101848.jpg
Salah satu pemateri, Yuka D. Narendra

Apakah ada kesamaan atau benang merah dari obrolan-obrolan ini? Ada sih harusnya. Maksud dari loka karya ini adalah untuk pembahasan dan pengandaian dan memproyeksikan warteg pada tahun 2085 itu gimana sih? Apakah masih relevan? Apa yang masih ada? Apa yang udah punah? Nah, itu sih isi undangan yang gue dikasi tau pas mau hadir ke acara ini, sayangnya gue sendiri nggak ikut acara sampai selesai bener, jadi maaf saya nggak bisa bicara banyak tentang hal itu. Tapi kembali mengenai benang merah obrolan ini, gue ngeliat gimana mereka menggunakan data-data sebagai ‘senjata’ mereka dalam berkarya dalam bidangnya masing-masing. Gimana data membawa validitas dalam setiap isu yang mereka bawa. Salut dan cukup membukakan banget buat gue.

Gue suka gimana data bisa menjadi sebuah opsi tersendiri buat gue. Memang ga semua orang bisa dilawan dengan data, tapi ya gue merasa data bisa dikatakan ‘obyektif’, ‘sah’ atau pun ‘valid’ ketika dipresentasikan pada beberapa pihak. Gue kadang merasa perlu mencari backing-an data ketika harus mempresent karya desain gue, khususnya buat dosen-dosen. Gue ngerasa dengan adanya data, itu ‘menjustifikasi’ pilihan gue dalam mendesain, atau setidaknya, nunjukkin ke mereka gue nggak asal-asal. Dan gue rasa ini memang realita yang terjadi sebenernya di beberapa kampus (atau mungkin semua) dimana ‘data’ membantu ‘latar  belakang’ yang membentuk ‘konsep’ dan melahirkan ‘desain’. Ironis kah? Mungkin, tapi setidaknya data membantu melatih kita buat berhenti, berfikir sebelum terjun gitu aja. Data ngebantu gue ngambil keputusan. Apakah data mendikte pilihan gue? Mungkin, toh gue mengembil sebuah sikap setelah gue melihat atau mempelajari sebuah informasi atau fenomena atau ‘data’ itu tadi.

Ok, kita balik ke acara.

Setelah ada presentasi sendiri dari pemateri yang ada, kita ada ‘acara’ nongkrong di warteg, dimana pada kesempatan itu, kita dibiarin buat cair, buat ngelebur dan nyatu terlepas dari struktur acara yang formal. Kita bisa duduk, makan, ngopi, mungkin sedikit ngebul sambil ngomongin hal apa aja. Sama seperti budaya warteg yang mungkin sekarang udah nggak gitu ada.

Buat gue ndiri, gue di Jakarta or Tangerang nggak pernah nongkrong di warteg, bukannya karena udah punah or nggak ada, tapi simply karena gue nggak pernah terlintas or terpikir aja buat demikian. Gue pernah nongkrong di warteg dulu pas lagi naek gunung. Ya kan ada warteg, terus ya duduk-duduk aja nongkrong n ngebaur sama orang sebelah, lucu juga, sesuatu yang nggak gue lakukan disini, di kota. Tapi hey, itu gue doang kali ya?

Abis ngewarteg, kita balik lagi. Kali ini kita share mengenai isu-isu atau keresahan yang ada. Kali ini nggak ada pemateri khusus, jadi peserta atau yang tadi jadi penonton, boleh ikut ngomong. Yaa disini lebih liar sih daripada sesi materi tadi. Bagus atau nggak, gue nggak tau juga, tapi itulah yang terjadi. Gue nggak bisa nilai dari sisi materi apakah bagus apa nggak, tapi yang gue rasain, gue bisa denger opini orang. Gue bisa denger apa yang jadi ‘keresahan’ atau ‘komplain’ atau ‘uneg-uneg’ dari orang-orang yang sebelum hari itu nggak gue ketahui eksistensinya. Gue emang nggak berdialog, tapi gue bisa mendapat pemikiran mereka. Gue enjoy hal-hal kayak gitu, asal nggak too much aja.

Sekitar jam 2.40, rombongan dari kampus gue mau balik jadi kita keluar lebih awal. Gue nggak tau kelanjutan acaranya gimana. Yang gue tau rencanannya mereka bakal bikin ‘karya’ lalu dipamerkan. Itu aja sih, kalau berjalan sesuai rencana ya harusnya udah pameran juga. Maklum saya jurnalis telatan, acara bubar baru nulis. Haha.

Eniwei mungkin yang ingin gue share dari acara ini adalah satu: Ketika kita bekerja ataupun berkarya untuk hal yang baik, percayalah kita nggak sendiri, ada orang-orang lain, dalam belahan dunia lain, ataupun dalam bidang lain yang juga bekerja dan berkarya untuk kebaikan juga. #optimisme

Jadi gitu aja buat sekarang. Salam, Have a great day.

Advertisements

Published by

b e a

Seseorang yang belajar desain.

One thought on “Lokakarya Seni Lintas Media”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s