Maret 2016

Nggak kerasa udah mau sebulan sejak blog ini pertama kali gue bikin. Yaa persiapan sih udah dari sebelumnya, tapi emang sih baru bener-bener bisa kebentuknya belakangan ini. Berhubung besok agenda agak padat, jadi gue mau evaluasi kerjaan gue sendiri bulan ini sekarang. Haha.

Dalam bulan ini gue bikin 12 postingan, ini yang ketiga belas. Dan dalam postingan itu kalo gue liat sendiri, gue ngebahas tentang film lima kali. Well ga semua ngomong tentang filmnya sih, kalau yang Zootopia gue ngebahasnya lebih ke aspek desain yang gue liat dan sedikit materi-materi desain (Movie Review, Anatomi Huruf, Hirarki Desain), nah tapi contohnya secara spesifik si Zootopia itu. Kalau Film Batman V Superman sama Mad Max: Fury Road gue lebih ngomongin tentang refleksi diri dari apa yang gue dapet di film itu. Terus gue ikut 2 pameran, dimana keduanya gue liput sebisa gue di blog ini juga (HT -Shift & Lokakarya Lintas Media). Gue juga sempet ngomongin tentang McD dan desain kemasannya. Terakhir gue ada sempet ngeluarin uneg-uneg pemikiran gue tentang Belajar Dihambat, Coba-Coba dan Typografi & Pasangan Hidup. Banyak juga ya. Dari insight yang dikasi sama wordpress, gue belajar bahwa post gue yang paling ramai (kalau boleh disebut kayak gitu), ada di Batman V Superman. Kayaknya sih gara-gara lagi trend kekinian aja. haha. Gue harap postingan gue bisa lebih ramai dan mulai ada interaksi juga buat bulan depan. Amin.

Selain dari postingan, gue sempet ngulik dikit wordpress gue. Ngganti theme dan juga desain yang gue pengen. Nggak banyak, tapi gue lakukan. Disini gue ngerasa gue masih perlu banyak belajar ngulik wordpress. Yaaa buat mbikin struktur blog yang lebih bagus lagi. Maklum, gue nggak piawai dalam HTML dan CSS. Gimana yang lain. haha.

Terlepas dari kegiatan di blog, di beberapa minggu ini gue ada kesempatan buat ngedesain lagi, buat ngulik-ngulik lagi. Mungkin belom semua bisa gue update di portfolio (atau bahkan disini) karena ya emang gue sendiri masih keteteran ngupdate di behance ataupun kreavi gue. Tapi will do my best. Kalo ngelirik HD gue, gue masih ada beberapa kerjaan typografi, poster, editorial dan juga digital yang belom gue masukin. Ada yang iseng, ada yang client work, ada yang experimental. Eh, sama aja ya iseng dan experimental?

Nah abis ngeliat ini dan itu timbul dong pertanyaan gue selanjutnya. Dalam April 2016 gue mau ngapain aja sih? Nah ini nih yang membingungkan karena gue sendiri belum tau mau ngapain. Cuma kalo ngeliat to do list gue. Paling utama ya gue mau nulis lebih konsisten tentang apa yang ada di dunia gue. Kalo sekarang sih desain dan sedikit film. Selain itu, mungkin gue bakal coba posting karya fiksi. Nah, ini nih yang agak serem juga. Karena pada dasarnya kan gue bukan penulis fiksi (Ya penulis normal aja juga belom.) tapi gue sendiri kadang kesambet sama ide-ide yang emang sayang kalo nggak gue tuangin jadi ya mungkin akan ada dalam bulan April 2016.

Kayaknya begitu dulu deh sekarang. Gue mau persiapan dulu buat kelas. Sampai nanti lagi ya, sampai nanti bulan April maksudnya. Salam, jangan sampai masuk angin.

Advertisements

Batman V Superman : Antara Dua Metode

Halo, saya lagi disini ngomongin tentang film. Hem. Harusnya gue banyak ngomongin masalah desain sih sesuai nama gue, tapi gatau kenapa malah jadi banyak ngomongin film. Haha. Mungkin perlu ganti nama kali ya jadi beasiswafilm. #eh.

Gue pengen ngomongin tentang apa yang gue pribadi dapet dalam film yang menurut gue epic ini. hem. Epic mungkin agak berlebih, tapi menurut gue ini salah satu film superhero yang bagus banget menurut gue. Nggak banyak film superhero yang punya nilai-nilai yang menarik untuk dipetik. Banyakan ya gitu doang, ada orang, mendadak dewa, ketemu musuh, berantem, terus menang. gitu… gitu… aja…

Tapi film ini beda. Sebelumnya gue perlu bilang satu hal. Gue nggak bermaksud spoil filmnya, tapi buat amannya, gue kasi tau di awal. SPOILER ALERT.

batman-v-superman-pink-eye

OK, kita lanjut. Jadi di Batman V Superman, atau BVS, film ini basicly nyeritain Batman ada konflik ama Superman. Tentang gimana konfliknya, dan kenapa, terus endingnya gimana, gue nggak akan share dulu sekarang. (Toh filmnya baru keluar) Buat gue, Batman dan Superman sebenernya ngomongin tentang dua paradigma yang sebenernya muncul sebagai responsi terhadap sebuah isu. Hanya saja kedua prinsip ini nggak jalan berdampingan sambil gandeng tangan. Mereka agak sikut-sikut dan saling ngejorokin kadang. Batman, menggambarkan sifat yang radikal, yang kalkulatif, yang preventif. Sedangkan Superman, dengan kekuatan nonbumi nya, menggambarkan sifat yang impulsif, tapi agak naif dan ya agak destruktif juga jadinya.

Ok, intinya Batman melihat segala kemungkinan yang ada, baru bertindak berdasarkan itu, sedangkan Superman, terjun dulu dan konsekuensi muncul, dan ya konsekuensinya cukup fatal sih sebenernya. Disini-lah gue ngerasa bimbang dan ragu antara keduanya. Keduanya mau ngebela hal yang bener, tapi ya beda aja caranya. Mungkin kalau di pengalaman gue pribadi, gue pernah kerja kelompok sama orang yang agak banyak maunya. Kalau dapet brief tugas langsung meledak-ledak, kepikir ide A sampai Z, dan pengen buruan kerjain dan kelarin, dan agak perfeksionis juga kadang. Disatu peristiwa lain, gue pernah kerja kelompok sama orang yang nyantai banget, sampai-sampai tinggal satu hari masih belom ada hasil apa-apa. Tapi ya gitu, pas udah kurang dari 24 jam itu baru -lah muncul ide-ide yang aduhai. Begadang deh.

Dalam kasus pertama, gue pernah dapet nilai bagus juga, tapi gue nggak akan boong, gue pernah juga kerjain beberapa alternatif desain, gonta ganti, rombak sana rombak sini, muter-muter dan akhirnya kembali ke titik nyaris awal. dan ya hasilnya gitu-gitu aja jadinya. Dalam kasus kedua ya gue pernah juga dapet bagus dan nggak bagus. Pernah ya jadi chaos banget, tapi pernah dapet hasil keren banget dan dapet nilai A juga. Jadi disini pas gue nonton BVS itu tadi, gue ngerasa gue bisa relate ke-keduanya. Yaa nggak secara ekstrim, tapi ada hal-hal yang bisa mbikin gue paham dengan kondisi seperti itu. Gue merasa nggak bisa hidup dengan ke naif-an ala Superman. tapi ya gue juga nggak setuju dengan sikap skeptis Batman.

batman-v-superman-image-gallery

Kalau dalam pengalaman gue lagi, yang emang gue perlu lakukan ya mau nggak mau ngimbangin. Yaa gue perlu rem temen gue yang impulsif itu, dan perlu mecut temen gue yang pasif itu. Kesamaannya, gue harus liat dan bekerja juga. Yah, kalo kasus Batman sama Superman sih gue gatau juga ya. Gue bukan mereka soalnya. Gue rasa Batman kan suka mikir, nah, jangan takutan dong. Coba pikir dengan akal sehat. Superman juga. Katanya punya sensor atau indra tajem, ya mbok dipake. Jangan nabrak-nabrak tembok aja. Kecuali lawan Jendral Zod lagi. haha.

Terlepas dari banyaknya review jelek tentang film ini. Ada hal lain yang bisa gue tarik dari Superman. Sebenarnya kutipan sih, tapi gue sendiri nggak bener-bener inget persis apa omongannya. Jadi dia ngomong ini ketika ada insiden yang terjadi karena dia lengah. Dia ngomong ke pacarnya,

It’s not because I cannot see,
It’s because I wasn’t looking.

Sederhana, tapi ketika dalam scene itu gue ngerasa sangat relevan. Banyak hal terjadi diluar rencana dan kendali kita. Tapi terkadang ada juga hal-hal terjadi yang sebenernya kita bisa cegah atau turut campur, tapi kita memilih buat ngabaiin, buat nggak mau lihat. Superman punya kemampuan buat ngeliat, tapi dia memilih buat fokus dengan hal-hal lain sampai akhirnya dia kecolongan. Batman punya kemampuan (kalau di film Dark Knight sih punya), tapi dia gunakan buat fokus hal lain. Keduanya bukan nggak bisa ngeliat, tapi memilih melihat hal lain, sehingga kepancing deh. Sehingga Batman VS Superman. Nonton deh, keren.

Salam Damai, selamat libur.

Belajar Dihambat

Ada orang-orang yang suka dibatasi, dan ada orang-orang yang lebih memilih untuk tidak dibatasi. Tapi ini secara general loh ya. Dalam kerjaan, gue memiliki pengalaman sama kedua jenis orang tersebut, orang-orang yang suka dibatasi, dan juga yang tidak bisa dibatasi. Sering kali gue langsung bisa ngenalin tipe orang-orang itu ketika mereka pertama kali terima brief kerja. Ada yang demen banget sama brief-brief ‘bebas eksplorasi’, dan ada yang suka kalau briefnya secara spesifik dijabarkan. Gue sebagai dosen, lebih suka membatasi murid-murid gue dalam berkarya. Minimal secara output dan content, fungsinya biar mereka nggak lari-lari dalam bikin tugas dan juga supaya lebih mudah untuk ‘membandingkan’ dan menilai. Salah satu tujuan lain yang ga cukup kalah adalah supaya mereka biasa kerja dibatasi, karena realita yang gue alami adalah banyak sekali pekerjaan desain yang penuh dengan batasan. Khususnya batasan waktu dan batasan budget.

Jadi apakah batasan-batasan adalah hal yang negatif?

Buat gue sekali-kali enggak. Batasan membuat kita ‘terperangkap’ dalam ruang yang sama, dalam konteks yang lebih memiliki relevansi, dan disinilah menurut gue proses pembelajaran dan pengembangan individu bisa lebih efektif. Pelajar bisa diperkenalkan pada dunia kompetisi, yang fungsinya hanya sekedar untuk menapakkan kaki mereka ke realita. Mungkin memang ada orang-orang yang menilai kompetisi itu hal yang nggak baik, tapi ya balik lagi untuk menjadi ‘perbandingan’, menjadi ‘tolak ukur’, untuk landasan kritik dan pembelajaran menurut gue ‘batasan’ itu perlu.

Sebelum banyak berargumen lebih lanjut coba kita berhenti dan membayangkan. Bayangkan kita masuk ke kelas gambar, dan arahan dari dosen adalah : menggambar bebas. Secara sederhana, anak bisa bebas menggambar apa saja yang ia mau. Kalau ada yang nyeleneh, ya mungkin nggambar yang nyeleneh. Secara lebih luas, anak bisa menggambar dalam ukuran dan alat apapun yang ia mau, bisa saja ada anak yang mengumpulkan ukuran A2, dan temen sebelahnya Cuma nggambar ukuran A7. Secara ekstrim, sang anak bisa menggambar kasar dalam 10 menit, da nada anak yang memilih menggambar dalam setahun. Secara lebih ekstrim lagi, anak bisa menggambar di meja, di bangku, di tembok, bahkan di wajah pengajarnya kalau ia berani. Dan dalam pemahaman gue, anak itu sah-sah saja, karena arahan dari dosen adalah ‘menggambar bebas’. Kalau ada kasus vandalisme atau kasus plagiat atau kalau secara ekstrim ada kasus pelecehan/penganiayaan/kekerasan (seperti menggambar di jidat teman), gue rasa sudah menjadi tanggung jawab sang dosen juga.

Tapi tunggu, kan sudah sewajarnya anak nggak menggambar di jidat temannya? Disini gue mengasumsikan ‘sewajarnya’ adalah sebuah batasan moral dan etika. Kalau batasan moral dan etika diperlukan, berarti secara tidak langsung batasan-batasan itu ada secara tidak terlihat bukan?

Selain bicara menggambar di jidat, bayangkan apabila kasus di kelas, arahan sang dosen adalah : menggambar still life dalam waktu 60 menit di A3, dengan media watercolor (still lifenya lalu dosen mengambil serangkaian buah ditaruh diatas baskom seperti pada umumnya). Disini, anak pasti akan menggambar selama durasi yang diberikan, menggambar dalam bidang yang ditentukan, dan dengan alat gambar yang digunakan. Lalu apakah akan sama semua hasil anak-anak satu kelas? Tentu tidak. Kompetensi teknis tentu akan mempengaruhi, lalu dia duduk dimana dan melihat seperti apa akan mempengaruhi sudut sang baskom berbuah tadi, pilihan untuk menggambar sebesar apa di kertas pun juga akan mempengaruhi komposisi gambarnya. Jadi apa yang ingin gue utarakan? Dengan batasan-batasan saja, hasil yang dicapai bisa tetap beragam. Dalam sisi pengajaran, apabila akan diadakan review hasil kelas, gue rasa hasilnya pun akan bisa lebih relevan: semua anak melihat obyek yang sama (walau terserah mau dari sudut pandang mana) dan mengerjakan dengan batasan yang sama. Kita bisa bahas, si Anu memiliki sudut pandang dan komposisi asimetris, si Ani memiliki kemampuan teknis yang tinggi walaupun komposisinya monoton, Si Ane memiliki kemampuan teknis yang kurang namun eksplorasi dalam komposisinya yang hiperbolik. Menyenangkan bukan?

Gue rasa inilah yang memang diterapkan di kelas-kelas pada umumnya. Disini gue Cuma ingin memberikan opini dan sudut pandang gue tentang aturan/ketentuan/batasan dalam kelas. Kita perlu tau kapabilitas kita, dan bagaimana cara kita tau sudah sampai mana kapabilitas kita kalau kita tidak pernah menengok orang-orang disekitar kita? Lalu, orang yang kita tengok harus seperti apa? Tidak perlu depresi apabila kita membandingkan diri, dan menemukan bahwa kompetensi kita sekarang masih sangat lemah. Yauda lah ya makannya kan beda, minumnya juga beda, tidurnya juga di kamar yang berbeda. Yang penting udah tau, keukur (walau belum tentu perbandingannya ‘adil’) terus kita mengambil sikap (kalau bisa ya yang positif), tentuin kita mau gimana, dan di laksanakan deh sebaik mungkin. Jangan anggep batasan itu sebuah hambatan mutlak (karena mungkin awalnya menghambat) Kalau sudah kita lewati, harusnya akan membawa dampak yang positif, baik membawa kita ke tahap yang lebih tinggi (atau luas kalau selama ini mbayangin hambatan itu seperti tembok).

Jadi sekian, maaf ga ada gambar. Salam, selamat malam mingguan ya.

Hirarki dalam Desain dengan Zootopia!

Yes. Lanjut lagi dengan Zootopia! Mungkin kalau dibuat seri, sekarang gue udah masuk part ketiga, udah trilogi postingan yak. haha.

Part 1 : Tema & Isu dalam Zootopia

Part 2: Anatomi Huruf dalam Logo Zootopia

Sekarang gue mau ngomongin apa yang jadi makanan gue dalam belajar sehari-hari sekarang. Gue mau bicara mengenai salah satu prinsip desain, yaitu Hirarki. Tapi sebelumnya gue harus sedikit bicara bahwa ada banyak sekali opini tentang prinsip desain, dan mungkin salah satu sumber ada yang bilang hirarki tidak termasuk, tapi ada juga sumber lain yang dibilang hirarki termasuk. dll. Jadi ya kita lanjut saja, hal seperti itu minor kok, tidak perlu dipermasalahkan. Pokoknya kita bahas tentang hirarki dalam desain.Sebelumnya gue akan memperkenalkan dulu apa itu hirarki. Definisi dari dictionary.com cukup bagus untuk memulai.

Hierarchy : any system of persons or things ranked one above another.

Yes, secara singkat, dalam desain grafis. Hirarki bisa dikatakan sebuah sistem dimana ada elemen-elemen yang diposisikan lebih tinggi ‘kelas’nya. Buat apa? Nah kelas ini itu kita liat duluan, setelah itu baru selanjutnya, terus lanjut lagi seterusnya sampai habis. Gitu deh. Gue nemu gambar di internet yang cukup ngejelasin dengan cukup baik.

20130219_hierarchyofinformationgraphic_image

Nah. Kalau gue (dan gue harap kalian juga), gue liat di contoh sebelah kanan ‘lebih menarik’. ‘Lebih menarik’ ini ya karena adanya hirarki yang lebih terlihat di contoh sebelah kanan. Terus kita lanjut, emang hirarki yang sebelah kanan gimana sih? Balik lagi, kalau gue, gue akan lihat kotak merahnya duluan. Terus baru kotak Krem, baru ngeliat blok hitam. Inipun agak diperdebatkan. Karena disatu sisi gue mungkin akan ‘ketarik’ buat ngeliat blok hitam kebawah daripada ngeliat blok hitam paling atas. Sehingga elemen di sisi atas malah agak ke skip buat gue. Nah lho, nggak ok dong?

Nah disini lah gue akan ngomong komponen-komponen lain yang mempengaruhi hirarki buat gue. Pertama ya elemen desain itu sendiri. Bentuk, warna, ukuran elemen dan seterusnya. Jelas aja, yang dicontoh diatas gue liat kotak merah duluan karena ukurannya yang cukup besar (walau bukan paling besar), terus juga karena merahnya. Nah kedua, penyusunan elemen desain itu sendiri. Disini gue udah bicara mengenai prinsip desain, dan mungkin juga prinsip-prinsip gestalt. Inilah yang ngebuat gue lanjut liat kotak krem dibawahnya, dan bukan lihat ke atas. Dan karena sudah ada tendensi untuk melihat kebawah, maka ‘ketarik’lah gue untuk lanjut ngeliat ke arah bawah. Komponen lain menurut gue sebenernya konteks sih. Gimana kondisi kita ketika ngeliat desain atau obyek tersebut. Kalau gue liat secara gamblang ya begitulah hirarki yang gue dapet. Tapi coba kita sejenak bayangkan kalau obyek serupa itu kita liat sebagai layout website. Dimana kita harus scroll. Jadi mau nggak mau kita akan liat blok hitam paling atas (which is judul blog / judul web) baru kita liat blok hitam besar selanjutnya (judul post) dan seterusnya. Ketika dalam skenario tersebut, gue ga akan terekspos sama kotak merah tadi atau kotak krem. dan mungkin gue akan melihat/membaca semua elemen dalam desain tersebut secara menyeluruh, dan tetap terasa hirarkinya. Btw, ini cuma opini aja, nggak ada text book atau riset gimana-gimana kok. haha.

your-eyes-here

Nah contoh gambar diatas ini lebih keliatan deh hirarkinya, dengan maen ukuran huruf, case dari huruf juga, terus kalau kita ibaratkan dengan bentuk, bentuk ini sangat kontras dengan warna latar belakangnya, dan juga kontras lebih beasr daripada elemen-elemen lain. Gitu aja sih ngejelasinnya, dengan penjelasan itu, gue udah ngomongin masalah warna, typografis, komposisi, prinsip desain kontras, relasi figure ground, dan tentunya udah mbahas dikit tentang hirarki. Gue belum bahas mengenai pemaknaan dan aspek fungsi desain =P

zootopia

Nah kalau gitu kembali ke Zootopia. Gimana sih hirarkinya (menurut gue)? Kalau mau kita cacah-cacah tiap elemennya mungkin sulit yak. Kenapa sulit? Karena emang banyak banget elemen-elemen yang ada disana. Tapi secara sederhana gue bakal bahas dikit tentang flow mata gue, dan kenapa gue ngeliat seperti itu, dan kenapa gue bilang itu bagus.

  1. Gue liat Disney, kemudian judul Zootopia. Kenapa? Posisinya agak tengah, paling atas, sangat kontras dibandingkan dengan latar belakang biru langit, bandingkan dengan elemen-elemen lain yang ada di poster yang ramai. Jadi keliatan menonjol kan? Sedikit tambahan aja gue suka gimana mereka nggak harus blow up judul filmnya, dan gimana cerdasnya mereka implementasi judulnya terhadap poster secara keseluruhan. Duh, bisa bikin postingan baru cuma sekedar ngomongin itu.
  2. Gue liat icon rubah jalannya. Karena dia nempel juga sama judul. Mungkin juga dipengaruhi mata gue turun secara diagonal, ngikutin orientasi logo Zootopia yang emang agak diagonal turun begitu. Jadi otomatis buat gue, gue lanjut ngeliat bawahnya. Selain itu , icon rubahnya cukup beda. Terdiri dari elemen titik-titik yang sangat beda dengan elemen-elemen ilustrasi lainnya di sisi lain.
  3. Gue liat karakter kelinci dan rubah (terus si domba juga). Kenapa? Nah ini seru buat gue bahas. Kalau gue, sama kayak alesan sebelumnya, karena mereka bener-bener dibawah elemen icon rubah tadi sebelumnya. Mereka terletak satu orientasi di bawahnya. Lalu terlepas dari itu, perhatiin deh gimana terang gelap pencahayaan di poster juga membuat separasi khusus dari kedua tokoh ini dengan tokoh-tokoh lain. Jadi emang ya mata kita diajak ngeliat kesitu dengan terang gelapnya. Mungkin nggak bisa dijabarkan secara gamblang. Tapi ya kita akan persepsikan gitu. Persepsiin gimana terang itu sesuatu yang ingin di ekspos dan gelap sesuatu yang ingin disamarkan. Ini nih letak kekaguman gue terhadap posternya yang signifikan.
  4. Ya abis itu baru deh liat yang from the director bla bla bla dan juga March 4 nya. Karena pas mata gue udah sampe di rubah dan kelincinya, sekelilingnya gelap. Gue ga mungkin naik lagi ngeliat icon. Ya mungkin aja sih, tapi buat apa? Nah kedua text ini tiba-tiba muncul secara kontras dibandingkan dengan elemen lain. Jadi ya mereka langsung narik mata gue kesitu. Ditambah lagi karena mereka text. Elemen yang emang beda karakteristiknya disitu, jadi nimbulin kontras juga dibanding yang lain-lain.

Jeng jeng. Begitu deh. Nggak terasa banyak juga pembahasan gue. Sebelum ngetik berasa akan sangat singkat dan sederhana. Haha.

Kalau gitu gue sudahin dulu aja disini. Dalam kesempatan ini gue mau ucapin banyak terima kasih sudah membaca post saya. Kalau boleh, mungkin bisa di like atau juga di share ke teman-teman sesama pelajar desain. Setiap kritik dan komentar pasti akan membangun gue. Asal jangan terlalu pedas dan galak ya.

Jadi sampai disini dulu pembahasan gue tentang Zootopia. Salam, Have a great day. V

Zootopia!

OK, hari ini gue mau tulis sesuatu yang berbeda, sesuatu yang pengen gue tulis beberapa hari belakangan ini. Sesuatu yang menginspirasi gue dan gue diskusi terus menerus sampai temen-temen gue ngrasa gue agak aneh dan membosankan. Gue bakal ngebahas: ZOOTOPIA! Gue nonton Zootopia beberapa hari yang lalu. dan gue sangat hyped dengan film tersebut. Sebelumnya gue nggak tertarik sama film itu dan salah persepsi sebenernya tentang tu film. Gue pikir Zootopia itu film lain dengan judul ‘Zoo…’ juga.

maxresdefault3

Males kan? makannya gue sendiri nggak nonton trailer atau nggak nyadar keberadaannya sampai seminggu sebelum gue nonton tu film. dan gue harus akuin, gue super duper tertarik pas liat poster, liat trailer dan juga nyari tau tentang Zootopia. (bye bye Zoolander). Ok, sekarang kita ngomong dikit tentang Zootopia. Film aduhai ini adalah film animasi keluaran 2016 oleh Walt Disney Animation Studios. Kalau belum pernah tahu apa itu Walt Disney, boleh kok googling buat cari tau. Salah satu pengisi suara filmnya adalah Jason Bateman. Dirinya pertama kali gue liat di film ‘The Switch’ bareng Jennifer Anniston. Disitu gue cukup suka suaranya dan langsung recognize suara dia pas gue liat trailer Zootopia. Gue terus melanjutkan pencarian gue dengan liat poster filmnya (Bisa diliat di akhir paragraf). Poster filmnya keren banget buat gue. Mungkin dikesempatan lain gue bisa critain opini gue tentang poster film itu. Fix gue mau tonton ni film.

zootopia

Pergilah gue jumat lalu menonton film itu.

Fast forward ke hari ini.

Sebelumnya gue peringatkan karena gue mau ngulas tentang Zootopia, sudah pasti ada sedikit bocoran. Gue usahakan semaksimal mungkin buat nggak membocorkan, tapi ya kalau bocor juga ya jangan marah. Anda sudah saya peringatkan. Jadi secara sederhana aja. Zootopia adalah film yang menceritakan sebuah kota atau area, Zootopia, yang ditinggali sama binatang-binatang mamalia yang beragam. Dari tikus sampai gajah, dari domba sampai harimau, dari kelinci sampai rubah. Intinya, beragam dan juga unik. Karena mamalia predator dan mamalia yang di mangsa bisa hidup bersama-sama dengan harmonis. Atau benarkah harmonis?

thumbnail_22123

Nah, cerita di film ini mulai bergulir ketika terjadi insiden-insiden binatang mulai lenyap gitu aja nggak bisa ditemukan. Dalam film ini, ada seekor polisi kelinci dan juga temennya, seekor rubah, yang berusaha menguak misteri ini yang terjadi di Zootopia. Jeng jeng. Ceritanya cukup simple kok, ada sebuah masalah, dan ga lama muncullah jagoan, dan kita diantar ngikutin perjalanan si jagoan dan juga masalah-masalah yang dia hadapin. Mungkin yang familiar dengan ‘monomyth’ bakal ngeh kalau model ceritanya sangat-sangat seperti demikian.

Terus apa sih yang menarik dari film ini? Pertama, kita ga liat ada manusia. Kita ngeliat hewan-hewan yang bertingkah laku seperti manusia. Kita bisa ngeliat karakteristik hewan yang beragam dan unik-unik pada tokoh dalam film itu. Disinilah gue merasa film ini luar biasa berhasil dan jadi keren. Dengan penokohan unik mereka, mereka menyisipkan sebuah isu yang terjadi nyata sekarang. Yaitu isu tentang diskriminasi. Hanya saja isu ini disampaikan dengan cara yang berbeda dan unik dalam film ini. Isu ini digambarkan dengan gimana hewan-hewan atau kelompok hewan-hewan tertentu mengalami ketidak adilan dalam masyarakat sosial mereka. Mereka sering kali dihina atau dicemooh dan diperlakukan semena-mena hanya karena mereka hidup menjadi diri mereka sendiri.

Isu ini nyata. Di Indonesia khususnya gue melihat adanya diskriminasi terhadap ras-ras tertentu. Baik diskriminasi dari kalangan mayoritas ke minoritas maupun sebaliknya juga, begitu pula di film ini. Di Zootopia terjadi diskriminasi juga. Dari kaum A terhadap kaum B, dan begitu pula sebaliknya. Apa sih yang ngebuat ada terjadinya diskriminasi ini? Dalam film ini gue merasa jawabannya adalah ignorance, atau ketidak pedulian. Kita nggak peduli makannya kita berlaku demikian. Kita nggak mempedulikan mereka, oleh karena itu kita ‘gagal’ untuk ngeliat mereka sama kayak kita, sama-sama manusia (atau sama-sama mamalia dalam konteks film zootopia).

zootopia-trailer-movie1-728x409

Tapi sebelum gue lanjut lebih dalam lagi, gue akan akui bahwa selepas film ini, ada juga beberapa isu-isu yang muncul. Ya kembali lagi ke individu tiap orang sih. Atas dasar menjaga konten, gue ga akan post isu-isu tersebut karena disini, gue mencoba membawa dan juga menyebarkan nilai positif yang ada dalam film Zootopia. Gue harap dalam kesempatan lain gue akan bisa ngebahas lebih lanjut tentang Zootopia. Gue ga tau bisa apa nggak. Gue masih ada beberapa PR juga di blog ini yang harus gue kerjakan. Jadi ya, kita liat aja nanti.

Sampai jumpa di obrolan selanjutnya. Jaga kesehatan ya temans. Have a good day!

Typografi & Pasangan Hidup

Dalam hujan pagi hari ini gue pengen sedikit ngeluarin ide yang tiba-tiba muncul di kepala gue. Gue sadar sebagai seorang ‘akademis’, orang yang konon memiliki tanggung jawab untuk dedikasi pada pendidikan, gue merasa gue terpanggil untuk ‘menyederhanakan’ atau ‘mempermudah’ pemahaman seseorang akan suatu hal yang gue udah pahami. Banyak orang pandai, dan banyak juga orang-orang yang kurang pandai, nah gue ngerasa punya tanggung jawab untuk jadi orang yang menghubungkan keduanya, baik untuk menyamakan persepsi, menyampaikan pesan, maupun menerjemahkan isyarat-isyarat.

Kali ini gue akan sedikit mengulas mengenai tipografi. Sebuah ilmu yang pemahamannya sendiri mengundang perdebatan kalau menurut gue. Kenapa? Gue suka definisi dari typografi ini,

“Typography is the visual representation of text information” (Hillner, 2011:13).

Dimana disini jelas sekali maksudnya, yaitu typografi adalah representasi visual dari informasi teks. Disini kata kuncinya adalah representasi visual dan informasi. Kenapa? Karena disinilah letak aspek yang menjelaskan fungsi dan juga apa itu typografi itu sendiri. Typografi adalah representasi visual, sebuah permainan grafis, komposisi elemen aksara, sebuah proses visualisasi. Lalu apa kegunaan dari semua permainan ini? Untuk informasi. Informasi apa? Nah ini untuk pembahasan lain waktu. Tapi disini mari kita samakan dulu persepsi kita: Typografi adalah sebuah visualisasi teks (atau komponen yang lebih kecil lagi, aksara) untuk informasi. Jadi kalau sebuah ‘karya typografi’ tidak informatif, apakah ia bukan sebuah karya typografi? Buat gue pribadi iya, karena menyalahi apa premis gue tadi. Tapi bukan berarti ‘karya typografi’ tidak informatif itu tidak penting atau tidak pantas ada. Boleh saja, tapi mungkin dengan nama atau istilah berbeda. Lalu apa kaitannya dengan pembahasan gue?

Typografi, kalau kita lihat dari sisi fungsi, memiliki tujuan untuk mengandung informasi; pasangan hidup, kalau kita harus melihat dari sisi fungsi paling sederhana, memiliki tujuan untuk mengimbangi kita, untuk ‘menggenapi’ kita.

Seorang pasangan hidup yang kita bisa pahami, adanya komunikasi yang jelas, bisa gue coba ibaratkan seperti sebuah paradigma typografi modernis yang terstruktur dan mengutamakan informasi. Kalau dari sudut pandang gue yang diakui sebagai pria, gue merasa seorang perempuan yang jelas maunya apa, itu sangat menyenangkan. Menyenangkan karena gue nggak perlu melakukan proses lebih dalam untuk bisa memahami apa yang dimaksud, semuanya crystal clear.

Disisi lain, seorang perempuan yang mungkin gue nggak bisa pahami sepenuhnya, maunya berubah-ubah, terselubung dan perlu effort lebih untuk bisa dipahami mungkin seperti pola typografi postmodern dimana memang mereka mencoba melawan norma atau pemikiran modernis. Tapi bukannya gue bilang perempuan yang ‘nggak jelas’ (kalau boleh digunakan istilah itu), melawan norma loh, ini cuma pengandaian belaka.  Ketika kita berdialog dengan pasangan kita, dan kita perlu sedikit waktu untuk mundur dan berpikir: “dia kenapa ya?”, “kemaren abis ada apaan ya?”, “ini tanggal berapa sih?” mungkin memang ini langkah serupa ketika mau mendalami karya typografi postmodern, dimana ketika kita lihat, mungkin menarik, mungkin tidak (tergantung preferensi), dan kita nggak bener-bener bisa memahaminya ketika kita lihat langsung.

Sebuah contoh sederhana adalah melihat David Carson (lagi). Karya beliau mungkin tidak ‘jelas’ tapi hal itu bukan berarti karya tersebut tidak informatif. Karya beliau memiliki informasi-informasi yang mungkin ga tampak (atau tertulis) tapi informasi itu ada untuk kita bisa tangkap. Konon ada sebuah artikel majalah yang ia desain menggunakan wingdings, sehingga tidak ada kata yang bisa dibaca secara langsung. Apakah karya itu tidak informatif? Tentu tidak! Informasinya ada disitu, tapi memang perlu ada usaha lain buat bisa memahaminya. Kenapa karyanya seperti itu? Kita harus melihat latar belakangnya dulu, jangan buru-buru menarik kesimpulan. Katanya, Carson mengungkapkan latar belakang layoutnya adalah karena ia merasa artikel yang ia kerjakan itu sangat membosankan, sehingga daripada orang membacanya bosan, lebih baik ia ganti aksaranya menjadi wingdings, dimana lebih menarik dan menyenangkan secara visual. Jadi naskahnya tidak bisa dibaca dong? Bisa, lu tinggal terjemahin aja dari webdings ke huruf biasa.

wingdings article publication design david carson
Designed David Carson – http://cdn2.theawl.com/wp-content/uploads/2012/08/raygun_wingdings-e1345563078570.jpg

Kalau boleh gue tarik kembali ke pengandaian tadi, ada perempuan-perempuan yang seperti karya Carson itu tadi. Kita nggak bisa nangkep apa maksudnya dari apa yang ia ucapkan, tapi bahasa tubuh, ekspresi wajah, serta konteks dalam interaksi kita bisa memiliki kontribusi lebih dalam memberikan informasi. Indra kita mungkin tidak bisa menangkap, persepsi kita mungkin bisa salah, hal itu terjadi karena kita membiarkan hal itu terjadi. Kita nggak ada usaha lebih untuk berhenti (tidak merespon secara impulsive), mundur selangkah (memahami konteks), dan untuk berpikir kenapa.

Gue suka mencerminkan preferensi desain dan juga preferensi orang dalam memilih pasangan, dan seperti yang gue duga, sepertinya ada relasinya. Walau mungkin tidak 100% akurat atau nampak, tapi benang merah itu ada. Orang-orang yang terbiasa dengan struktur, mungkin akan memilih istri pasanganberpenampilan rapi, umumnya komunikatif dan apa yang ia pikirin bisa disampaikan secara langsung. Orang yang mungkin suka desain yang lebih ‘berani’, lebih eksperimental, ya lebih condong ke postmodern mungkin juga menyukai pasangan yang lebih ‘berani’ dalam penampilan, atau mungkin lebih dinamis, tidak serapi atau se’predictable’ orang-orang modernis. Tapi gue rasa pasti ada fase-fase yang tetap nggak terprediksi. Namanya juga manusia; nggak bisa semudah itu diklasifikasikan.

Semoga dengan ini, teman-teman bisa sedikit memahami karya typografi postmodern, atau mungkin lebih memahami pasangan masing-masing.

 

 Daftar Pustaka
Hillner, Matthias. 2009. Basics Typography 01 : Virtual Typography. Case Postale: AVA.